
"Bapak kenapa pake mau pingsan segala tho, Pak?" tanya Bu Hanif sambil mengusapkan minyak angin ke punggung suaminya dan pelipisnya juga.
"Heeggghhhhh." Pak Hanif bersendawa mengeluarkan angin yang terasa bergerombol di perutnya.
"Ya namanya masuk angin, Bu. Maklum lama di kota sekalinya balik ke kebonan kok malah masuk angin," kekeh Pak Hanif.
Bu Hanif menepuk punggung suaminya dengan bibir di manyunkan.
"Halah, alesan wae sampean iku, Pak. Bilang aja masih pengen gegoleran di kasur," balas Bu Hanif sembari meletakkan kembali minyak angin yang baru saja di pakainya ke atas almari.
"Ya wes, kalo mau istirahat. Ibu ke dapur lagi ya, Pak." Bu Hanif berucap sambil berlalu keluar kamar.
Meninggalkan Pak Hanif yang kembali terlelap ke alam mimpi.
"Bapak kenapa, Bu?" tanya Alice yang sejak tadi tampaknya menunggu dengan cemas di luar kamar.
"Nggak papa, cuma masuk angin aja kok, Al. Itu sekarang lagi tidur," jawab Bu Hanif sambil terus melanjutkan langkah nya menuju dapur.
"Perlu di suntik nggak, Bu? Kebetulan Al bawa peralatan kok ke sini," tukas Alice menawarkan diri.
Bu Hanif terkekeh. "Bapakmu kok di suntik sih, Al? Jangan kan jarum suntik, jarum jahit aja dia takut."
Alice tertawa lepas, sampai Adel dan nenek yang tengah menikmati ubi keladi goreng di dapur.
"Apa sih, Al? Ketawamu sampe kayak Kunti itu lo," kelakar Nek Hindun.
"Apa sih, Nenek. Cucunya sendiri di kata kunti," sungut Alice sambil ikut duduk kembali di atas balai.
"Eh tapi kunti apa sih?" sambung Alice yang baru pertama kali mendengar kata itu.
"Astagaaa! Dasar anak kota!" geram Nek Hindun lagi.
Mereka kembali tertawa lepas, begitu hangat dan harmonis.
"Permisi," sebuah panggilan sontak menghentikan tawa mereka.
Dengan langkah tergesa, Adel berjalan ke depan untuk melihat siapa yang datang dengan di ikuti Alice di belakangnya.
__ADS_1
"Siapa ya?" gumam Adel heran, karna setahunya orang di kampungnya akan mengucapkan salam ketika hendak bertamu, namun ini tidak itu artinya tamu itu bukanlah orang asli kampung itu.
"Permisi," seru suara itu lagi, dari nada suaranya Adel bisa menebak kalau tamunya seorang pria.
"Mbak, cepetan buka. kok malah melamun?" desak Alice ketika melihat Ade justru berdiri diam di belakang pintu yang masih tertutup.
"Kita bangunin Bapak dulu, Dek Al." Adel beranjak ke kamar bapaknya tanpa menunggu jawaban dari Alice.
"Lah? Kenapa cuma ada tamu aja segala bangunin Bapak? Emangnya tamunya begal apa gimana?" gumam Alice menerka-nerka.
Pak Hanif keluar dari kamar dengan mata masih merah menahan kantuk, wajahnya sayu karna baru saja terlelap dan sudah di paksa bangun kembali. Namun begitulah Pak Hanif, paling tidak bisa menolak kalau sudah anak perempuan kesayangannya yang meminta.
"Kenapa nggak di temui sendiri tho, Dek?" tanya Pak Hanif sambil berjalan menuju pintu yang masih terdengar di ketuk.
"Nggak mau, Pak. Suaranya laki-laki, Adel nggak berani terima tamu laki-laki."
Pak Hanif mengangguk dan tak banyak bertanya lagi, setelah sampai di pintu segera saja di buka pintu itu sedang Adel kembali ke dapur rencananya untuk membuat minuman untuk sang tamu.
Alice terbengong, bingung ingin ikut Adel kembali ke dapur atau tetap di tempatnya, namun karna rasa penasarannya lebih besar maka Alice memilih tetap di tempatnya.
"Iya? Ada apa ya?" tanya Pak Hanif keheranan, karna seperti pernah melihat tamu lelakinya itu tapi dia lupa dimana dan kapan.
"Maaf, Pak. Saya dokter Johan, yang bertugas di puskesmas sana. Kita sudah bertemu kemarin di rumah Pak kades," ucap lelaki yang ternyata dokter Johan itu pada Pak Hanif.
Pak Hanif ber oh ria dan langsung mempersilakan tamunya itu untuk duduk di balai teras.
"Dokter ada apa kemari? Apa istri saya yang panggil? Soalnya saya memang masuk angin sih, tapi saya nggak minta di panggilkan dokter kok," elak Pak Hanif yang mengira Johan datang untuk menyuntiknya agar lekas sembuh.
Johan terkekeh lirih sambil menutup mulutnya dengan tangan. "Nggak kok, Pak. Nggak ada yang panggil saya buat ke sini, ini murni keinginan saya sendiri."
Pak Hanif tampak mengerutkan keningnya heran. "Keinginan sendiri? Memangnya ada tujuan apa Nak dokter ke sini?"
"Panggil Johan saja, Pak. Biar lebih akrab."
"Ah ya, memangnya apa tujuan Nak Johan ke sini?" ulang Pak Hanif lagi.
"Begini, Pak. Tujuan saya ke sini itu ...."
__ADS_1
"Hayo! Al ngapain di sini? Nguping ya?" seruan Adel terdengar begitu keras hingga keluar.
Pak Hanif dan Johan yang bahkan belum sempat menyelesaikan obrolannya sampai menoleh ke pintu dimana Adel tampak berdiri memegang nampan berisi dua gelas teh hangat.
"Mbak Adel! Jangan keras-keras kenapa sih?" protes Alice menahan malu dan langsung berlari menuju dapur dengan wajah memerah.
Adel terkikik dan melanjutkan langkahnya untuk mengantar minuman ke tempat bapaknya dan Johan.
"Loh, ini bukannya yang di rumah Pak kades kemarin ta?" tanya Adel saat tak sengaja melirik Johan.
"Iya, Mbak. Saya Johan, barangkali Mbak juga lupa kayak Bapak." Johan terkekeh sambil menangkup tangannya di dada, dia ingat kalau begitulah cara Adel bersalaman saat di rumah Pak kades kemarin.
"Ah iya, saya Adel. Barangkali Mas Johan juga lupa," sahut Adel sembari melekatkan dua tangannya di dada pula.
"Kalau begitu saya tinggal dulu ya." Adel segera masuk kembali ke dalam rumah meninggalkan Johan dan bapaknya berduaan di teras.
Adel masuk ke dapur, di sana tampak Bu Hanif dan nenek juga Alice tengah berkasak kusuk entah membicarakan apa.
"Lagi pada ngapain sih?" tanya Adel mendekat karena penasaran.
"Ini, Alice bilang tamunya Nasrani ya. Soalnya nggak pake salam tadi pas datang. Kamu kan tau sendiri warga asli kita gimana, Del." Bu Hanif menjawab mewakili Nenek dan Alice yang kini hanya mengangguk dengan wajah datar.
Adel mengangkat kedua bahunya." Gatau, iya kali. Soalnya tadi lihat kalungnya kaya ada tanda tambah gitu."
"Itu tanda salib, Mbak ku sayang." Alice memprotes Adel yang mengatakan tanda salib sebagai tanda tambah, di kiranya pelajaran anak esde kali segala tanda tambah di bawa-bawa.
"Ooh, gitu ta. Maklum lah, Mbak kan nggak tau Dek Al." Adel membela diri.
"Terus ada perlu apa dia ke sini, Del?" tanya Bu Hanif lagi.
"Nggak tau, Bu. Soalnya Adel mah nggak bakat nguping," kekeh Adel sambil melirik Alice yang merenggut melihatnya karna tadi kepergok menguping.
"Hah, ya wes lah. Nunggu gosip dari Bapak saja kalo gitu." Bu Hanif beranjak menuju kompor yang belum di matikan apinya.
Tiba-tiba Pak Hanif masuk ke dapur dan mencari keberadaan Alice.
"Dek Al, itu dokter Johan mau ketemu kamu. Katanya mau pinjem stetoskop, punyanya dia hilang di colong tuyul."
__ADS_1