ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 11.


__ADS_3

 Di apartemen Nisa.


"Ya ampun, Bu. Tadi main kemana memangnya sebelum ke sini? Ini kok baju ibu kotor semua sampe ngotorin spreinya loh, Bu. Ini gimana kalo sampe nggak bisa hilang nodanya?" seru Nisa panik sambil mengibas-ngibas sprei yang terkena noda seperti debu tebal yang menempel dari pakaian lusuh yang di kenakan Bu Sekar.


"Loh, ya nggak kemana-mana. Kan dari rumah ibu langsung ke sini, duduk diem di dalem mobil dan cuma berhenti buat makan sama muntah di jalan doang." Bu Sekar membantu Nisa membuka sprei tersebut dari kasur, dan membawanya ke kamar mandi.


"Itu baju yang ibu pake baru ambil dari lemari?" selidik Nisa.


 Bu Sekar tampak terkekeh sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Hehehe, nggak sih. Ini habis di pake kondangan ke tetangga kemarin, terus ibu gantung di belakang pintu. Kan baru di pake sekali jadi nggak langsung ibu cuci, eh malah kelupaan. Terus baru inget pas kemarin mau berangkat, tapi cuma berdebu dikit aja kok," tukas Bu Sekar membela diri.


 Nisa yang tengah menyiram sprei dengan air dari bak langsung menepuk jidatnya dengan bagian bawah gayung.


"Astaga, Ibu ... kebiasaan banget deh kayak gitu," seloroh Nisa kembali sibuk menyiram dan menuang sabun ke sprei putih tersebut.


 Tapi bukannya bersih nodanya justru menyebar dan semakin kemana-mana. Membuat sprei itu semakin tampak kotor.


"Bisa, Nis?" tanya Bu Sekar cemas karna melihat sprei itu kini malah berubah menjadi kusam, padahal Nisa sudah menguceknya dengan sabun berulang kali.


 Nisa tak bisa menyembunyikan raut panik di wajahnya. "Nggak bisa, Bu. Duh gimana ya bersihinnya? Nisa takut Mbak Adel atau Mas Zidan malah marah, Bu. Gimana dong ini?"


 Bu Sekar yang biasanya hanya mencuci di sungai dan hampir tidak pernah ribet dengan noda di baju, kini tampak kelimpungan. Pertama kalinya berbaring di kasur orang kaya benar-benar membuatnya kelimpungan.


"Ya ... ya ibu juga nggak paham, Nis. Namanya juga ibu nggak pernah ngurusin yang gitu-gitu, lah bajumu sama Alan pas sekolah aja ibu cuci di sungai. Makanya buluk semua," celetuk Bu Sekar.


 Nisa hanya geleng-geleng kepala dan tak menjawab lagi perkataan ibunya, tangannya tetap semangat mengucek sprei yang masih tampak kotor itu.


Ting


Tong


 Bunyi bel di pintu depan berbunyi nyaring, tapi namanya orang kampung. Bu Sekar dan Nisa malah tidak ngeh sama sekali kalau ada orang yang hendak bertamu ke apartemennya.


 Bu Sekar malah dengan bodohnya berjalan mengelilingi kamar sambil mencari sumber suara.


"Bunyi apa itu ya, Nis? Apa rumah ini laper ya makanya bunyi terus?" seloroh Bu Sekar polos.

__ADS_1


"Wes nggak taulah, Bu. Paling ya ada ambulan lewat kali makanya bunyinya gede," tukas Nisa yang juga sama-sama tidak tau.


 Bu Sekar melongokkan kepalanya ke arah jendela besar yang ada di kamar yang bisa melihat langsung kondisi di bagian bawah apartemen.


 Serta merta dahinya berkerut dalam. "Bocah gemblung! Wong tempat setinggi gunung Krakatau gini kok bisa tembus bunyi ambulans. Ngibul aja."


 Sesaat bunyi bel pintu berhenti, berganti dengan suara dering ponsel Nisa yang dia letakkan di atas nakas.


"Nis, Hapemu bunyi itu," ujar Bu Sekar sambil mengambil ponsel Nisa yang sudah di ikat menggunakan karet agar layarnya tidak lepas itu dan menyerahkannya kepada Nisa.


"Si Adel telpon, ada apa ya?" tanya Bu Sekar penasaran.


 Nisa menggeleng pelan sambil menekan pilihan jawab di ponselnya agar tersambung dengan panggilan Adel.


"Assalamu'alaikum, Mbak? Ada apa ya, Mbak? Mbak butuh sesuatu?" tanya Nisa beruntun.


"Wa'alaikumsalam, kamu di mana Nis?" tanya Adel di sebrang telepon, suaranya terdengar cemas.


"Di rumah kok, Mbak. Ah maksudnya, di apartemen yang Mbak Adel beli," sahut Nisa kikuk.


"Terus kenapa Mas Zidan dari tadi pencet bel kamu nggak keluar?"


 Terdengar di sebrang telepon suara helaan nafas panjang.


"Sekarang coba kamu buka pintu depan," tukas Adel.


 Gegas Nisa berjalan cepat keluar kamar dan menuju pintu utama apartemen.


Ceklek


 Di bukanya pintu dan langsung di sambut tatapan garang dari Bu Sita.


"Dasar orang kampung! Bisa-bisanya kamu enak-enakan di dalam padahal jari saya rasanya mau putus gara-gara mencet bel dari tadi!" omel Bu Sita geram.


 Nisa yang baru pertama kali bertemu Bu Sita tampak kebingungan, begitu pula dengan Bu Sekar yang sejak tadi membuntuti Nisa.


"Siapa, Nis?" bisik Bu Sekar di telinga Nisa.

__ADS_1


 Nisa menoleh ke belakang sekilas dan mengangkat bahunya tanda dia pun tidak tahu.


"Dasar orang kampung nggak punya sopan santun! Orang lagi ngomong itu di dengarkan! Bukannya malah bisik-bisik nggak karuan begitu!" marah Bu Sita semakin berang.


 Karena kesal Bu Sita akhirnya langsung menerobos tubuh Nisa dan Bu Sekar, kemudian dengan santainya masuk ke dalam apartemen dan menghidupkan AC sampai udara menjadi sangat dingin.


 Nisa mendekat beriringan dengan Bu Sekar, merek memeluk tubuhnya sendiri karena merasa kedinginan.


"Ma- maaf, Bu. Tapi ... ibu ini siapa?" tanya Nisa takut-takut.


 Bu Sita yang tengah duduk santai sambil menyilangkan kedua kakinya di sofa itu menatap Nisa dengan mata melotot.


"Apa kamu bilang? Kamu bahkan nggak tau siapa saya?" hardiknya marah.


 Nisa menunduk takut dan menggelengkan kepalanya pelan.


 Melihat ekspresi takut Nisa, Bu Sita diam-diam tersenyum licik.


'humm, sepertinya anak ini bisa aku manfaatkan,' batinnya.


 Zidan yang tadi tengah menerima telpon langsung berlarian masuk ke dalam apartemen Nisa dengan wajah panik.


"Mama!" panggilnya cemas.


 Bu Sita tampak memiringkan bibirnya, sedangkan Nisa dan Bu Sekar terlihat sama terkejutnya.


"A- apa? Ma- Mama? Jadi ... jadi, ibu ini ... Mamanya Mas Zidan?" gumam Nisa lirih.


 Bu Sekar sendiri tampak begitu syok dan memandangi Bu Sita yang bagai langit dan bumi dengannya dari atas sampai bawah. Memandangi semua barang branded yang di kenakan Bu Sita dan mulai memperhatikan dirinya sendiri yang berada dalam balutan pakaian lusuh yang sudah mulai warnanya.


 Bu Sekar menelan ludahnya kasar, rasa minder luar biasa tiba-tiba datang merongrong batinnya.


"Ah, maaf. Saya lupa mengabari kalau saya akan ke sini untuk mempertemukan kamu sama Mama saya, saya juga lupa belum punya nomor telepon kamu jadi tadi saya telepon Adel supaya memberi tahu kamu. Tapi keliatannya Adel lupa memberi tahu kalau saya datang sama Mama saya," jelas Zidan panjang lebar.


 Nisa terperangah, tak bisa berkata-kata.


"Jadi sekarang ... kalian sudah tau siapa saya?" tanya Bu Sita angkuh.

__ADS_1


 Nisa menganggukkan kepalanya lemah, begitu pula Bu Sekar yang turut merasa terintimidasi.


 Sembari tersenyum licik, Bu Sita berkata. "Kalau begitu kalian juga harus tau ...."


__ADS_2