ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 12.


__ADS_3

"Jadi sekarang ... kalian sudah tau siapa saya?" tanya Bu Sita angkuh.


 Sembari tersenyum licik, Bu Sita berkata. "Kalau begitu kalian juga harus tau kalau kalian tinggal di sini itu cuma numpang!"


 Nisa dan Bu Sekar seketika membeliakan matanya lebar-lebar.


"Ma! Apa-apaan sih? Unit ini Adel yang beli pake yang pribadi dia. Jadi Mama nggak berhak bicara begitu!" hardik Zidan marah.


"Loh? Ya sama aja kan? Mau Mama kek yang beli, mau Adel kek, mau kamu kek. Ya sama aja dua benalu ini cuma numpang! Dan seperti kebanyakan orang numpang, ya suatu saat mereka harus pergi dari sini. Atau nggak ya minimal bayar sewa buat tinggal di sini," ucap Bu Sita enteng bahkan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Hei nenek lampir!" sergah Bu Sekar, "rumah ini Adel yang beli buat di kasih ke Nisa sebagai hadiah karna Nisa mau jadi istri kedua suaminya. Jadi jangan seenaknya ya ngusir-ngusir atau minta uang sewa! Memangnya situ siapa?"


"Ibu ... jangan ngomong kayak gitu," gumam Nisa panik sambil menggigit bibir bawahnya dan menarik-narik ujung baju sang ibu.


 Tapi Bu Sekar tak gentar dengan berani dia justru tetap berdiri di tempatnya walau Bu Sita kini mulai berjalan cepat ke arahnya dengan wajah marah.


"Kamu!" tunjuk Bu Sita pada Bu Sekar.


"Aku apa?" tantang Bu Sekar mengangkat dagunya menantang Bu Sita.


 Bu Sekar yang memang belum mandi sejak kemarin menguarkan bau tak sedap dari tubuhnya, apalagi saat dia menggerakkan tangannya dan ketiaknya yang basah mulai saling beradu menimbulkan kecipak basah yang sedikit meng-iuhh-kan.


 Bu Sita berekspresi seakan mau muntah, dan memilih mundur selangkah.


"Dasar orang miskin!" bentaknya sambil mundur kembali menuju sofa dan mengibas-ngibas tangannya di depan muka.


 Zidan menghampiri Bu Sekar sambil tangannya mengode Nisa untuk mengikuti mereka duduk di sofa.


"Tapi, Mas. Dingin ...." Nisa mengusap tangannya kedinginan.


 Zidan mengangguk pelan dan gegas mengambil remote AC yang di letakkan Bu Sita di meja.


"Eh kamu mau ngapain? Jangan di kecilin AC nya, Mama gerah! Mana bau ****** lagi di sini," ujar Bu Sita melirik Bu Sekar sinis sambil masih mengibaskan tangannya di depan wajah, mengusir bau yang seakan masih menempel di hidungnya.


"Nisa nggak kuat AC, Ma. Udah Mama jangan egois, kalo gerah biar Zidan ambil kipas angin," bantah Zidan sambil berlalu menuju gudang dan kembali dengan sebuah kipas angin berbentuk Minion di tangannya.


"Huh, orang miskin memang selalu nyusahin," gerutu Bu Sita sambil mendekatkan kipas mini yang sudah di colokan Zidan ke stopkontak.

__ADS_1


"Mama!" seru Zidan tak suka.


 Bu Sita diam, sedangkan Nisa dan Bu Sekar akhirnya mau duduk tak jauh dari Zidan dan Bu Sita.


"A- ada apa ya, Mas? Kok Mas sama ... Ibu ...."


"Ibu, ibu. Di kira saya orang kampung kayak kamu? Panggil saya nyonya!" hardik Bu Sita melotot.


"Nyonya, nyonya. Memangnya situ bayar kami buat jadi pembantu?" marah Bu Sekar pula.


"Boleh! Kalau kalian mau jadi tukang cuci WC di rumah saya, saya akan gaji kalian sebanyak yang kalian mau!" tantang Bu Sita lagi.


 Zidan yang kesal karena sejak tadi mendengar perdebatan kedua ibu-ibu beda kasta itu akhirnya menggebrak meja saking pusingnya.


Braaakk


"Sudah diam semuanya!"


 Mereka yang ada di ruangan itu semua terlonjak kaget akibat gebrakan Zidan yang tiba-tiba. Secara serentak pula mereka memegangi jantungnya ah maksudnya dadanya masing-masing memastikan kalau organ berdetak itu masih berada di tempatnya dan tidak pindah tempat.


 Setelah kondisi hening dan tenang, barulah Zidan kembali bicara.


Bu Sita memandang mereka dengan tatapan merendahkan, begitu pula Bu Sekar yang tampak turut kesal dengan Bu Sita.


"Dan Nisa, ini Mama saya. Seperti yang kamu lihat, begitulah sifatnya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan nantinya, saya sama Adel sepakat, setelah pernikahan nanti kamu akan ikut tinggal sama kami di rumah kami," titah Zidan jelas.


"Terus tempat ini gimana?" tanya Bu Sekar serta merta.


"Dih, udik." Bu Sita mencibir.


"Apartemen ini, nantinya akan kita sewakan. Lumayan untuk pemasukan perbulan," sela Zidan sebelum kembali terjadi keributan antar ibu-ibu berbeda ras itu.


 Bu Sekar tampak manyun sambil bersedekap dada. "Huh, daripada begitu apa nggak mending biar ibu saja yang tinggal di sini sama adiknya Nisa? Kamu nggak kasian sama ibu sama adiknya Nisa kalo harus balik lagi ke kampung?"


"Kamu pikir tempat ini panti jompo?" ketus Bu Sita emosi.


Zidan mengangkat sebelah tangannya ke atas, membuat Bu Sekar yang baru saja hendak menyahut menjadi urung. Takut kalau kali ini jantungnya benar-benar akan berpindah tempat.

__ADS_1


"Nisa masih punya adik?" tanya Zidan pada Bu Sekar.


 Dengan cepat Bu Sekar menganggukkan kepalanya.


"Ada dimana dia sekarang? Kenapa Adel nggak memberi tahu saya sebelumnya?"


"Ah, adik Nisa namanya Alan. Dia ada di kota sebelah, Mas. Kerja jadi kasir minimarket," sambar Nisa sebelum ibunya kembali menyahut.


 Zidan tampak manggut-manggut, sambil menjepit pelan dagunya seperti sedang berpikir.


"Ya sudah, masalah ini nanti kita bicarakan lagi sama Adel gimana baiknya. Saya akan turuti apapun kemauan istri saya, kalau begitu sepertinya pertemuan ini kita sudahi sampai sini dulu ya. Saya ada urusan penting yang harus di urus," tukas Zidan seraya berdiri dan menggamit tangan Bu Sita agar ikut dengannya.


 Nisa berdiri di ikuti Bu Sekar. "Ah, baik Mas. Kabari saja Nisa perkembangannya mau bagaimana, nanti sampaikan saja ke Mbak Adel biar beliau yang sampaikan ke Nisa."


 Zidan mengangguk. "Kalau begitu, bisa saya minta KTP dan data kamu yang lain? Saya yang akan urus surat menyurat untuk pernikahan kita nanti."


"Haishh, benar-benar menyusahkan!" gerutu Bu Sita pelan, namun masih bisa terdengar oleh Zidan.


"Sudah, Mama!" tegasnya lirih, tapi sanggup membuat Bu Sita kicep.


 Nisa mengangguk dan bergegas menuju kamar mengambil apa yang di minta oleh Zidan.


"Ini, Mas. Kalau ada yang kurang nanti kasih tau saja," ujar Nisa menyodorkan sebuah map lusuh berwarna kecoklatan dengan beberapa kembaran surat-surat di dalamnya.


"Baik, saya pinjem ya. Setelah beres nanti saya kembalikan," tukas Zidan tanpa sengaja menatap mata Nisa.


Degh


 Jantungnya serasa di panah saat bersitatap dengan Nisa, tepat pada saat itu pula Nisa tersenyum manis dengan mata yang tampak berbinar senang. Membuat darah Zidan serasa berdesir terlalu cepat dan membuatnya pusing dan seakan melayang.


"Hei, anak ini malah ngelamun. Ayo katanya mau pergi! Panas nih, bau lagi," sindir Bu Sita lagi sambil menatap Bu Sekar.


Bu Sekar balas melotot dan menggerak-gerakkan tangannya membuat aroma ketiaknya kembali menguar.


 Zidan yang tersadar karna tarikan tangan sang mama sempat menggerap. Namun dengan cepat langsung menguasai diri dan langsung pamit pergi pada Nisa dan Bu Sekar. Tanpa mempedulikan bau badan Bu Sekar yang membuat pusing itu tentunya.


"Ibu bikin malu," gerutu Nisa sepeninggalan Zidan dan Bu Sita.

__ADS_1


 Bu Sekar berkacak pinggang dengan wajah puas, dan terkekeh kecil karena tersadar ketika bau badannya mulai menusuk hidungnya sendiri.


"Astaga, beneran bau ****** ternyata," gumamnya sambil berlari menyusul Nisa menH


__ADS_2