
Zidan yang sudah tak sabar, akhirnya mulai buka suara. "Bukankah kamu masih bisa hamil kembali, Nisa? Kenapa tidak bisa kamu relakan saja Zafran untuk Adel?"
Nisa menatap Zidan berang pria yang hampir setahun terakhir ini menghuni hatinya itu kini tampak tak lagi bersinar di matanya. Hanya ada kebencian di hati Nisa untuk Zidan yang menurutnya selalu lebih mementingkan Adel.
"Picik sekali kamu, Mas? Ternyata memang ini tujuan kalian meminta aku masuk ke dalam keluarga kalian kan? Menjadi mesin untuk melahirkan anak, karna wanita ini tidak bisa lagi melakukannya untuk kalian." Nisa menunjuk wajah Adel yang sudah sangat basah oleh air mataku sendiri.
"Cukup, Nisa!" bentak Zidan.
Nisa balik mengangkat dagunya kepada Zidan seakan menantang suaminya itu, sudah cukup semua kesabarannya tak ada lagi hormat hanya ada perasaan untuk bisa menjadi satu satunya ibu bagi anaknya yang sudah di rebut oleh Adel.
"Ya, aku akan berhenti. Berhenti bertahan dan berhenti bersabar atas semuanya. Selamat tinggal, Mas. Ku tunggu surat cerai darimu."
Degh
Semua mata terpana menatap Nisa, setelah mengucapkan kalimat itu Nisa berbalik dan berjalan cepat menuju keluar dari pagar rumah.
Adel mengejarnya hingga ke teras dan berteriak.
"Zafraaaannnnnnnnn!"
Tangisan Adel menjadi-jadi kala melihat Nisa membawa Zafran masuk ke sebuah angkot dan pergi menjauh dari pandangannya.
Zidan dan Bu Hanif memeluk Adel, menahan tubuhnya yang hendak berlari mengejar Zafran yang tangisannya bahkan masih terdengar walau sudah di bawa angkot yang melaju membelah jalan.
"Sabar, Adel. Sabar ... biarkan Nisa menenangkan diri dulu, biarkan dia sejenak memikirkan apa yang terbaik untuk dirinya dan Zafran. Bertahanlah, Nak. Jika kalian di takdirkan berjodoh insyaallah Zafran pasti akan kembali lagi ke pelukanmu. " Bu Hanif memeluk tubuh Adel yang menangis sesenggukan.
"Bi, Zafran Bi. Kejar Zafran, jangan biarkan Zafran pergi jauh ... tolong kejar zafran, Umi mohon." Adel menangis semakin keras sampai membuat Pak Hanif pun turut meneteskan air mata karenanya.
"Sabar, Nduk. Insyaallah rencana Allah pasti lebih baik, jangan takut, banyak yang sayang sama kamu. Insyaallah jika di takdirkan bersama nanti Zafran pasti akan kembali lagi ke pada kamu." Pak Hanif mengusap kepala Adel sambil menyusut air mata di sudut netranya sendiri.
"Iya, Um. Umi yang sabar ya, insyaallah nanti pelan pelan kita bujuk lagi Nisa supaya mau pulang ke sini bersama Zafran. Sepertinya dia hanya salah paham, kita harus beri dia waktu untuk menenangkan diri, setelah itu kita jelaskan lagi pelan pelan. Umi tenang ya," bisik Zidan sambil membawa kepala adel ke dalam dekapannya.
"Zafraaaannnnnnnnn ...." Adel terus meracau, bahkan kini ucapannya terdengar semakin lemah hingga Bu Hanif harus memegangi tubuhnya.
__ADS_1
Zidan turut menahan tubuh Adel, yang kama kelamaan menjadi semakin berat dan limbung karena Adel yang tiba tiba tak sadarkan diri.
"Ya Allah, Umi. Bangun, Mi." Zidan memangku kepala Adel dan menepuk lembut pipinya. Tapi tak ada respon dari Adel kecuali air mata yang terus mengalir dari pipinya.
****
Sementara itu, di mobil angkutan umum yang di naiki Nisa.
"Mbak, itu anaknya nangis nangis dari tadi di diemin dong. Berisik banget tau!" omel seorang penumpang perempuan yang memakai pakaian super kurang bahan dan wig berwarna hijau mentereng.
Nisa menimang Zafran yang sejak tadi memang tak mau berhenti menangis, malah semakin jauh dari rumah Adel tangisannya semakin kuat hingga suaranya terdengar serak dan hampir habis.
"Sshhhh, ssshhh ... Zafran sayang, diem ya, Nak. Mama di sini, Sayang. Jangan nangis lagi ya," bisik Nisa di telinga Zafran, namun tampaknya bayi itu tidak peduli malah semakin mengeraskan tangisannya hingga suaranya benar benar menghilang saking lamanya dia menangis.
"Ish, ganggu banget sih. Dasar kalo belum siap punya anak itu harusnya nggak usah maksa, sekalinya nangis nggak bisa diemin kan nyusahin orang aja,"celetuk perempuan seksi tadi.
Nisa diam tak menanggapi, dia sudah cukup lelah dengan tangisan anaknya tidak lagi punya tenaga untuk meladeni ucapan wanita itu.
"Owaaaaa ... Ooowaaaaa," tangisan Zafran semakin melemah, dan matanya perlahan menutup entah mengantuk atau terlalu lelah menangis.
"Maafkan Mama, jika Mama terkesan egois ya, Nak. Tapi Mama melakukan ini semua karnaa Mama ingin bisa lebih dekat sama Zafran. Mama harap Zafran bisa mengerti ya, Mama sayang sekali sama Zafran."
Setelah beberapa saat, tibalah mereka ke terminal tujuan. Nisa turun perlahan dan meberikan uang selembar lima ribuan pada kenek angkot.
Namun saat hendak melangkah pergi sambil menggendong Zafran yang masih terlelap, kenek angkot itu menahannya.
"Mbak tunggu," serunya.
Nisa berbalik dengan wajah berkerut.
"Kenapa, Bang?"
"Uangnya kurang."
__ADS_1
"Loh, bukannya biasanya juga dari jalan X ke terminal ya segitu ya?"
Kenek itu menggaruk kepalanya dengan gaya tengil.
"Yah, itu tahun berapa Mbak? Sekarang ya udah naik lah."
Nisa mendesah, karena tak ingin Zafran sampai terbangun karna harus mendengar perdebatannya dengan sang kenek. Dengan wajah kesal, Nisa bertanya dengan ketus pada sang kenek.
"Emangnya berapa?"
Kenek itu tampak menyeringai sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Lima puluh," sahutnya enteng.
Mata Nisa membelalak lebar, di tatapnya lekat wajah kenek itu.
"Yang benar aja, Bang. Jangan ngada ngada dong!" marah Nisa tak terima.
Kenek itu malah ikut melotot dan menekan bahu Nisa kuat.
"Lu mau bayar, atau gua pastikan lu sama anak lu ini nggak selamat?" desisnya dengan mata menatap tajam.
Nisa begidik, lekas di keluarkannya dompet dan mengambil selembar lima puluh ribuan.
"I- ini, tolong biarkan kami pergi." Nisa menyerahkan uang itu ke tangan sang kenek yang langsung berlalu pergi setelah mendapatkan apa yang dia mau.
Nisa menghela nafas lelah, sambil membuka dompetnya yang hanya tersisa beberapa lembar seratus dan lima puluh ribuan dia berharap uang itu bisa cukup untuk dia gunakan selama di kampung nanti. Rencananya dia akan kembali mengajar di sekolah paud agar bisa membiayai hidupnya dan Zafran nantinya. Belum terbersit di benaknya untuk kembali pada Zidan dalam waktu dekat. Malah tekadnya dia malah ingin berpisah selamanya dari Zidan walau dia tak mungkin memisahkan Zidan dari Zafran buah hatinya.
Nisa mencium kening Zafran yang masih terlelap, dan berjalan pelan menuju loket bis untuk membeli tiket guna pulang ke kampungnya.
"Maaf, mbak. Tapi tiket untuk ke kampung X sudah habis, dan baru ada bis lagi besok subuh jam lima," ucap pegawai loket itu ramah.
Nisa kembali melangkah gontai, rasanya seluruh tenaga dan pikirannya habis sudah memikirkan nasibnya setelah ini. Beginilah jika meninggalkan rumah dalam keadaan emosi bahkan persiapan pun tidak lengkap hingga harus kebingungan saat seperti ini.
__ADS_1
Ingin menginap di terminal tidak mungkin karna kotor dan dia pun membawa Zafran, untuk menginap di hotel uangnya akan lebih cepat habis jika di pakai terlalu banyak. Namun, untuk kembali ke rumah zidan pun lebih tak mungkin lagi. Apa yang kita kira bisa di lakukan Nisa?.