
Ceklek
Pintu ruangan terbuka di susul dengan masuknya seseorang yang auranya luar biasa membuat Adel dan Bu Sita yang berada di dalam sampai kehilangan kata-kata.
Bu Sita sendiri tampak sampai ternganga saking takjubnya.
"Si- siapa?" tanyanya heran.
Perempuan cantik dengan gaun pengantin putih itu berjalan mendekat perlahan.
"M- Mbak Adel," panggilnya dengan suara yang begitu familiar di telinga Adel.
Dan di susul masuknya Bu Sekar di belakangnya menguatkan asumsi Adel tentang perempuan itu.
"Masyaallah! Nisa?" seru Adel terkejut.
Bu Sita melirik Adel dengan tatapan terkejut. "a- apa? Masa sih itu Nisa?"
Perempuan dalam balutan gaun pengantin cantik yang ternyata adalah Nisa itu tersenyum lebar dan kembali berjalan pelan menuju ke ranjang Adel.
Acara akad nikah memang akan dilaksanakan di ruang rawat Adel, namun untuk pesta dan perjamuannya akan di lakukan di gedung hotel yang sudah di sewa Bu Sita, letaknya tak jauh dari rumah sakit tempat Adel di rawat.
Rombongan keluarga inti mulai masuk di ikuti oleh seorang penghulu dan beberapa orang saksi yang di minta Zidan datang di acara ijab qobul keduanya hari ini.
Zidan tersenyum pada Adel dan mendekatinya, Adel mencium tangan suaminya takdzim sedangkan Zidan mengecup keningnya lembut.
"Abi tampan sekali," lirih Adel menelisik tubuh tegap suaminya yang terbalut jas putih senada dengan gaun yang di kenakan Nisa.
"Apa Umi siap?" tanya Zidan mengelus pipi istrinya, dia tau bahkan sangat tau kalau saat ini hati istri yang di kasihibya itu tengah parah walau tak di tunjukkan secara langsung.
"Yah, bismillah Umi siap." Adel mengangguk dengan segulir tetes air mata jatuh di pipinya.
Bu Hanif dan Pak Hanif mengambil tempat di dekat Adel, sedangkan sebuah meja dengan beberapa kursi sudah tersedia di tengah ruangan tak jauh dari ranjang Adel untuk tempat berlangsungnya ijab qobul.
Pak penghulu, para saksi dan juga Nisa sudah duduk di tempatnya masing-masing. Begitu pula Bu Sekar dan Bu Sita yang mendapat tempat duduk berdekatan namun saling membelakangi.
"Pergilah, Sayang. Lakukan yang terbaik ya, insyaallah Umi sudah ikhlas," bisik Adel saat melihat sang suami tak kunjung beranjak menuju meja ijab qobul dan malah menunduk gelisah di sisinya.
Nanar mata Zidan beradu dengan tatapan sendu Adel. "Bismillah?"
"Bismillah," bisik Adel mengangguk mantab.
__ADS_1
Tapi air mata itu, tetap jatuh mewakili hatinya dengan jujur.
Zidan beringsut, menuju para hadirin yang sudah menunggu dirinya dengan sabar. Sedangkan Bu Hanif mengambil tempat Zidan sebelumnya dan memeluk Adel. Menguatkan putrinya agar tidak tumbang menyaksikan sendiri prosesi pernikahan kedua suami yang begitu di cintainya.
Alan- adik Nisa, yang baru saja sampai malam sebelumnya di minta penghulu untuk duduk di dekat Nisa sebagai wali pengganti ayahnya. Sedangkan ijab qobul akan di pimpin oleh penghulu itu sendiri karna Alan belum paham cara menikahkan kakaknya.
"Bisa kita mulai?" tanya sang penghulu memastikan terlebih dahulu.
Semua yang hadir langsung mengangguk, kecuali Zidan yang malah memutar kepalanya melihat ke arah Adel.
Air mata Adel tumpah, namun dia memaksakan tersenyum dan mengangguk pada suaminya.
"Bismillah, saya siap Pak." Zidan memperbaiki posisi duduknya menghadap pak penghulu.
Penghulu itu mengangguk. "Baik, kita mulai. Bismillahirrahmanirrahim,"
Penghulu itu menjabat tangan Zidan dan melantunkan ucapan ijab qobul dengan lantang.
"Saya nikahkan engkau saudara Zidan Abimana Aryasatya bin Angkasa Aryasatya dengan Anissa Salsabilla binti alm. Sutejo, dimana walinya telah berwakil wali kepada saya. Dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar satu miliyar rupiah dibayar tunai."
Penghulu itu menggerakkan tangannya sebagai kode agar Zidan menjawab ijabnya dengan kalimat qobul.
"Saya terima nikah dan kawinnya Anissa Salsabilla binti alm. Sutejo dengan maskawin yang tersebut tunai." Zidan melantunkan kalimat qobulnya dengan pelan seakan tanpa semangat.
Tapi fokus Zidan tak lagi ke arah sana, melainkan ke arah Adel yang kini tengah menangis tersedu-sedu dalam pelukan sang ibu. Begitulah hidup, saat kita pikir kita kuat tapi waktu dengan mudahnya membuat kita rapuh akan benteng yang kita buat sendiri.
Dan terjebak dalam luka, yang kita gali sendiri.
****
Zidan berlarian mengejar para suster yang mendorong brankar Adel untuk di bawa ke ruang operasi.
Ya, sesuai rencana awal. Adel baru mau di operasi setelah melihat langsung ijab qobul suaminya dan Nisa. Dan kini semua sudah terjadi, ruang operasi sudah menunggu.
"Tunggu, suster! Tunggu!" pekik Zidan frustasi.
Zidan menangkap tepian brankar dan menahannya sekuat tenaga agar para suster itu tak bisa membawa istrinya.
"Tapi, Pak. Operasi harus segera di mulai, dokter sudah menunggu!" protes salah seorang suster dan memaksa menarik kembali brankar Adel.
"Diam kamu! Beri saya waktu bicara dengan istri saya atau saya pastikan ini jadi hari terakhir kamu bekerja di rumah sakit ini." Zidan menunjuk suster itu sampai membuatnya terdiam dan menunduk.
__ADS_1
Adel membuka matanya dan memegang tangan Zidan agar tak lepas kendali.
"Tolong beri kamu waktu sebentar, sus. Saya janji ... hanya sebentar," lirih Adel.
Semua keluarga mereka sudah pergi untuk melanjutkan acara resepsi di gedung hotel, kecuali kedua orang tua Adel yang kini berdiri menunggu di depan pintu ruang operasi yang terbuka lebar dengan tangis mewarnai wajah mereka.
"Sayang, sayang. Maaf, tolong maafkan Abi. Abi benar-benar minta maaf!" ucap Zidan berurai air mata.
Hatinya sungguh nelangsa mengingat bagaimana tangis sesenggukan Adel saat dia selesai melantunkan ijab qobul.
Hatinya tak rela menyakiti istrinya, tapi semua sudah terjadi dan Nisa kini resmi menjadi istri keduanya. Walau kini dia di tinggalkan oleh Zidan di pelaminan demi menemani Adel.
"Bi ... Abi nggak salah, berkali-kali Umi bilang Abi nggak salah. Terima kasih untuk semuanya ya, dan sekarang biarkan Umi masuk ke sana dan bertaruh dengan kesembuhan Umi." Adel mengelus pipi mulus suaminya yang penuh air mata.
"Abi bakalan di sini nemenin Umi," ucap Zidan penuh keyakinan, sudah tak terpikir lagi olehnya bagaimana kini nasib Nisa yang dia tinggalkan seorang diri diatas pelaminan.
Adel menggeleng lemah. "Tidak, Abi nggak boleh lupa sama Nisa. Sekarang dia pasti sedih Abi tinggal sendirian, Abi harus belajar adil, Nisa juga istri Abi sekarang. Pergilah ... ini hari pernikahan kalian, buat dia bahagia."
Zidan menggeleng cepat sampai air matanya berhamburan.
"Nggak! Abi mau tetap di sini nemenin Umi. Abi nggak bakalan maafin diri Abi sendiri kalau sampai terjadi apa-apa sama Umi di dalam sana. Nggak Mi, Abi nggak mau ninggalin Umi," bantah Zidan.
Melihat Zidan menangis membuat hati Adel terharu dan justru ikut menangis.
Pak Hanif dan Bu Hanif yang sejak tadi hanya melihat dari kejauhan kini mulai mendekat dan menguatkan Zidan.
"Adel benar, Nak Zidan. Pergilah, temui istrimu. Biar bagaimanapun dia baru kamu nikahi hari ini, sudah haknya mendapat kebahagiaan dari kamu di hari ini. Kamu tenang saja, masalah Adel ... Bapak dan ibu yang akan menjaganya di sini," bujuk Pak Hanif.
"Iya, Zidan. Kami yang akan menjaga Adel di sini, dan kalau ada apa-apa nanti, kami bakalan langsung ngabarin kamu. Kami janji," tukas Bu Hanif pula.
Zidan tetap menggeleng cepat sambil memeluk Adel, tak terbatas sedikit pun untuk bersenang-senang tanpa istri tercintanya itu walau kini dia juga telah mempunyai istri lainnya yang tengah menunggunya.
"Nggak, jangan paksa aku."
Suara langkah kaki cepat yang beradu dengan lantai keramik terdengar riuh mendekat ke arah mereka.
"Zidan!"
Suara yang familiar bagi Zidan, namun asing bagi Adel dan kedua orang tuanya.
Perempuan yang berdiri bersedekap dada di depannya tampak kesal, dan serta merta membuat Zidan tercengang.
__ADS_1
"Ka- kamu ...."