ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 55.


__ADS_3

"Mama benar-benar keterlaluan!" sentak Zidan sambil mendorong tubuh Bu Sita untuk menjauh dari depan pintu.


Zidan mendorong pintu yang ternyata tidak di kunci kembali itu, suara tangis bayi semakin keras terdengar dan yang lebih mencengangkan adalah kondisi tempat itu yang di penuhi lilin merah dan berbagai macam barang kelnik yang Zidan sendiri baru pertama kali melihatnya.


"Oowaaaa ... Oowaaaa." suara tangis bayinya kembali terdengar, kali ini bahkan lebih keras dari sebelumnya.


 Sepertinya kesakitan bayi itu terus menangis hingga suaranya serak.


"Astaghfirullah!" seru Zidan sambil berlari mengambil bocah kecil yang masih merah itu.


 Kondisinya sangat memperihatinkan dengan tubuh polos tanpa di pakaikan baju barang sehelai kain pun. Terasa sekali kalau bayi itu kini menggigil, dengan cepat Zidan memasukkan bayinya ke dalam bajunya dan meletakkannya di dadanya. Perlahan bayi itu mulai tenang, dan Zidan membawanya keluar, melewati Bu Sita juga yang lain yang kini tengah menatap dari ambang pintu.


"Mama berhutang banyak penjelasan padaku," geram Zidan sambil melangkah cepat menuju mobil.


 Di ikuti Adel dan yang lain, tujuan utama mereka adalah ke rumah sakit. Guna menyelamatkan bayi mungil itu.


 Di sepanjang jalan Adel hanya diam, untuk bertanya pun dia sama sekali tidak mempunyai keberanian melihat wajah Zidan yang memerah dan seperti memendam amarah yang sangat besar.


 Sesampainya di rumah sakit, Zidan bergerak cepat menuju rumah IGD. Pihak rumah sakit yang sejak tadi sudah menunggu langsung siaga dan melakukan pertolongan pertama pada bayi merah itu yang kini suaranya bahkan belum terdengar lagi.


"Tolong selamat kan anak saya, dokter." Zidan di bantu para suster mengeluarkan tubuh bayinya dari balik baju yang dia kenakan.


 Perlahan bayi itu keluar dan tergeletak lemah di atas brankar.


"Bapak boleh tunggu di luar ya, biar adik kami yang akan tangani. Berdoa ya, Pak. Semoga adik bisa lekas membaik," ujar seorang suster sambil menuntun Zidan keluar dari ruangan dan menutup pintunya.


 Zidan terpaksa keluar dari perasaan tak menentu, untung saja ada Adel yang selalu setia mendampinginya dalam keadaan apapun. Adel merentangkan tangannya dan Zidan yang tengah kalut langsung masuk ke dalam pelukannya dan menangis tersedu-sedu di sana.


"Kenapa, Mi? Kenapa harus Mama pelakunya, kenapa? Abi masih bisa terima kalau penculiknya orang lain, tapi ini bahkan neneknya sendiri, Mi. Sebenarnya apa tujuan Mama?" Isak Zidan memeluk erat tubuh Adel.


 Adel balas mengusap punggung Zidan lembut. "Sabar, Bi. Itu bisa kita cari tau nanti, sekarang ... kita harus fokus sama kesembuhan Dede bayi ya? Udah ya jangan nangis lagi, banyakin berdoa supaya Dede bayi di kasih keselamatan."


 Zidan bangkit dan mengangguk, tak lama dia mengangkat tangannya dan berdoa dengan khusuk sekali. Bahkan dalam doanya air mata itu tak hentinya mengalir.


"Mi, Abi ke mushola dulu ya. Rasanya nggak afdol kalo berdoa di sini," tukas Zidan sambil berdiri dan berjalan menuju mushola rumah sakit.

__ADS_1


 Adel mengangguk mengiyakan dan menunggu di sana sendirian.


"Mbak Adel," panggil Alice dan Alan yang baru saja datang, di tangannya tampak sebuah kantong plastik yang berisi makanan dan air mineral kemasan.


"Kok lama? Kalian dari mana?" tanya Adel.


"Tadi kami ketinggalan di belakang, soalnya kan Mas Zidan bawa mobilnya kenceng banget, Mbak. Makanya lama kami, terus pas sampai kepikiran Mbak Adel sama Mas Zidan kan belum sempet makan makanya kami mampir ke minimarket dulu beli cemilan," terang Alan sembari memberikan kantong plastik yang ada di tangannya pada


adel.


 Adel menerimanya dan mengucapkan terima kasih, dia membuat plastik itu dan memgambil sebotol minuman kemasan dari sana. Dan meneguknya hingga tersisa separuh.


"Bang Zidan kemana, mbak?" celetuk Alice sambil mengunyah sepotong roti.


"Ada, lagi sholat ke mushola," sahut Adel sambil membuka sebungkus roti dan memakannya.


 Lelah, itulah yang dia rasakan saat ini. Lelah jasmani dan juga rohani karna tak hentinya masalah terus menghampiri seakan tidak lelah membuatnya dan keluarga meneteskan air mata.


 Tak lama, Zidan kembali dari mushola. Adel langsung memberikan sebungkus roti dan sebotol air untuk di minum suaminya itu.


 Setelah menunggu cukup lama dalam diam, akhirnya pintu ruangan yang di tunggu itu terbuka juga.


"Keluarga pasien?" tanya sang dokter.


 Zidan mendekat dengan tak sabar.


"Iya, dok. Saya ayahnya bayi itu. Bagaimana anak saya, dok? Dia ... dia baik-baik saja kan?"


"Yah, untungnya bayi itu baik-baik saja. Selain kedinginan tidak ada kondisinya yang mengkhawatirkan. Setelah ini dia akan kembali di bawa ke ruangan bayi, ke box inkubatornya dan akan di awasi dua puluh empat jam oleh petugas kami," papar dokter itu melegakan hati Zidan dan Adel.


"Alhamdulillah," seru mereka bersamaan.


 Kecuali Alice, karna dia berkeyakinan Nasrani. Tapi Alice tetap bersyukur dengan caranya sendiri dan mengucapkan ribuan rasa terima kasih pada Tuhannya dengan caranya sendiri.


 Dokter meninggalkan mereka dan kembali masuk ke ruangan untuk mengurus pemindahan si bayi yang bahkan belum di beri nama itu.

__ADS_1


"Umi, Abi kabari Nisa dan ibu dulu ya." Zidan berpamitan pada Adel sambil menunjukkan ponselnya.


 Adel tersenyum dan mengangguk. "Iya, jangan jauh-jauh ya, Bi."


 Zidan megangguk dan hanya pergi tak jauh dari Adel untuk melakukannya panggilan telepon dengan Nisa.


 Adel, Alice dan Alan mengikuti rombongan suster yang membawa box inkubator bayi dan berhenti di depan kaca besar tempat bayi tersebut di tempatkan di dalam ruangan.


"Syukurlah, akhirnya Dede bayinya ketemu lagi." Alice menghela nafas panjang.


 "Iya, tapi ... ada yang bikin aku bertanya-tanya loh, Kak," ujar Alan pelan. Namun masih cukup terdengar oleh Adel dan Alice.


"Apa soal ruangan di rumah Mama tadi?" tebak Adel.


 Alan mengangguk, begitu juga Alice yang langsung begidik mengingat seramnya kondisi ruangan itu. Seperti layaknya ruangan untuk orang yang melakukan ritual sesat.


 Adel mengalihkan pandangannya kembali pada si bayi, dan perlahan menjatuhkan bobot tubuhnya ke atas kursi tunggu yang kebetulan ada di bawahnya.


"Sebenarnya ... ruangan itu sudah ada sejak dulu. Bahkan sudah sangat lama, kata Mama bahkan sebelum Mbak dan Mas Zidan menikah."


 Alice dan Alan yang penasaran langsung mengambil tempat duduk mengapit Adel, dan mendengarkan dengan seksama apa yang dia ucapkan.


"Mbak? Mbak Adel ... tau sesuatu?" bisik Alice lirih.


 Adel menghela nafas dalam dan kemudian mengangguk ragu.


"Apa?" tanya Alice lagi.


 Air muka Adel mulai menunjukkan ketakutan ketika memaksa bayangan lampau yang berusaha dia enyahkan dari pikirannya kini kembali hadir menyeruak di dalam otaknya.


"Mbak, Mbak kenapa?" desak Alice yang menyadari perubahan sikap Adel.


 Adel semakin pias, bayangan menakutkan itu serasa mengejarnya. Hingga dia merasa benar-benar ada di saat itu lagi.


"Ruangan itu ... ruangan itu ...."

__ADS_1


"Iya, kenapa ruangan itu kenapa, Mbak? Apa Mbak mau beritahu kami sesuatu? Tapi kalau Mbak takut lebih baik nggak usah, Mbak." Alice mengusap punggung Adel yang mulai terasa bergetar.


 Adel menggeleng. "Ruangan itu ... Papa ... darah ...."


__ADS_2