ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 7.


__ADS_3

Ceklek


 Nisa membuka pintu sebuah kamar apartemen yang baru saja di sewa Adel dan Zidan untuknya selama berada di kota. Dan mereka juga dengan senang hati mengirim seorang supir untuk menjemput Bu Sekar di kampung dan membawanya ke kota untuk prosesi lamaran Nisa dan Zidan yang sudah mereka sepakati sebelumnya.


"Waaahhh cantiknya," gumam Nisa setelah pegawai yang mengantarnya sampai ke dalam dan membawakan tas lusuhnya pergi.


"Unit Pakde dan Bude ada di sebelah, jadi harusnya aku nggak perlu khawatir kalau ada apa-apa kan?" gumam Nisa sambil berjalan mengelilingi ruangan yang minimalis namun sangat lengkap itu.


"Wuaahhh, lihat dapurnya. Ini bahkan hampir mirip dapurnya artis-artis di TV tetangga." Nisa berlarian dan memegang semua barang yang ada di meja dapur. Mengagumi setiap benda yang baru pertama kali di lihatnya.


Tulalit


Tulalit


 Ponsel jadul Nisa berbunyi, lekas dia mengambilnya dari dalam kantong roknya dan mendapati nama Adel terpampang di sana.


"Halo, assalamu'alaikum Mbak." Nisa mendudukkan bokongnya di salah satu kursi tinggi yang ada di pantry


"Wa'alaikumsalam, Nis." sahut Adel pelan.


 Nisa masih berusaha untuk menaiki kursi yang memang lumayan tinggi itu, namun tak kunjung sampai.


 Brugh


"Adududuh," lirih Nisa meringis.


"Halo, Nis? Kamu nggak papa?" suara Adel kembali terdengar dari speaker ponsel yang sebelumnya sempat terlempar dari tangan Nisa.


Tapi namanya juga ponsel jadul, terhempas pun masih bisa hidup.


 Dengan menahan nyeri di pinggangnya Nisa mengambil ponselnya walau tertatih.


"Halo, iya Mbak. Maaf barusan Nisa jatoh," ungkap Nisa mengibaskan tangannya yang terasa ngilu.

__ADS_1


"Apa? Hihihi Nisa, Nisa. Kamu itu kok nggak hati-hati sih? Masa bisa jatuh lagi?" tawa Adel terdengar berderaian di sebrang sana.


"Hehehe nggak tau, Mbak. Tadi niatnya mau duduk di kursi tapi kok malah ujung-ujungnya duduk di lantai, di hantak pula lantainya sama bokongku," tawa Nisa pula.


  Begitulah selalunya Nisa dan Adel, tak pernah bertengkar atau marah atas masalah apapun sejak mereka dengan di sekolah dahulu. Segala sesuatunya di lihat dari sudut pandang yang berbeda oleh mereka dan menjadikan mereka sangat dekat dan saling menyayangi seperti sekarang.


"Kamu suka apartemennya?" celetuk Adel setelah mereka puas tertawa.


 Nisa memutar tubuhnya menikmati keindahan ruang apartemen yang puluhan kali lipat lebih besar dari rumah yang di tempatinya di kampung.


"Huuuummmm, gimana ya? Ini ... apa nggak terlalu berlebih, Mbak? Ini besar dan bagus banget loh. Pasti harga sewanya mahal, apa Mbak nggak rugi nyewa tempat ini cuma buat aku?" tanya Nisa tak enak hati.


"Haish apa sih kamu itu, Nis? Kamu itu sudah Mbak anggap sahabat sekaligus adik. Bahkan sebentar lagi kamu bakalan jadi adik madu Mbak kan? Jadi harga segitu pantas buat kamu, Nisa."


Nisa sangat terharu mendengar betapa baiknya Adel padanya, tidak hanya materi bahkan kini suami sempurnanya pun hendak dia bagikan untuk Nisa yang notabene hanyalah seorang sahabat, dan juga seorang gadis kampung yang miskin.


"Ah, dan satu lagi," imbuh Adel.


"Apa itu, Mbak?" Nisa bertanya dengan was-was takut kalau-kalau ada kabar buruk yang akan di sampaikan Adel.


"Ah, Mbak tau aja," kekeh Nisa malu, dia berjalan pelan menuju sofa yang ada tak jauh dari posisi berdirinya, dan duduk perlahan di sana.


"Apartemen itu nggak nyewa. Itu sudah di beli Mas Zidan atas nama kamu," ucap Adel enteng.


 Namun tidak demikian dengan Nisa, tubuhnya yang baru saja melesak dengan nyaman di sofa empuk itu kini bangkit dengan tegang.


"Apa, Mbak? Di beli? Atas nama Nisa?"


****


Di rumah sakit.


"Gimana Umi?" tanya Zidan setelah Adel selesai menelpon.

__ADS_1


 Gurat kebahagiaan tampak jelas di wajah Zidan karena baru saja melihat dengan matanya sendiri bagaimana sang istri tercinta sudah mulai kembali ceria. Dan semua itu karena Nisa tentu saja.


 Di dalam hati Zidan perlahan namun pasti, Nisa sudah merambat masuk walau masih tak bisa menggantikan Adel sebagai pemilik utama hatinya. Semua itu di awali atas dasar rasa terima kasihnya pada Nisa yang sudah mampu membawa tawa ceria istrinya kembali.


"Alhamdulillah, Nisa seneng banget kayaknya Bi. Semoga setelah ini kita semua bisa hidup dengan rukun ya," cetus Adel tersenyum.


 Zidan mengangguk mantab, senang sekali hatinya melihat garis tegas senyuman yang sudah beberapa bulan hilang dari wajah istrinya.


"Oh ya, Bi. Kalau nggak keberatan Umi pengen sekali makan roti bakar isi coklat keju sama es boba, kira-kira sama dokter boleh nggak ya?" celetuk Adel tiba-tiba.


"Apa? Umi mau makan itu? Abi pergi beli sekarang!" Zidan langsung menyambar kunci mobilnya dan secepat kilat keluar dari ruangan.


 Semangatnya bangkit demi mendengar istrinya yang sebelumnya sama sekali tak berselera makan kini justru meminta makanan yang adalah makanan kesukaannya sebelum sakit.


 Adel hanya tersenyum kecil dan geleng-geleng kepala melihat antusias suaminya. Dia pun turut heran kenapa tiba-tiba justru menginginkan makanan yang sudah lama sekali tak pernah di pintanya sejak sakit.


 Selang lima belas menit sejak kepergian suaminya terdengar pintu ruangan di ketuk dan langsung terbuka padahal Adel belum mempersilahkan tamu tersebut masuk.


"Loh, Mama?" kaget Adel saat melihat yang masuk ke dalam ruangannya adalah sang ibu mertua yang tempo hari sudah menghinanya habis-habisan.


 Bu Sita tampak berdiri angkuh dengan tangan terlipat di dada.


"Iya, kenapa? Kamu kaget? Oh ya, saya dengar kalau kamu meminta Zidan menikah lagi. Yah, baguslah kalau akhirnya kamu sadar diri kalau Zidan butuh perempuan yang lebih baik dari kamu. Yang bisa memberikan keturunan tentunya."


 Adel meneguk ludah, sakit sekali hatinya setiap kali ibu mertuanya membahas tentang kekurangannya yang tak bisa memberi anak bagi suaminya.


"Tapi, saya harap kamu nggak minta terlalu banyak sama Zidan atas izin nggak berguna kamu itu. Yah, siapa tahu kan kamu memanfaatkan situasi dan meminta segala macam sebagai balasan atas izin kamu untuk Zidan menikah lagi. Secara kamu dan keluarga kamu itu kan bisa hidup sejahtera seperti sekarang juga berkat anak saya yang nggak pernah perhitungan sama kalian," sindir Bu Sita tajam.


"Berhenti, Ma! Cukup! Adel sudah pernah bilang silahkan hina Adel sesuka Mama! Tapi berhenti bilang kalau orang tua Adel memanfaatkan Mas Zidan! Cukup, Ma!" pekik Adel frustasi.


 Air mata yang semula sudah kering berganti tawa kini kembali menderas seiring hati Adel yang luluh lantak kembali ulah mertua gilanya itu.


 Bu Sita mengangkat sebelah alisnya menantang, tak gentar sedikitpun dengan teriakan Adel yang di anggapnya hanyalah benalu dalam kehidupan putranya.

__ADS_1


"Terserah! Tapi sekarang saya kan pastikan kalau Zidan akan mendapat perempuan yang sederajat dan tentu saja nggak penyakitan kayak kamu!" tegas Bu Sita sambil berjalan hendak keluar dari ruangan tersebut.


"Tidak! Kami sudah punya calon sendiri! Berhenti ikut campur dan enyah dari sini!" tegas suara bariton yang menyahut Bu Sita dari luar pintu yang baru saja dia buka.


__ADS_2