
"Apa yang kamu pakai itu, Nisa? cepat ganti pakaian! apa kamu nggak maliu kalau sampai terlihat sama yang bukan mahrom!" sergah Zidan sambil memalingkan wajahnya.
Nisa berjalan pelan mendekati Zidan Dann mulai meraih dagunya, namun Zidan bertahan agar tak sampai melihat tubuh Nisa yang kini hanya tertutup selembar lingerie tipis yang merupakan pemberian Adel untuknya.
"Kamu lupa, Mas? aku kan istri kamu? jadi wajarkan kalau aku berpakaian begini di depan kamu? lagi pula bukannya kamu kesini untuk memenuhi permintaan Nisa tadi, Mas? benar begitu kan?" desah Nisa di telinga Zidan.
Mata Zidan membulat, ingatannya melayang pada permintaan Nisa sebelumnya padanya.
"Nisa hanya ingin agar Mas bisa memberi keturunan di rahim Nisa, Nisa ingin buktikan kalau Nisa juga pantas di perlakukan seperti Mbak Adel. Kalau Nisa berhasil hamil bukannya Mas juga bakalan senang?"
Degh
Jantung Zidan bertalu-talu, pikirannya kusut. Dia bahkan sampai kebingungan yang mana yang harus dia lakukan terlebih dahulu.
Sedangkan Nisa, merasa tak ada penolakan dari Zidan dia segera bergegas ke pintu dan menutupnya rapat tak lupa dua kali kuncinya dia putar sampai kini pintu itu benar-benar terkunci.
"Mas ... apa yang kamu pikirkan? tidak bisakah Mas melihat Nisa di sini?" rajuk Nisa sambil memegangi baju kaos yang di pakai Zidan.
Zidan menelan ludahnya sendiri, namun matanya masih enggan menatap Nisa. Sampai Nisa kembali meraih dagunya dan memaksa Zidan menatapnya.
"Dimana keberadaan ibu dan adik kamu, Nis?" tanya Zidan spontan.
Dia tiba-tiba saja teringat akan tujuannya mendatangi Nisa, namun malah di artikan sebagai hal lain oleh Nisa.
Nisa mendesah berat dan mundur ke belakang, meraih sebuah kimono dan memakainya.
"Kenapa tiba-tiba Mas menanyakan itu? Bukannya tadi Mas nggak peduli sama ibu dan Alan?" cecar Nisa tak suka.
Zidan meraup wajahnya, dia sendiripun kini tampak kebingungan.
"Maaf, saya khilaf. Tapi sekarang saya ingin mencari ibu dan adik kamu dan memastikan mereka aman, tapi maaf saya terlupa tadi. Makanya sekarang saya tanya sama kamu apa kamu tau mereka dimana? supaya saya bisa minta supir menjemput mereka dan membawanya ke apartemen," tukas Zidan pelan.
__ADS_1
Nisa membuang pandangan ke luar jendela, tampan kegelapan sudah menyelimuti bumi. Nisa pun sebenarnya tidak tau ibu dan adiknya pergi kemana tapi dengan sigap dia langsung mencari hape jadulnya dan menekan nomor telepon Alan.
Tut
Tut
Tut
Panggilan tersambung, namun tak kunjung di angkat oleh Alan. Sampai berkali-kali Nisa berusaha menghubungi namun tidak kunjung di jawab.
"Nggak di jawab, Mas." Nisa menoleh pada Zidan yang tampak menunggunya.
"Coba kemarikan hape kamu." Zidan mengulurkan tangannya meminta hape Nisa.
Nisa memberikannya dan memperhatikan Zidan yang kini mulai tampak sibuk mengutak-atik ponselnya pula.
Lalu tak lama Zidan mengembalikan hape Nisa dan terlihat menelpon seseorang.
Nisa tak bisa mendengar jawaban orang di sebrang telepon karna Zidan tidak mengloudspeaker ponselnya.
"Bagaimana? kamu bisa melacaknya?" ucap Zidan lagi.
Nisa menunggu dengan dada berdebar selain tak sabar menunggu kabar tentang ibu dan adiknya, Nisa pun sebenarnya malu harus berpakaian seperti sekarang di hadapan Zidan. Namun dia paksakan saja demi bisa mendapat perhatian Zidan nantinya.
Tampak Zidan menghela nafas lega. "Alhamdulillah, baik. Tolong sekarang juga kamu jemput mereka ya, dan bawa ke apartemen saya yang di jalan G sana. Baik, terima kasih bantuannya."
Zidan mematikan sambungan teleponnya dengan wajah tenang.
"Alhamdulillah, ibu dan adik kamu sudah di temukan. Posisi mereka ada di terminal, mungkin mereka mau pulang ke kampung tapi kehabisan bis jadinya mereka tidur di sana. Tapi tenang saja, saya sudah minta orang untuk menjemput mereka dan mengantar sampai apartemen."
Nisa turut menghela nafas lega, dan jatuh terduduk di atas kasurnya dengan perasaan lega.
__ADS_1
"Alhamdulillah, terima kasih ya, Mas. Kamu sudah menepati janji kamu buat mengurus ibu dan adik aku. Maaf tadi aku bersikap keterlaluan sama kamu," ujar Nisa lirih.
Entah kenapa kini dia merasa begitu malu berhadapan dengan Zidan setelah ambisi aneh yang di lakukannya.
Zidan terenyuh, tak di pungkirinya kalau sejak awal bertemu Nisa memang sudah ada getaran di hatinya untuk gadis itu. Namun dia selalu menepisnya karena masih menghargai Adel, namun malam ini rasa kecewa tak beralasannya pada Adel membuatnya baru menyadari akan perasaannya pada Nisa yang tumbuh entah sejak kapan.
Zidan berjalan pelan mendekati Nisa dan mengelus rambutnya yang tergerai bebas dan panjang. Tampak sangat cantik dan mempesona. Walau rambut Adel juga sepanjang dan secantik itu namun tetap saja di mata Zidan ada yang berbeda.
"Tidak apa? bukankah kamu hanya sedang meminta hak kamu? dan itu sah sah saja menurut saya."
Nisa mendongak tak percaya mendengar ucapan Zidan yang sangat lembut, selembut saat dia bicara dengan Adel biasanya.
"Tapi ... bukankah Mas masih marah sama Nisa karena perilaku ibu tadi siang?" tanya Nisa hati-hati.
Zidan mendesah pelan, dia memang belum bisa melupakan kejadian tadi siang, tapi terus mengingatnya dan memendam dendam juga bukanlah sifatnya.
"Sudahlah, lupakan saja. Saya tidak akan marah dan mengingatnya lagi kalau memang kamu tidak melakukan seperti yang di pinta ibu kamu. Jujur saja itu agak ... keterlaluan." Zidan menyengir memamerkan deretan giginya yang putih bersih dan rapi.
Nisa tersenyum senang dan mengangguk. "Terima kasih, Mas. Insyaallah Nisa tidak akan berbuat seperti itu. Nisa juga minta maaf tadi sudah marah-marah tidak jelas, Nisa hanya ... merasa di kucilkan. Entahlah, tapi ... apa salah kalau Nisa ingin di sayangi seperti layaknya Mbak Adel?"
Zidan tersenyum dan menggeleng pelan. "Tidak, kamu tidak salah. Hanya saja mungkin cara kamu yang tadi salah. Besok ... temuilah Adel, Bapak dan Ibu. Minta maaf baik-baik pada mereka, karna mereka semua tidak tau apa-apa namun jadi ikut cemas karna kamu."
Nisa mengangguk dengan bersemangat, kini semua kesedihannya seolah sirna tergantikan dengan kebahagiaan tiada tara karena akhirnya bisa mendapat tempat di hati Zidan walau Zidan belum mengatakannya secara gamblang. Tapi dari cara bicara dan tatapannya Nisa tau kalau Zidan sebenarnya mulai mempunyai rasa yang sama dengannya.
"Iya, Mas. Nisa akan minta maaf sama semuanya besok, Nisa juga rasanya tidak enak sudah membuat heboh."
Zidan mendudukkan tubuhnya ke atas kasur yang sama dengan Nisa walau masih ada jarak di antara mereka.
"Maafkan juga saya sudah bersikap kasar sama kamu tadi siang, saya janji setelah ini akan berusaha menjadi suami yang baik dan adil untuk kamu dan juga Adel. Kamu mau menunggu sampai saya bisa benar-benar mencintai kamu kan? Maaf tapi semua itu tidak bisa instan," ucap Zidan pelan sambil menatap lekat manik mata Nisa.
Nisa mengangguk dengan perasaan senang bukan kepalang.
__ADS_1
"Oh ya, Mas. Berhubung kita sudah baikan. Apa ... permintaan Nisa tadi bisa di penuhi?" tanya Nisa sembari mengerling pada Zidan.