
Di kediaman Adel.
"Bu, perut Nisa sakit ya?" gumam Nisa sambil meringis menahan nyeri pada luka bekas operasinya.
"Kamu jangan banyak gerak sekali dulu, Nis. Itu kan habis di operasi, belum kering jadi wajar kalo masih nyeri. Yang penting kan sudah mulai sembuh. Kamu juga jangan aktivitas apa-apa dulu, kan tadi Zidan juga sudah ngabarin kalo bayimu sudah aman sekarang." Bu Sekar membawa secangkir teh hangat untuk Nisa dan duduk di sisinya.
"Tapi Nisa rasanya belum puas kalo belum lihat Dede secara langsung, Bu." Nisa menatap Bu Sekar dengan mata berkabut dan setelahnya meminum teh hangat yang di berikan Bu Sekar padanya sampai perutnya terasa hangat.
"Coba nanti kamu video call Adel, jadi bisa puas lihat anak kamu..kemarin Zidan ada beliin kamu hape baru kan? Yang belakangnya ada matanya itu?"
Nisa menoleh ke arah lemarinya dimana dia menyimpan ponsel yang bahkan belum di buka segelnya itu di sana, Nisa takut memakai barang mahal, takut rusak katanya.
"Itu dari Mbak Adel, Bu. Bukan Mas Zidan," pungkasnya.
Bu Sekar mengelus lengan Anisa lembut. "Sabar saja, setelah ini ibu yakin Zidan juga pasti akan memperlakukan kamu sama seperti dia memanjakan Adel. Bertahap, Nisa. Semua ini nggak akan bisa instan."
Nisa mengangguk paham, dan kembali menyeruput teh hangatnya hingga tandas.
"Ibu sebenarnya masih malu sekali sama si Zidan, rasanya ibu hampir nggak punya muka ketemu dia lagi kemarin."
Nisa mengernyit. "Kenapa memangnya, Bu?"
"Kamu lupa kalau ibu pernah bikin keributan di rumah ini waktu dulu kalian baru menikah, ibu nuntut kamu untuk bisa mengambil kesempatan dan meminta banyak uang dari Zidan. Ibu silau sama semua harta yang mereka miliki ini, dan merasa kalau ibu punya andil juga untuk turut menikmati harta ini yang jelas-jelas murni hasil kerja keras Zidan. Hah, rasanya kalau mengingat itu ibu pengen menghilang saja yang jauh," kekeh Bu Sekar sambil menyusut air mata yang timbul di sudut netra tuanya.
"Sudah, Bu. Masa yang sudah lalu sebaiknya nggak usah kita kenang lagi, semoga Mas Fatan juga sudah melupakan semua itu. Kita mulai lagi semua dari awal ya, Bu. Dengan niat yang ikhlas untuk membalas Budi mereka yang sudah baik sama kita," ujar Nisa lembut.
Bu Sekar mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Dan akhirnya mereka pun berpelukan hangat.
Dap
Dap
Dap
__ADS_1
Suara langkah kaki yang terdengar berisik memecah kesunyian, Nisa melepas pelukannya dan memegang erat tangan ibunya.
"Suara apa itu, Bu?" bisik Nisa dengan wajah ketakutan.
Pasalnya suara itu begitu berisik seakan ada banyak orang yang berlarian sambil bergerombol.
Bu Sekar tak kalah panik, dia diam tak bergeming takut kalau membuat suara sedikit saja maka suara aneh itu akan mendatangi mereka.
"Bu, Nisa takut Bu." Nisa memeluk Bu Sekar dan membenamkan wajahnya di dada wanita paruh baya yang sudah membesarkannya itu.
Air mata Nisa menetes karena ketakutan, Bu Sekar pun sama berbarengan mereka membaca ayat-ayat suci yang mereka hapal yang sekiranya bisa menjauhkan hal buruk dari mereka.
"Bu, Nisa?" suara itu mengagetkan mereka, Nisa bangkit dari pelukan ibu nya dan menajamkan pendengarannya.
Namun nihil, suara aneh yang sebelumnya bagai tentara di medan perang itu kini hilang sama sekali.
"Bu, Nisa? Kalian nggak papa?" tanya Zidan sambil berjalan mendekat.
Nisa tersentak dan baru menyadari keadaan saat Zidan menyentuh kepalanya lembut.
Zidan duduk di tepi ranjang, dan Bu Sekar pun keluar sambil membawa kembali gelas teh yang sudah habis isinya itu. Memberi kesempatan pada pasangan suami istri itu untuk bicara.
"Mas, aku nanya belom di jawab loh? Siapa yang nungguin Dede di rumah sakit? Nanti kalo Dede di culik lagi gimana, Mas? Kok kamu malah pulang sih?" desak Nisa cemas.
Namun Zidan justru terdiam dan perlahan kepalanya mulai menunduk.
Nisa yang mulai ketakutan merasakan tengkuknya sedikit merinding. Hawa di sekitar pun perlahan menjadi lebih panas padahal AC masih di nyalakan walau pada suhu yang tidak terlalu dingin.
"Mas? Kamu kenapa diam sih? Kamu capek ya? Mau tiduran? Jangan nunduk terus dong, Mas. Kamu tidur sambil duduk kah?" cecar Nisa lagi tapi dia sama sekali tidak berani menyentuh suaminya yang saat ini nampak berbeda.
*
Tlilililit .....
__ADS_1
Tlilililit
Suara dering telepon rumah berbunyi sangat nyaring, namun pada art yang berlalu lalang mengerjakan tugasnya sama sekali tidak menoleh ataupun peduli akan bunyinya.
Bu Sekar memandang mereka heran, namun untuk bertanya entah kenapa rasanya segan. Semua art di rumah itu berwajah serius dan sangat jarang tersenyum atau terlihat mengobrol dengan sesamanya. Katanya semua art dan pekerja di rumah itu di pilihkan oleh Bu Sita saat Zidan meminta bantuannya untuk mencarikan seorang pembantu dan tukang kebun agar Adel tidak lelah bekerja. Namun siapa sangka malah begitulah model art yang di dapatnya.
Tlilililit ....
Lagi, suara dering telepon rumah membuyarkan lamunan Bu Sekar dengan segera beliau berjingkat saat menginjak karpet permadani tebal yang di bentangkan di bawah sofa dan mengambil telepon yang masih terus berdering itu.
"Assalamu'alaikum," ucap Bu Sekar setelah menempelkan telepon di telinganya. Dia belajar dari film yang dulu sering dia tonton di rumah tetangga.
"Wa'alaikumsalam, Bu?" suara Zidan menembus gendang telinga Bu Sekar serta merta tengkuk Bu Sekar merinding seperti ada yang meniup lehernya.
"Zi- Zidan? Ini zidann?" seru Bu Sekar menahan tangis.
"Iya, Bu. Ini Zidan, begini Bu. Barusan Zidan dapet kabar kalo Adel pingsan dan di rawat di rumah sakit tempat Dede bayi juga di rawat. Sekarang dia di tunggu Alice. Ini Zidan bawa pulang Alan buat nemenin Nisa sama ibu di rumah ya." suara Zidan terdengar bergemerisik, sesekali suara klakson kendaraan lain terdengar sayup di sekitarnya.
Itu tandanya itu benar Zidan, bahkan suara Alan yang sedang memesan sekotak martabak telur dan martabak manis kesukaan Nisa pun juga terdengar.
"Bu, ibu masih di sana?" panggil Zidan lagi karena tak mendengar suara jawaban dari Bu Sekar.
"Zi- Zidan ... bukannya ... bukannya kamu sudah pulang, dan sekarang ada di kamar Nisa?" tanya Bu Sekar memastikan walau dia pun tahu jawabannya.
Bu Sekar memandang berkeliling, suasana sekitar yang semula sejuk menjadi hangat dan perlahan menjadi panas dan pengap.
"Hah? Di kamar sama Nisa? Ini Zidan di jalan, Bu. Sama Alan, baru selesai beli martabak buat ibu sama Nisa. Ya udah Zidan tutup teleponnya ya, Bu. Tadi sengaja nelpon buat mastiin ibu belum tidur jadi ada yang bukain pintu nanti. Zidan tutup ya, Bu sebentar lagi kami sampai. Assalamu'alaikum."
Tut
Sambungan telepon terputus, Bu Sekar dengan mata yang basah memutar tubuhnya perlahan untuk melihat ke arah kamar Nisa.
"Kalau yang tadi Zidan yang asli, terus yang di sana siapa?" Isak Bu Sekar ketakutan.
__ADS_1
Seulas seringai menyeramkan menyambut tatapan Bu Sekar di depan pintu kamar Nisa, darah yang menetes dari taring panjang itu membuat Bu Sekar langsung kehilangan kesadarannya.
*Nb : kalau kalian bertanya kenapa ada scene horor\, karna ini buat mengupas tuntas apa yang terjadi di masa lalu papanya Zidan yang ternyata terbawa sampai masa kini ya. Jadi jangan protes nggak sesuai karna semua juga butuh penjelasan yang logis kenapa bisa sampai begini dan begitu. Terima kasih telah mengikuti kisah ini*