
Mendengar suara ribut di depan kamarnya membuat Zidan sontak terbangun dan gegas berdiri namun dia terkejut ketika mendapati tubuhnya sudah polos tanpa pakaian yang menutupi.
Gegas Zidan memungitu pakaiannya yang ternyata tercecer di bawah lantai dan segera memakainya.
"Bude, Bude kenapa Bude?" suara Nisa begitu jelas terdengar membuat Zidan menjadi ikut panik, karna takut terjadi sesuatu pada ibu mertuanya itu.
"Ada apa?" seru Zidan panik sembari berlari membantu Nisa yang tengah memapah Bu Hanif kembali berdiri.
"Ada apa ini? Nisa, Ibu kenapa?" cecar Zidan cemas.
Nisa menggelengkan kepalanya karena dia pun juga tak tau kenapa Bu Hanif tiba tiba rubuh ke belakang hanya karna melihat Zidan ada di kamarnya.
"Bu, apa ibu sakit? Zidan panggilkan dokter ya, Bu." Zidan memegang bahu Bu Hanif lembut.
Bu Hanif menepis pegangan Zidan dan menjauh dari mereka berdua dengan mata berkaca-kaca.
"Berhenti bersikap sok baik seperti itu, Zidan! kalau nyatanya kamu itu sama saja dengan laki-laki di luaran sana yang hanya menganggap wanita itu mainan!" amuk Bu Hanif tak bisa menahan emosinya yang sudah meledak ledak.
Zidan menggeleng tak mengerti. "Tapi, Bu. Ini ada apa? kenapa ibu marah marah? maaf Zidan nggak ngerti, Bu."
"Iya, Bude. Tolong jelaskan ada apa, jangan begini, Bude. Nisa nggak mau nanti Mbak Adel malah salah paham." Nisa membela Zidan.
Bu Hanif nampak menatap Nisa tak suka, lalu menghapus air matanya dengan kasar.
"Kamu!" Bu Hanif menunjuk Nisa. "Ternyata kamu tidak lebih dari perempuan yang pandai memanfaatkan keadaan, apa kamu lupa kalau Adel yang sudah membawa kamu ke mari dan memberi semua kemewahan ini? lalu bagaimana bisa kamu malah membalasnya seperti ini hah?"
Zidan semakin tak mengerti dengan kemarahan Bu Hanif, dan berusaha menengahi.
__ADS_1
"Tapi, Bu. Bisakah ibu jelaskan dulu ini ada apa? kenapa ibu malah jadi menyalahkan Nisa?"
Bu Hanif menatap Zidan nyalang. "Dan kamu juga, bisa bisanya kamu malah enak enakan semalaman di sini seteksh membuat anakku menangis sepanjang malam karena sikapmu itu hah?"
"Ma- maksud ibu?" dahi Zidan berkerut dalam.
"Ohhh, pura pura lupa rupanya. Apa kamu lupa kalau semalam kamu membentak Adel hm? sampai Adel sakit hati dan memilih tidur di kamar kami. Tapi kamu bahkan nggak sadar kan? iyalah, bagaimana mau sadar kalau kamunya saja berada di dekapan istrimu yang lain," geram Bu Hanif dengan dada naik turun menahan amarah.
Zidan hendak menjawab namun kembali di sela oleh Bu Hanif yang belum puas menumpahkan semua kekesalannya.
"Dan apa kamu berusah mencari apa tau apa yang Adel dan bapaknya bicarakan semalam? yang sampai membuat kamu salah paham itu? tidak kan? kamu lebih memilih surgamu yang lain ketimbang memikirkan perasaan dan air mata anakku! memang aku memintamu untuk adil juga kepada Nisa tapi bukan berarti dengan kamu menyakiti Adel bahkan sampai membuatnya menangis!
Apa kamu tau, Zidan? Adel bahkan sampai lemas menunggu terlalu lama di meja makan karna ingin makan bersama kamu pagi ini. Tapi apa yang kamu lakukan hah? kamu dengan sengaja malah berduaan di kamar ini dengan Nisa tanpa mengingat Adel yang sudah pucat menunggu kamu di bawah sana. Memang tidak punya otak kamu, Zidan!" Bu Hanif mengeluarkan semua unek uneknya sambil menuding wajah Zidan yang tampak merasa bersalah.
Nisa hanya diam tak berani bicara sedikit pun. Dia bahkan tidak tau kalau ada masalah seperti ini sebelum Zidan masuk ke kamarnya, pikirnya Zidan sudah mendapat izin Adel untuk tidur bersamanya, namun nyatanya malah Adel tidak tau kalau Zidan semalam ada bersama Nisa.
Zidan yang tersadar segera mengejarnya. "Bu, tunggu! jangan bawa Adel pergi, Bu! Maafkan Zidan!"
Tapi Bu Hanif tak peduli, dia terus saja berjalan menuju meja makan tempat Adel dan Pak Hanif menunggu.
"Pak, ayo kita bawa saja Adel pulang. Dia sudah tidak di hargai lagi di sini," seru Bu Hanif setelah berada tak jauh dari posisi Pak Hanif dan Adel.
"Bu, Zidan mohon jangan! jangan bawa istri Zidan, Bu! jangan bawa Adel! Maafin zidan!" Zidan masih berlari mengejar Bu Hanif dengan mata basah oleh air mata.
Zidan sendiri bingung bagaimana dia bisa terlupa akan Adel semalam, dan malah menghabiskan malamnya bersama Nisa.
Bu Hanif memegang kursi roda Adel, namun Pak Hanif menahannya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Bu, Adel ...."
Pak Hanif menggantung kalimatnya sambil memegangi tangan Adel. Bu Hanif yang cemas langsung berlari ke depan untuk bisa melihat jelas wajah Adel.
"Ya Allah Adel! kamu kenapa lagi, Nak?" Bu Hanif terisak sambil mengguncang pekan bahu Adel yang kini diam dengan mata tertutup rapat.
Wajah pucatnya yang sembab tampak mulai kebiruan, ujung tangannya mulai dingin membuat mereka semua panik.
"Bu, Adel kenapa?" seru Zidan yang baru saja sampai, Zidan memegang kepala Adel yang terkulai lemas dan langsung memgambil Adel dari kursi rodanya.
"Sayang? Bangun sayang! Kamu kenapa? maafin Abi sayang, Abi minta maaf. Abi salah semalam nggak dengerin Umi dulu. Tolong maafin Abi Sayang, jangan sakit lagi," bisik Zidan di telinga Adel sembari menciumi pipinya.
"Itu semua gara gara kamu, Zidan. Kalau saja kamu nggak egois dan mau mendengar penjelasan kami dulu tadi malam. Pasti sekarang Adel masih baik baik saja, kamu keterlaluan," hardik Pak Hanif yang sudah tak bisa menahan amarahnya lagi.
Zidan tergugu, dia sadar semua itu adalah salahnya dan dia tak akan lari dari tanggung jawab untuk membuat Adel kembali seperti semula.
"Mas ada apa?" Nisa tampak berlarian menuruni tangga spiral rumah besar itu, pakaiannya sudah tampak berbeda dengan yang tadi dia pakai.
"Ya Allah, Mbak Adel!" Nisa berlari menyongsong Adel yang berada dalam dekapan Zidan.
"Mbak Adel kenapa, Mas?" cecarnya turut cemas sambil menggoyangkan tubuh Adel pelan berharap Adel masih mau bangun.
Namun nihil, semua usaha mereka membangunkan Adel tak berbuah apapun. Tubuh Adel semakin dingin dan akhirnya Zidan gegas membawa Adel kembali ke rumah sakit.
Mereka berangkat bersama, semua diam ... semua cemas akan kondisi Adel, dengan doa terpatri di hati masing-masing semoga masih di beri kesempatan untuk lebih lama bersama Adel.
"Selamatkan istri hamba ya Allah, maafkan hamba sudah membuatnya bersedih dan menangis," gumam Zidan sembari mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit, sesekali dia melirik Adel yang terbaring diam di pangkuan ibunya.
__ADS_1
Wajah sembab itu semakin membiru dengan denyut nadi yang terus melemah.