
Brakkk
Gedubrakkk
Pyarrr
Suara berisik itu datang dari ruangan dimana tadi Zidan menemukan bayinya. Di dalam sana kini tampak Bu Sita tengah merangkak dengan wajah penuh darah.
"Bed*b@h! Bisa-bisanya kau kehilangan tumbal yang sudah kau persiapan untuk ku? Bukankah perjanjiannya sudah jelas? Kalau malam ini tepat saat bulan menyinari tampuk itu tumbal itu harus sudah ada di tempatnya hah? Apa kau tuli? Dasar manusia sampah!" suara berat yang entah berasal dari mana menggema memenuhi ruangan penuh benda astral itu.
Bu sita terus merangkak hingga sampai ke bagian kaki patung besar berbentuk anjing hitam besar yang ada di sana.
"Maaf, tolong maafkan saya. Saya janji akan membawa tumbal yang lain lagi," bisiknya lemah karna sejak tadi sebuah kekuatan tak kasat mata sudah menghajarnya dan melemparnya hingga membantu kaca besar dan membuat beberapa bagian tubuhnya terluka dan berdarah.
"Hahahah, apa kau bilang? Maaf? Apa kau pernah melihat aku memberi maaf pada pengikutku yang sudah lalai?" seru suara berat itu lagi.
Bu Sita gemetar, seluruh tubuhnya serasa nyaris tak bertulang hingga dia hanya bisa terkulai lemas di bawah kaki patung itu tanpa banyak bergerak lagi.
"Dulu kau berjanji akan menumbalkan dua manusia bodoh yang ada di sana untuk ku, tapi kau gagal dan aku masih memaafkan mu. Tapi kali ini aku sudah muak! Berikan aku tumbal itu atau nyawamu yang akan ku cabut!"
" Baiklah, tapi ... tolong kembalikan tenaga ku, biarkan aku keluar untuk bisa mencari tumbal untukmu, Tuan. Tolong kasihanilah aku," cicit Bu Sita tak berdaya.
Hening
Tak ada sahutan di sana sama sekali, namun kini Bu Sita sudah mulai bisa mengangkat tubuhnya perlahan walau masih terasa nyeri pada luka terbukanya.
"Kenapa harus susah susah mencari? Bukankah dulu kau juga sudah menumbalkan suamimu sendiri padaku? Demi kekayaan dan kecantikan kau rela melakukan itu dan membuat suamimu kini menjadi budakku. Lalu bukankah masih ada putramu? Kenapa tidak kau persembahkan saja dia padaku dan membuatmu tak perlu lagi berkeliaran di luar sana menculik anak-anak kotor."
Suara berat itu menggema lagi, kali ini tampaknya berasal dari patung anjing besar itu.
__ADS_1
Bu sita menggeleng panik. "Tidak! Jangan ambil Zidan! Hanya dia satu-satunya yang aku punya sekarang. Ku mohon beri aku waktu sebentar untuk mencari tumbal untukmu, Tuan. Tapi tolong jangan ambil putraku." Bu Sita merendahkan dirinya dan menciumi bagian kaki dari patung itu yang kini matanya tampak menyala merah.
"Baiklah, karna kau adalah pengikutku yang paling setia maka aku akan memberikan keringanan padamu. Pergi! Dari cari lagi tumbal untukku. Dan kali ini aku tidak mau kalau sampai lepas lagi. Ingat itu!"
Bu Sita mengangguk berulang kali, dan langsung saja berdiri dan pergi dari tempat pemujaannya itu.
Brakkk
Pintu di tutupnya dengan kencang, nafasnya tersengal karena debaran di dadanya yang di luar batas normal. Namun belum sempat Bu Sita menarik nafas lega, Zidan rupanya sudah ada di sana menatap sinis padanya dengan wajah memancarkan kebencian.
"Jadi Mama, yang sudah membunuh Papa?" desisnya pelan dan penuh penekanan.
Bu Sita memegangi dadanya yang terasa sakit. "Zi- Zidan, Zidan dengarkan Mama."
"Jawab Zidan, Ma. Apa benar Mama yang sudah membunuh Papa?" geram Zidan lagi.
"Jawab!" bentak Zidan berang.
Semua perkataan Bu Sita dan makhluk aneh tak kasat mata di dalam ruangan sana sudah dia dengar. Jadi sedikit banyak Zidan sudah tau jawaban dari apa yang menyebabkan papanya tak pernah terlihat lagi sejak dulu.
"I- iya! Iya Mama yang melakukannya. Tapi Mama terpaksa Zidan!". sergah Bu Sita dengan air mata di pipinya.
Zidan menyugar rambutnya kasar. "Tapi kenapa, Ma? Kenapa Mama harus melakukan itu? Mama tau kan itu perbuatan syirik? Mama menduakan Allah, Ma!"
Bu Sita jatuh tergugu, bahunya berguncang hebat dengan suara tangisan yang terdengar memilukan.
"Mama terpaksa Zidan! Mama lelah deh hidup kita dulu, mama lelah dengan Papa kamu yang selalu main perempuan dan berjudi di belakang Mama. Mama benci dia, Zidan! Karna laki-laki itu hidup kita dulu susah! Jadi biarkan saja dia mati di makan setan! Biarkan!"
Zidan ikut tergugu. "Lalu kenapa sekarang anakku pun ingin Mama tumbalkan, Ma? Dia bahkan baru lahir dan belum mengerti apa-apa. Kenapa Mama tega? Dia cucu Mama! Cucu pertama Mama!" jerit Zidan frustasi.
__ADS_1
Bu Sita menjambak rambutnya dan menutup telinganya erat-erat.
"Lalu sekarang ... Mama ingin menumbalkan Zidan kan, Ma? Bukan begitu?" desis Zidan dingin.
Bu Sita bangkit dan menggeleng . "Tidak, Nak. Mama tidak akan menumbalkan kamu, bagaimana pun kamu anak Mama, darah daging Mama. Mama tidak akan rela setan itu mencelakakan kamu."
"Lalu kenapa Mama tega dengan anakku, Ma? Dia juga kan darah daging Mama!"
"Itu karna dia masih suci! Bayi yang masih suci akan bisa membuat Mama memiliki kekayaan dan kecantikan lebih hebat dan lebih banyak dari semuanya ini. Itu sebabnya Mama ingin kan dia sebagai tumbal, andai saja kamu tidak memaksa mengambilnya pasti saat ini kita sudah semakin bergeming harta! Tapi lihat, karna kecerobohanmu Mama harus mencari tumbal yang lain menggantikan dia. Lagi pula kenapa sih kalau Mama tumbalkan bayi aneh itu? Toh Nisa akan bisa memberi kamu anak lagi kan?" Bu Sita menjawab enteng seakan semua masalahnya bisa selesai dengan hanya adanya Nisa .
Sebenarnya itu pula yang mendasari Bu Sita merestui Zidan menikah lagi walau hanya dengan seorang gadis kampung.
"Mudah sekali Mama bicara? Seakan yang Mama lakukan itu bukanlah sebuah dosa." Zidan melengos.
"Biarlah dosa itu menjadi tanggungan Mama, asal semua dendam dan kepuasan Mama terpenuhi. Kamu tidak berhak ikut campur anak ingusan! Kamu bahkan masih bisa hidup enak hingga sekarang itu semua karna pemberian dari Mama, apa kamu lupa?" Bu sita menudingkan telunjuknya ke depan wajah Zidan.
Zidan mendesah berat dan balas menatap Mamanya.
"Lalu mau sampai kapan Mama begini? Apa Mama lupa semua akan ada balasannya di akhirat nanti? "
Bu Sita jatuh terduduk di atas sofa, matanya yang sejak tadi basah kini semakin tampak memerah. Tatapannya kosong dengan bibir sepucat mayat.
Tak lama, Bu sita memutar kepalanya sampai menghadap Zidan dengan tubuh tetap ke depan.
Krekk.
Bu Sita seperti menjatuhkan kepalanya ke samping dan menyeringai pada Zidan.
"Apa yang kau tau tentang akhirat bocah kecil? Bukankah harusnya sekarang kau ada di dekat keluargamu untuk melindungi mereka? Apa kau tak takut aku akan datang dan mengambil salah satu dari mereka untuk ikut bersamaku ke neraka?"
__ADS_1