ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
Harapan yang hilang


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu. seperti biasa aku selalu melayani semua urusan mas Agam. walau sebenarnya rasanya aku ingin sekali berdiam diri di kamar tapi urung ku lakukan karena kewajiban ku terhadap suami harus tetap ku lakukan. Namun yang berbeda aku jadi jarang sekali mengobrol dengan mas Agam. begitu juga dengan mas Agam sepertinya dia Juga sedang berusaha mengalihkan pikirannya dari apa yang sudah kami alami saat ini. Dingin... begitulah suasana rumah kami saat ini. tak ada kehangatan suami istri seperti biasa. yang ada hanya dua orang yang saling mengerjakan kewajibannya satu sama lain.


" Mas aku mau nge cek toko cabang kita ya udah lama aku tidak kesana"


" mau mas anterin?"


" ga usah. toko kita yang di sini kan lagi rame"


" dek mas mau bicara sesuatu sama kamu"


" apa mas"


" kamu mau gak kita nyoba program bayi tabung"


seketika sendok yang sedang aku pegang di letakkan di piring begitu saja. yang tadinya aku berusaha semangat untuk bisa makan seketika buyar begitu saja. aku pun hanya memegang pelipis menanggapi keinginan mas Agam. belum lagi terngiang-ngiang perkataan ibu mertua yang menyuruh anaknya menikah lagi membuat kepala ini seakan mau meledak.


" Dek mas cuma mau ngasih saran aja siapa tau kamu mau mencobanya "


" kalau aku gak mau gimana?"


" kenapa? bukannya kamu selalu paling semangat untuk urusan mendapatkan anak ?"


" jadi gini loh mas. program bayi tabung itu kan biayanya mahal. sangat mahal. meskipun aku tau mas Agam pasti mampu. kemungkinan terburuk nya bagaimana kalau proses nya gagal. uang yang di keluarkan sia-sia begitu saja kan?"


belum selesai aku melanjutkan pembicaraannya mas Agam tiba-tiba langsung memotong.


" kamu gak usah pikirin soal uang dek. insyaallah akan ada rezeki nya. kan kita belum mencoba nya"


" mas udah lah aku gak mau coba-coba lagi. aku gak mau buang-buang uang kamu hanya untuk hal-hal yang belum pasti"


" buang-buang uang gimana ,kan sudah kewajiban mas menafkahi kamu"


" ya itu menurut mas. menurut orang lain gimana?"

__ADS_1


" orang lain siapa maksud nya"


aku pun tidak membalas lagi perkataan mas Agam. karena yang di maksud orang lain adalah ibu mertua ku. rasanya kesabaran ku semakin menipis menghadapi nya.


belom lagi kami selesai berbicara tiba-tiba ibu nya mas Agam datang sambil membawa makanan.


" Bu tumben pagi-pagi kesini"


ucap mas Agam sambil menyalami ibu nya. dan aku pun turut menyalaminya.


" iya ibu tadi abis ke pasar sengaja mampir dulu di sini"


" sama bapak Bu?"


tanya mas Agam lagi. sementara aku hanya masih bisa diam.


" enggak bapak kan udah pergi ke kebun. pohon durian nya bapak tuh lagi panen. jadi bapak kesana untuk melihatnya."


" sarapan dulu Bu" ajak mas Agam sambil mengambil kan piring untuk ibunya.


" ah enggak Bu tadi kami hanya sedang berdiskusi saja"


entah kenapa rasanya aku sedang tidak ingin mendengar obrolan mereka. belum lagi omongan ibu mertua yang seakan selalu menyalahkan aku. aku jadi semakin enggan terlibat dalam obrolannya.


" kita mau program bayi tabung Bu" ucap mas Agam


" gam kan ibu sudah bilang biaya bayi tabung tuh mahal gam. iya kalau berhasil.kalau tidak bagaimana"


" iya bener kata ibu. sayang kan uangnya. lebih baik uangnya dipake buat kamu nikah lagi mas. nanti biar aku yang Carikan istri untuk kamu"


seketika muka mas Agam memerah seakan mau mengeluarkan amarah nya.


" maksudnya apa si Nad. aku berjuang mati-matian agar bisa mendapatkan keturunan dari kamu. sementara kamu dengan seenaknya menyuruhku menikahi perempuan lain?"

__ADS_1


disitu mas Agam benar-benar marah atas ucapan ku. sementara ibu mertua hanya bisa diam menyaksikan perdebatan kami berdua. mungkin belum ada celah untuk berbicara.


" Nad lebih dari lima tahun kita bersama-sama berjuang agar bisa mendapatkan anak. aku kira kamu gak akan mudah menyerah seperti ini.waktu, pikiran, tenaga semuanya aku lakukan Buat kamu nad"


" iya nih Nadia kenapa tiba-tiba menyuruh Agam untuk menikah lagi. memangnya kamu sudah Bosan melayani Agam" ujar ibu mertua yang seolah-olah semakin menyudutkan aku. padahal aku hanya ingin mewujudkan apa yang ia inginkan selama ini. toh bukannya dia yang selalu menyuruh anaknya untuk menikah lagi.


" kan ibu yang mau bukan? Bukannya ibu ingin segera punya cucu kan? aku akan mengabulkan keinginan kalian mas. tapi dengan satu syarat biar aku yang mencarikan istri untuk kamu. kamu tidak usah khawatir tentang bebet bibit dan bobot nya."


aku semakin tak bisa menahan kekesalan ini di depan mereka apalagi di depan ibu mertua ku. bukankah ini yang dia mau. aku hanya mengulang perkataan nya tapi seolah-olah dia tidak merasa kalau perkataan nya itu membuat aku sangat tersinggung.


" Nadia cukup!!!"


bentak mas Agam kepadaku. baru kali ini aku di bentak oleh mas Agam apalagi di depan ibunya. aku pun tak melanjutkan pembicaraannya lagi. segera aku meninggalkan mereka yang masih berada di meja makan.


" aku pamit dulu mas. takut keburu siang"


lalu aku pun pergi begitu saja. entah apa yang merasuki dalam diriku. aku menjadi lebih sensitif dan mudah marah seperti ini.


" assalamualaikum" ucap ku seraya meninggalkan mereka.


aku tahu pasti mas Agam akan kecewa dengan sikap ku ini. tapi biarlah. untuk saat ini aku sedang tidak perduli anggapan mas Agam terhadap ku. yang ada dalam pikiran ku sekarang siapa wanita yang mau menikah dengan suami orang? aku pun segera melajukan mobil ini pergi ke toko cabang. siapa tau di perjalanan aku bisa mendapatkan ide. tapi apa benar aku siap untuk berbagi suami?


...****************...


POV Agam


aku tak Habis pikir kenapa Nadia bisa bicara seperti itu. apa dia mendengar ucapan ibu waktu itu. apa dia tersinggung dengan ucapan ibu. tapi walau bagaimanapun aku dan ibu adalah sosok yang harus dia hormati. bukan malah bersikap seenaknya seperti itu. kalau pun memang dia mengijinkan aku menikah lagi. biar aku sendiri yang mencari nya. toh aku yang akan menjalani nya bukan.


" gam ibu tuh heran sama istri kamu ko sekarang beda ya sikapnya. seperti tak menghormati ibu dan kamu"


" mungkin dia masih terpuruk karena kejadian kemarin-kemarin Bu"


" tapi gam kalau Nadia sudah setuju dan benar akan mencarikan kamu istri ya sudah di coba Saja gam"

__ADS_1


" Bu kalau pun Agam memang punya niat mau poligami ya pasti Agam nyari sendiri ko Bu. udah ah ibu bikin tambah pusing aja"


aku memang sangat merindukan sosok seorang anak tapi yang aku inginkan adalah anak dari rahim istriku sendiri bukan orang lain. aku memang seorang laki-laki yang terkadang mempunyai hawa nafsu syahwat terhadap wanita lain. tapi untuk menikahi nya dan mempunyai dua istri jangankan merencanakan membayangkan nya saja aku belum pernah. Nadia.. Nadia .. setan apa sih yang sedang merasuki mu.. aku merindukan Nadia yang dulu ... istri ku tercinta....


__ADS_2