
Dua hari telah berlalu setelah kami memeriksakan hasil testpack kemarin ke dokter. sholawat dzikir sholat hajat dan sedekah ku tunaikan setiap hari agar kami selalu diliputi rasa tenang dan damai. selain kami memang sedang menginginkan sesuatu yang kami minta kepada Rabb ku. hal tersebut juga memang sudah seperti kegiatan rutinitas kami sehari-hari. aku pun semakin tak sabar mengunggu beberapa hari ke depan untuk mengecek kembali ke dokter. Namun belum sampai genap satu Minggu tiba-tiba saat hendak ingin ke kamar mandi untuk berwudhu aku merasakan ada sesuatu yang keluar dari ****** ***** ku. deg .... saat itu aku mulai panik aku takut kalau ternyata yang keluar ini adalah darah haid. tak ingin menduga-duga terlalu lama aku pun segera mengeceknya. dan qodarullah ternyata benar ada sedikit bercak darah keluar. seketika hati ku runtuh dan seperti kehilangan kekuatan untuk menghadapi apalagi yang akan terjadi.
" maaaasss...... "
" maaassss agaaammmmm ....."
teriak ku dalam kamar mandi yang membuat seisi rumah panik.
lalu tak lama kemudian datang sus Rini dan bibi ke kamar serta di susul oleh mas Agam yang baru saja pulang kerja.
" ada apa Bu" tanya sus Rini Panik
" bu..ibu kenapa" tanya bibi sambil merangkul ku yang sedang terduduk di kursi roda
" mana mas Agam ...mana mas Agam "
" iya iya dek kamu kenapa. ada apa ini?"
lalu mas Agam pun datang dengan wajah yang penuh dengan ketegangan.
" sus Rini ,bibi, tolong tinggalkan saya dengan mas Agam ya"
" tapi ibu tidak apa-apa Bu?"
" tidak. saya hanya ingin bicara dengan mas agam"
lalu sus Rini dan Bi sumi pun keluar meninggalkan berdua.
" kenapa dek ada apa kamu terlihat sedih dan panik sekali. apa kamu jatuh dari kamar mandi?"
" tidak mas, mas aku takut."
ingin rasanya aku bercerita kepada mas Agam namun lidah ini terasa begitu kelu. aku hanya bisa menangis dan pasrah se pasrah-pasrahnya.
" kenapa dek? ada apa? tolong bicaralah"
" mas .. ada sedikit bercak darah di ****** ***** ku" lirih dengan penuh rasa sedih kepada mas Agam
" hah banyak dek?"
" sedikit sih mas, aku takut ini darah keguguran apa darah haid ya"
tangis ku pun kembali pecah. dalam dekapan nya mas Agam.
" sebentar mas panggil sus Rini dulu ya"
mas Agam pun segera memanggil sus Rini yang masih berada di depan pintu kamar mandi. lalu sus Rini pun segera masuk menghampiri ku .
" ibu kenapa, saya jadi khawatir sama ibu"
__ADS_1
aku pun menceritakan semuanya kepada sus Rini. aku tau sus Rini lebih mengetahui hal ini dari sisi dunia kedokteran.
" Bu ini memang seperti darah haid. tapi bisa jadi ini juga di akibat kan karena gagal nya proses pembuahan. sebaiknya bapak dan ibu segera pergi ke dokter. dan melakukan USG. kalau memang Bu Nadia keguguran. harus segera di kuret pak. karena jika tidak itu akan berbahaya pada kondisi Bu Nadia"
begitu mendengar penjelasan dari Suster Rini raut muka mas Agam menjadi sedih kecewa dan takut.
" ya sudah kalau begitu kita segera pergi ke dokter sekarang"
Kami pun segera bergegas pergi ke rumah sakit.
sesampainya kami di rumah sakit. satu persatu nomor antrian di panggil. setelah menunggu kurang lebih satu jam akhirnya giliran kami memasuki ruangan dokter. setelah kami memasuki ruangan dokter kami pun menceritakan kejadian tadi secara detail.
" baiklah kita USG saja ya Bu agar bisa memastikannya"
dokter pun memeriksa perut ku kembali dengan alat ultrasonografi yang di pegang nya. terlihat jelas dalam layar bagaimana kondisi rahim ku saat ini.
" Bu sepertinya bercak darah yang keluar darah ibu itu darah haid. jadi ibu tidak perlu menjalani kuret"
seketika hati ku runtuh mendengar penjelasan dari dokter.
'ya Allah kenapa jalan kami tempuh untuk memiliki keturunan begitu sulit'
'astaghfirulllah'
tiba-tiba hati ku seperti tidak bisa menerima kenyataan ini. hal yang kami tunggu selama bertahun-tahun tak kunjung datang. aku merasa memang begitu banyak dosa yang ku lakukan sehingga Allah sedang menghukum ku.
' ya Allah Rabbi apa yang sedang engkau rencana kepada ku'
" ini artinya proses inseminasi nya galak dok?"
tanya mas Agam memastikan kembali.
" iya pak Bu. yang sabar ya pak. tapi bapak dan ibu bisa mencoba nya lagi setelah haid Bu Nadia selesai"
aku hanya terdiam mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. rasanya lidah ini benar-benar kelu.
hanya mas agam saja yang selalu menjawab pertanyaan dari dokter sementara aku hanya bisa diam. aku tau mas Agam juga sangat sedih. tapi aku bisa apa.
di perjalanan menuju ke rumah sepanjang jalan aku hanya bisa diam.
" dek kamu mau jajan gak?"
tanya mas Agam mencoba untuk menghibur ku.
" tidak mas"
" sabar ya dek mas tau kamu pasti sedih."
aku hanya bisa diam saat mencoba untuk mengajak aku ngobrol. sesampainya di rumah ternyata sudah ada Bapak dan Bu mertua menunggu di ruang tamu. seperti nya mas Agam yang memberi tau kondisi ku saat ini.
__ADS_1
lalu kami pun duduk bersama di ruang tamu.
" gam gimana kondisi Nadia?" tanya ibu mertua penasaran.
" itu bukan darah keguguran Bu. Nadia belum hamil. itu hanya darah haid" mas Agam pun menjawab pertanyaan ibu nya dengan nada datar dan sedih.
" pak gimana ini pak aku pengen ngerasain punya cucu loh pak" rengek ibu mertua kepada suaminya.
" sabar Bu, mungkin Allah belum memberikan kita rezeki seorang cucu" hanya itu yang dikatakan bapak mertua. memang bapak mertua tak banyak bicara.
" gam kamu yang sabar ya." ucap ibu mertua kepada mas Agam seraya memeluk nya. aku merasa harusnya aku juga disini butuh pelukan seorang ibu. aku seperti merasa tersisih kan. sejak kejadian tadi entah kenapa hatiku begitu sensitif. padahal ibu mertua hanya memeluk anaknya dan itu hal yang wajar.
" Bu sepertinya Nadia butuh istirahat Agam antar Nadia ke kamar dulu ya"
mas Agam pun segera mengantarkan ku ke kamar tanpa mengeluarkan sepatah kata pun aku langsung pergi ke kamar meninggal kan kedua orangtuanya mas Agam.
" dek kamu istirahat dulu ya mas mau menemui ibu dan bapak di bawah. kamu tunggu sebentar ya."
ucap mas mas gam sambil menciumi kening ku. aku tau dalam hal ini mas Agam juga rapuh sangat rapuh. namun aku juga tak bisa melakukan apa-apa untuk menguatkan mas Agam. aku sendiri dalam keadaan rapuh se rapuh-rapuhnya.
setelah mas Agam meninggalkan ku sendiri di dalam kamar. ia pun turun ke bawah untuk menemui orang tuanya. tiba-tiba aku pun keluar ingin melihat dan ingin tahu apa yang mereka bicarakan.
" gam ibu tuh bener-bener udah pengen punya cucu loh gam. ibu sedih. melihat kalian seperti ini terus"
" Bu Agam juga ingin sekali punya anak. tapi bagaimana lagi Allah belum berkehendak Bu"
" pak gimana kalau Kita menyuruh Agam untuk mencoba menikah lagi pak"
" Bu pernikahan tuh jangan di buat-buat coba-coba bagaimana dengan Nadia kalau dia tau ibu seperti ini pasti dia sedih Bu"
mendengar perkataan ibu mertua. hati ini semakin terasa hancur. apa harus aku merelakan mas Agam untuk menikahi perempuan lain demi mendapatkan keturunan.
" Bu kalau ngomong jangan yang aneh-aneh dong Bu. Agam memang ingin punya anak. ingin sekali. tapi Agam ingin anak dari Nadia Bu bukan dari wanita lain"
mendengar ucapan mas Agam atas pembelaan nya terhadap diriku aku merasa sedikit tenang karena se sedih-sedihnya mas Agam dia tidak pernah ingin berpaling dariku.
" gam kamu coba dulu ya."
" Bu kalau proses inseminasi ini gagal kita akan mencoba program bayi tabung Bu"
" gam biaya untuk program bayi tabung tuh gak murah loh gam. kamu akan membuang-buang waktu dan harta kamu hanya untuk hal yang belum pasti?"
"lalu menurut itu apa dengan cara aku menikah dengan perempuan lain itu akan menjamin kalau aku punya anak? bagaimana kalau ternyata wanita yang aku nikahi itu tak bisa memiliki anak sama sekali?"
" ya kamu cari perempuan nya pilih-pilih dong gam beber bibit sama bobot nya"
" Bu sudah cukup. percuma Agam ngomong sama ibu. ibu gak akan ngerti. sudah lah Bu Agam capek mau istirahat "
" gam ibu kan hanya berusaha memberi solusi sama kamu."
__ADS_1
" itu bukan solusi Bu. hanya menambah beban dan tanggung jawab ku Bu sebagai seorang suami."
" sudah-sudah jangan berdebat. bu lebih baik kita pulang lagipula ini sudah malam. kasian Agam pasti capek" ujar bapak mertua yang mencoba melerai perdebatan mereka. lalu tak lama kemudian kedua orangtuanya mas Agam Pun pamit pulang. aku pun segera kembali ke kamar sebelum mas Agam melihat ku sedang mendengarkan pembicaraan mereka.