ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 43.


__ADS_3

"Mbak Adel kenapa? Mukanya kusut gitu?" tanya Alice saat tak sengaja melihat Adel tenaga duduk melamun di teras rumah sehabis menerima telpon dari Zidan.


Alice duduk di samping Adel, dan merebahkan kepalanya di pangkuan kakak angkatnya itu.


"Nisa hamil ...."


"Apa?" serta merta Alice kembali menegakkan tubuhnya dengan mata membelalak lebar.


Adel mengusapkan tangannya ke wajah Alice. "Biasa aja, belum selesai ini Mbak ngomongnya."


Setelah meneguk ludah, Alice kembali menatap Adel dengan seksama siap mendengarkan kisahnya.


"Nisa hamil, baru 2 minggu. Mbak seneng sih sebenernya, cuma ...."


"Mbak cemburu?" potong Alice cepat.


Lagi, Adel meraup wajah Alice, kali ini dengan kedua tangannya.


"Jangan kebiasaan nyamber dong ah." Adel merengut.


"Eh, iya iya maaf kebablasan. Lanjut lagi dong part 2 nya."


"Nggak, Mbak nggak cemburu lagi pula ngapain juga Mbak cemburu? toh kamu kan tau sendiri apa yang Mbak minta sama mereka sebelum kita ke sini tempo hari."


Alice mengangguk cepat karna tak sabar mendengar lanjutan cerita Adel.


"Terus, terus," ucapnya selayaknya nonton trailler film.


Adel mendesah lirih. "Tapi kan waktu liburan kita masih 3 hari lagi, sayang dong kalo harus pulang sekarang. Mbak masih betah di sini, tapi Mas Zidan maksa pulang karna udah nepatin apa yang Mbak minta. Katanya Mbak nggak boleh nggak pulang dan nggak boleh ingkar janji."


Alice tertawa terbahak mendengar alasan Adel yang seperti anak kecil.


"Hahahha, Mbak ... Mbak ... kirain ada hal penting kayak apa sampe nggak bisa pulang. Rupanya cuma karna masih betah. Eh, tapi bener sih Mbak, kita jangan pulang dulu."


"Kenapa?" giliran Adel yang menatap heran adik angkatnya itu.


Yang kini wajahnya menjadi semerah cabe domba yang tengah berbuah subur-suburnya di halaman samping.


"Hei, malah melamun. Kenapa?" desak Adel tak sabar karena Alice malah melamun sambil mengulum senyum.

__ADS_1


"Ah, nggak." Alice menghindari Adel dan berlari masuk ke dapur.


Di sana Bu Hanif dan nenek tampak tengah sibuk mengupas ubi keladi.


"Nek! Itukan beracun!" sentak Alice sambil meraih tangan neneknya dan berusaha menjauhkannya dari ubi keladi yang di kenal bisa membuat gatal-gatal itu.


"Eh,kamu kenapa sih, Al? beracun apanya? Apa yang beracun?" cecar Nek Hindun sambil menyingkirkan tangan Alice yang masih memeganginya.


"Ini nggak beracun Neng, namanya ubi keladi. Bisa di makan, kan si Bapak ini yang nanem." Bu Hanif mengambil alih ubi yang sudah di kupas bersih itu dari baskom dan mulai mencucinya dengan air mengalir.


"Tapi ...."


Alice masih tak percaya dan hendak protes.


Jdug.


"Awww, Nenek! kok Alice di getok sih?" protes Alice setelah jari tengah neneknya mendarat mulus di jidatnya.


"Kamu itu dokter, tapi kok oon. Masa begini aja nggak tau, ubi keladi yang bisa di makan sama yang beracun itu beda. Jangan di samain, dasar anak kota!" oceh Nek Hindun sembari beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh tangannya yang tadi terkena getah keladi yang lengket.


Alice masih bersungut-sungut sambil mengelus jidatnya yang berdenyut.


Bu Hanif menyodorkan sepotong keladi yang sudah bersih dan sudah dia potong kecil.


"Coba kamu nilai sendiri, kamu kan dokter. Harusnya tau dong, mana ubi beracun mana yang masih bisa di makan?"


Alice menerima potongan kecil ubi keladi itu dengan takut takut, bayangan tangannya yang bentol dan memerah karena gatal menguasai kepalanya.


Alice mulai memegang dan memencet ubi keladi itu untuk merasai teksturnya dan getah yang keluar dari daging buahnya. Terasa lengket namun baunya tidak menyengat menandakan ubi itu bisa di konsumsi setelah menghilangkan semua kandungan getahnya.


Bu Hanif yang tengah menggoreng ubi keladi yang sudah bersih dan di baluri tepung, tersenyum kecil melirik Alice yang tampak begitu menghayati memeriksa potongan ubi tersebut.


"Haduh, anak ini ... ngapain itu segala ubi mentah kamu pegang-pegang? Nanti gatel kulitmu baru nangesss!" omel Nek Hindun menggoda Alice yang memang biasanya sangat maniak dengan apa yang boleh dan tidak boleh dia makan.


Nek Hindun sebenarnya kesal karna Alice selalu saja mengganggu waktu makannya dan seringkali membuat dia tidak bisa menikmati makanannya karena segudang alasan kesehatan hanya karna Nek Hindun sudah mulai tua. Dan kini nenek itu melihat celah untuk bisa mulai mengerjai cucunya itu.


"Sudah, sini kebaliin ubinya ... mau ibu goreng. Kamu makan yang ini saja, ini sudah di goreng di jamin enak." Bu Hanif membawa potongan ubi yang tadi di pegang Alice dan menggantinya dengan sepiring ubi keladi goreng yang masih panas.


Aroma khas ubi keladi menguar, baunya yang tidak terlalu menyengat tapi unik membuat Alice tertarik untuk mencicipinya. Setelah meyakini kalau ubi itu aman tentunya.

__ADS_1


Saat baru saja hendak memasukkan sepotong ubi yang sudah dia tiup ke dalam mulutnya, sebuah tangan menyambar ubi itu dan memakannya dengan nikmat.


"Nenek!" protes Alice kesal karna dia sudah meniup dan mengipasi ubi itu sampai hangatnya pas untuk di makan tapi malah meluncur ke perut neneknya.


Nek Hindun tertawa dan kembali duduk di tempatnya semula.


"Hahahah, anak kota nggak usah makan beginian. Nanti alergi," kekeh Nek Hindun sambil mengipasi lagi ubi keladi yang masih di piring untuk dia makan kembali.


"Huh, sendirinya juga tinggal di kota segala ngatain orang lagi." Alice merengut dan kembali mencomot sepotong ubi keladi goreng karena sudah sangat penasaran akan rasanya.


Hap


Lagi lagi ubi yang siap di santap lelah Alice berpindah  tangan dengan cepatnya, bagai angin atau mungkin bagai petir. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Nek Hindun, nenek bukan sembarang nenek tapi dia adalah nenek-nenek.


"Nenek yang ngipasin, jadi semua ini nenek yang punya," sela Nek Hindun sebelum Alice membuka suaranya untuk protes.


"Bu," panggil Adel yang baru saja kembali dari teras.


"Mbak, sini makan ubi." tukas Alice sambil mencomot segenggam ubi keladi yang sudah mulai dingin dan menyodorkannya pada Adel.


"Heh, itu punya Nenek!" kelakar Nek Hindun pura-pura ngambek tapi mulutnya tetap mengunyah ubi dengan santai.


Adel mengambil satu dan mulai memakannya.


"Kenapa, Nak?" tanya Bu Hanif setelah meletakkan lagi sepiring ubi yang baru saja matang.


"Lusa Adel pulang ya," celetuk Adel lirih.


Wajahnya menyiratkan kesedihan tapi juga keterpaksaan dalam waktu bersamaan.


"Loh kenapa? Kan masih ada 3 hari lagi?" cecar Bu Hanif cemas, karna mengira ada hal mendesak yang memaksa Adel harus pulang lebih cepat dari rencana.


Adel mendesah dan duduk di balai bambu tepat di samping Alice.


"Nisa hamil, Bu."


"Apa?" seru Pak Hanif yang baru saja datang dari belakang, bahkan kayu bakar yang di panggulnya pun sampai terjatuh saking terkejutnya.


"Pak! Jangan pingsan di situ, Pak! Sana di kamar aja pingsannya biar nggak repot nggotongnya, berat!"

__ADS_1


__ADS_2