ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 28.


__ADS_3

"Cukup, Mas. Nisa sudah memikirkannya matang-matang, dan sekarang Nisa punya permintaan yang Nisa mohon untuk Mas bisa turuti," sela Nisa menatap lekat wajah Zidan.


 Zidan terperangah melihat wajah sembab Nisa.


"Ah, sebelum itu mari kita makan dulu. Saya akan temani kamu." Zidan melangkah masuk ke dalam kamar Nisa melewati Nisa dan duduk di sebuah sofa yang ada di dalam kamarnya.


 Nisa membuntuti Zidan dengan wajah tertekuk.


"Nisa mau Mas berjanji dulu bakal menuruti permintaan Nisa," cetus Nisa tak sabar.


 Zidan mendesah, ingin rasanya dia segera keluar dari kamar itu untuk menghindari cekcok tak jelas dengan Nisa, namun perkataan Adel dan kedua mertuanya terus terngiang di telinganya agar ia bisa bersikap baik pada Nisa sebagai istri keduanya.


"Mas," desak Nisa lagi.


 Zidan terkesiap. "Ah ya?"


 Nisa duduk di samping Zidan tanpa malu-malu lagi, dan mengulurkan jadi kelingkingnya di depan wajah Zidan.


"Nisa apa in ...."


"Berjanjilah dulu kepada Nisa, Mas!" desak Nisa dengan wajah serius.


 Zidan menelan ludah dan mengangguk dengan terpaksa. "Hah, baiklah. Katakan apa itu?"


 Nisa mencebik dan menarik tangan Zidan yang berada di pangkuannya agar terkait dengan kelingkingnya.


"Nisa, kamu ...."


"Sudahlah, Mas. Hanya sekedar tanda janji kenapa harus terkejut? Lagi pula bukannya kita sudah sah suami istri? bahkan kamu sudah mau mendatangi ku sambil membawa makanan? lantas apa lagi yang membuat Mas ragu untuk bisa menganggap aku istrimu?" tegur Nisa tampak tak suka.


 Zidan mengalah dan membiarkan jari kelingkingnya terkait di jari Nisa.


"Sudah, jangan kekanak-kanakan. Katakan apa mau mu." Zidan membuang muka karna masih sungkan bersitatap dalam jarak dekat dengan Nisa.


 Nisa tersenyum miring dan mendekatkan wajahnya ke wajah Zidan. Zidan yang merasakan hembusan nafas di tengkuknya segara berbalik.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan, Nisa?" elak Zidan terkejut.


 Dia bukan sengaja, namun masih belum terbiasa berdekatan dengan wanita lain selain Adel, istrinya. Tubuh Zidan mendadak panas, dan keringat dingin menyapu keningnya.


"Apaan sih, Mas? Nisa cuma mau bisikin aja kok! Malu tau ngomongnya," ucap Nisa merengut.


 Zidan tercekat dan tertawa sumbang menyadari kekeliruannya.


"O- oh, begitu rupanya. Tapi ... apa nggak bisa ngomong biasa saja? bukannya kita cuma berdua di sini?" ucap Zidan kikuk.


 Ingin rasanya Zidan menghambur keluar dan masuk ke dalam pelukan Adel saat ini saking malunya. Tapi jika dia lakukan hal itu, nantinya bukan hanya Nisa yang akan marah tapi sudah tentu Adel juga akan memberi tausiyah panjang lebar tentang kewajibannya sebagai suami dengan dua istri.


"Kalau begitu dengarkan baik-baik, Mas. Dan Nisa harap, malam ini juga Mas bisa memberikan apa yang Nisa mau itu." Nisa menatap Zidan lekat.


 Zidan menundukkan kepalanya karna saat ini jantungnya berdebar tak karuan seperti hendak pindah dari tempatnya.


"Cepatlah, jangan terus berbelit-belit."


 Nisa mengatakan permintaannya, hanya berupa sebaris kalimat. Namun sukses membuat Zidan membelalakan matanya dengan mulut ternganga lebar.


 Nisa tersenyum dan menggeleng. "Kamu tau Nisa serius, Mas. Kamu sudah berjanji ... jangan lupa itu. Janji adalah hutang, dan hutang wajib di bayar."


Zidan tertegun, bingung harus menanggapi bagaimana permintaan Nisa yang baginya terlalu cepat itu. Tapi mengingat perkataan Nisa adalah benar maka mau tak mau Zidan harus siap dengan konsekuensinya.


"Dan sebelum itu, mari kita makan. Nisa janji akan minta maaf sama Mbak Adel dan Bude karna perilaku Nisa tadi kalau Mas bisa memenuhi janji Mas pada Nisa." Nisa mengambil sepiring nasi dari nampan dan mulai menyuapkan ke mulutnya.


 Zidan menatap cara makan Nisa, begitu manis dan imut di matanya. Zidan bahkan sampai menggelengkan kepalanya mengusir bisikan setan kecil yang mulai bereaksi.


"Apa ... apa tidak bisa di ganti permintaan lain? Saya rasa itu terlalu berat untuk saya, Nis. Saya belum sanggup menjalaninya, jujur ... saya takut." Zidan membuang pandangan keluar jendela kamar yang besarnya sudah menyamai teras rumah Nisa di kampung.


 Nisa mengehentikan suapannya, dan mendesah lirih. "Tidak, Mas. Hanya itu ... satu-satunya cara agar kamu bisa adik terhadap Nisa. Dan itu juga bukan tujuan Mbak Adel meminta kita menikah?"


 Zidan diam seribu bahasa, Nisa benar ... tapi hatinya sama sekali belum sanggup menjalankan permintaan Nisa.


"Kalau Mas merasa berat, maka anggap saja semua ini demi Mbak Adel. Bayangkan bagaimana senangnya Mbak Adel kalau semua ini berhasil? Dia pasti akan jadi wanita paling bahagia di dunia nantinya bukan? apa Mas mau melewatkan kesempatan itu?" ucap Nisa memanas-manasi Zidan.

__ADS_1


Nisa sendiri tidak tau kenapa dia menjadi begitu berambisi saat ini, namun kepergian ibunya memberinya kekuatan tersendiri untuk bisa memiliki haknya pula di rumah itu. Sebagai istri dan juga menantu dari keluarga Zidan yang kaya raya.


Padahal sebelumnya niat Nisa hanya untuk membalas semua kebaikan Adel padanya dan keluarga. Namun seketika semua kejadian di depan matanya hari ini sudah mengubah semua pandangannya.


 Zidan berdiri. "Biarkan saya memikirkannya sejenak, sudah isya ... saya harus sholat. Kamu bisa makan sendiri kan?"


 Nisa mendongak mengikuti arah gerak Zidan. "Iya, silahkan. Tapi kalau sampai tengah malam nanti Mas belum juga menemukan jawabannya. Maka Nisa akan menjemput paksa Mas dari kamar Mbak Adel."


 Zidan tercekat, ingin rasanya dia berteriak saat ini di depan Nisa agar dia sadar akan posisinya yang berada di bawah Adel. Namun Zidan kembali ingat kalau Nisa juga istrinya yang harus dia perlakukan sama dengan Adel.


"Baiklah," desah Zidan sembari menunduk dan melangkah cepat keluar kamar.


Blam


Pintu besar itu tertutup, menghilangkan siluet punggung Zidan dari pandangan Nisa.


 Nisa menyusut setetes air mata dari pipinya. "Maafkan Nisa, Mbak Adel. Tapi ... hanya ini satu-satunya cara agar Nisa juga mempunyai hak di rumah ini. Sudah cukup ibu dan Alan saja yang salah paham, setidaknya Nisa harus punya pegangan untuk bisa bertahan karna sudah tak mungkin bisa kembali ke rumah ibu."


 Zidan kembali ke meja makan, tapi di sana hanya ada Bu Hanif bersama beberapa pembantu rumah tangganya. Sedang bersama-sama membereskan meja dan dapur.


"Eh, Zidan? Udah ngobrol sama Nisa? Gimana Nisa?" berondong Bu Hanif yang sudah sangat penasaran.


 Zidan menggaruk tengkuknya bingung. "Hmmm, Ni- Nisa udah lebih tenang kok, Bu. Oh iya, Adel kemana, Bu?"


 Bu Hanif menunjuk ke teras belakang. "Tadi ke sana sama Bapak, kamu susulin gih. Kita sholat berjamaah bareng."


 Zidan mengangguk dan berjalan cepat menuju teras belakang.


 Sesampainya di sana, tampak Adel dan Pak Hanif sedang berbicara serius. Tampak jelas dari ekspresi keduanya yang tanpa senyum.


"Begitu, Del. Jadi kamu sudah mengerti kan apa yang harus kamu lakukan nantinya?"


 Langkah Zidan terhenti di balik pintu menuju teras.


"Astaghfirullah, apa yang di bicarakan istriku dan bapaknya?" desis Zidan tegang.

__ADS_1


__ADS_2