ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 8.


__ADS_3

"Tidak! Kami sudah punya calon sendiri! Berhenti ikut campur dan enyah dari sini!" sergah Zidan yang entah sejak kapan sudah berdiri di luar pintu dengan nafas yang tampak memburu menahan amarah.


"Z ... Zidan, k- kamu bukannya tadi pergi?" tanya Bu Sita gugup, tak menyangka kalau Zidan sejak tadi masih berada di rumah sakit tersebut.


 Zidan menarik nafas dalam-dalam, tak ingin membuat keributan di rumah sakit itu. Zidan masuk dan kembali menutup pintu ruangan.


"Ngapain lagi Mama kesini? Apa perkataan Zidan kemarin kurang jelas? Kalau Mama, kesini cuma mau menghina dan menyakiti hati istriku. Lebih baik kalau Mama nggak perlu datang kesini! Mama lupa sepertinya," gumam Zidan menahan emosinya.


  Begitu besarnya kasih sayang Zidan kepada Adel. Bahkan bukan hanya orang lain, orang tuanya sendiri yang telah membesarkannya pun bisa dia lawan jika menyakiti hati istrinya. Sikap yang tak bisa di benarkan, namun di saat bersamaan juga rasanya tak bisa di salahkan.


"Ma- Mama, Mama .... Heeemmm." Tampak Bu Sita kesulitan menjawab dan hanya bergumam tidak jelas sambil meremas ujung gaun yang di pakainya.


"Mama cuma mau ngucapin selamat buat pernikahan kedua kamu nanti kok, Sayang." Adel memotong ucapan Bu Sita, secara tidak langsung menyelamatkannya dari kemarahan Zidan yang tak pernah pandang bulu bila sudah menyangkut Adel.


 Mata Bu Sita seketika membola mendengar jawaban Adel, namun hendak membantah pun dia tak berani. Bagai singa, Zidan yang marah bahkan tampak lebih seram dari pada begal di jalanan.


"Benar begitu, Ma?" tanya Zidan pada Bu Sita.


 Bu Sita mengangguk cepat. "I- iya, iya benar."


 Zidan kembali mengatur nafasnya agar tak lagi emosi. Memendam kemarahan sebenarnya membuat jantungnya sakit karena terlalu berdebar.


"Tapi kenapa tadi Zidan denger Mama marah-marah lagi sama Adel?" selidik Zidan menelisik Bu Sita dari ujung rambut hingga ujung kaki.


 Bu Sita yang baru saja bisa bernafas lega kini kembali tegang. "Emmm itu ... itu ...."


 Adel kembali mendapat ide untuk membalas sang mertua dengan brilian. Jadi secepatnya lagi-lagi Adel memotong ucapan Bu Sita.


"Ah, Bi. Itu tadi bukan marah-marah, tapi Mama maksa supaya pernikahan kamu nanti di adakan besar-besaran. Mama nggak mau kalau acaranya cuma sekedar ijab qobul aja, jadi tadi Mama marah karena maksa mau biayain semua keperluan pernikahan kamu dan Nisa," celetuk Adel cepat dan sangat sukses membuat Bu Sita melotot marah.


 Zidan menatap Adel dengan kening berkerut dalam. "Benar begitu, Ma?"


 Bu Sita sebenarnya hendak membantah dan mengatakan kalau Adel berbohong, tapi tatapan tajam Zidan membuat bulu kuduknya merinding. Memang sulit berhadapan dengan Zidan, sifatnya sangat mirip dengan almarhum sang Papa yang lembut namun bisa mendominasi orang di sekitarnya. Kecuali Adel tentunya, karna selama mereka menikah justru Adel yang tampak lebih menguasai Zidan.


"Ma?" panggil Zidan lagi.


 Bu Sita gelagapan, bingung harus menjawab bagaimana.

__ADS_1


"Ah, huuummm . I- iya, iya," tukas Bu Sita akhirnya sambil melotot ke arah Adel yang tampak terkikik pelan.


"Tapi kok bisa?" heran Zidan.


"Y- ya, yaaa ... karna Mama seneng akhirnya kamu mau menikah lagi dan pastinya setelah ini kamu akan kasih Mama cucu. Nggak terus menerus jadi kaki tangan istrimu yang nggak ada gunanya ini," ketus Bu Sita kembali menghina Adel, seakan tak pernah puas.


 Adel tersenyum miring, tak menyangka sebegitu bencinya mertuanya padanya hanya karena dia tak bisa memberikan cucu.


"Tapi asal Mama tau, Ma. Zidan menerima pernikahan kedua ini karena Adel, Zidan melakukan ini demi Adel bukan karena sebab lain. Kalaupun nantinya istri kedua Zidan akan bisa hamil dan memberi Mama cucu, setidaknya Mama harus bisa berterima kasih juga sama Adel. Karena dia, akhirnya Mama punya cucu juga walau bukan dari rahimnya," titah Zidan dingin.


 Bu Sita menarik nafas dalam-dalam, dagunya kembali terangkat tinggi dan angkuh.


"Baik, kalau begitu segera pertemukan Mama dan calon istri keduamu itu. Mama mau lihat sepintar apa istri nggak bergunamu ini mencari istri untuk suaminya." Bu Sita melanjutkan niatnya untuk keluar dan membanting pintu ruangan dengan kasar.


 Braakkk


 Zidan dan Adel terjingkat dan setelahnya mengelus dada sambil beristighfar.


"Maafin Mama ya, Sayang." Zidan menatap Adel dengan tatapan tidak enak.


"Nggak papa, Bi. Setidaknya sekarang Mama pun sudah tau kalau kamu akan menikah lagi dan tentu saja akan bisa ngasih beliau cucu. Harapan Umi setelah ini Mama akan bisa berubah lebih baik sama Umi," tukas Adel dengan mata menerawang memandang keluar jendela membayangkan masa depan manis mereka di sana.


Tok


Tok


Tok


 Pintu ruangan kembali di ketuk, gegas Zidan membuka pintu dan mempersilahkan tamunya yang ternyata adalah orang tua Adel masuk.


"Bapak, Ibu." Senyum lebar Adel merekah demi melihat orang tuanya yang datang bersama sambil membawa banyak makanan kesukaannya.


"Gimana keadaan kamu hari ini, Nak?" tanya Bu Hanif sambil mendekat ke ranjang Adel dan mengelus tangannya.


"Alhamdulillah sudah lebih baik, Bu. Ibu bawa apa?" tany Adel tak sabar saat melihat sang Bapak mengeluarkan sebuah kotak martabak dengan merek langganannya.


"Huh, kamu itu kalo liat makanan seneng sekali, sama aja kayak dulu," gemas Bu Hanif sambil menoel ujung hidung Adel.

__ADS_1


"Adel mau, Bu. Tadi minta Mas Zidan beli tapi orangnya malah balik lagi," kekeh Adel melirik Zidan.


 Zidan tertawa dan mendekati Adel kemudian mencubit pipinya gemas.


"Gimana nggak balik lagi kalo dompetnya ketinggalan, hm? Masa Abi beli roti bakar sama boba bayarnya pake terima kasih?"


  Adel meringis sambil tertawa menahan pipinya yang ngilu karna cubitan cinta suaminya.


"Ya kan siapa tau penjualnya lagi mau sedekah sama Abi, coba aja Abi cosplay pake baju sobek-sobek di jamin langsung di kasih tanpa Abi harus ngemis," tawa Adel membahana karna banyolannya sendiri.


 Bu Hanif, pak Hanif dan Zidan turut tertawa lepas. Membuat suasana ruangan kamar yang biasanya suram menjadi hangat pagi itu.


Tok


Tok


Tok


 Tawa mereka berhenti seiring dengan ketukan pintu yang kembali terdengar nyaring.


 Pak Hanif membuka pintu dan mempersilahkan seorang dokter yang ternyata adalah dokter yang menangani Adel masuk.


"Permisi, maaf saya mengganggu sebentar ya." Dokter itu masuk dan tersenyum sumringah menambah kesan hangat dan riang di ruang VIP tersebut.


"Ada apa ya, Dok?" tanya Bu Hanif yang justru tampak khawatir.


"Iya, Dok. Ada apa ya? Apa ada kabar tentang penyakit Adel?" timpal Pak Hanif.


 Dokter itu tersenyum lebar dan menggeleng. "Tidak ada Pak, Bu. Saya kesini hanya untuk menyampaikan kalau operasi pengangkatan sel kanker Ibu Adel akan di lakukan tiga hari lagi. Jadi tolong persiapkan diri ya, Bu Adel. Semoga setelah ini Bu Adel benar-benar bisa pulih dan nggak harus nginep di sini lagi."


 Pak Hanif dan Bu Hanif tampak manggut-manggut, sedangkan Zidan mendekati Adel dan mengelus punggungnya memberi kekuatan lewat sentuhan halalnya.


"Kalau begitu saya permisi dulu, kita bertemu lagi tiga hari ke depan ya Bu Adel." Dokter itu berlalu masih dengan senyum di wajahnya.


 Sepeninggalan dokter, Adel menarik tangan Zidan ke pelukannya. Dan meminta bapak ibunya mendekat.


"Tiga hari, sepertinya waktunya akan cukup. Adel punya permintaan untuk ...."

__ADS_1


__ADS_2