ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 71.


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," ucap Zidan sambil masuk ke dalam rumah, di tangannya tampak banyak sekali kantong berisi belanjaan dan cemilan untuk mertuanya.


"Wa'alaikumsalam," sahut Adel dan kedua orang tuanya yang masih berada di ruang tamu.


"Alhamdulillah, bapak sama ibu sudah sampe. Gimana tadi di jalannya." Zidan mencium tangan kedua mertuanya takzim dan meletakkan semua barang bawaannya di atas meja.


"Duh, jalannya makin jelek, Nak Zidan. Banyak lubangnya sekarang di jalan, huh ibu aja rasanya masih geliyengan ini. Mana supirnya bukan yang biasa jadi bawa mobilnya agak gimana gitu, nggak nyaman lah pokoknya." Bu Hanif mengoceh mengutarakan bagaimana kondisinya di perjalanan tadi.


 Zidan mendengarkan dengan seksama dan sesekali tertawa melihat ekspresi Bu Hanif yang berubah ubah mengikuti alur ceritanya.


"Abi lupa beli buah kiwi buat Zafran ya? Ini cuma buah apel sama pir aja?" celetuk Adel yang ternyata tengah menyidak barang belanjaan Zidan tadi.


 Zidan menepuk jidatnya. "Ah iya lupa, soalnya umi kan cuma bilangnya buah. Jadinya ya Abi ambil apa yang kelihatan aja, soalnya kalo kiwi kan biasanya adanya di rak khusus."


 Adel mendesah, salahnya juga tadi tidak terlalu rinci mengatakan apa saja yang dia inginkan untuk di belikan Zidan.


"Minuman manusia saljunya juga mana?" rajuk Adel lagi.


 Zidan tersenyum getir. "Emmm ... kalo itu ... Abi lupa heheh, maaf Sayang. Sekarang Abi pesenein aja ya lewat ojol."


 Zidan bangkit dan menuju ke teras rumah untuk memesan ojol guna membeli minuman yang di inginkan istrinya.


"Del Adel, kenapa sih kamu itu jadi suka ngambek begitu?" tanya Bu Hanif sambil beringsut ke dekat tempat duduk Adel.


 Adel menarik nafas dalam. " Ya nggak, Bu. Adel cuma pengen lebih di perhatikan aja kok, lagi pula Adel nggak minta yang aneh-aneh kok."


 Bu Hanif mengusap lembut punggung Adel, rasanya masih sama hangat dengan yang biasanya.


 Pak Hanif mendekati kantong yang tadi dia bawa. "Sudah nggak usah ngambek lagi, ini tadi Bapak ada bawa anggur hasil kebun kita, baru petik ini di jamin seger dan pasti bagus sekali buat Zafran."


 Pak Hanif mengeluarkan setangkai besar anggur berwarna merah dari kantong itu, tampak buah yang ranum dan segar itu meneteskan air seperti memang baru saja di petik sebelum di bawa ke rumah Adel.


"Nih, masih ada sisa embunnya waktu bapak petik tadi pagi. Segar banget ini pasti, sudah nggak usah ngambek lagi, kasihan suamimu." Pak Hanif menambahi.

__ADS_1


 Mata adel berbinar, dan mengambil tangkai penuh anggur itu dengan semangat.


"Ya ampun, ini pasti manis banget rasanya. Makasih ya, Pak. Bapak ada bawa buah apa lagi?"


 Pak Hanif membuka kantong lainnya dan menunjukkan pada Adel, tampak di sana buah tomat merah, tomat hijau, cabe merah dan cabe domba. Tak ketinggalan buah pisang cavendis dan alpukat juga ada. Semuanya tampak segar dan ranum.


"Gimana? Mantab tho?" ucap Pak Hanif mengacungkan jempolnya.


 Adel mengangguk sambil menguyah anggur yang terasa sangat ranum dan segar itu. Suasana hatinya yang tadi buruk berangsur menjadi lebih baik.


 Zidan masuk sambil menenteng beberapa buah gelas plastik cup berisi minuman yang di minta Adel.


"Um, ini minumannya. Masih fresh dan Abi beli semua rasa biar umi puas, sekalian buat yang lain juga."


 Zidan meletakkan semua minuman itu di meja dan Adel langsung memilih rasa


yang mana yang ingin dia minum.


"Pak, bu. Silahkan di minum." Zidan mempersilahkan kedua mertuanya untuk ikut menikmati minuman itu.


"Ah, aku mau yang ini aja. Kayanya seger," ucap Adel sambil mengambil sebuah gelas plastik dan membawanya menuju tempatnya tadi duduk.


 Bertepatan dengan itu tampak Nisa baru saja kembali dari arah dapur, wajahnya terlihat lebih segar mungkin karna sudah cuci muka.


"Nis, sini minum es." Adel mengangkat minumannya setinggi kepala agar bisa terlihat oleh Nisa.


 Mata Nisa berbinar senang, setelah mengangguk Nisa pun mendekat dan ingin mengambil sebuah gelas berisi minuman itu untuknya.


"Nisa ambil yang ini ya, Mbak." Nisa menunjukan sebuah gelas plastik pada Adel dan Adel mengangguk mengiyakan dengan senyum tertahan karena sedang asik menyedot minumannya.


"Kamu menyusui Zafran apa Zafran pake susu formula, Nisa?" tanya Bu Hanif tiba-tiba.


 Nisa tampak memasang wajah tak enak. "Emmm ... keduanya, Bude. Tapi sekarang lebih banyak susu asi, soalnya Nisa juga nyimpen asi beku di freezer. Jadi bisa tinggal hangatin kalo mau di kasih."

__ADS_1


 Bu Hanif mengerutkan keningnya. " Jadi Zafran asi? Tapi kok kamu malah mau minum es. Nanti kalo Zafran pilek gimana?"


 Nisa menahan nafasnya karena tak menyangka Bu Hanif akan berucap demikian padanya.


"Memangnya apa hubungannya, Bu?" sela Adel.


 Bu Hanif menarik nafas panjang. "Ya ada lah, kan es itu dingin. Nanti asinya juga jadi dingin, bisa bikin pilek."


 Adel mengibaskan tangannya di depan wajah. "Halah, mana ada kayak begitu sih, Bu. Mitos itu."


 Bu Hanif melengos. "Ya sudah kalo nggak percaya."


Nisa jadi serba salah, dan pada akhirnya dia memilih meletakkan kembali gelas plastik es yang tadi sudah di pegangnya.


"Eh kenapa, di taruh lagi Nisa? Udah bawa aja. Nggak bener yang dibilang ibu itu, mitos. Adel ini tau dari bidan yang sebelum ini pernah merawat Adel dulu waktu Adel program hamil." Adel memaksa Nisa untuk mengambil kembali es yang tadi sudah di pillihnya.


 Tapi Nisa enggan dan memilih pergi dari sana.


"Abi, tolong anterin nanti es nya Nisa ke kamarnya ya. Kayanya dia segan sama ibu." Adel berbisik di telinga Zidan.


 Zidan mengangguk setuju, dan Adel memilih mengajak orang tuanya untuk beristirahat di kamar yang sudah dia sediakan bagi mereka.


 Zidan menyambar gelas plastik es itu, dan naik menuju kamar Nisa.


"Nis," panggilnya setelah masuk ke kamar istri keduanya itu.


 Nisa tampak beringsut dari posisinya sebelumnya, kepala yang tadinya menunduk kini berdiri tegak sambil mengusapkan tangannya ke wajah sambil membelakangi Zidan. Setelah di rasa cukup, barulah Nisa berbalik dan memamerkan senyum manisnya pada Zidan.


"Ya, Mas?"


 Zidan mendekat dan duduk di sisi Nisa.


"Ini esnya di minum dulu, tadi Adel minta Mas buat bawain ke sini buat kamu. Jangan di dengerin ya omongannya ibu, mungkin ibu cuma pengen yang terbaik buat cucunya. Toh Zafran juga cucunya kan? Tapi kan Adel udah bilang kalo itu mitos jadi kami tetap bebas minum es nya."

__ADS_1


 Nisa tersenyum getir, sudah berbulan bulan menjadi istrinya pun Zidan masih selalu lebih mementingkan dan memprioritaskan Adel ketimbang dirinya. Walau Zidan tetap memperhatikan dia dan Zafran tapi dari perkataannya sangat kentara kalau Adel masih memegang tahta tertinggi di hatinya.


__ADS_2