ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 23.


__ADS_3

"Nisa! Tolong ke atas sebentar. Saya mau bicara," tukas Zidan setelah bicara dengan Alan.


Degh


 Nisa segera mengangkat kepalanya dan beranjak hendak mengikuti Zidan yang sudah lebih dulu naik kembali ke lantai dua.


"Tunggu, Nis." Bu Sekar menahan tangan Nisa.


"Apalagi sih, Bu?" sahut Nisa mulai kesal.


 Bu Sekar berdiri dan mensejajarkan tubuhnya dengan Nisa.


"Ingat ucapan Ibu tadi, jangan sampai kamu menyesal karna membangkang sama Ibu, Nisa." Bu Sekar berbisik di samping telinga Nisa.


 Nisa mundur selangkah dengan tatapan ketakutan, ini bukan Ibunya, bahkan Bu Sekar sebelumnya tak pernah memaksakan kehendak apapun pada Nisa.


 Bu Sekar berdiri berkacak pinggang saat melihat Nisa justru lari cepat menaiki tangga, meninggalkannya tanpa kata.


"Kalau kamu tidak bisa Ibu andalkan, Ibu akan buat seribu satu cara untuk bisa meraih keinginan Ibu. Awas saja kamu, Nisa," geram Bu Sekar menatap lantai yang tadi di duduki oleh Nisa.


****


 "A- ada apa ya, Mas? Mbak?" tanya Nisa takut-takut sembari berjalan mendekat ke arah Adel dan Zidan yang tengah duduk di balkon lantai dua.


 Dua buah gelas teh hijau dan sepiring panekuk tampak menghiasi meja di depan mereka, Nisa meneguk ludahnya sendiri karna perutnya tiba-tiba merasa lapar. Namun dia tak punya cukup keberanian untuk meminta makanan pada Adel, sebagai kakak madunya.


"Duduk sini, Nis." tunjuk Adel pada sebuah kursi di sebelahnya.


 Zidan beranjak dari tempatnya menuju ke sebelah Adel, membiarkan Nisa duduk sendirian di sebelah kiri mereka.


"Ada apa ya, Mbak?" ulang Nisa penasaran.


 Nisa agak takut karna wajah Adel kini tampak datar dan tak ada lagi senyum yang menghiasi wajahnya seperti pertama kali bertemu Nisa lagi.


"Nisa, maaf kalau pernikahan ini membuat kamu tertekan," desis Adel memulai percakapan.


 Nisa menggeleng dan menggoyangkan kelima jarinya dengan cepat.


"Ng- nggak! Sama sekali nggak kok, Mbak."

__ADS_1


 Adel melirik Nisa sekilas, tampak sembab menggantung di bawah matanya.


"Oh ya?" Nisa memaksakan sebuah senyum getir di bibirnya.


"I- iya, Mbak. Maaf, Mbak apa Nisa ada salah sama Mbak? Kalau Nisa nyakitin hati Mbak Adel, Nisa mohon maaf yang sebesar-besarnya," ucap Nisa bergetar.


 Rasa bersalah kembali menelusup di relung hatinya, berkali-kali menyalahkan dirinya kenapa begitu muda menyetujui permintaan seorang istri untuk menikahi suaminya. Mau di pikir bagaimana pun itu tentu sangat menyakitkan bagi Adel, tapi takdir sudah bertindak. Dan di sinilah mereka sekarang, dalam hubungan rumit yang tercipta karna ketidakberdayaan.


"Apa selain karna permintaan Mbak, kamu punya niat lain menikahi Mas Zidan?" lirih Adel lagi.


 Kini air mata kembali jatuh ke pipi Adel, membuat Nisa semakin gelisah dan kebingungan harus menjawab bagaimana.


"Nggak, Mbak. Nisa menerima pernikahan ini murni karna memang ingin membalas kebaikan Mbak Adel, dan menjadi adik madu yang baik untuk Mbak Adel. Kenapa Mbak nanya gitu? Apa Mbak meragukan Nisa?" tanya Nisa lembut.


 Adel menggeleng sambil mengusap air matanya.


"Nggak, bukan kamu ... tapi ibumu," tukas Adel menatap lekat Nisa.


 Nisa terkesiap, bahkan sampai terlonjak kaget saking terkejutnya.


"Apa ibu mengatakan sesuatu ke Mbak Adel?"


"Apa, Mbak? Kalau itu cuma membuat hati Mbak sakit tolong jangan di dengarkan, Mbak. Nisa akan minta ibu sama Alan buat pulang ke kampung secepatnya kalau cuma buat Mbak Adel sakit hati," ucap Nisa memegang bahu Adel.


 Adel baru hendak menjawab saat tiba-tiba Zidan menyela ucapannya.


"Tapi Adel sudah terlanjur mendengar, dan bukan hanya hati Adel yang sakit tapi saya juga.".


 Mata Nisa membulat sempurna, mulutnya terbuka dan tertutup hendak menjawab ucapan Zidan tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.


"Abi." Adel memegang tangan Zidan, memintanya untuk tak melanjutkan amarahnya pada Nisa.


"Tidak, Sayang. Nisa harus tau karna ini menyangkut ibunya, kita terutama kamu nggak seharusnya menanggung semua ini, Sayang."


 Air mata Nisa menetes, baru satu hari dan masalah sudah menghampiri rumah tangganya yang bahkan baru hitungan jam.


"Tolong beri tahu Nisa, Mbak. Apa yang di katakan ibu sampai Mbak Adel sakit hati seperti ini."


 Zidan menyugar rambutnya kasar. "Kalau Umi nggak mau bilang, biar Abi yang jelaskan ke Nisa."

__ADS_1


"Nggak!" Adel menahan pergerakan Zidan yang hendak mendekat ke Nisa dengan tatapan marah.


 Adel sangat mengenal suaminya, Zidan tidak akan membiarkan siapapun menyakiti hati Adel. Atau sampai membuatnya menangis.


 "Kalau begitu tolong beritahu Nisa, Mbak. Nisa ada di sini untuk membuat Mbak bahagia bukannya malah nangis kayak gini," tukas Nisa menghapus air mata Adel.


 Zidan mendengus keras dan membuang pandangannya ke arah lain.


"Ibu kamu," Adel menarik nafas dalam, " meminta untuk ikut tinggal juga di rumah ini."


 Nisa membelalakkan matanya sambil menutup mulut dengan satu tangan.


"Dan juga ...," sambung Adel.


"Beliau juga ingin Mas Zidan memberi pekerjaan dengan jabatan tinggi untuk Alan, adik kamu."


 Nisa gemetar, bahkan sampai hampir terjatuh dari tempat duduknya. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan berulang kali, berharap kalau apa yang di dengarnya barusan hanya mimpi.


"Maka dari itu Mbak bertanya, apa kamu punya tujuan lain menyetujui pernikahan dengan Mas Zidan?" Adel menatap Nisa nanar.


"Demi Allah nggak, Mbak. Nisa nggak pernah memikirkan sampai sejauh itu, setelah menikah yang ada di benak Nisa cuma bagaimana bisa membaur dan membuat Mbak Adel nyaman di rumah selama masa pemulihan. Dan syukur-syukur bisa memberi keturunan seperti yang Mbak Adel harapkan," tandas Nisa mengangkat satu jarinya ke atas.


 Zidan menoleh dan menatap Nisa dingin. " Lalu bagaimana dengan ibu dan adikmu yang seperti mengambil keuntungan dari pernikahan kita? Bahkan apartemen itu sudah ku ikhlaskan di tempati mereka. Dan kini mereka justru meminta lebih?"


 Nisa menundukkan dan meremas ujung bajunya, merasa terintimidasi dengan tatapan tajam Zidan.


"Berhenti berkata kasar, Bi!" tegur Adel pada Zidan.


 Zidan menutup mulutnya dan kembali membuang muka ke arah lain sambil berpegangan di pagar pembatas balkon.


"Mbak percaya sama kamu, Nis. Tapi ibu kamu ...." Adel menggantung kalimatnya.


 Nisa berjongkok di hadapan Adel dengan kedua tangan menyatu di dada.


"Maafin ibu dan Alan kalau mereka salah, Mbak. Tapi sumpah demi apapun Nisa sama sekali nggak tau hal itu, bahkan Nisa baru tau waktu Mas Zidan bilang tadi. Ibu sama sekali nggak bilang apa-apa ke Nisa kalau dia mau tinggal di sini sama Alan."


"Bohong!" marah Zidan.


 Dia menuding Nisa tanpa memperdulikan tatapan Adel yang tampak tak suka dengan sikap kasarnya pada Nisa.

__ADS_1


"Lalu bagaimana kamu menjelaskan tentang uang nafkah? Tentang uang kes dan kartu ATM yang akan kamu minta padaku sebagai nafkah? Bagaimana kamu menjelaskan itu, Nisa? Istri keduaku?" tekan Zidan dengan mata memerah.


__ADS_2