ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 82.


__ADS_3

"Sepertinya ... semua yang terjadi di sini di luar ekspektasi saya, Mbak Adel."


 Adel terperanjat. "Ap- apa maksud Mbak Dijah?"


 Dijah kembali memutar tubuh menghadap ke depan seperti sebelum, perlahan langkah nya pasti masuk ke dalam kamar Nisa yang tampak termaram dan terkesan gelap itu.


"Mbak Nisa?" panggil Dijah yang belum menangkap adanya keberadaan Nisa di ruangan itu.


 Mereka masuk semakin dalam, dengan Adel membuntuti di belakang Dijah yang masih berjalan pelan sambil memindai sekitar yang masih bisa terlihat oleh matanya.


 Hening


Tak ada suara sama sekali di dalam kamar itu, entah apa yang di lakukan Nisa sehingga dia menutup semua tirai dan mematikan saklar lampu di kamarnya, membuat kamar itu menjadi remang remang dengan pencahayaan yang hanya berasal dari lampu yang menyala di kamar mandi yang kini pintunya terbuka. Padahal biasanya pintunya selalu tertutup.


 Langkah Dijah terayun menuju kamar mandi, satu satunya tempat yang masih tampak terang benderang di ruangan itu.


"Mbak Nisa?" panggilnya lagi, cukup lirih namun suasana yang hening membuat suaranya terdengar menggema.


"Gimana, Mbak?" bisik Adel yang mulai ketakutan sambil melihat sekelilingnya takut kalau kalau ada yang mewujud di hadapannya nanti.


 Dijah menggeleng, dan kembali memutar tubuh untuk keluar dari kamar mandi.


"Nggak ada, Mbak. Mungkin Mbak Nisa di tempat lain," tukas Dijah.


 Adel mengangguk, dan dengan segera menekan saklar lampu yang entah kenapa sejak tadi malah terlupakan karena terlalu ketakutan. Adel merutuki dirinya sendiri kenapa bisa takut dengan tipu daya setan yang sengaja menakut nakuti.


"Mbak! Jangan hidupkan lampunya!" teriak seseorang yang Adel yakin itu adalah suara Nisa.


 Adel memutar tubuhnya, mencari cari dari mana suara itu berasal.


"Nis! Kamu di mana? Kenapa gelap gelapan?" seru Adel mulai berani dan tidak setakut tadi.


"Matiin lampunya dulu, Mbak!" seru Nisa lagi, entah dari mana asal suaranya.


 Adel menatap Dijah sesaat, Dijah mengangguk meminta Adel menuruti permintaan Nisa.


Klik

__ADS_1


 Lampu kembali padam, suasana remang kembali menyelimuti mereka. Adel dengan cekatan berlari menuju Dijah dan memeluk lengannya erat. Tidak di pungkiri kalau Adel sebenarnya takut menghadapi kegelapan seperti ini.


"Mbak Nisa, Mbak dimana? Bisa keluar sebentar?" tanya Dijah sambil memindai ruangan itu mencoba menerka dari arah mana suara Nisa berasal.


"Siapa?" Nisa balik bertanya, namun suaranya seolah berpindah pindah setiap kali menjawab pertanyaan Dijah dan Adel.


 Adel semakin merapatkan tubuhnya ke lengan Dijah, merasakan ketakutan mulai merajai batinnya.


"Saya Khadijah, istrinya ustadz Yusuf. Saya mau menjenguk Mbak Nisa," sahut Dijah apa adanya.


Hening.


 Tak lagi terdengar suara Nisa dari arah manapun, Adel dan Dijah berjaga jaga mereka menatap sekeliling dengan lebih intens dari pada sebelumnya. Berjaga jaga kalau kalau ada sesuatu yang bersembunyi di balik kegelapan ini.


"Berani sekali ustadz kurang kerjaan itu masih mencampuri urusanku!" sebuah suara berat tiba tiba terdengar dari arah depan mereka, dimana di sana terdapat sebuah lemari besar tempat Nisa menyimpan pakaiannya dan sebuah jendela yang tak kalah besar namun kini tertutup gorden tebal.


"Astaghfirullah!" seru Dijah dan Adel bersamaan.


 Sebuah bayangan hitam tampak bergerak di sudut ruangan yang berdekatan dengan lemari besar tersebut. Suatu tubuh besar, hitam dan berbulu seperti menggeliat di sana.


 Dijah merapalkan doa doa dan ayat Alquran yang di hapalnya luar kepalanya, sedangkan Adel sejak tadi terus saja membaca ayat kursi berjarak makhluk aneh itu bisa segera pergi.


 Dijah memegangi tangan Adel erat, dan dengan beberapa kali hitungan kini mereka sudah berada di luar kamar Nisa dan berlari ngos ngosan menuju dimana Zidan dan ustadz Yusuf menunggu.


"Abi!" seru Adel dengan wajah ketakutan.


 Zidan yang terkejut segera menyongsong kedatangan Adel yang tiba tiba langsung memeluknya dengan tubuh gemetar.


"Ada apa ini? Ada apa Mbak Dijah?" cecar Zidan tak sabar.


 Dijah yang juga tampak tersengal menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, mengatur nafasnya agar bisa kembali normal untuk bisa bercerita.


"Ada apa, sayang? Bilang sama Mas." Ustadz Yusuf mengelap keringat dingin yang mengalir di pelipis istrinya hingga membuat cadar bandananya basah.


"Di sana ... bukan hanya satu, tapi ... tapi ada makhluk lain juga, Mas. Dia ... dia berupa, Wowo!" seru Dijah dengan wajah menegang.


"Astaghfirullah." Ustadz Yusuf mendengus keras.

__ADS_1


 "Bagaimana ini, ustadz?" Tanya Zidan memelas, dia sangat takut kalau kejadian seperti yang dulu saat Nisa hilang kembali terulang.


"Kita ke atas!" Ustadz Yusuf langsung berlari, dengan Zidan membuntuti di belakangnya.


 Adel hendak menyusul, namun Dijah dengan cepat mencekal tangannya.


"Mbak, lebih baik sekarang Mbak masuk ke kamar dan amankan anak kalian. Masalahnya tidak sesederhana itu lagi sekarang."


 Adel mengangguk dan dengan cepat berlari ke lantai atas menuju kamarnya untuk mengamankan Zafran.


 Adel menarik nafas lega saat melihat Zafran masih terlelap di atas kasurnya, dengan gerakan perlahan Adel mengangkat tubuh Zafran dan membawanya keluar dari kamar itu.


"Ayo, Mbak. Kita cari tempat yang aman, yang mustahil bisa di masuki makhluk seperti yang tadi." Dijah yang sudah bersiaga di depan kamar Adel langsung menarik tangannya dan membimbingnya menuruni tangga.


"Kita ke mushola saja, Mbak." Adel berbalik memimpin dan mengarahkan mereka menuju mushola kecil di rumahnya yang selalu dia gunakan untuk beribadah.


 Mereka masuk dan duduk di sana dengan tegang, Adel memangku Zafran yang masih terlelap. Mencoba menggoyangkan tubuhnya agar Zafran tidak terbangun.


"Mbak, kita harus apa sekarang?" bisik Adel cemas.


 Dijah mengusap lengannya, dengan mata menyorot teduh, menenangkan.


"Tenang, Mbak. Tenang ... tarik nafas, buang, tarik nafas, buang." Dijah memberi instruksi.


 Adel mengikutinya dan perlahan, perasaannya menjadi lebih tenang dan tidak secemas tadi.


"Mbak, bagaimana Nisa? Bagaimana adikku, Mbak? Apa dia baik baik saja? Baru saja tadi sore dia bilang kalau dia rindu ibunya. Sekarang dia bagaimana kondisinya?" tangis Adel perlahan keluar, tapi sudah tidak histeris seperti tadi. Dia hanya mengkhawatirkan kondisi Nisa yang saat ini tak di ketahui bagaimana.


 Dijah kembali mengusap punggung Adel, terus berusaha untuk membuatnya tenang.


"Tenanglah, Mbak. Insyaallah suami kita bisa mengatasinya, mereka pasti akan berhasil, Mbak. Percayalah."


 Zafran mulai merengek, mungkin dia juga merasakan kalau saat ini ibunya tidak baik baik saja.


"Ssshhhh ... ssshhhhh, Zafran sayang. Sabar ya, Nak. Kita doakan Mama Nisa baik baik saja ya." Adel menimang Zafran sambil terus berharap Nisa bisa segera di selamatkan.


 Adel tak tahu apa yang terjadi di atas sekarang, dia hanya berdoa dan terus berdoa seperti yang di titahkan Dijah padanya. Sedangkan Dijah, kini juga sudah khusuk dengan Alquran di depannya. Mengaji dengan volume yang cukup di keraskan.

__ADS_1


 Tak lama, sebuah suara teriakan terdengar memecah keheningan rumah di saat pergantian terang menuju gelap itu.


"Aaaaaaaaaaaa!"


__ADS_2