ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 37.


__ADS_3

 Perjalanan menuju kampung halaman terasa menenangkan, sepanjang jalan perkebunan sawit dan kelapa berjejer memberi keteduhan dan kesejukan.


 Kasur yang di gelar Pak Hanif di tengah mobil memberi ruang yang lebih luas bagi Adel, Bu Hanif, Alice dan Nek Hindun untuk merebahkan tubuhnya dengan nyaman.


"Nggak capek, Del? kalo capek sini rebahan," ujar Bu Hanif sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.


 Bu Hanif berbaring miring, di belakangnya tampak Alice dan Nek Hindun terlelap tidur dengan saling berpelukan.


"Nggak, Bu. Belum capek kok, masih pengen ngemil," sahut Adel sembari membuka tutup botol air mineral dan meminumnya.


"Bu, kotak makan yang isinya nasi goreng dari Nisa tadi mana ya?" Adel bertanya sambil mencari-cari di bagian bawah kasur dimana di letakkannya box makanan tadi.


 Pak Hanif menoleh ke belakang sambil geleng-geleng kepala. "Ya ampun, Del. Dari berangkat tadi loh Bapak perhatikan kamu itu ngunyaaahhhh mulu, apa nggak sesek itu perutmu?"


 Adel terkekeh malu tapi tetap terus mencari box nasi gorengnya.


"Adel rasanya laper aja terus, Pak. Mungkin bener lagi perbaikan gizi kali ya."


 Pak Hanif geleng-geleng kepala lagi kemudian mengambil sebuah kantong berisi box nasi goreng yang di cari Adel, yang tadi di letakkan Nisa di kursi depan.


"Nih, makan yang bener jangan sampe kececeran ya." Pak Hanif menyodorkan kantong itu yang langsung di terima Adel dengan sumringah.


 Bu Hanif bangkit dari posisi berbaringnya. "Berhenti aja dulu, Pak. Udah siang juga, kayaknya Nek Hindun sama Dek Al juga laper itu."


 Adel mengangguk setuju, dan Pak Hanif mulai mencari tempat yang sekiranya cocok untuk mereka berhenti dan istirahat sejenak. Karna bahu dan pantatnya juga sudah merasa kram.


"Kita istirahat di sana aja ya, kayaknya nggak begitu rame dan yang penting depannya ada masjid, jadi bisa sekalian sholat." Pak Hanif menunjuk sebuah rumah makan lesehan yang tampak sejuk dan tenang.


 Adel mengangguk girang dan tampak tak sabar untuk segera turun.

__ADS_1


 Mobil berhenti di parkiran rumah makan, Bu Hanif membangunkan Alice dan Nek Hindun. Sedangkan Adel sudah lebih dulu melesat ke kasir dan memesan segelas jus alpukat.


"Mbak Adel mana, Bu?" tanya Alice sambil mengucek matanya yang masih tampak merah.


"Itu, udah melipir duluan ke sana dia. Yuk buruan kita turun yuk, ibu udah laper." Bu Hanif turun lebih dulu dan membantu Nek Hindun untuk turun kemudian di susul Alice di belakangnya.


"Bu, Bapak ke masjid dulu ya mau ke toilet udah nggak tahan," pamit Pak Hanif sambil berlalu cepat menuju masjid yang letaknya hanya tinggal menyebrang jalan saja itu.


 Bu Hanif membimbing Nek Hindun menuju rumah makan karena kaki Nek Hindun yang katanya kesemutan.


"Kebiasaan kamu, Al. Kalo tidur pasti kaki Nenek di jadiin guling. Kesemutan kan jadinya," gerutu Nek Hindun.


 Tapi bukannya merasa bersalah Alice justru tergelak sambil memeluk neneknya itu.


"Uuhhh ya gimana, Nek. Namanya udah bawaan. Hehe."


 Mereka berjalan pelan menuju ke tempat Adel yang sudah terduduk bersandar di salah satu meja sambil menikmati jus alpukat di tangannya.


 Adel nyengir dan meletakkan gelas jusnya kemudian mengeluarkan ponsel untuk memberi kabar suaminya.


 Seorang pramusaji mendekati mereka dan membawakan buku menu, setelah memilih beberapa menu untuk di makan bersama Alice berpindah duduk menjadi di sebelah Adel, berhadapan dengan Bu Hanif dan Nek Hindun.


"Mbak, tadi waktu mau berangkat kok Mbak malah ngomong gitu sih ke Bang Zidan sama Nisa? emang Mbak nggak sakit hati gitu kalo bayangin mereka ...." Alice menggantung ucapannya tanpa berani meneruskan maksudnya.


 Tapi Adel yang cepat tanggap itu sudah mengerti dan menepuk pundak Alice enteng.


"Ya nggak lah, Dek. Mbak serius kok ngomong begitu," celetuk Adel.


 Bu Hanif tampak membulatkan matanya. "Apa, Del? kamu serius tadi minta begitu sama Zidan dan Nisa? Ibu kira kamu cuma main-main."

__ADS_1


 Adel tergelak pelan lalu meminum jusnya kembali untuk sekedar membasahi tenggorokan.


"Nggak, Bu. Adel serius minta begitu, yah anggap aja ini masa liburan buat Mas Zidan dan Nisa juga. Mereka kan pasti nggak mau kalau Adel minta buat bulan madu, makanya Adel inisiatif buat pergi sejenak dari rumah itu supaya Mas Zidan dan Nisa juga punya banyak waktu buat lebih deket."


"Tapi Mbak Adel nih aneh deh, dimana mana perempuan itu nggak ada yang ikhlas di madu. Nah ini malah Mbak Adel sendiri loh yang bawa wanita lain ke dalam rumah tangga Mbak. Dan sekarang malah bisa-bisanya Mbak secara terang-terangan minta suami dan madu Mbak ... begitu?" tukas Alice yang bingung membeberkan maksudnya.


 Bu Hanif turut menyahut. "Iya loh, Del. Ibu pikir ya wajar sih kalo kamu minta Zidan menikah lagi dengan alasan keturunan. Tapi ya nggak blak-blakan gitu juga dong mintanya."


 Adel kembali tergelak, walau semua pun tau kalau Adel hanya tertawa untuk menutupi luka hatinya. Kita semua tau bukan? tidak mudah membuka hati untuk bisa dengan ikhlas berada di posisi Adel. Kehidupan yang sempurna selalu akan mempunyai cacat di salah satu bagiannya, percayalah.


 Adel memilih tidak menjawab, agar pembahasan itu tidak makin panjang kemana mana. Setelah Pak Hanif dan makanan pesanan mereka datang, mereka lekas menyantapnya dan di lanjutkan dengan sholat berjamaah di masjid, kecuali Alice tentunya.


 (Fyi; Nek Hindun juga muslim, jadi dia ini sebenarnya tetangganya orang tua Alice sebelum meninggal. Bahkan rumah peninggalan orang tua Alice masih berdiri kokoh di sebelah rumah Nek Hindun. Hanya saja dulu saat Alice baru lahir mereka tinggal di rumah nenek kandung Alice. Kalau mau tau kenapa Alice nggak di titip sama nenek kandungnya, ikuti terus kisah ini ya)


 Tanpa terasa akhirnya perjalanan mereka hampir berakhir, gapura kampung sudah terlihat. Mereka semua di sambut dengan perkebunan sawit dan kelapa yang tumbuh berjejer di sepanjang tepian jalan.


 Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya mereka pun sampai di rumah masa kecil Adel. Rumah permanen dengan cat warna ungu yang di penuhi aneka palawija di halaman dan terasnya.


"Alhamdulillah, akhirnya kita sampai." Pak Hanif mengerem mobil dan mulai turun untuk menurunkan barang-barang bawaan mereka.


 Adel keluar, di susul Alice di belakangnya sedangkan Bu Hanif dan Nek Hindun masih sibuk membantu mengangsurkan barang pada Pak Hanif untuk di bawa ke rumah.


"Wah, bagus banget kampungnya, Mbak." Alice berputar menikmati semilir angin sejuk yang menerpa rambut panjangnya.


"Iya kan? Nggak rugi kamu ikut ke sini, Dek. Di jamin pasti nantinya pengen balik lagi," sahut Adel sambil berjalan menuju taman anggur di samping rumah mereka yang tampaknya sedang berbuah.


 Alice membuntuti Adel dan langsung terperangah takjub melihat kebun buah di halaman samping rumah orang tua Adel yang luas. Sampai dia tidak menyadari kalau kini ada orang lain di dekatnya yang juga terperangah menatap keindahan lain dari ciptaan Tuhan di depan matanya.


"Subhanallah, terima kasih ya Allah. Akhirnya engkau turunkan juga jodoh untuk hamba yang sudah lama jadi jomblo karatan ini."

__ADS_1


 Alice terjingkat kaget saat melihat seorang tak di kenal keluar dari semak tanaman tomat yang ada di sampingnya.


__ADS_2