
"Lalu bagaimana kamu menjelaskan tentang uang nafkah? Tentang uang kes dan kartu ATM yang akan kamu minta padaku sebagai nafkah? Bagaimana kamu menjelaskan itu, Nisa? Istri keduaku?" tekan Zidan dengan mata memerah.
"Cukup, Abi!" Adel mengangkat sebelah tangganya ke atas meminta Zidan untuntak melanjutkan ucapannya.
Nisa tergugu di pangkuan Adel. "Ibu ... Ibu tadi memang bilang begitu ke Nisa, Mbak. Tapi ... tapi Nisa sama sekali nggak ada niat bahkan untuk menuntut nafkah dari Mas Zidan! Bahkan kalaupun harus tinggal di rumah ini bersama kalian tanpa di beri nafkah pribadi pun Nisa ikhlas, asalkan bisa membalas kebaikan Mbak Adel."
Adel melirik tajam ke arah Zidan yang turut mendengarkan pengakuan Nisa.
"Apa Abi sudah dengar? Umi kenal Nisa, Bi! Dan maaf, kali ini ... Umi percaya Nisa di pihak yang benar."
Zidan meraup wajahnya kasar dan mendengus keras. Jika sudah pawangnya yang bicara sedikit pun Zidan tak ingin membantah, Adel segalanya baginya bahkan Adel juga yang sudah membawanya kembali ke jalan yang lurus dari lembah hitam kehidupannya dulu.
Adel memeluk Nisa hangat, menepuk-nepuk punggungnya agar kembali tenang.
"Sudah, berhentilah menangis. Kamu lupa kalau kamu itu masih pengantin baru? Masa pengantin baru malah nangis sih? Nggak lucu dong." Adel mengangkat dagu Nisa menggunakan sebelah tangannya sedangkan tangan satunya menghapus air mata di pipi Nisa.
Tangis Nisa mereda, hanya menyisakan isakan lirih yang tak begitu kentara.
"Sekali lagi, Nisa mohon maaf atas nama Ibu Mbak, Mas. Kalau boleh biarlah Nisa minta ibu dan Alan untuk pulang ke kampung saja. Nisa malu kalau ingat ibu dengan gampangnya minta ikut tinggal di rumah ini juga."
Zidan diam tanpa komentar, hatinya masih terlalu masygul jika mengingat apa yang di katakan Alan tadi padanya.
"Jangan pernah kasih kartu ATM atau uang belanja terlalu banyak ke Kak Nisa, Mas. Ibu sekarang sudah berubah, entah kenapa sejak Kak Nisa menikah sama Mas. Pikiran ibu selalu di dominasi dengan harta, harta dan harta. Aku sendiri malu, Mas. Mendengar omongan Ibu sama kakak di sana."
Panas sekali hati Zidan setiap kali mengingat kalimat itu, namun demi Adel dia rela menahan segala amarah agar pujaan hatinya itu tak sedih karna permintaannya tak terpenuhi.
__ADS_1
Adel menggenggam tangan Nisa lembut, senyum tulusnya bagaikan air es menyiram tubuh gemetar Nisa.
"Tidak perlu, seperti rencana awal ... biarkan Ibu dan adikmu tinggal di apartemen itu, menurut Mbak itu sudah cukup. Tapi kalau untuk Alan yang ingin bekerja, biarlah dulu dia mencoba menjalani dari bawah ... cara instan selalunya tidak akan bertahan lama bukan?"
"Tapi, Mbak?"
Adel menepuk tangan Nisa satu kali sambil mengedipkan mata. "Sudah, terima saja. Akan sulit kalau kamu tiba-tiba langsung meminta Bu Sekar dan Alan pulang, dan akan berdampak buruk juga bagi kita karna kondisinya di sini Bu Sekar itu sudah menjadi mertua Mas Zidan juga. Jadi ... kalau beliau berkenan silahkan tinggal di apartemen itu, namun untuk biaya hidup ... dengan berat hati Mbak harus bilang kalau kami tidak ikut bertanggung jawab untuk itu."
Nisa menghela nafas dalam-dalam, dan mengangguk menyetujui saran Adel. Pikirnya itu juga adalah pilihan terbaik ketimbang harus berdebat lebih panjang lagi dengan Bu Sekar jika memintanya pulang kampung secara paksa.
****
Setelah Adel menunjukkan kamar yang akan di tempati Nisa, Adel meminta Zidan membawanya ke kamar untuk beristirahat dan membebaskan Nisa untuk kapan pun mengambil waktu guna membicarakan masalahnya dan sang ibu.
Mata Bu Sekar berbinar ketika Nisa memintanya ikut, pasti yang ada di pikirannya adalah kalau Adel dan Zidan memperbolehkan dia dan Alan menumpang hidup di sana dan akan di berikan kamar pribadi.
"Saya tinggal dulu ya, Mbakyu, Kangmas. Mau liat kamar baru," celetuk Bu Sekar pada Pak Hanif dan Bu Hanif dengan pedenya.
Pak Hanif dan Bu Hanif hanya mengangguk dengan senyum penuh arti.
"Alan! Kamu ikut nggak? Ayo liat kamar baru kita!" seru Bu Sekar mengajak Alan yang tengah sibuk dengan ponselnya sendiri sambil duduk santai di ruang keluarga.
Alan menoleh sekilas dan menggeleng malas, lalu matanya kembali fokus ke layar ponsel yang dia beli sendiri dengan mengumpul yang gajinya selama bekerja di minimarket.
Nisa yang sudah tampak senewen akhirnya menarik paksa Bu Sekar agar tak terus menerus berteriak-teriak kepedean. Padahal apa yang akan dia sampaikan sangat berbanding terbalik dengan apa yang ada di dalam pikiran Bu Sekar.
__ADS_1
"Adududuh, jangan cepet-cepet kenapa sih, Nisa? Udah nggak sabar banget ya nunjukin kamar baru ibu? Atau ... ada kejutan ya di kamarnya?" terka Bu Sekar semakin ngawur, padahal wajah Nisa sudah menunjukkan betapa dia kesal dengan ibunya itu.
Nisa membawa Bu Sekar menuju lantai dua, dimana kamarnya berada berdekatan dengan kamar Adel.
Ceklek
Nisa membuka pintu kamar dan membawa Bu Sekar masuk, kemudian kembali menutup pintunya lagi.
"Wuaahhhhh, ini kamar atau rumah pejabat,?" seloroh Bu Sekar sambil menatap takjub seantero kamar bernuansa pastel tersebut.
Bu Sekar berjalan cepat kesana kemari menelisik dan menyentuh berbagai benda yang ada di dalam kamar tersebut seperti manusia purba bertemu televisi untuk pertama kali.
"Wahahhaha, seneng banget Ibu, Nis. Memang suami kamu itu paling mantul. Baru nikah sehari aja semua fasilitas lengkap sampe ke akar-akarnya. Ternyata begini ya kalau anak perempuan menikah sama laki-laki kaya, ibunya ikutan kecipratan. Duh tau gitu dari dul ...."
"Bu, udah!" potong Nisa yang sudah tak tahan dengan ocehan unfaedah yang keluar dari mulut Bu Sekar.
Bu Sekar seketika berhenti bicara dan menatap Nisa dengan tatapan horor.
"Kamu nyela ibu? Kamu lupa siapa yang sudah merestui pernikahan kamu itu walau cuma jadi istri kedua?" ucap Bu Sekar mulai memprovokasi Nisa dengan mengungkit semua jasanya pada Nisa.
Nisa menutup telinganya erat, tak ingin sedikit pun mendengar pembelaan tak masuk akal dari sang ibu.
"Lihat semua kemewahan ini, Nisa! Kamu pikir ini semua kamu dapatkan karna siapa? Memangnya kamu pikir kamu bisa habisin semua ini sendirian? Jangan kemaruk kamu! Ingat Ibu dan adikmu juga butuh semua ini!" tuding Bu Sekar pada semua barang mahal dan cantik di kamar yang sudah di sediakan Adel sebaik mungkin untuk Nisa tersebut.
Tapi nyatanya, kebaikan Adel yang menginginkan Nisa agar nyaman tinggal bersamanya malah di salah gunakan oleh ibunya Nisa sendiri.
__ADS_1