ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 29.


__ADS_3

"Iya, Pak. Adel mengerti, setelah waktunya nanti Adel akan laksanakan sesuai perkataan Bapak, dan semoga saja semua sesuai rencana kita ya, Pak." suara Adel terdengar begitu jelas di telinga Zidan.


"Yah, Bapak percaya kamu pasti bisa, Nduk. Kamu hanya perlu ingat kalau Zidan lebih mencintai kamu," tukas Pak Hanif pula.


Zidan yang sudah tak tahan akan rasa penasarannya akhirnya memilih keluar dari persembunyiannya dan menemui istri dan mertuanya itu.


"Apa yang kalian bicarakan?" ucap Zidan datar, sejak dulu Zidan selalu tak suka jika ada orang lain yang membicarakannya di belakang, siapapun itu.


Adel tampak terkesiap, sedangkan Pak Hanif tampak biasa saja.


"Eh, Bi? Udah selesai sama Nisanya?" tanya Adel lembut.


Zidan mendekati Adel dengan tatapan penuh tanya dan tanpa menjawab pertanyaan dari Adel dia memberondongnya dengan pertanyaan.


"Apa yang kamu dan Bapak lakukan di sini? apa yang kalian bicarakan dan rencanakan? jangan bilang tidak ada apa-apa karna tadi aku mendengar jelas percakapan kalian dari balik pintu itu!"


Mata Adel membeliak lebar, sejak menikah ini pertama kalinya Zidan memanggilnya demikian. Biasanya jika bukan Umi maka Zidan akan memanggilnya Sayang. Pak Hanif sendiri tampak terkejut saat untuk pertama kalinya melihat Zidan menghardik putrinya padahal Adel tidak mempunyai salah apa-apa.


"Zidan! Apa maksud kamu membentak Adel hah?" marah Pak Hanif tak terima.


Zidan berdiri dan menatap bapak mertuanya dengan datar.


"Zidan tidak membentak, Pak. Zidan hanya tidak suka kalau ada yang membicarakan Zidan diam-diam."


Pak Hanif ikut berdiri berhadapan dengan Zidan.


"Pak, Bi! Udah!" lerai Adel yang mulai ketakutan.


Tapi Pak Hanif dan Zidan tak mengindahkannya.


"Memangnya siapa yang membicarakan kamu diam-diam hah?"  Pak Hanif menunjuk dada Zidan.


Zidan menatap telunjuk Pak Hanif yang menempel di dadanya dengan dingin.


"Tapi saya mendengarnya dari balik pintu sana, Pak. Saya tau kalau kalian sedang membicarakan saya dan sedang membuat rencana terkait saya. Entah apa itu tapi tetap saja saya tidak suka!" sergah Zidan.


Pak Hanif tercengang, sama sekali tak menyangka ada pribadi lainnya di balik sifat lemah lembut yang di tunjukkan Zidan selama ini.


"Bi! Apa-apaan kamu? Jangan bentak-bentak Bapak!" seru Adel yang tak terima sang bapak di bentak bahkan walau oleh suaminya sekalipun secinta apapun Adel padanya.


Zidan menatap Adel lekat. "Aku tidak akan begini kalau kalian mau jujur, aku tidak suka rahasia!"


Pak Hanif mendengus kesal untuk pertama kalinya dia marah pada menantu kesayangannya itu.


"Kalau kamu mengaku mendengar semuanya, harusnya bukan begini sikap yang kamu tunjukkan! Perilaku kamu ini jelas-jelas menunjukkan kalau kamu sebenarnya tidak tau apa-apa." Pak Hanif beranjak mendorong kursi roda Adel masuk ke dalam rumah, meninggalkan Zidan seorang diri dalam kekesalannya sendiri.


"Aarrghhhh!" Zidan mengacak rambutnya dengan frustasi, inginnya tadi bisa mengajak adek berdiskusi masalah permintaan aneh Nisa.

__ADS_1


Namun kini yang di dapaatnyaa justru rahasia yang dia sendiri tak bisa menebaknya. Tapi dari perkataan Pak Hanif tadi sepertinya Zidan lah yang terlalu cepat menilai dan berujung salah paham.


****


Pak Hanif hendak mendorong kursi roda Adel ke kamarnya di lantai dua, namun Adel mencegahnya karna masih merasa kecewa dengan sikap Zidan.


"Adel mau tidur sama Bapak dan Ibu saja," pinta Adel dengan suara serak.


Pak Hanif mengangguk dan membawa kursi roda Adel menuju kamar tempatnya dan Bu Hanif menginap di lantai satu.


"Ya Allah, Adel! Kamu kenapa, Nduk?" cecar Bu Hanif yang melihat tetesan air mata di pipi Adel.


Bu Hanif bahkan sampai melempar sprei yang tengah di pasangnya dan berlari menyongsong putri kesayangannya itu.


Adel memeluk ibunya erat dan terisak di sana, Bu Hanif menepuk punggung Adel sembari menatap suaminya penuh tanya.


"Adel kenapa? Ada apa ini, Pak?" tanya Bu Hanif panik.


Pak Hanif mendesah lirih dan memilih mendudukkan dirinya di atas sofa tak jauh dari sana.


"Zidan membentak Adel, Bapak rasa ... dia salah paham sama percakapan kami."


Adel masih terus terisak, bahkan baju Bu Hanif sebagain sudah basah karenanya. Namun tak sedikitpun Bu Hanif menggeser posisinya dan tetap memeluk Adel.


"Apa? tapi bagaimana bisa?" tanya Bu Hanif lagi.


Bu Hanif menutup mulutnya nelangsa. "Astaghfirullah."


Adel tiba-tiba melerai pelukannya dari sang ibu dengan masih terisak hebat. "Apa Adel salah, Bu? Adel hanya mendengarkan saran Bapak supaya nanti kalau Nisa dan Mas Zidan punya bayi, Adel membuatkan kamar di sebelah kamar kami. Jadi Adel juga bisa ikut membantu merawat bayinya, sebagai pengobat rindu Adel pada bayi yang nggak akan pernah bisa Adel lahiran sendiri, Bu."


Bu Hanif terkesima mendengar perkataan Adel. "A- apa? Jadi ... Bapak sama Adel bahkan sudah merencanakan sejauh itu? luar biasa mulia hati kamu, Nak. Semoga saja Zidan cepat sadar kalau dia hanya salah paham ya. Wes cup sini sama Ibu."


Bu Hanif kembali memeluk Adel agar dia bisa tenang, sedangkan Pak Hanif tampak berfikir dalam diam.


"Adel ... mau tidur di sini ya, sama Bapak dan Ibu," pinta Adel setelah tangisnya mereda.


Bu Hanif mengangguk cepat. "Iya, boleh Nduk. Pasti boleh, toh ini juga kan rumah kamu. Sebentar ya, ibu siapin kasurnya dulu." Bu Hanif beranjak hendak melanjutkan kembali pekerjaannya memasang sprei.


Tapi langkahnya terhenti dengan gumaman Adel yang terdengar miris.


"Apa masih boleh Adel anggap ini rumah Adel? sedangkan Mas Zidan saja sudah mulai berteriak di depan Adel."


Bu Hanif dan Pak Hanif sontak berdiri dan berjalan cepat menuju Adel, kemudian menubruknya dan berpelukan bersama.


"Tenanglah, Nduk.kamu masih masih punya Bapak dan Ibu sebagai tempat kamu pulang kalau Zidan tidak lagi menginginkan kamu."


****

__ADS_1


Zidan masih tepekur di tempat dia mendapati Adel dan Pak Hanif bercengkrama. Dia masih menimbang apa yang sebaiknya kini dia lakukan, apakah benar atau salah.


Tring


Tring


Tring


Dering ponsel membuyarkan lamunan Zidan, dia mengambil ponselnya dari dalam saku dan mengangkatnya tanpa melihat siapa penelponnya.


"Halo?" ucap Zidan dingin.


"Hah? Apa? tumben sekali kamu tidak lagi pakai assalamu'alaikum segala?" suara ketus Bu Sita menembus gendang telinga Zidan.


Zidan tercekat kemudian melihat ponselnya dan tampak nama ibunya di sana sebagai penelpon.


"Ah, maaf, Ma. Zidan kira siapa," tukas Zidan lemah.


"Haish, sudahlah. Mama telpon cuma karna mau tau kabar kamu, Mama masih malas ke sana kalau ada mertua kamu yang cempreng itu."


Zidan mengernyit karna seingatnya Bu Hanif bukanlah seorang yang banyak bicara dan cenderung lebih akrab dengan sang Mama.


"Siapa maksud Mama?" tanya Zidan.


"Kamu lupa? Ya ampun ya begini nih kalau menikah tapi nggak cinta. Mertuanya sendiri pun sampe lupa," celetuk Bu Sita santai.


Tapi tidak demikian dengan Zidan, dia terkejut bukan main karna teringat kalau Bu Sekar tidak di ketahui keberadaannya saat ini.


"Ma, Zidan tutup dulu telponnya ya. Zidan lupa kalau Bu Sekar sore tadi pergi dari rumah nggak tau kemana."


"Tapi, Zid ...."


Tut


Tut


Tut


Ponsel di matikan oleh Zidan sebelum sempat mendengar ucapan Mamanya.


Zidan bergegas hendak menemui Nisa untuk bertanya kemungkinan keberadaan ibunya karena dia benar-benar lupa mengabari anak buahnya untuk mengikuti Bu Sekar dan Alan.


Brak


Zidan membuka begitu saja pintu kamar Nisa tanpa mengetuknya terlebih dahulu, entah lupa atau memang saking kalutnya jadi tidak ingat.


"Mas ...." suara Nisa terdengar mendayu membuat Zidan serta merta mengangkat wajahnya.

__ADS_1


"Astaghfirullah!" seru Zidan sembari menutup matanya rapat-rapat.


__ADS_2