
Zidan, Adel dan Alan berlarian di koridor rumah sakit tempat Nisa sebelumnya di operasi.
Nisa tidak ikut, dia diminta Zidan untuk tinggal di rumah bersama Bu Sekar.
Kabar menghilangnya bayi mereka yang secara tiba-tiba itu sangat mengejutkan dan membuat Nisa terpukul kalau saja bukan karna bekas operasinya yang belum kering mungkin Nisa lah yang akan paling duluan berlari mencari anaknya.
"Al!" seru Zidan setelah melihat Alice yang tengah berbicara dengan seorang petugas rumah sakit dengan wajah cemas.
" Bang zidan, Mbak Adel!" seru Alice melambaikan tangannya agar terlihat oleh zidan dan Adel juga Alan yang setia mengikuti mereka di belakang.
"Bagaimana bisa? Kenapa bayi sekecil itu bisa hilang? Apa sudah di periksa baik-baik siapa tau ternyata hanya di pindahkan ke inkubator lain oleh suster?" cecar Zidan mengungkapkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Iya, Dek Al. Nggak mungkin bayi merah begitu bisa tiba-tiba hilang tanpa ada yang memindahkan," desak Adel pula.
Alice menggeleng, tampak kentara sekali wajah khawatirnya. "Bayi kalian nggak murni hilang, Mbak."
Adel terkejut terlebih zidan dan Alan yang tidak mengerti apa yang di maksud Alice.
"Maksud kamu apa, Al? Tolong jangan bermain-main. Ini nggak lucu," sentak Zidan kesal.
Alice mendesah berat dengan raut wajah seperti menyesali sesuatu. "Kalau begitu Abang lihat saja sendiri. Ayo."
Alice mengajak seorang pria berseragam putih yang tadi dia ajak bicara untuk kembali masuk ke ruangan yang ternyata adalah ruang CCTV.
"Dek Al, ini ...." Adel menggantung ucapannya dan matanya awas memindai sekitar yang penuh dengan Tv kecil yang menampilkan kondisi di sekitar rumah sakit dan beberapa ruangan.
"Iya, Mbak. Semua buktinya ada di sini," tunjuk Alice pada layar komputer yang ada di hadapan petugas rumah sakit itu.
Adel mengangguk dan menunggu dengan sabar apa yang ingin di sampaikan Alice pada mereka.
"Ayo, Bang. Putar lagi rekaman tadi biar keluarga ku bisa melihat," tukas Alice pada sang petugas yang mengangguk dan mulai memainkan jarinya di atas keyboard komputer.
Sebuah video rekaman CCTV yang tidak begitu jelas di putar, di menit-menit pertama memang tak ada yang mencurigakan, sampai di menit ke sepuluh akhirnya ke anehan itu muncul.
__ADS_1
"Bagaimana? Kalian sudah lihat kan? Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Alice setelah rekaman itu berhenti.
Zidan menunduk dengan rahang mengatup erat dan tangan terkepal.
Adel mendekati Zidan dan mengelus punggungnya, seakan meminta untuk suaminya itu bisa menahan emosi.
"Bagaimana, Abi?" tanya Adel lirih, dia menyerahkan semua keputusan di tangan Zidan sebagai orang yang paling berhak memutuskan di sini.
Setelah satu hembusan nafas berat Zidan mengangkat kepalanya dengan mata penuh dengan air.
"Kita ke sana," imbuhnya kemudian menggandeng tangan Adel untuk bersegera pergi bersamanya di ikuti Alan di belakang.
"Bang, tunggu!" seru Alice setelah sempat mengucapkan terima kasih pada petugas rumah sakit yang sudah membantunya dan menyelipkan beberapa lembar salam tempel untuknya.
Mereka berjalan cepat menuju mobil, Zidan bersama Adel masuk ke mobilnya sedangkan Alan akhirnya memilih ikut mobil Alice yang menyetir sendirian.
Zidan membawa mobil dengan kecepatan tinggi, Alice yang mengikutinya sempat kewalahan namun untungnya tidak sampai kehilangan jejak karna dia tidak tahu kemana tujuan Zidan.
Tak berapa lama kemudian mereka sampai di sebuah rumah megah yang tak kalah besar dari rumah Adel dan Zidan. Bahkan di depan rumahnya saja berdiri banyak bodyguard yang sepertinya memang sengaja di bayar untuk menjaga rumah itu.
"Entahlah, Kakak juga nggak tau. Kita ikuti saja. Bang Zidan pasti tau dimana anaknya."
Cukup lama mobil yang di kendarai Zidan berhenti di depan pagar rumah tersebut. Dari gestur tubuhnya sepertinya tengah terjadi perdebatan pekik dengan salah satu bodyguard di sana.
"Ini buktinya kalau kamu tidak percaya!" Zidan menunjukkan layar ponselnya di depan wajah sang bodyguard, wajahnya tampak marah karena sejak tadi tidak juga di perbolehkan masuk.
"Apa kau yakin foto itu asli? Bisa saja kau hanya membual," ujar bodyguard berbadan besar itu dengan tatapan meremehkan.
Zidan yang sudah sangat emosi itu hampir saja menghajar pria besar di depannya. Namun teriakan Adel dari dalam mobil bisa membuatnya mengurungkan niatnya itu.
"Buka gerbangnya atau aku yang akan mengantarmu ke gerbang neraka sekarang?" desis Zidan mengancam.
Tampak dari ekspresinya bodyguard itu terkejut, tapi masih bisa berpura-pura tidak takut. Walau kini nada suaranya tak lagi sesangar tadi.
__ADS_1
"Baik, tapi jika sampai nyonya besar tidak mengenalimu. Maka aku sendiri yang akan menendangmu keluar dari rumah ini," ancam bodyguard itu tanpa tau siapa yang tengah dia hadapi.
Zidan membuang muka acuh, dan cepat-cepat kembali ke dalam mobilnya setelah gerbang besar itu di buka. Mobilnya masuk di ikuti mobil Alice di belakangnya.
"Bang, ini rumah siapa?" tanya Alice setelah keluar dari mobilnya dan memindai rumah besar yang tampak asing di matanya itu.
"Ayo kita masuk saja, aku yakin anakku ada di dalam." Zidan berjalan cepat menaiki tangga rumah dan membuka paksa pintu utama yang tidak terkunci itu.
"Mama!" seru Zidan menggelegar di seluruh rumah yang tampak lengang itu.
Alice terperanjat, tidak menyangka kalau rumah besar itu adalah rumah Bu Sita, mamanya Zidan yang dulu sempat bertemu dengannya sekali.
Zidan masuk dan dengan membabi buta membuka semua pintu ruangan yang ada untuk mencari mamanya.
"Mama!" seru Zidan lagi, kali ini bahkan lebih keras hingga rasanya lampu gantung yang ada di atas akan jatuh menimpa Adel dan Alice yang menunggu di bawahnya. Sedang Alan ikut membantu Zidan mencari Bu sita.
Tak lama kemudian, Bu Sita tampak keluar dari salah satu ruangan kamar yang berada di bawah tangga tersembunyi oleh tangga tersebut.
"Apaan sih kamu teriak-teriak? Ngapain kamu ke sini hah? Bukannya tadi kamu sudah ngusir Mama?" hardik Bu Sita berkacak pinggang.
Zidan yang berada di lantai atas mencari mamanya langsung turun dengan tak sabar dan menghampiri Bu Sita.
"Dimana bayiku, Ma?" sentak Zidan dengan wajah sangar.
Adel dan Alice ikut mendekat karena penasaran akan jawaban Bu Sita.
"Loh, apa maksud kamu menanyakan anak aneh itu pada Mama? Bukannya dia ada di rumah sakit kenapa kamu malah marah-marah dan nyari dia di sini? Aneh kamu itu." Bu sita membuang muka seakan menutupi kegugupannya.
Zidan yang sudah geram langsung menyentak tangan Bu Sita sampai beliau meringis kesakitan.
"Jangan bersandiwara, Ma. Zidan punya buktinya dan Mama nggak bisa mengelak lagi. Sebaiknya katakan atau Zidan akan lupa kalau Mama itu ...."
"Apa?" tantang Bu Sita dengan mata melotot.
__ADS_1
Tapi belum sempat Zidan kembali berkata-kata suara tangisan bayi terdengar sayup dari balik pintu dimana Bu Sita keluar.