
"Umi, Sayang ... ayo bangun, acaranya sudah mau di mulai loh." Zidan mengguncang pelan tubuh Adel yang tertidur di atas kasurnya padahal penampilannya sudah sangat rapi.
Zidan pikir mungkin saja benar kalau Adel ikut tertidur saat menjaga Zafran tadi.
Adel menggeliat dan mulai mengerjakan matanya yang terasa berair.
"Loh, Sayang? Umi nangis?" tanya Zidan sambil mengusap air mata yang membasahi pipi Adel.
Adel menyentuh pipinya dan benar, lelehan air hangat dari matanya itu terasa begitu nyata.
"Tadi, Umi mimpi ketemu Mama, Bi. Dan Mama ... minta maaf sama Umi sebab ...."
Adel menggantung kalimatnya, antara ragu dan sungkan untuk memberitahu Zidan tentang pernyataan Bu Sita di mimpinya yang terasa sangat nyata tersebut.
"Apa, Mi? Kok berenti ceritanya? Abi udah penasaran loh ini." Zidan menunggu cerita Adel dengan wajah di tekuk karna Adel kini justru melamun.
"Ah, nggak ... nggak kok, Bi. Mama cuma ... Mama cuma bilang terima kasih sudah di doakan, sekarang Mama bisa tenang katanya. Mama kangen katanya sama Abi dan kita semua." Adel memilih menutupi semuanya.
Walau hatinya sakit mendengar pengakuan Bu Sita tadi, tapi rasanya tidak pantas lagi mengungkit apa yang sudah terjadi dan terlanjur di lakukan oleh almarhumah. Yang terpenting sekarang sudah ada kata maaf yang terucap jadi tak perlu memperpanjang masalahnya lagi.
Zidan tampak tersenyum manis. "Ah, begitu. Pasti Mama sekarang lebih bahagia karna kamu selalu rajin kirim doa buat beliau. Semoga beliau bisa tenang di sana dan ditempatkan di tempat yang indah."
Adel mengangguk mengiyakan.
"Ya sudah, sekarang kita turun ya. Acara pengajiannya sudah mau di mulai, kita sama-sama doakan Mama supaya bisa lebih tenang di sana ya."
Zidan menuntun Adel turun dari kasur dan bersamaan mereka menuju ke tempat yang telah di sediakan untuk berlangsungnya acara.
Zidan membawa Adel duduk di sebelahnya, di sisinya yang lain tampak Nisa sudah duduk sambil memangku Zafran. Sekilas pandang terlihat Nisa melempar tatapan sinis pada Adel, walau Adel sendiri sebenarnya tak begitu yakin.
__ADS_1
Acara pun di mulai, dengan khusuk semua tamu dan tuan rumah membacakan Yasin, dan doa untuk mendoakan kepergian almarhumah Bu Sita. Di sambung dengan doa khusus dari ustadz Yusuf dan juga tausiyahnya yang begitu berkesan di hati. Tausiyah yang bertema 'ikhlas'.
Adel sampai menitikkan air mata mendengar ucapan demi ucapan ustadz Yusuf yang begitu mengena di hatinya, semua yang di tausiyahkan seakan menilik kehidupan Adel yang tengah di terpa badai kembali. Sesuai tema, Adel perlahan mencoba ikhlas, melepas semua yang memang tak di takdirkan untuknya. Mencoba mengikhlaskan semua yang sudah hilang darinya, dan dengan senyuman dia memegang perutnya tak lagi berharap terlalu banyak dari sana. Biarkan alam bekerja sesuai tugasnya, Adel menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, mencoba ikhlas seperti dia tak mengharapkan nafas itu kembali masuk ke paru-parunya.
"Terima kasih untuk kejujuran Mama, semoga setelah ini Mama bisa lebih tenang ya, Ma. Adel sudah berusaha ikhlas dan Adel memaafkan Mama." Air mata Adel menetes ketika dengan ikhlas dia memaafkan Bu Sita secara sadar.
Berharap setelah ini tak akan ada lagi siksa yang di alami almarhumah ibu mertuanya itu, seperti yang pernah dia lihat dalam mimpinya saat Bu Sita di paksa mengangkat batu besar oleh makhluk aneh yang di pujanya.
Nauzubillahiminzalik.
****
Hari berganti, secepat hari biasa terus berlalu meninggalkan jejak jejak masa lalu yang tak akan pernah bisa di rubah.
Adel tengah mengaji siang itu, saat tanpa sengaja telinganya mendengar lagi suara jeritan Zafran seperti tempo hari saat di laksanakannya pengajian di rumahnya.
Tak lama kemudian, suara tangisan itu berhenti. Sepertinya Nisa sudah berhasil menenangkan Zafran sendiri. Padahal sebelumnya dia akan selalu mencari Adel saat Zafran sulit di diamkan. Tapi tak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang terburu-buru berlari dari lantai atas menuju ke bawah.
"Adel! Adel!" seru Bu Sekar dengan wajah cemas.
Adel menoleh dan terkejut ketika melihat wajah pucat Bu Sekar.
"Ada apa, Bu? Kenapa ibu kayak ketakutan begitu?" cecar Adel ikut panik.
Bu Sekar menunjuk ke atas dengan nafas tersengal-sengal.
"Tolong ... tolongin Zafran."
Adel gegas membuka mukena yang di kenakannya dan berlari menuju lantai atas. Di sana tampak Nisa tengah menimang Zafran yang tampak terkulai lemas tanpa suara.
__ADS_1
"Mbak, tolongin Zafran Mbak." Isak Nisa menghiba.
Adel mengambil alih Zafran dari gendongan Nisa, bayi itu menurut saja dengan mata terpejam rapat. Tubuhnya terasa sangat lemas, entah apa yang terjadi padanya sebelum ini.
"Ya Allah, ini kenapa tadi Zafran bisa jadi begini?" cecar Adel panik.
Nisa menggeleng, tangisan nya semakin santer terdengar. Sambil menatap cemas pada Zafran yang kini diam tak bersuara. Hanya deru nafasnya saja yang menunjukkan kalau bayi itu masih hidup.
Adel menggendong Zafran keluar, dan menuju kamarnya sendiri untuk mengambil ponsel guna menelpon Zidan yang sedang pergi ke pabrik bersama Alan.
"Assalamu'alaikum, " sapa Zidan setelah telepon tersambung.
"Wa'alaikumsalam, Abi tolong pulang sekarang, Zafran sakit!" Adel sampai berteriak saking paniknya dan Zidan langsung mematikan sambungan telepon begitu saja.
Adel yakin kalau kini suaminya itu juga tengah cemas dan langsung bergegas pulang.
"Gimana, Mbak?" tanya Nissa masih menangis. Ternyata sejak tadi dia mengikuti Adel di belakangnya.
" Sabarlah, sebentar lagi Mas Zidan pulang. Kita langsung ke rumah sakit. Sabar ya, sayang. Zafran kuat ya sayang," bisik Adel di telinga bayi kecil itu.
Adel meminta Nisa menyiapkan semua barang keperluan Zafran jika nanti mereka harus menginap di rumah sakit. Sedangkan Adel menuju ke teras menunggu Zidan sampai agar tak terlalu lama menunggu.
Tanpa sadar Adel meraba perut Zafran yang masih terkulai di gendongannya. Dan betapa terkejutnya dia mendapati perut bayi itu terasa sangat keras. Berbagai pikiran buruk menyambangi benaknya, tapi dia tak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan walau kini nafas Zafran tampaknya kian sesak .
"Zafran, sayang bertahan ya, Nak. Sebentar lagi kita ke rumah sakit ya, Zafran harus kuat ya anak umi Sayang. Umi sayang sekali sama Zafran. Janji bertahan buat Umi ya, Nak." Adel tak hentinya melayangkan kecupan di kepala bayi kecil itu, tubuhnya terasa mulai dingin, dengan cekatan Adel membungkusnya dengan jilbab nya yang besar agar dia merasa hangat.
Untunglah tak lama kemudian tampak mobil Zidan merapat mendekati rumah, dengan segeraa mereka pun membawa Zafran menuju rumah sakit tempat dia dulu di lahirkan.
*Nb : ada yang bisa tebak Zafran kenapa? Yang jawabannya benar akan dapat hadiah dari author.*
__ADS_1