ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 45.


__ADS_3

Nt2 bab 45.


"Apa, Pak? Di colong tuyul? Kok setan jaman sekarang pada kurang kerjaan ya? Ini segala stetoskop di colongin, buat apanya dia coba?" omel Alice sambil bangkit dan mengikuti langkah Pak Hanif yang kembali ke teras lagi.


"Setan kampung kan juga kepo sama barangnya orang kota, Dek Al. Hati-hati loh nyimpen barang-barang mu nanti di colong Wewe habis ini." gelak tawa Adel terdengar begitu sumringah di dapur sana.


Sepertinya dia lupa kalau harus pulang dalam dua hari ke depan. Atau mungkin malah sengaja berbahagia untuk menyiapkan hatinya saat pulang nanti dan keadaan tak lagi sama seperti sebelumnya.


"Mbak Adel mulai oleng, kayaknya kudu cepet-cepet pulang ke kota kamu, Mbak. Udah kelamaan nggak nyium keteknya Bang Zidan ya begitu," sahut Alice sambil membongkar tas kerjanya dan mengeluarkan stetoskop miliknya dari dalam sana.


Samar masih terdengar gelak tawa dari arah dapur saat Alice perlahan melangkah ke teras. Suara obrolan Pak Hanif dan Johan terdengar lumayan keras sepertinya mereka berdua juga sama tengah bercanda.


"Pak, ummm ini stetoskopnya." Alice mengangsurkan stetoskop di tangannya, tapi bukan pada Johan melainkan pada Pak Hanif.


Wajahnya terasa panas, dan Alice yakin sekali kalau saat ini wajahnya pasti sudah memerah seperti cabe domba.


Semua itu karna dari ekor matanya Alice bisa melihat kalau Johan saat ini tengah memperhatikannya.


"Loh, kok kamu kasih ke Bapak tho Dek Al? Kan yang mau pinjem si Johan," ujar Pak Hanif yang sekilas bisa melihat ada yang berbeda dari tatapan Johan ke alive begitu pun sebaliknya.


"Eh, i- iya, Pak. I- ini, Bang stetoskopnya." Alice beralih menyodorkan stetoskop itu ke hadapan Johan, dan Johan langsung mengulurkan tangan untuk menerimanya.


Set


  Mata Alice membeliak tat kala merasakan sebuah sentuhan di tangannya, mungkin saja saat mengambil stetoskop tangannya dan Johan tak sengaja bersentuhan.


"Ah, maaf." Johan tersenyum kaku karna merasa tak enak sebab Alice langsung menarik tangannya begitu saja dengan wajah yang terlihat syok.


"Ng- nggak papa, saya cuma kaget kok." Alice menunduk menyembunyikan wajahnya yang kembali memanas.


Pak Hanif tampak menguap lebar, sepertinya kantuk yang tadi di tundanya kembali lagi untuk menyerangnya.


"Dek Al, Nak Johan ... kalian lanjut saja ngobrolnya ya. Bapak mau lanjut tidur lagi dulu, kalo nggak enak, ajakin Mbak mu ke sini, Dek." Pak Hanif berkata sambil bangkit dan melangkah kembali menuju kamarnya.

__ADS_1


"Beliau ... bapak kamu?" tanya Johan setelah Pak Hanif memasuki kamarnya dan Alice belum juga membuka mulut untuk memulai obrolan dengannya.


Padahal apa yang di rasakan Alice sama juga di rasakan oleh Johan, bahkan sudah di mulai sejak pertemuan pertama mereka di rumah Pak kades tempo hari.


"Ah, iya ... lebih tepatnya ... bapak angkat," sahut Alice gugup.


Alice duduk di sudut balai bambu itu, dan membuang pandangannya ke arah lain.


"Kalau boleh tau, kamu ... dokter apa?" tanya Alice mulai berani bertanya walau kini jantungnya tengah bersiap ria.


"Saya? Saya dokter umum." Johan menjawab tegas dengan senyum tak lepas dari bibirnya.


Alice mengangguk, dan lagi kecanggungan terasa nyata sekali di antara mereka.


"Asal kamu dari mana?" Johan kembali coba menghidupkan suasana.


"Kota J, kalo kamu?"


"Sampai kapan ... di sini?"  tanya Alice mulai penasaran.


"Tiga bulan, dulu saya sempat cuti satu tahun kuliah. Makanya sekarang baru mulai KKN. Padahal harusnya saya sudah wisuda dan bisa bekerja di rumah sakit seperti kamu," celetuk Johan masih menatap intens wajah Alice membuatnya semakin salah tingkah.


Hening lagi lagi tercipta, bahkan suara angin pun terdengar lebih berisik sekarang saking heningnya. Alice bingung hendak bicara apa lagi, namun anehnya dia tidak pergi, ada rasa yang tidak bisa dia jelaskan yang membuatnya nyaman dan betah walau hanya diam bersama Johan.


Johan sendiri sama, bingung hendak membuka suara namun masih betah walau hanya sekedar menatap Alice dari sisi samping semata.


Tiba-tiba sebuah suara teriakan mengusik semuanya, tidak hanya Alice dan Johan yang terkejut mendengarnya bahkan Adel, Nenek dan Bu Hanif yang sedang di dapur pun berlarian ke arah depan untuk melihat apa yang terjadi.


"Aaaaaaaaa! Tidaaakkkkkkkkkk!"


Seorang pria tampak berlari pontang panting di jalanan depan sana, warna merah pekat menghiasi hampir seluruh tubuhnya. Sedang di belakangnya tampak seorang perempuan bertubuh sedikit tambun yang mengejarnya sambil mengacungkan sebilah ....


****

__ADS_1


Kembali dulu ke kediaman Zidan di kota.


"Kak Nisa, ini beneran nggak papa aku sama Ibu nginep lagi di sini? Nanti ada drama Korea lagi ...." Alan berkata acuh saat keluar dari mobil dan melihat kalau mereka ternyata kembali di boyong ke rumah besar Zidan.


"Insyaallah, nggak papa, Al. Lagi pula kemarin itu kan juga cuma salah paham. Kamu kan lihat sendiri tadi Kakak sama ibu udah baikan," sahut Nisa sambil menggandeng tangan Bu Sekar menaiki tangga rumah.


Bu Sekar tak menjawab, namun matanya menyiratkan betapa dia menyesal sudah pernah mempengaruhi Nisa dengan ajaran tak baik.


"Kalau nanti ibu sama Alan nggak betah, jangan pulang tiba-tiba kayak kemarin ya. Nanti bilang aja, jadi bisa Zidan anterin baik-baik biar nggak nangis-nangis lagi Nisa nya." Zidan berkata sambil berjalan membawa beberapa paper bag berisi makanan dan pakaian untuk Bu Sekar dan Alan.


Nisa memang meminta pada Zidan untuk mengizinkan setidaknya beberapa hari untuk Bu Sekar dan Alan menginap. Setidaknya sampai Adel pulang dan Nisa tak perlu sendirian lagi di rumah besar itu.


"Ya sudah kalau itu mau kamu, tapi pastikan supaya drama kayak kemarin nggak bakal terjadi lagi ya," pesan Zidan terngiang di telinganya. Dan Nisa berjanji akan menuruti perkataan Zidan padanya.


Ceklek


Lagi, ruangan besar nan cantik itu menyambut kedatangan mereka. Namun Bu Sekar langsung menunduk agar pikirannya tak lagi silau akan harta yang bukan haknya itu.


Bu Sekar memandangi jari tangan dan kakinya yang penuh dengan plaster, setiap ada yang bertanya maka Bu Sekar akan bilang hanya luka biasa, dan sampai kini tak ada yang tau jawaban pasti dari munculnya luka-luka itu.


Zidan menyuruh Nisa membawa Bu Sekar dan Alan ke kamar yang berbeda, kamar tamu yang berada di lantai satu. Tak jauh berbeda dengan kamar atas yang khusus untuk mereka, kamar itupun tak kalah luas dan bersih. Hanya saja tak semewah kamar yang di tempati Adel dan Zidan.


"Bu, ini kamarnya ya. Di sebelah kamarnya Alan, jadi ibu nggak bingung lagi nanti cari Alan. Ibu tunggu di sini ya, Nisa mau ke kamar mandi dulu sebentar," pamit Nisa sambil berlalu menuju kamar mandi yang berada di sudut kamar itu.


Sembari menunggu, Bu Sekar pergi ke jendela besar di kamar itu dan membuang pandangannya jauh ke depan. Entah kenapa saat ini dia begitu merindukan suaminya.


"Pak, apa kabar di sana? Apa Bapak bisa lihat kami di sini, Pak? Lihatlah, kita sebentar lagi bakalan punya cucu dari Nisa, Pak. Kalau Bapak masih ada, Bapak pasti seneng banget kan? Soalnya itu yang paling Bapak mau dari dulu, tapi malah keduluan ajal sebelum Bapak bisa ngerasain gendong cucu. Ibu kangen, Pak. Semoga nanti ... kita bisa ketemu di surga ya, Pak."


Tepat saat Bu Sekar baru saja mengatupkan bibirnya, suara teriakan Nisa terdengar nyaring dari dalam kamar mandi. Bu Sekar panik dan langsung  membuka paksa pintu kamar mandi itu.


"Ya Allah, Nisa!"


Bu Sekar panik bukan kepalang, saat melihat Nisa yang tersandar di dinding kamar mandi dengan darah pekat mengalir dari selangkangannya.

__ADS_1


__ADS_2