ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 69.


__ADS_3

 Seminggu sudah sejak Zafran di rawat di rumah sakit, keadaannya berangsur pulih. Dan hari ini Zafran sudah di perbolehkan pulang dengan catatan tidak di perkenankan lagi di beri MPASI apapun itu jenisnya.


 Zidan sendiri langsung memberi peringatan tegas kepada Nisa dan Bu Sekar agar tak lagi memberi ******* pisang atau apapun pada Zafran selain asi dan susu formula.


"Baik, Mas. Insyaallah Nisa nggak mengulangi lagi," sahut Nissa pelan.


  Zidan mengelus kepala Nissa. "Maafkan Mas ya, karena sempat marahin kamu kemarin. Kamu tau sendiri kan gimana sayangnya Mas sama Zafran?"


 Nisa mengangguk lemah. "Iya, Mas. Nisa juga minta maaf sudah lalai jagain Zafran. Padahal Nisa tau MPASI dini itu bahaya tapi Nisa malah lebih dengerin ibu buat kasih ******* pisang ke Zafran setiap dia nangis. Kata ibu itu karna dia lapar, dan bodohnya Nisa nurut aja."


 Zidan memeluk tubuh Nisa, saat ini mereka memang sedang berada di luar ruangan rawat Zafran setelah menemui dokter yang selama ini merawat Zafran dan mendengarkan nasehatnya.


"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu ya. Sekarang, Mas minta sama Nisa tolong biarkan Adel kembali membantu merawat Zafran. Mas jamin kalau Adel akan bisa membantu dengan lebih baik, jangan risau kalau Adel akan merebut Zafran dari kamu karena sejatinya Zafran lahir memang karena dia."


Nisa mengangguk paham, dan mereka pun masuk ke dalam ruangan kembali. Menemui Adel dan Bu Sekar yang tengah membereskan semua barang yang ada di sana untuk di bawa pulang kembali. Sedangkan Alan di minta Zidan untuk menyiapkan mobil, karna pemuda itu sudah mempunyai SIM sejak ikut bekerja dengan Zidan di pabrik.


"Sudah siap semua?" tanya Zidan sambil berjalan mendekati Adel yang tengah menimang Zafran penuh kasih sayang.


 "Udah ini, Dan. Tinggal angkat aja, gimana kata dokter?" sahut Bu Sekar sembari menunjuk tas tas yang sudah di isi dengan berbagai barang milik mereka dan milik Zafran yang sudah siap di angkut.


 Zidan mengambil Zafran dari gendongan Adel dan menjawab pertanyaan Bu Sekar.


"Sesuai yang selama ini Zidan dan Adel bilang, Bu. Zafran masih terlalu dini untuk di beri MPASI, jadi Zidan harap setelah ini nggak ada lagi alasan apapun untuk ngasih MPASI dalam bentuk apapun ke Zafran sampai dia cukup umur. Zidan harap ibu juga paham ya, Bu?"

__ADS_1


 Bu Sekar membuang pandangan ke arah lain, seolah tak terima di salahkan. Padahal tak ada satupun kalimat Zidan yang menyudutkannya.


"Ya, namanya juga kalau di kampung anak bayi umur dua hari aja udah di kasih pisang. Dan mereka anteng aja tuh malah badannya jadi gemuk, niat ibu itu baik supaya Zafran yang lahirnya kecil banget itu bisa cepet gemuk kayak anak-anak yang lain. Makanya ibu kasih dia makan, ya mana ibu tau kalo bakalan masuk rumah sakit. Wong ibu juga ngasihnya nggak banyak, paling cuma setengah biji pisangnya aja," ujar Bu Sekar masih mencoba membela diri.


 Padahal dia lah dalang di balik cucunya yang hampir saja meregang nyawa karna di beri MPASI dini itu. Namun seolah tak merasa bersalah Bu Sekar malah gak terima di nasehati dan langsung saja berlalu keluar meninggalkan mereka.


 Zidan menghela nafas panjang, dan menatap Zafran yang berada di gendongannya. Bayi mungil yang baru saja sembuh itu mulai tertawa riang ketika melihat wajah ayahnya, tangan Zafran terulur dan Zidan mendekatkan wajahnya hingga menyentuh hidung mancung Zafran.


Cekrek


 Adel sempat mengambil gambar momen itu dan menyimpannya, gambar yang sangat indah dan menyentuh hati.


"Sudah, nggk usah di pikirkan omongan ibu Mas, Mbak. Ibu itu terbiasa liat kebiasaan orang di kampung, nggak tahu kalau di sini hal seperti itu ternyata tabu dan di larang. Tapi insyaallah Nisa nggak bakalan dengerin lagi kok kata-kata ibu yang nggak sesuai sama kesehatan Zafran. " Nisa membuka suara menenangkan hati mereka.


 Adel tersenyum, saling pandang dengan Zidan dan Zidan mengulurkan tangannya untuk merangkul Nisa. Nisa masuk ke pelukan Zidan begitu juga Adel yang ikut memeluk mereka dari belakang.


 Setelah sampai di rumah, Adel segera memandikan Zafran dan memakaikan baju yang nyaman untuknya. Karna Nisa ternyata sedang di kamar mandi maka Adel mengambil stok asi beku yang ada di freezer khusus di kamar Nisa dan menghangatkannya di penghangat.


 Sambil menunggu susu hangat, Adel menimang Zafran yang tampak mulai mengusap matanya karna mengantuk.


"Sholatullah, salamullah ...." Adel melantunkan sholawat sambil mengayun baby Zafran di gendongannya.


 Perlahan bayi itu merengek dan mulai menutup mata, setelah susunya hangat Adel mengambilnya dan memberikannya pada Zafran sambil meletakkan Zafran ke atas kasur dan menepuk lembut pahanya.

__ADS_1


 Tak butuh waktu lama, setelah sebotol susunya habis seriring dengan lantunan sholawat Adel, Zafran tertidur pulas. Adel tersenyum dan mengecup kening lembut kening bayi mungil itu.


"Mimpi indah sayang Umi," bisiknya di dekat telinga Zafran, Zafran tampak tersenyum dan Adel memasang penghalang khusus di atas kasur itu yang di belinya via online untuk menghindari kejadian seperti dulu lagi saat Zafran jatuh dari atas ranjang.


"Mbak, Zafran udah tidur?" tanyaa Nisa pelan sambil melangkah menuju lemari pakaiannya, mengambil satu stel baju tidur dan mengenalkannya karna dia baru saja mandi.


 Adel mengangguk dan meninggalkan Zafran di atas kasur.


 Itulah nikmatnya saling berbagi dan melengkapi, tidak perlu berebut kalau bergantian mengasuh saja sudah membuat lega.


"Mbak keluar dulu ya, mau mandi juga udah lengket badan rasanya ini." Adel menepuk pundaknya sendiri dan hendak beranjak keluar kamar.


"Mbak tunggu," cegah Nisa.


 Adel berbalik dengan kening berkerut.


"Kenapa, Nis?"


 Nisa mendekat dengan menunduk, sambil memegang tangan Adel dia mulai meminta maaf dengan tulus.


"Maafin Nisa ya, Mbak. Kalo kemaren sempat keterlaluan sama Mbak, padahal niat Mbak kan baik mau nenangin Zafran, harusnya Nisa nggak ngomong begitu sama Mbak. Nisa juga minta maaf udah jauhin Zafran dari Mbak belakangan ini, pdhal Nisa pernah bilang mau ajak Mbak buat ngasuh Zafran bareng. Maafin Nisa ya, Mbak. Nisa janji nggak bakalan ngulangin lagi begitu," papar Nisa masih menundukkan kepalanya dalam.


 Adel tersenyum dan merekuh Nisa dalam pelukannya.

__ADS_1


"Iya, udah Mbak maafin sebelum kamu minta maaf. Mbak juga minta maaf ya kalo udah pernah bikin kamu nggak nyaman, semoga setelah ini kita bisa lebih saling memahami lagi ya," tukas Adel lembut.


 Nisa mengangguk dalam pelukan Adel, matanya menghangat seiring hatinya yang juga turut menghangat. Mereka menikmati pelukan itu sebagai tanda kembalinya kasih sayang di antara mereka sebagai madu yang di inginkan.


__ADS_2