ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 64.


__ADS_3

 Adel baru saja hendak membuka amplop putih yang membungkus surat itu, saat sebuah suara lembut mengagetkannya.


"Mbak? Ayo, udah di tunggu sama yang lain," ujar Nisa sambil tersenyum di ambang pintu.


 Adel mengurangkan niatnya untuk membuka surat itu, setelah memindai seluruh ruangan itu sekali lagi Adel melangkah meninggalkannya menuju ke mobil suaminya.


"Kok lama, um?" tanya Zidan yang sudah siap sedia di balik kemudi.


 Adel hanya tersenyum. "Ah, nggak. Tadi cuma lihat-lihat kamar almarhumah mama dan jadi kangen."


 Zidan mengangguk dan tidak banyak bertanya lagi, perlahan mobil mereka bergerak meninggalkan pelataran rumah bersejarah itu. Semua kenangan manis dan pahit pernah di rasa Zidan di rumah itu, dan kini semua akan berakhir.


****


 Sesampainya di rumah, Nisa langsung menuju kamarnya untuk beristirahat sekaligus menyusui Zafran. Bu Sekar dan Alan juga langsung masuk ke kamarnya masing-masing.


"Um, Abi ke pabrik sebentar ya. Sejak Mama meninggal Abi belum ke sana lagi, manatau karyawan ada kesulitan. Nggak lama kok," pamit Zidan sembari mengecup kening Adel.


 Adel mengangguk pelan. "Iya, Bi. Hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut, jangan Meleng, inget sekarang ada Zafran yang bakalan selalu nungguin ayahnya pulang."


"Insyaallah, Umi baik-baik di rumah ya. Nggak usah ngerjain apa-apa istirahat aja di kamar. Umi pasti capek banget kan seminggu kemarin hilir mudik ngurusin pengajian tujuh harinya Mama. Sekarang waktunya Umi buat istirahat." Zidan mengusap kepala Adel dan memberikan tangannya untuk di salami Adel.


"Assalamu'alaikum, bidadari surgaku."


"Wa'alaikumsalam, imam surgaku." Adel membalas sambil tersenyum manis sekali.


Klapp


 Pintu kamar kembali tertutup setelah Zidan keluar, Adel bergegas duduk di atas ranjang dan mengeluarkan surat dari almarhumah ibu mertuanya itu dari dalam tas tangan miliknya.

__ADS_1


 Seribu tanya menyeruak di benak Adel, tentang kenapa sang mertua bisa berpulang dalam kondisi mengenaskan dan tidak di ketahui penyebabnya sama sekali. Zidan tidak mengizinkan autopsi karena tidak mau lagi jenazah Mamanya di otak atik.


"Bismillah, semoga di dalam sini ada petunjuk tentang kematian Mama." Adel mendesis sambil menyobek kertas amplop putih tersebut.


 Deg


Deg


Deg


 Jantung Adel berdebar keras, demi melihat coretan dengan huruf yang tampak rapi tersebut. Sepertinya Bu Sita memang merencanakan untuk menulis surat untuk Adel sebelumnya.


Kira-kira beginilah isinya.


"Teruntuk menantuku, Adelia.


 Maafkan Mama kalau selama menjadi mertuamu Mama selalu membencimu, semua itu bukan hanya semata-mata karena kamu belum punya anak. Hanya saja, jujur Mama katakan itu semua karna kamu begitu mirip dengan Sri, selingkuhan Papanya Zidan dahulu.


 Walau jauh di dalam lubuk hati Mama, sebenarnya Mama begitu menyayangimu. Mama senang ada seseorang yang bisa membuat Zidan berubah, menjadi lebih baik dan dekat dengan Tuhannya. Tidak seperti Mama yang, ah ... kalian tau sendiri bukan? Mama malu menyebutkannya.


 Adel, mungkin setelah kamu membaca surat ini Mama sudah tidak ada. Jangan kalian cemaskan Mama, biarlah Mama tanggung semua hasil perbuatan Mama sendiri.


 Ah ya, dan satu lagi. Katakan pada Zafran, cucu Mama. Kalau Mama begitu menyayanginya, Mama akan selalu menyayanginya walau Mama tak bisa lagi bersamanya. Kalau kalian bertanya kenapa Mama bersikap buruk pada Zafran dahulu, itu karna Mama tidak mau aswal mengambilnya karna tau dia darah daging Mama yang paling Mama sayangi dan harapkan kehadirannya.


 Makhluk itu berbahaya, Nak. Walau nanti kalian berhasil memusnahkannya, dia akan bangkit kembali untuk melanjutkan terornya. Sebisa mungkin, bawalah semua keluargamu untuk lebih mendekat kepada yang maha kuasa. Agar makhluk terkutuk itu tak lagi bisa mendekati keluarga kita.


 Sekali lagi, maafkan Mama yang sudah membawa bencana ini masuk ke keluarga kita. Semoga saja kelak tak ada lagi dari keturunan kita yang akan terjebak dalam tipu daya makhluk rendah itu.


 Adel menantuku, katakan pada Nisa kalau Mama minta maaf karna sudah pernah memperbudak ibu dan adiknya. Mama gelap mata karna merekat terlihat ingin menguasai harta Zidan, padahal itu hanya dugaan Mama semata. Tolong sampaikan ya, Nak. Semoga mereka bisa memaafkan Mama agar siksaan Mama setidaknya bisa sedikit berkurang.

__ADS_1


 Yang terakhir, sebenarnya ada banyak hal yang ingin Mama ceritakan padamu, Nak. Tapi waktu Mama terbatas, maaf karna tak bisa memberitahu sebabnya. Mama hanya ingin bilang, titip Zidan tetap lah menjadi Adel yang selama ini Mama kenal. Tolong doakan Mamamu ini agar setidaknya tidak begitu berat jalan Mama di sana. Sampaikan pada semua kalau Mama minta maaf pada mereka, Mama menyesal. Dan Mama akan menyayangi kalian sampai kapan pun walau dunia kita sudah berbeda.


  Tolong selalu doakan Mama, salam sayang.


 Mama Sita."


 Adel mengusap air mata yang sejak tadi berjatuhan di pipinya, bibirnya bergetar menahan sedih yang tiba-tiba menyeruak tak di nyana.


"Ya Allah, Mama!" Isak Adel menutup wajahnya dengan kertas surat yang baru saja di bacanya.


 Hatinya teriris perih begitu mengetahui alasan sebenarnya mertuanya sejak dulu begitu tidak menyukainya. Namun semua bisa di terima dengan nalar, dan Adel merasa semuanya bukan murni kesalahan Bu Sita.


 Adzan ashar sudah berkumandang, sesuai permintaan terakhir Bu Sita Adel langsung mengambil wudhu dan berniat mengajak seluruh keluarganya untuk sholat bersama.


"Nisa lagi kedatangan tamu, Mbak." Nisa menekuk wajahnya dengan raut menyesal, baby Zafran di gendongannya tampak menguap sepertinya baru saja bangun tidur.


"Ya sudah, kalo gitu Nisa ikut duduk di dekat Mbak aja ya. Kita berdoa sama-sama buat Mama."


 Adel beranjak menuju kamar Bu Sekar, kebetulan Bu Sekar juga sedang bersiap hendak melaksanakan sholat. Jadi sekalian saja Adel mengajaknya sholat bersama di mushola keluarga.


  Dan kini, Adel bersama Bu Sekar sholat bersama. Nisa duduk tak jauh dari mereka sambil menimang Zafran. Alan rupanya di ajak Zidan ke pabrik jadi dia tidak ada di rumah.


 Seusai sholat berjamaah bersama Bu Sekar, Adel memimpin doa bersama untuk almarhumah Bu Sita. Harapan mereka agar Bu Sita bisa di lapangan kuburnya, di mudahkan jalannya menuju surga dan di ampuni segala dosanya serta di tempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT.


"Alhamdulillahirabbilalamin," gumam Adel mengakhiri doanya.


 Mereka saling bersalaman dan mencium pipi masing-masing. Kerukunan sangat terasa kini setelah semua yang terjadi di keluarga mereka sebelumnya.


 Walau samar, tapi Adel seolah bisa melihat sosok Bu Sita yang tengah berdiri menatap mereka dari sudut rumah mushola. Tampak olehnya beliau tersenyum lembut, senyum termanis sepanjang yang pernah di lihat Adel di wajahnya.

__ADS_1


"Semoga Mama tenang di sana ya, Ma. Adel janji akan selalu mengajak yang lain untuk sentiasa mendoakan Mama."


__ADS_2