
"Nisa tidak melarang, Mas. Nisa hanya ingin memilki lebih banyak waktu bersama Zafran ketimbang Mbak Adel. Tapi yang terjadi saat ini malah kebalikannya, Nisa hanya bisa bersama Zafran jika dia mulai mengantuk dan ingin tidur. Selain itu, Mbak Adel akan menguasai Zafran hampir sepanjang hari!" seru Nisa mulai emosional.
Zidan sendiri sampai terkejut di buatnya." Lalu bagaimana mau kamu sekarang, Nisa?"
Nisa memalingkan wajah ke arah lain, nafas naik turun seperti menahan kesal yang selama ini bersarang di dalam dada.
"Izinkan sementara ini pulang ke rumah ibu di kampung, Mas."
Zidan terhenyak. "Lalu kamu akan bawa Zafran?"
Nisa mengangguk tegas. "Ya, tentu saja. Zafran anakku, Mas. Dan dia masih menyusu, bagaimana mungkin aku tinggalkan dia di sini sedangkan aku hendak pergi dan entah berapa lama ku akan kembali."
Mata Zidan semakin melebar. "Apa maksud kamu, Nisa? Kamu ingin menjauhkan Zafran dari Mas?"
Nisa menggeleng. "Nggak, Mas. Bukan dari Mas, tapi dari Mbak Adel."
Bagai tersambar petir di siang bolong, Zidan mendengar ucapan yang keluar dari mulut Nisa. Tanpa kata, dia keluar dari kamar Nisa dan menutup pintunya dengan kasar.
Brakkk
Nisa terjingkat kaget, air mata nya perlahan meleleh di pipinya jatuh terus hingga berakhir di pangkuannya. Tangannya terkepal erat, seakan menyimpan dendam yang perlahan semakin menumpuk di dalam dada.
"Aku berjanji akan mengambil kembali hak atas anakku, Mas. Dan siapapun tidak bisa menghalangi aku, baik kamu atau siapapun dia orangnya. Itu janjiku."
****
Zidan tengah berkumpul dengan adel dan kedua orang tuanya, bersama mereka melihat perkembangan Zafran yang semakin hari semakin menggemaskan.
"Duh, Del. Andai aja ini anak kamu yang sebenernya, pasti dia lucu sekali seperti kamu waktu kecil dulu." Bu Hanif berseloroh sambil bertepuk tangan di depan Zafran yang mengejarnya dengan merangkak penuh semangat.
__ADS_1
"Ah, ibu. Ya Zafran kan juga anak Adel, kan Zafran darah daging Mas Zidan, ya itu artinya sama aja dengan anak Adel, Bu." Adel menyahut dengan senyum manis di wajahnya.
Bu Hanif mendesah berat namun tak lagi menyahut omongan Adel dan lebih memilih menyibukkan diri bermain dengan Zafran kembali.
"Um, katanya Nisa mau pulang kampung sebentar," ucap Zidan menyampaikan apa yang tadi di katakan Nisa padanya.
Adel terperanjat, sama dengan ekspresi Zidan saat tadi mendengar ucapan itu terlontar dari bibir Nisa.
"Lalu Zafran?"
"Dia bilang mau di bawa," sahut Zidan apa adanya.
Bu Hanif menatap tak suka entah pada siapa, mungkin pada niat Nisa yang tak bisa di pelototinya secara nyata.
"Apa maksudnya dia begitu? Dia mau menjauhkan Zafran dari anakku begitu? Apa selama ini dia iri karena Adel lebih dekat dengan zafran?" ketus Bu Hanif.
"Iya, bude. Anda benar sekali." suara Nissa terdengar dari bagian atas tangga menuju lantai dua.
Mereka semua mendongak dan mendapati Nisa sudah bersiap dengan sebuah koper di tangannya. Matanya tampak sembab mungkin karna terlalu banyak menangis.
"Kamu mau kemana, Nis?" tanya Adel lembut, namun Nisa malah membalasnya dengan tatapan sinis.
"Kenapa? Tidak ada yang akan bisa menahanku membawa anakku pergi dari sini. Sudah cukup selama ini aku bersabar ketika kalian mencuri kesempatan dan waktuku bersama anakku!". Nisa berucap tajam sambil berjalan cepat menuruni tangga.
Matanya kembali basah dan dengan cepat menarik Zafran dari gendongan Bu Hanif.
"Hei, apa kamu tidak di ajari sopan santun oleh ibumu?" serang Bu Hanif yang merasa kesal melihat cara Nisa menarik zafran dari gendongannya . Terkesan kasar dan pasti membuat tubuh bayi mungil itu kesakitan, terbukti dari wajahnya yang tampak menahan sakit dan hampir menangis.
"Nisa, tolong pikirkan lagi. Jangan bawa Zafran, Mbak mohon." Adel menangkup kedua tangan di depan dada. Matanya berkaca-kaca memohon kepada Nisa.
__ADS_1
Nisa melengos, dan tak mempedulikan perkataan Adel. Dia berjalan cepat menuju ke arah pintu keluar, tak peduli walau kini semua orang termasuk adel dan Zidan mengejarnya di belakang.
"Berhenti, Nisa! Kita bisa bicarakan ini baik baik!" jerit Zidan berusaha mencapai Nisa.
Namun Nisa tak peduli dan terus saja melangkah walau kini Zafran mulai menangis di pelukannya.
"Nisa, Zafran menangis Nisa. Tolong berhenti dulu dan kita bicarakan baik baik. Semua pasti ada jalan keluarnya, Nisa." Adel masih memohon pada Nisa, walau tak di hiraukan oleh Nisa.
Sesampainya di teras, Nisa berhenti dan berbalik menatap tajam mereka semua. Tak di pedulikannya Zafran yang kini tampak menangis ketakutan sambil menyodorkan tangannya ke arah Adel meminta Adel untuk menggendongnya.
"Kamu lihat kan, Mbak? Bagaimana anakku sekarang malah semakin dekat dan menginginkan kamu? Memang ini yang kamu mau kan, Mbak? Membuat anakku menjadi dekat dan hanya akan menganggap mu sebagai ibunya? Sedangkan aku? Hanya akan dia ingat sebagai orang yang dia datangi ketika lapar dan haus saja." Nisa tampak marah sambil menatap lekat wajah Adel yang basah oleh air mata.
"Nisa, kita bisa bicarakan itu baik-baik nanti. Sekarang biarkan Mbak tenangkan Zafran ya, kasihan dia Nisa. Dia ketakutan." Adel mengulurkan tangannya untuk meminta Zafran dari gendongan Nisa, bayi itupun semakin meronta ingin melepaskan diri dari gendongan Nissa untuk ikut dengan Adel.
Tapi Nisa malah menjauhkan Zafran dari jangkauan Adel, dan melotot marah padanya.
"Tidak! Jangan lagi kamu berani sentuh anakku. Sudah cukup kalian mencuri anakku selama ini, hingga dia bahkan lupa siapa sebenarnya ibu kandungnya!" marah Nisa lagi.
Tak ada rasa segan lagi di hatinya walau kini Bu Hanif dan Pak Hanif turut menatapnya tak senang. Baginya kini tak ada yang lebih menyakitkan ketimbang harus kehilangan anaknya walau sebenarnya dia ada di depan matanya. namun jauh dari jangkauannya.
"Nisa, tolong jangan mengambil keputusan dalam kondisi emosi seperti ini. Mari kita duduk dulu dak bicarakan semuanya dengan kepala dingin. Ya," pinta Adel menghiba.
Tapi lagi lagi tak bisa merubah keputusannya Nissa.
"Maaf, Mbak. Tapi semuanya sudah terlambat, aku akan pergi dengan membawa anakku."
"Berapa lama?" tanya Adel lagi dengan perasaan tak tega melihat tangisan Zafran yang kini mulai terdengar serak dengan tangan tak hentinya terulur ke arah Adel.
Betapa pilu hati Adel melihat pemandangan itu, ingin sekali rasanya dia mengambil Zafran dan menimangnya seperti biasa dia menenangkan bayi itu. Namun kini dia tak berdaya, karna Nisa terlihat begitu membencinya.
__ADS_1
"Aku tidak tau berapa lama, mungkin sampai anakku kembali hanya menganggap aku seorang sebagai ibunya. Terserah kalian mau anggap aku apa, selama ini semua kebaikanku bahkan tidak kalian hargai. Sekarang kalau aku menjadi jahat, itu juga sebenarnya bukanlah salahku sepenuhnya. Ada andil kalian di dalamnya." tuding Nisa pada mereka semua.
Zidan yang sudah tak sabar, akhirnya mulai buka suara. "Bukankah kamu masih bisa hamil kembali, Nisa? Kenapa tidak bisa kamu relakan saja Zafran untuk Adel?"