
Semenjak peristiwa itu, Zidan dan Adel memutuskan kembali membawa Nisa pulang ke rumah mereka dan sepakat untuk tidak memberi tahu Bu Sekar akan kondisi Nisa lebih dulu, agar tidak menimbulkan kehebohan.
Sedangkan kondisi Nisa, saat ini bisa di bilang memperihatinkan. Ibu satu anak itu tampak sangat terpukul dengan peristiwa yang menimpanya, trauma luar biasa dia rasakan hingga setiap kali melihat lelaki baik Zidan maupun Alan adiknya sendiri dia akan menjerit histeris. Hingga saat ini hanya Adel dan Zafran lah yang masih bisa membuatnya tenang.
"Mama, waktunya makan ... ayo kita makan dulu, Mama." Adel masuk ke dalam kamar Nisa sambil menggendong Zafran yang tertawa senang dalam dekapannya.
Adel membawa sebuah baki berisi makanan untuk Nisa dan Zafran sekaligus.
Nisa tersenyum samar, dan membiarkan Adel juga Zafran duduk di dekatnya. Di atas karpet tebal di bawah ranjang tidurnya.
"Nah, Zafran duduk di sini ya. Umi sambil suapin mama Nissa makan juga ya, biar gantian sama Zafran," ujar Adel sambil meletakkan Zafran di atas baby chairnya agar dia bisa duduk tegak untuk mulai menikmati makanannya .
"Nis, makan ya. Mbak suapin," ucap Adel lembut sambil menyuapkan sesendok nasi beserta lauknya ke mulut Nisa.
Nisa mengangguk dan tersenyum tipis, setelah itu dia membuka mulutnya walau sangat kecil. Hanya seperempat dari banyaknya nasi yang di suapkan Adel yang berhasil masuk ke mulutnya.
Nisa mengunyah dengan perlahan, tak hanya sedikit makannya. Nisa juga sudah sangat jarang bicara, dia menjadi sangat pendiam semenjak keluar dari rumah sakit. Padahal seluruh keluarga tak ada yang menceritakan kondisi ya yang sebenarnya padanya, namun sepertinya Nisa sendiri sudah menyadari kondisinya saat ini.
"Sekarang giliran Zafran ya," tukas Adel sambil mengambil kesempatan selama Nisa masih mengunyah makannya untuk menyuapi Zafran dengan bubur halus yang dia olah sendiri agar lebih sehat.
Mereka makan dengan tenang, namun saat Nisa hampir saja menghabiskan separuh dari isi piring yang di bawa Adel. Suara Alan terdengar memanggil dari luar kamar.
Tok
Tok
Tok
"Mbak Adel, Mbak ... Mbak di dalam?" panggil Alan lirih, mungkin bertujuan agar Nisa tidak mendengar, namun sayangnya suara itu tetap terdengar oleh Nisa walau sayup.
Dan itu membuatnya mulai histeris dan ketakutan. Nisa menutup telinganya dengan tubuh bergetar, perlahan dia beringsut menuju sudut kamar dan meringkuk di sana.
__ADS_1
Adel yang menyadari situasi segera keluar menuju pintu kamar untuk menghentikan Alan terus memanggil namanya.
"Ada apa, Al? Kamu tahu kan kalau kamu tidak bisa berteriak sembarangan di depan kamar Nisa. Dia ketakutan sekarang," keluh Adel sambil menatap Alan.
Alan menunjukkan raut wajah menyesal, namun mau bagaimana lagi kebutuhan mendesak juga lah yang memaksa dirinya untuk memanggil Adel yang berada di kamar Nisa. Walau dia tau akan konsekuensinya.
"Maaf, Mbak."
Adel menarik nafas panjang, berusaha mengontrol emosinya agar tidak semakin menjadi. Mengingat Alan melakukannya bukan karena sengaja.
"Baiklah, katakan ada apa?"
"Mas Zidan, minta Mbak dan yang lain untuk bersiap siap. Karna baru saja ibu telpon dari kampung kalau beliau mau ke mari untuk menjenguk Kak Nisa dan Zafran."
Degh.
Jantung Adel serasa di sulut rokok mendengar ucapan Alan, rasanya dia tak bisa bernafas jika membayangkan apa yang akan di katakan Bu Sekar jika mengetahui anaknya sekarang dalam kondisi tidak baik baik saja.
"Kapan Bu Sekar mengatakannya?"
Adel kembali menarik nafas dalam-dalam, berusaha untuk tidak panik yang akan membuat kondisi lebih buruk nantinya.
"Lalu sekarang Mas Zidan dimana?" tanya Adel.
"Mas Zidan pergi ke rumah ustad Yusuf katanya, mau minta tolong ustadz untuk memberi solusi masalah ini. Agar nanti saat ibu tiba beliau tidak curiga."
Adel menganggu dan berterima kasih akan informasi yang di sampaikan Alan. Sangat membantu untuk mereka bisa bersiap siap.
"Terima kasih infonya, Al. Sekarang kamu bisa istirahat kembali, kamu pasti capek kan habis dari pabrik."
Alan mengangguk lemah. "Baik, Mbak. Terima kasih juga sudah merawat kakak ku dengan baik, semoga Allah yang akan membalas kebaikan Mbak ya."
__ADS_1
"Amiin," sahut Adel mengamini doa Alan yang sangat tulus untuknya itu.
.
Anak itu selalu menunjukkan sikap yang baik selama tinggal bersama mereka, hingga Zidan memberinya kepercayaan untuk bekerja di pabrik tekstilnya sebagai staff produksi. Alan bilang dia ingin memulai semuanya dari bawah, dan tidak ingin memanfaatkan kebaikan Zidan padanya. Hal itu juga lah yang membuat Zidan sangat salut padanya.
Sepeninggalan Alan, Adel kembali masuk ke dalam kamar Nisa. Dan dia di sambut dengan pemandangan yang sangat menyejukkan hatinya.
Tampak di sana Nisa tengah memangku Zafran dan mengajak anaknya bercanda. Kemajuan yang sangat luar biasa, walau Zafran yang kini sudah mulai merangkak terus memberontak untuk lepas dari pegangan mamanya.
"Zafran, ayo sini sama Mama, Nak. Mama sayang sekali sama Zafran, maafin Mama ya, Nak sudah egois. Mulai sekarang Mama nggak akan begitu lagi, sayang. Jadi kamu main lagi ya sama Mama," ucap Nisa lirih sambil berusaha mengejar Zafran yang merangkak dengan semangat nya.
Adel tersenyum senang dan melangkah mendekati mereka, mengambil Zafran dan memberikannya pada Nisa.
"Zafran mulai nakal ya, pasti dia mirip kamu waktu kecil ya, Nis." Adel tersenyum menatap bayi kecil yang sangat aktif itu.
.
Bahkan kini Zafran sudah kembali berusaha untuk terlepas dari pangkuan Nisa, beberapa kali dia tampak merengek hingga akhirnya Nisa menyerah dan membiarkannya merangkak sendiri kemana pun yang dia sukai.
"Nisa kangen ibu," celetuk Nisa tiba tiba.
Hari ini sepertinya Adel mendapat banyak kejutan, mulai dari kabar tentang Bu Sekar, Nisa yang mulai mau bermain dengan Zafran dan akhirnya kalimat yang Nisa lontarkan saat ada orang lain bersamanya, padahal biasanya Nisa hanya akan bergumam pelan saja tanpa bisa di pahami Adel. Tapi kini suaranya sangat jelas terdengar.
"Apa kamu ... mau bertemu Bu Sekar?" tanya Adel hati hati, walau kini hatinya merasa sangat senang melihat kemajuan yang ada dalam diri Nisa.
Nisa mengangguk singkat, matanya masih awas mengikuti kemana pun pergerakan Zafran.
Kesempatan itu tak di lewatkan oleh Adel untuk membuat Nisa menjadi tampak normal di hadapan ibunya nanti, agar tak ada yang tau lagi skandal yang tengah di tutupi oleh mereka dan Nisa.
"Tapi ... kalau Bu Sekar melihat kondisi kamu yang seperti ini, bukankah Bu Sekar akan sedih?"
__ADS_1
Nisa menoleh sekilas, tampak bias kabut di matanya mulai menggenang menutupi binar yang sempat singgah saat bersama putranya.
"Lalu, Nisa harus bagaimana, Mbak?" tanya Nisa pelan.