ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 20.


__ADS_3

"Kalau begitu, tolong jadilah Ibu saya," ucap dokter  Alice berucap gamblang.


"Ya, tentu saja ibu mau. Mulai sekarang kamu juga anak ibu," ucap Bu Hanif sambil kembali membawa Alice dalam pelukannya.


"Pak, kita punya adik buat Adel sekarang." Bu Hanif tergelak sambil tetap memeluk Alice.


Pak Hanif yang sedang merangkul Zidan menatap istrinya dengan bingung.


"Kamu hamil, Bu?"


"Hahahhaha." Bu Hanif dan Alice tertawa lepas sampai memegangi perutnya.


"Ya nggak tho, Pak. Sudah sepuh begini kok hamil? Apa kata dunia?"


Bu Hanif memegang tangan Alice dan menunjukkannya pada Pak Hanif dan Zidan.


"Ini loh, Pak e. Dokter cantik ini minta jadi anak kita sebagai imbalan terima kasih kita karna dia sudah berusaha menyelematkan Adel,"


Pak Hanif mengangguk dan melepas rangkulan tangannya dari bahu Zidan.


"Iya, tentu saja Bapak juga mau mengangkat dokter jadi anak Bapak. Bapak bersyukur sekali karna berkat pertolongan Allah lewat dokter sekarang Adel bisa sembuh kembali. Kalau dengan menjadi orang tua dokter bisa membalas semua itu tentu saja kami tidak keberatan," ujar Pak Hanif yakin.


Mereka saling tersenyum dengan raut wajah bahagia, menanti Adel untuk sadar dan bisa kembali berkumpul bersama mereka.


"Lo- loh? Ada apa ini? Dokter sudah keluar, apa operasi Mbak Adel sudah selesai?" tanya Nisa yang baru saja kembali dari menerima telepon.


Melihat wajah bingung Nisa, mereka semua justru tertawa dan membuat Nisa malah semakin bingung sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


****


Satu Minggu berlalu sejak keberhasilan operasi yang di jalani Adel, kini kondisinya sudah membaik dan hanya tinggal menunggu pemeriksaan akhir untuk memperbolehkannya pulang.


"Mbak Adel butuh sesuatu?" tanya Nisa mendekati Adel di tempat tidurnya.

__ADS_1


Sejauh ini Nisa tampak selalu memperhatikan Adel, mengurus semua keperluannya bahkan sampai membantunya ke kamar mandi saat Zidan tidak ada.


"Mbak pengen makan martabak deh, Nis," ucap Adel terkekeh pelan. Karna saat ini  Zidan tengah berada di tempat usahanya untuk kontrol, tentu saja akan sulit bagi Nisa mencarikan martabak untuknya.


Tepat sekali, kini tampak Nisa menggaruk kepalanya karena bingung. "Duh, gimana ya, Mbak? Dimana orang yang jual martabaknya? Nisa nggak tau mbak, kalau aja Nisa tau udah pergi ini Nisa beli buat Mbak."


"Hahah, udah nggak usah, Nis. Nanti Mbak telpon Abi aja biar di beliin waktu dia pulang," tukas Adel tersenyum.


Ceklek


"Ngapain nunggu sih, Mbak? Kelamaan kalo nunggu Bang Zidan pulang. Nih, Alice bawain martabak manis kesukaan Mbak Adel," sela Alice yang langsung masuk ke ruang VIP Adel dengan sekotak martabak di tangannya, masih hangat dan menguarkan aroma manis yang menggiurkan.


"Alhamdulillah, adek cantik Mbak dateng." Adel yang sudah di beritahu orang tuanya tentang Alice kini memeluknya dengan erat, betapa bahagia hatinya  kini bisa mempunyai seorang saudara yang sejak lama di inginkannya sebagai anak tunggal.


"Duh ... senengnya yang peluk-pelukan, hmmm di lupain deh adik yang satunya lagi,"  gumam Nisa menggoda dua perempuan yang tengah asik berpelukan itu.


"Hahahah ... ya udah sini yuk kita pelukan kata teletabis," ajak Adel sambil menarik Nisa ke dalam pelukannya pula.


Yah begitulah, tak selamanya orang lain itu adalah orang lain bukan? Dan tak selamanya pula madu itu hanya membawa kesedihan bukan? Ada kalanya semua justru terjadi kebalikannya, seperti kisah Adel. Yang akan kita mulai ... dari sekarang.


****


"Ya ampun ... duh mesranya pagi-pagi udah berpelukan," kekeh Bu Hanif yang baru saja datang bersama Pak Hanif, di tangannya menenteng sebuah rantang susun sepertinya berisi makanan.


Adel, Alice dan Nisa mengurai pelukannya dan beranjak menyalami tangan kedua orang tua itu.


"Ibu sudah masak banyak, yuk kita sarapan dulu," ajak Bu Hanif sembari membuka rantang dan meletakkannya di meja.


Berbagai lauk pauk seperti ayam kecap, capcai dan sambal tomat menghiasi meja. Membuat para perempuan itu sampai menelan air liurnya.


"Ah, sebentar, Bu. Alice keluar dulu." tanpa menunggu jawaban Bu Hanif Alice segera membuka pintu dan secepat kilat keluar dari ruangan.


Hanya butuh waktu lima menit Alice sudah masuk kembali, kali ini dengan seorang perempuan tua yang juga membawa sebuah rantang. Senyum ramahnya tampak sangat familiar.

__ADS_1


"Loh, nenek? Nenek yang waktu itu kan?" Nisa berjalan mendekati si Nenek yang datang bersama Alice.


"Iya, waktu itu kita belum sempat kenalan. Nama nenek Hindun, neneknya Alice." Nek Hindun mengulurkan tangannya untuk menyalami Nisa.


"Subhanallah, akhirnya kita ketemu ya, Nek. Alice memang dari kemarin bilang mau mengenalkan kami sama neneknya," ujar Bu Hanif  sembari menuntun Nek Hindun untuk duduk di dekat mereka.


"Iya, Alice juga cerita kalau dia sekarang punya keluarga baru. Saya senang sekali mendengarnya, karna sejak kecil dia sudah yatim piatu dan hanya punya saya. Syukurlah saya masih di beri umur panjang sampai bisa merawatnya hingga sekarang," papar Nek Hindun dengan air mata di netranya.


"Dan mulai sekarang, kita akan selamanya jadi keluarga. Jadi jangan pernah sungkan sama kami ya, Nek. Anggap saja kami ini anak-anak Nenek, dan anak-anak kami ini cucu-cucu Nenek," tukas Pak Hanif menimpali.


Nek Hindun mengangguk senang, dan Alice langsung masuk dan duduk ditengah-tengah di antara Bu Hanif dan neneknya.


"Yeeeyyy, sekarang Alice punya keluarga banyak!" seru Alice sambil mengangkat tangannya.


Mereka semua tertawa melihat tingkah Alice yang kekanakan, menikmati semua anugrah kebahagiaan yang di berikan Tuhan setelah banyak air mata mereka keluarkan.


****


Setelah mendapat izin dari pihak rumah sakit untuk pulang, kini Adel dan keluarga sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah pribadi Adel dan Zidan.


Alice dan Nek Hindun hanya mengantar sampai ke pelataran rumah sakit, dan setelahnya mereka berjanji akan berkunjung esok harinya karna Alice masih harus bertugas.


Jadi kini di mobil hanya ada Adel yang masih berbaring di kursi tengah di pangkuan sang ibu, Pak Hanif di kursi paling belakang, serta Nisa dan Zidan yang berada di depan.


"Adel senang sekali akhirnya bisa pulang dan tidur di kasur Adel lagi," ungkap Adel senang sambil membayangkan kamarnya yang sudah lama dia tinggalkan.


"Iya, semoga setelah ini kamu nggak akan sakit lagi ya, Nduk." Bu Hanif mengelus kepala Adel dari balik jilbab besar yang menjadi ciri khasnya.


"Jadi ini Nisa langsung ikut kalian, Dan?" tanya Bu Hanif pada Zidan.


Zidan melirik ibu mertuanya lewat kaca spion dalam. "Sesuai permintaan Adel, Bu. Adel minta buat tinggal serumah sama Nisa, jadi nanti barang-barang Nisa bakal menyusul buat di bawa ke rumah."


Bu Hanif tampak berpikir sejenak. "Lalu bagaimana dengan ibu dan adiknya Nisa? Apa mereka juga bakalan tinggal sama kalian?"

__ADS_1


__ADS_2