ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 18.


__ADS_3

"Astaghfirullah, siapa itu?" seru Zidan dengan wajah pucat pasi.


"Mas kenapa, Mas?" cecar Nisa panik saat melihat Zidan terburu-buru turun dari mobil.


"Ya Allah," gumam Nisa saat melihat Zidan membantu seorang nenek tua untuk bangkit dari depan mobil yang mereka kendarai.


"Maaf, tolong maafkan saya, Nek." Zidan menuntun nenek itu sampai ke tepian jalan.


Si nenek tampak tertatih, dengan cepat Nisa menyusul mereka dan ikut membantu si nenek duduk.


"Kamu nabrak nenek ini, Mas?" tanya Nisa khawatir, tapi tampaknya di tubuh si nenek sama sekali tampak ada cidera.


"Nggak tau, saya cuma ngerasa mobilnya tadi nyenggol sesuatu. Terus pas saya liat nenek jatuh di depan mobil saya langsung ngerem kok," ujar Zidan yakin.


"Su- sudah ... Nenek nggak papa kok, nenek yang salah tadi mau nyebrang nggak liat-liat. Maklum mata nenek sudah rabun, jadi nggak jelas melihat apalagi ini sudah maghrib. Nenek yang minta maaf," ujar si nenek lirih.


"Ya Allah, Nek. Saya benar-benar minta maaf ya, Nek. Saya lagi buru-buru, istri saya di rumah sakit lagi di operasi, Nek. Dan sekarang dia nunggu saya untuk nyari darah tambahan," ucap Zidan memelas sambil menempelkan kedua tangannya di depan dada.


"Maaf ya, Nek." Nisa memegang tangan si nenek yang terasa dingin dan sedikitnya ada bergetar, sepertinya nenek itu masih syok karna kejadian tadi.


"Iya, iya. Sudah, nenek sudah nggak papa. Kalian silahkan lanjutkan perjalanan kalian, bukannya kalian sedang buru-buru?  Nenek juga mau lanjut pulang ke rumah." Nenek bangkit dengan tubuh bergetar hendak melanjutkan langkahnya pulang menuju rumah.


Karna tak tega, Zidan gegas berdiri dan menahan pergerakan si nenek. "Saya anter, Nek."


"Sudah nggak usah, rumah nenek sudah dekat, lagi pula masuk gang mobil nggak akan muat. Sudah kalian lanjut saja, nenek nggak papa. Nenek mau cepet pulang mau masak buat cucu nenek, ya sudah ya." Nenek itu berlaku tanpa bisa di cegah dan menghilang di balik gang yang ada tak jauh dari mobil Zidan.


Zidan dan Nisa akhirnya pasrah dan memilih kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah sakit.


"Maaf, gara-gara saya kamu jadi kaget," ucap Zidan tiba-tiba.


Wajah Nisa memerah padahal Zidan mengucapkan permintaan maaf biasa, dan tak romantis sama sekali. Namun sudah cukup membuat Nisa tersipu.


"I- iya, nggak papa kok, Mas," sahut Nisa lirih sambil menahan senyum di bibirnya.

__ADS_1


"Kalau begitu kita langsung ke rumah sakit ya," tukas Zidan tetap fokus pada kemudi dan tidak menyadari perubahan wajah Nisa.


Nisa mengangguk pelan, namun setelahnya dia tersadar kalau suasana mulai gelap.


"Mas, kayaknya kita harus mampir buat sholat maghrib dulu. Sepertinya nggak keburu kalau nunggu sampai rumah sakit," ucap Nisa lirih, namun cukup terdengar oleh Zidan.


Zidan tidak menjawab perkataan Nisa, namun langsung saja membelokkan mobilnya ke arah mesjid kecil yang kebetulan mereka lewati.


Suasana tampak sepi karna sholat berjamaah sudah selesai, hanya beberapa orang yang masih tampak berada di mesjid menunggu waktu isya sembari bercengkrama.


"Kita sholat berdua saja, berjamaah lebih baik ketimbang sholat sendiri-sendiri," titah Zidan setelah selesai mengambil wudhu.


Nisa mengangguk dengan wajah menunduk karena malu, dan bergegas menuju lemari penyimpanan untuk mengambil mukena yang di sediakan oleh mesjid untuk orang-orang yang tidak membawa mukena sepertinya.


"Allahuakbar,"


Mereka memulai sholatnya, tapi sejujurnya Nisa masih sulit untuk berkonsentrasi karna terlalu senang untuk pertama kalinya bisa sholat berjamaah dengan lelaki yang sudah sah menjadi imamnya.


Beberapa pasang mata pun tampak mengawasi mereka dari kejauhan, dan mulai membicarakan betapa serasinya pasangan itu.


"Nisa! Ayo cepat! Kita harus segera sampai, Adel kritis!" teriak Zidan dari teras mesjid dengan wajah panik, ponselnya masih menempel di telinga sepertinya baru saja mendapat kabar tak mengenakkan dari mertuanya yang berjaga di rumah sakit.


"I- iya, Mas!" sahut Nisa dan terburu-buru melipat kembali mukena yang di kenakannya dan mengembalikan lagi ke lemarinya sebelum akhirnya berlari menuju mobil Zidan yang tampak sudah menyala.


"Pasang sabuk pengamannya, saya akan ngebut kali ini. Saya janji hati-hati, kita harus cepat! Adel butuh saya!" tegas Zidan panik.


Nisa mengangguk dan mulai mencari-cari letak sabuk pengaman yang di maksud Zidan. Namun karna sangat jarang menaiki mobil Nisa sampai lupa caranya memasang sabuk pengaman walau sudah menemukannya.


"Sudah?" tanya Zidan tak sabar, dan melihat Nisa yang seperti kebingungan dengan sabuk pengamannya akhirnya dengan cepat Zidan mengambil alih sabuk pengaman itu dari tangan Nisa dan membantu memasangnya.


Nisa memundurkan wajahnya saat wajah Zidan terasa sangat dekat di depannya, bahkan hembusan nafas Zidan terasa menghangat di wajahnya. Membuat jantung Nisa berdebar tak karuan dengan wajah memanas.


"Kita berangkat," tukas Zidan setelah selesai memasang sabuk pengaman di tubuh Nisa dan kembali lagi ke kursinya sendiri.

__ADS_1


Nisa mengangguk pelan, dan mobil mulai melaju meninggalkan pelataran mesjid. Berbaur dengan berbagai kendaraan di jalanan dengan kecepatan sedang.


"Ya Allah ... ayo cepet dong cepet," gumam Zidan yang tampak panik dan tak sabar dengan kendaraan yang mulai tampak memadati jalan.


Tin


Tin


Tin


Zidan menekan klaksonnya berkali-kali berharap di beri jalan oleh mobil di depannya, tanpa sadar air mata Zidan sudah mengalir karna begitu khawatir dengan kondisi Adel saat ini.


Tring


Tring


Tring


Ponsel Zidan kembali berbunyi dengan nama Pak Hanif tertera di sana, dengan wajah panik dan air mata yang sudah menganak sungai Zidan mengangkat telpon itu dengan bergetar berharap bukan kabar buruk lagi yang di dapatinya.


"Ha- halo, assalamu'alaikum Pak?" sapa Zidan dengan suara serak.


Nisa tak bisa mendengar sahutan Pak Hanif dari sebrang telpon karna Zidan tidak menghidupkan loud speaker ponselnya. Padahal biasanya jika dengan Adel, Zidan akan selalu mengloudspeaker ponselnya jika menerima telpon, menunjukkan betapa saling terbukanya mereka.


"Alhamdulillah ya Allah," gumam Zidan sambil menghela nafas panjang dan menghempaskan punggungnya yang sejak tadi tegang ke sandaran jok  mobil.


Sambungan telepon terputus setelah Zidan membalas salam Pak Hanif, dan mulai mengemudikan mobilnya dengan lebih santai walau nafasnya masih naik turun.


"Ada apa, Mas?" tanya Nisa memberanikan diri.


Tapi Nisa harus menelan kecewa karna Zidan seolah mendengar pertanyaannya dan malah asik tersenyum-senyum sendiri dengan air mata masih mengalir di pipinya.


"Mas!" desak Nisa tak sabar.

__ADS_1


Zidan mengulas senyum tipis dan menjawab pertanyaan Nisa dengan mata berseri-seri. Namun fokus Nisa terbagi dengan  senyuman Zidan yang terasa begitu indah dan sempurna di matanya sampai dia terlena dan tanpa sadar mendekatkan wajahnya ke wajah Zidan yang masih sibuk berceloteh tentang Adel.


__ADS_2