ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 47.


__ADS_3

 Zidan berjalan bolak balik di depan ruang UGD, di temani Bu Sekar dan Alan mereka menunggu dokter selesai memeriksa Nisa.


"Bu, Kak Nisa kenapa?" lirih Alan bertanya, karna sejak tadi tak ada yang buka suara untuk sekedar memberi tahunya apa yang terjadi pada Nisa.


 Bu Sekar menyusut air mata yang merembes di matanya dan menatap Alan dengan mata nanar.


"Kakak kamu ... jatuh di kamar mandi, dia pendarahan ... tapi kita doakan saja supaya kandungannya nggak kenapa-kenapa."


 Alan mendesah, dan mengangguk mengerti.


"Semoga Kak Nisa dan calon bayinya selamat, biar gimanapun itu juga kan calon keponakan Alan. Dan anak pertama Kak Nisa, calon cucu pertama ibu. Pasti banyak yang mengharapkan dia selamat." Alan mengusap punggung ibunya dan justru membuat air mata Bu Sekar jatuh tak tertahankan.


 Zidan mendekati Bu Sekar dengan tatapan tak bisa di artikan, sejak tadi tak hentinya dia berdoa untuk anak pertamanya yang sedang di kandung Nisa.


"Bu, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa Nisa bisa pingsan di kamar mandi?"


 Bu Sekar menggeleng lemah. "Ibu juga nggak tau, Zidan. Saat itu Nisa pamit mau ke kamar mandi sendiri, terus ibu nunggu di luar sambil liat ke jendela. Terus tau-tau Nisa teriak, dan pas ibu periksa Nisa sudah pingsan di lantai."


 Zidan membuang nafas berat, menatap langit-langit berharap apa yang ditakutkan tidak terjadi.


"Zidan kabari Adel dulu, dia juga berhak tau kondisi Nisa." Zidan berlalu setelah mengatakan itu tanpa menunggu jawaban Bu Sekar.


"Apaa ini teguran dari Allah untuk kakakmu ya, Al?" gumam Bu Sekar sambil menatap punggung Zidan yang semakin bergerak menjauh.


 Alan menggeleng cepat. "Nggak mungkin, kenapa harus Allah negur Kak Nisa? Memang Kak Nisa salah apa?"


 Alan bukan berpura, namun dia benar-benar tidak tau dan tidak pula paham maksud ibunya.


"Ya, karna kakakmu masuk ke rumah tangga Zidan dan Adel."


 Bu Sekar sebenarnya tak yakin, tapi semua kemungkinan bisa saja terjadi bukan?.


"Hah, nggak mungkin lah kayak begitu, Bu. Kan Kak Nisa juga di minta kan sama Mbak Adelnya buat jadi istri suaminya? Jadi ... menurut Alan ya ini semua nggak ada sangkut pautnya sama itu semua."


"Tapi pembaca bilang, kakakmu itu pelakor, Al."

__ADS_1


 Alan mendesah dan merangkul ibunya dengan tangannya yang kokoh karna terlalu banyak bekerja keras.


"Pembaca memang begitu, Bu. Kan mereka menyampaikan apa yang ada di pikiran mereka. Itu juga menguntungkan kan buat penulis kita ... supaya nggak kehabisan ide dan bisa terus bikin kisah kita semakin menarik," sahut Alan sambil tersenyum.


 Senyum yang sangat jarang sekali dia tunjukkan ke siapapun. Bahkan pada Nisa dan ibunya. Pribadi yang pendiam dan dingin, begitulah selama ini Bu Sekar dan Nisa mengenalnya.


 Setelah beberapa lama, tampak Zidan kembali ke tempat mereka. Di tangannya terdapat sebuah kantong plastik yang sepertinya berisi makanan.


"Bu, Al. Ayo makan dulu, tadi di depan Mas beli nasi goreng. Kita boleh cemas tapi juga nggak boleh abai sama kesehatan sendiri," ujar Zidan bijak dan mengeluarkan bungkus sterofoam tempat nasi goreng itu kemudian memberikannya pada Alan dan Bu Sekar.


 "Makasih banyak ya, Zidan. Kamu bahkan masih ingat untuk belikan kami makanan," tukas Bu Sekar seraya membuka tutup botol air mineral yang juga di belikan Zidan dan meminumnya.


 Dahi Zidan berkerut mendengar perkataan Bu Sekar yang ambigu.


"Maksudnya gimana ya, Bu? Bukannya Bu Sekar dan Alan kan juga keluarga Zidan. Jadi ya sudah seharusnya Zidan juga memperhatikan kalian."


 Bu Sekar dan Alan saling pandang, kemudian sepakat untuk memilih saling diam. Lebih tepatnya karna waktunya belum tepat untuk berkata jujur pada Zidan.


"Gimana kabar Adel, Zidan?" tanya Bu Sekar sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Adel bilang ... mereka akan pulang secepatnya."


"Mereka?" kening Bu Sekar berkerut, dia tidak tahu kalau Adel berlibur ke kampung juga mengajak serta Alice dan neneknya.


"Iya, Bu. Adel mengajak Alice dan Nek Hindun ke sana, kebetulan mereka juga ingin berlibur." Zidan menyahut pelan sembari meminum air mineral miliknya hingga tandas.


 Merasa tidak mengenal nama yanh di sebutkan Zidan, Bu Sekar akhirnya tidak banyak bertanya lagi. Mereka diam untuk beberapa saat, fokus dengan berbagai macam isi kepalanya masing-masing.


Ceklek


 Pintu ruangan terbuka dengan cepat Bu Sekar menghampiri seorang dokter perempuan muda yang baru saja keluar.


"Keluarga pasien?" tanyanya setelah melihat wajah panik Bu Sekar. Sedangkan Alan dan Zidan menyusul di belakangnya.


 Bu Sekar mengangguk tak sabar. "Gimana kondisi anak saya, Dok?"

__ADS_1


"Apa bayinya masih bisa di selamatkan?" cecar Zidan pula.


 Alan melirik sinis Kakak iparnya itu, merasa tak suka karena sepertinya Zidan hanya mengkhawatirkan calon anaknya saja dan tidak sama sekali cemas dengan kondisi kakaknya.


 Tapi Zidan sama sekali tidak menyadari tatapan Alan dan lebih fokus mendengarkan penjelasan dokter muda itu.


"Begini ya, Bapak dan ibu. Saat ini kondisi pasien masih lemah, tolong untuk tidak membuat pasien berpikir terlalu berat dan membuat jiwanya tertekan karena akan berpengaruh bagi kesehatannya. Dan untuk bayinya ...."


 Dokter itu menggantung kalimatnya, sambil menatap Bu Sekar dan Zidan bergantian.


"Kenapa dengan bayinya? Jawab dokter!" gertak Zidan yang sudah tak sabar.


"Maaf, tenang dulu ya pak. Bayinya Alhamdulillah masih bisa di selamatkan, tapi ...."


"Alhamdulillah, " ucap Zidan tanpa mendengar lebih lanjut penjelasan dokter.


"Alhamdulillah," ucap Bu Sekar pula.


 Dokter itu tampak pias dan kembali mencoba menjelaskan kondisi bayi Nisa.


"Sebentar, Pak Bu. Saya beritahu kondisi bayinya dulu ya."


"Memang kenapa dengan bayinya, dok?" tanya Bu Sekar kaget.


"Bayinya ... kondisinya sangat lemah, Bu. Jadi saran kami lebih baik Bu Nisa di rawat dulu sementara di sini sampai kondisinya stabil untuk bisa pulang ya. Sementara itu, tolong awasi supaya Bu Nisa tidak melakukan aktivitas berat lebih dulu karena akan berpotensi membahayakan janinnya," terang dokter dengan sejelas-jelasnya.


 Bu Sekar dan Zidan kompak mengangguk setuju, dan setelah itu Nisa pun di pindahkan ke kamar rawat yang ada di rumah sakit itu. Zidan meminta kamar VIP agar Nisa dan keluarganya bisa beristirahat dengan lebih tenang.


"Zidan, ibu sama Alan pulang dulu sebentar ya. Mau ambil baju ganti buat Nisa. Kan kita tadi nggak tau kalau bakalan di suruh rawat inap. Jadinya ya begini ... nggak bawa persiapan sama sekali." Bu Sekar menunjuk Nisa yang kini terbaring lemah dengan pakaian yang tadi di pakainya.


Zidan yang tengah memberitahu Adel akan kabar terkini Nisa langsung terperanjat dan tersadar kalau mereka sama sekali tidak membawa persiapan apapun untuk menginap di rumah sakit itu.


"Nggak, Bu. Ibu nggak usah repot-repot pulang, ibu di sini aja nemenin Nisa. Biar nanti Zidan minta tolong Mama buat ambilin barang-barang kita di rumah."


 Mata Bu Sekar mendadak membelalak, wajahnya yang semula tampak biasa kini mulai pias.

__ADS_1


"A- apa? Meminta Bu Sita ke sini? Apa ... tidak ada pilihan lain?" tanyanya cemas.


__ADS_2