
Nt2 bab 27.
"Nis, Anissa? kamu kenapa? Apa kamu di dalam? Boleh saya masuk?" suara Zidan menembus gendang telinga Nisa.
Nisa tertegun, dia bahkan hampir tak percaya kalau itu adalah suara Zidan.
'bagaimana mungkin, Mas Zidan lebih memilih melihat kondisinya ketimbang bersama Mbak Adel di sana?' batin Nisa bimbang.
Tok
Tok
Tok
"Nisa? Kamu dengar saya? Kamu nggak kenapa-kenapa kan?" lagi, suara Zidan terdengar bahkan lebih santer ketimbang sebelumnya.
Nisa masih diam, dan menempelkan kepalanya ke pintu berusaha mendengarkan apa ada suara orang lain yang bersama Zidan.
"Nisa, tolong buka pintunya!" pinta Zidan lagi.
Dan tak ada suara lain selain suara Zidan yang di dengar Nisa. Akhirnya tanpa menghapus air matanya Nisa bangkit dan membuka pintu.
Ceklek
"Ni- Nisa? Kamu nggak apa-apa?" cecar Zidan.
Nisa menatap Zidan dengan tatapan sendu. "Kenapa kamu kemari, Mas? Bukankah bahkan kamu sendiri juga nggak peduli sama aku? Aku tau, Mas kalau aku cuma orang ketiga di hidup kalian. Tapi tolong hargai aku! Aku juga punya perasaan, Mas! Di saat kalian membuat aku dan ibuku terlibat salah paham, sekarang dengan mudahnya kalian malah merayakan ulang tahun Mbak Adel dengan suka cita. Di mana hati nurani kalian? Bisa-bisanya kalian justru tertawa bahagia di atas tangisan ku, Mas!"
Nisa kembali tergugu, kali ini di hadapan Zidan. Dia sengaja karna ingin melihat seperti apa reaksi suaminya itu.
Zidan tampak bimbang, dia ingin menenangkan Nisa namun hatinya masih belum bisa menerima Nisa sepenuhnya. Jadi tangannya sama sekali tak bisa dia gerakkan bahkan untuk sekedar menghapus air mata di pipi Nisa.
"Maaf," akhirnya hanya kalimat itu yang terucap dari bibir Zidan, dia menyerah pada hatinya yang masih ragu untuk menyentuh Nisa sebagai kekasih halalnya.
Nisa terbelalak, namun dengan seringai tipis dia menghapus air matanya. "Apa, Mas? Maaf? Setelah semuanya yang bis kamu sampaikan hanya maaf? tcih, harusnya sejak awal aku bisa berpikir untuk menolak semua rencana ini. Tapi aku justru dengan bodohnya malah ikut terjebak hanya karna rasa hutang budi pada Mbak Adel."
Zidan menatap Nis tak percaya, namun untuk menjawab lidahnya bahkan tak mampu.
"Sudahlah, Mas. Aku seharusnya memang sadar diri siapa aku di rumah ini. Aku tau, nggak sepantasnya aku begini ... tapi sekarang, aku cuma berharap semoga ibu dan adikku tidak kesusahan di luar sana karna kita semua tak ada yang peduli pada kondisi mereka." Nisa mundur dan kembali menutup pintu kamarnya.
Blam
__ADS_1
Nisa kembali bersandar dan lagi-lagi menumpahkan isak tangisnya di balik pintu.
"Ibu dimana ...?"
Zidan mengacak rambutnya kasar, dia sangat bingung saat ini. Semua menjadi kacau dan tak sesuai rencana awal.
Karna tak menemukan solusinya akhirnya Zidan memilih kembali ke meja makan, bergabung dengan Adel dan orang tuanya yang tampak tengah bersenda gurau.
"Hah, pantas saja kalau kamu merasa tersingkir Nisa," gumam Zidan sebelum sampai ke meja makan.
Sekarang Zidan mengerti, kenapa adil dalam pernikahan dengan dua istri itu begitu sangat berat. Dan dia rasa, inilah dosa pertamanya karna membiarkan istri keduanya menangis sedangkan istri pertamanya tertawa bahagia. Walau sebenarnya semua itu berawal juga bukan karna salahnya.
"Umi," panggil Zidan sembari duduk di kursi di sebelah Adel.
Adel menoleh cepat. "Ah, Bi? Gimana Nisa? Apa dia sudah tenang?"
Zidan mendesah. "Belum, bahkan sekarang dia lebih histeris ketimbang sebelumnya."
"Ya Allah, kasihan Nisa," lirih Bu Hanif dengan mata berkaca-kaca.
Walau Nisa adalah madu anaknya tapi tak sedikitpun ada rasa tak suka di hati Bu Hanif padanya. Malah Bu Hanif menyayanginya sebagaimana dia menyayangi Adel, putrinya.
"Coba kamu temani dia dulu, Zidan. Kamu suaminya, kamu harus jadi yang paling tau tentang istrimu. Jangan tinggalkan dia seperti ini," titah Pak Hanif menatap Zidan lekat.
Tampak semburat kabut di mata Adel, namun dengan senyum terpaksa dia menyentuh tangan Zidan dan menggenggamnya erat sembari mengangguk.
"Pergilah, Bi. Bapak benar, Nisa istri Abi juga, perlakukan dia dengan adil, sebagaimana Abi memperlakukan Umi dengan sebaik-baiknya. Insyaallah Umi nggak papa."
Zidan mengelus kepala Adel yang tertutup jilbab lebarnya. "Terima kasih ya, Sayang. Umi memang istri paling luar biasa, semoga Allah melimpahkan semua kebahagiaan untuk Umi. Semoga setelah semua ini Umi nggak akan pernah merasakan sedih lagi."
"Amiin," sahut mereka semua mengamini doa Zidan.
"Sudah, sekarang Abi ke atas ya. Temui Nisa, sekalian bawa makanann buat Nisa ya." Adel mengambil sebuah piring untuk dia isi dengan makanan yang akan di berikan pada Nisa.
"Biar Ibu aja, Del." Bu Hanif berdiri dan mengambil piring itu dari tangan Adel.
"Makasih, Bu." Adel tersenyum simpul.
Setelah satu piring lengkap dengan berbagai lauk pauk dan juga tak lupa sepiring kecil kue telah siap, Bu Hanif meletakkan semuanya di nampan dan memberikannya pada Zidan.
"Ini, Nak. Tolong perlakukan Nisa sebaik-baiknya ya. Dengar apa maunya, dan jangan anggap dia orang lain lagi. Ingat dia juga istrimu," gumam Bu Hanif lembut.
__ADS_1
Zidan mengangguk pelan. "Insyaallah, Bu."
Zidan menatap Adel sekali lagi, seakan tau kalau hati istri tercintanya itu masih sedikit belum ikhlas.
"Pergilah, Bi. Kasihan Nisa pasti sudah kelaparan," ucap Adel lirih.
Setitik air mata jatuh di pipi Adel, hati wanita mana yang tak perih saat dengan sadar meminta suaminya sendiri yang amat sangat di cintainya untuk menemani wanita lain, di saat hari bahagianya pula. Namun takdir sudah bicara dan Adel sendiri yang meminta, kini mereka harus belajar menyesuaikan diri dengan semua kenyataan yang ada.
Zidan menghapus air mata Adel, dan memberikan senyuman terbaiknya sebelum kembali melangkah menuju kamar Nisa.
Degh
Degh
Degh
Jantung Zidan bertalu-talu saat langkahnya semakin dekat dengan pintu kamar Nisa.
Samar terdengar isakan tangis Nisa dari dalam kamar.
Nyut
Hati Zidan serasa tercubit, namun dia menepis perasaan itu karna menyangka itu hanyalah rasa simpati pada penderitaan Nisa.
Tok
Tok
Tok
"Nis, Nisa ... boleh saya masuk? saya bawa makanan buat kamu. Ayo kita makan dulu, Nis," ucap Zidan selembut mungkin.
Zidan tak ingin menambah rasa sedih Nisa dengan bersikap datar seperti sebelumnya, setidaknya dengan bersikap lembut seperti sekarang Zidan bisa lebih tenang karna bisa mulai berlaku adil pada Nisa.
"Nisa ... kamu dengar saya? tolong buka pintunya Nisa, saya mau bicara sama kamu," ucap Zidan lagi saat Nisa tak kunjung membuka pintu kamarnya.
Ceklek
Pintu terbuka, Nisa muncul dari balik pintu dengan wajah menunduk dalam.
"Nis ...."
__ADS_1
"Cukup, Mas. Nisa sudah memikirkannya matang-matang, dan sekarang Nisa punya permintaan yang Nisa mohon untuk Mas bisa turuti," sela Nisa menatap lekat wajah Zidan.