ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 78.


__ADS_3

 Zidan merangsek masuk ke sebuah tempat tersembunyi yang ada di belakang mushola kecil tersebut. Tempat dimana pria tadi keluar sambil membawa Zafran.


"Hah, apanya kau ini, Cok. Kenapa malah balik lagi kau? Nggak bisa kau tunggu dulu aku selesai ini ....."


 Seorang pria yang sepertinya teman pria sebelumnya yang sudah jatuh terkapar di depan sana akibat pukulan Zidan, berbalik dan terkejut bukan main karna yang di kiranya temannya rupanya adalah orang lain.


 Cepat cepat dia memasang kembali reseleting celananya yang tadi sudah dia turunkan, dan dengan raut sok jagoan mencoba menantang Zidan.


"Siapa nya kau? Apa mah kau masok masok ke sini hah? Ganggu kesenangan aja kau!" bentaknya dengan dagu terangkat tinggi.


"Apa yang sudah kau lakukan pada wanita itu hah?" balas zidan tak kalah garang.


 Pria itu berdecih. "Apa peduli kau? Siapamu ini ha? Saudaramu? Bukan kan? Kalo mau minta jatah juga kau, antri lah. Aku dulu dapat dia tadi, habis ini kawan ku, baru kau kalo kau mau. Biar kami jagakan, aman aja." Pria itu berkata dengan gaya tengilnya yang memuakkan.


 Zidan mengetatkan rahangnya, dengan perasaan marah yang menggebu-gebu. Sekilas di lihatnya kondisi Nisa yang terbaring lemah tak berdaya dengan sebagian bajunya sudah tersingkap ke atas hingga menampakan bagian pusarnya.


"Apa? Sor kau? Marilah, kalo mau kita sesuaikan jadwal tadi. Nggak lama pun kau nunggunya, paling setengah jam kami berdua. Udah pro kami ini, udah sering kali kami nikmati perempuan perempuan yang lewat nggak ada keluarganya begini. Kau tenang aja nggak akan ada yang tau." Pria tadi masih berusaha membujuk Zidan tanpa tau kalau wanita yang sudah di lecehkan adalah istrinya.


"Brengs*k!!" maki Zidan sambil berlari maju dengan tangan terkepal erat, mengarahkan satu tinjuannya tepat ke hidung pria tengil itu.


Brrruuuuaaakkkkkk!!!


 Pria itu sampai terpelanting saking kerasnya pukulan Zidan, dari hidungnya mengalir darah segar. Wajahnya meringis menahan sakit luar biasa akibat pukulan itu.


"Kurang aj*r!" makinya sambil berusaha bangkit berdiri untuk membalas pukulan Zidan.


 Namun ternyata pukulan zidan tadi terlalu berefek padanya hingga dia terhuyung dan kembali terjatuh ke tanah tak jauh dari tubuh Nisa yang tergolek lemah.


"Kau ... kau tunggu, aku akan balassss ...." setelah mengucapkan ancamannya pria tengil dan aneh itu pingsan, dengan telunjuk masih teracung ke arah Zidan.


 Zidan mendengus keras, mendinginkan hatinya yang sempat panas karna melihat istrinya sudah di lecehkan sedemikan rupa. Dan anaknya yang sebelumnya tampak sangat memperihatinkan kondisinya.

__ADS_1


 Zidan melangkah maju, dan menginjak tangan pria itu hingga terdengar bunyi berderak. Untung saja pria itu pingsan, jika tidak mungkin sudah terdengarlah suara teriakannya karna jari jari tangannya yang patah dan remuk akibat injakan kaki Zidan yang sengaja dia keraskan.


"Nak Zidan." Pak Hanif melongok ke tempat itu dan terkejut bukan main saat melihat tubuh Nisa yang tergeletak dan seoran pria lagi yang kini sudah tak sadarkan diri.


"Pak," kata Zidan lirih.


 Pak Hanif mendekat untuk bisa melihat lebih jelas lagi.


"Bapak akan telpon ambulans." Pak Hanif hendak merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya.


 Namun cepat Zidan menahannya karna tak ingin skandal ini sampai tersebar, mengingat keluarga mereka cukup di kenal di kota.


"Nggak usah, Pak. Biar Zidan telpon teman Zidan saja, dia seorang polisi biar sekalian dia pria tengil ini di urus di kantor polisi. Sebab tadi dia mengaku sudah sering melakukan ini pada perempuan perempuan lain yang ada di terminal ini."


"Astaghfirullah, bejat sekali mereka." Pak Hanid berujar dengan geraman tertahan.


 Zidan mengeluarkan ponselnya dan mulai mencari nomor telepon temannya yang bertugas di kantor kepolisian tak jauh dari kawasan itu.


"Pak, Zafran dimana?" tanyanya panik.


"Aman, Zafran sudah di bawa Adel dan ibumu ke mobil. Untungnya tadi Adel juga membawa stok susu untuk Zafran, jadi sepertinya anak itu sudah aman sekarang. Saat ini kita fokus saja pada istri kamu yang ini." Pak Hanif menunjuk Nissa yang masih tergolek di tanah dengan pakaian yang tersingkap.


 Zidan mengangguk, dan sembari menelpon dia berjongkok untuk memperbaiki pakaian Nissa. Dan mencoba membangunkannya.


"Assalamu'alaikum," ucap Zidan ketika telepon sudah tersambung.


 Pak Hanid tak bisa mendengar jawaban orang di sebrang telpon karena Zidan tidak menghidupkan loudspeaker ponselnya.


"Istriku hampir di lecehkan di terminal X, tolong segera ke sini. Pelaku juga masih ada di sini, mereka dan istri pingsan."


(....)

__ADS_1


"Baik, baik. Aku tunggu, terima kasih bantuannya, Guh."


 "Wa'alaikumsalam."


 Zidan menutup teleponnya, dan memasukkan kembali benda canggih itu ke dalam kantong celananya. Setelah itu dia berusaha memapah Nisa untuk keluar dari tempat itu.


"Biar bapak bantu, Zidan." Pak Hanif hendak membantu Zidan membawa tubuh Nisa yang tampak agak berat itu.


 Zidan menggeleng. "Nggak usah, Pak. Bapak tolong carikan tali atau apa saja yang bisa di gunakan untuk mengikat dua orang itu, Pak. Takutnya saat sadar nanti mereka malah kabur, Zidan minta tolong ya, Pak."


 Pak Hanif mengangguk, dan mulai mencari apa yang di pinta Zidan. Untungnya di terminal itu banyak sekali bertebaran tali rafia dan beberapa tali tambang, bahkan Pak Hanif juga menemukan kabel dan kawat yang sudah berkarat. Mungkin sisa bekas orang orang yang membawa banyak barang saat pulang kampung atau mudik dan membuangnya ke sembarang tempat. Beliau mengambilnya semua dan membawanya ke mushola kecil itu, dimana kini Zidan tampak membaringkan tubuh Nisa di lantai terasnya.


 Pak Hanif berlari tergopoh-gopoh dan menyerahkan semua yang bisa di dapatkan itu pada Zidan.


"Ini, Dan. Cuma ini yang bisa bapak dapat."


 Zidan mengangguk dan mengucapkan terima kasih.


"Makasih banyak ya, Pak. Zidan jadi ngerepotin bapak terus. Sekarang Bapak tolong jaga di sini ya, siapa tau teman Zidan nanti sampai. Zidan mau ikat dulu dua orang itu supaya aman." Zidan beranjak kembali ke belakang mushola dan mulai mengikat dua preman tengil itu dengan semua yang di bawa Pak Hanif.


  Tali, kabel dan juga kawat itu dia pakai semuanya untuk melilit tangan, kaki dan tubuh para preman itu. Dan memastikan ikatannya kuat, agar mereka tidak bisa kabur.


 Setelah di rasa cukup, Zidan kembali ke depan. Tepat saat mobil polisi baru saja mendekati musholla itu, karena Zidan sudah memberi tahu posisi mereka sebelumnya.


"Teguh!" panggil Zidan pada temannya yang merupakan komandan polisi itu.


Pria tegap dengan perawakan tinggi besar itu menoleh dan mendekati Zidan.


"Dimana pelakunya, Dan?" tanyanya tegas.


 Zidan menunjuk ke bagian belakang mushola, dan Teguh memberi kode pada anak buahnya. Beberapa petugas polisi langsung masuk ke tempat itu, dan meringkus dua preman yang masih dalam kondisi tak sadarkan diri itu.

__ADS_1


"Terima kasih, Dan. Kamu sudah membantu kami menangkap buronan buronan ini, mereka memang sudah lama meresahkan warga di sekitar terminal ini karna kerap mencuri dan melakukan tindakan asusila begini. Tapi aku harap, istrimu belum sempat di apa apakan merasa ya, Dan. Sebab menurut penuturan keluarga korban yang pernah melapor, mereka ini melakukannya dengan kasar dan membuat trauma yang mendalam bagi korban," ucap Teguh sambil menepuk pundak Zidan.


__ADS_2