
"Ya ampun, itu fajar kan? Itu kenapa dia lari-lari begitu? Itu juga kenapa lagi Mak Ijah segala bawa sutil ngejerin anaknya?" celetuk Bu Hanif saat melihat Fajar yang di kejar ibunya sambil mengacungkan sutil.
"Neng bidadari tolongin saya!" teriak Fajar sambil berlari menuju Alice, namun Alice cepat menghindar dan entah bagaimana malah bersembunyi di belakang tubuh Johan.
Brugh
Fajar menubruk Johan, dan cairan merah yang berceceran di di tubuhnya semua ikut menempel di tubuh Johan.
"Dasar anak nakal! Bisa-bisanya kamu malah mainin pewarna kue Emak hah? Tau nggak kalo itu pewarna terakhir yang Emak punya? Terus sekarang emak harus warnain kuenya pake apa hah?" amuk Mak Ijah sambil mengayunkan sutilnya untuk memikul Fajar.
"Ampun, Mak. Amponnn! Adoh sakit, Mak!" teriak Fajar kesakitan, bahkan karena terus berusaha menghindari pukulan ibunya malah Johan yang di jadikan tumbal untuk perlindungan.
"Aduh, aduh. Mak ... Mak salah orang, Mak. Ini saya Johan, Mak. Itu anak Emak udah kabur lagi." Johan menunjuk ke arah kebun samping dimana fajar tampak berlari sambil sesekali melihat ke belakang.
Mak Ijah sudhs hendak mengejar lagi si Fajar, tapi dengan cepat Bu Hanif menarik tangannya.
"Udah, Mak. Nggak usah di kejar lagi, kasihan Fajar kamu pukulin begitu mulu," tukas Bu Hanif yang seringkali melihat Mak Ijah melakukan hal yang sama berulang kali setiap Fajar melakukan kesalahan.
Mak Ijah menurut dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas balai bambu teras tempat Alice dan Johan tadi duduk.
Sedang Alice sendiri kini tampak takut melihat tubuh Johan yang berlumuran pewarna kue berwarna merah pekat hampir menyerupai darah. Itu jugalah yang tadi membuat mereka terkejut bukan kepalang karna mengira Fajar di aniaya oleh ibunya. Padahal cairan merah itu nyatanya berbau pandan dan lengket.
"Emangnya si Fajar ngapain lagi sih, Mak?" tanya Bu Hanif setelah kembali dari dapur sambil membawa segelas air untuk Mak Ijah.
Mak Ijah meminum air itu hingga tandas dan setelahnya mengambil nafas panjang.
"Hah, anak itu setiap hari selalu bikin saya pusing, Bu Hanif. Ada ... aja kelakuannya yang bikin saya stress. Kayak ini tadi contohnya, saya kan mau bikin bolu retpelpet soalnya kebetulan masih punya pewarna merah sisa dari acara kemarin. Pas saya lagi mecahin telur di atas meja eh malah pewarna nya di ambil sama dia di buat mandi, ya marah dong saya. Mana itu tinggal satu-satunya lagi," keluh Mak Ijah menyampaikan kekesalannya.
Bu Hanif mengelus pundak Mak Ijah penuh pengertian, sedangkan Nek Hindun dan Adel memilih kembali ke dapur.
__ADS_1
"Ya udah, Mak. Nanti ambil pewarna saya aja, kebetulan saya masih ada kok."
Mak Ijah menatap senang pada Bu Hanif dan bibirnya membentuk tawa lebar.
"Ya udah, Bu Hanif. Kalo gitu saya minta warna kuning sama ijo mamba sekalian ya. Ah kalo ada yang ijo Sage juga biar kekinian," kekeh Mak Ijah.
Bu Hanif membulatkan matanya lebar. "Emang ada warna begitu, Mak? kok saya malah baru denger?"
Mak Ijah terkekeh. "Ya nggak ada, wong saya cuma becanda aja kok, Bu Hanif. Tapi ... ngomong-ngomong makasih ya, Bu Hanif. Nanti kalo kuenya udah jadi saya anterin deh kesini biar nyicipin juga kue buatan saya."
Bu Hanif tersenyum tak yakin, namun pada akhirnya beranjak juga untuk mengambil pewarna kue di dapurnya.
"Mau apa Mak Ijah, Bu?" tanya Adel saat melihat Bu Hanif membongkar lemari dapur mencari sesuatu.
"Mak Ijah minta pewarna kue," sahut Bu Hanif singkat.
Tapi saat sampai di teras, Bu Hanif tidak mendapati tubuh tambun wanita paruh baya itu.
"Loh, kemana Mak Ijah? Baru juga di tinggal sebentar kok udah ilang. Apa jangan-jangan di gondol jurig ya? Ah, tapi apa mau jurig ngegondol Mak Ijah? Kan makannya banyak? Tekor yang ada itu jurig mah." Bu Hanif mulai menerka nerka sendiri.
Lalu tiba-tiba dari rumpun batang tomat yang ada di samping rumah muncul sesosok Mak Ijah yang sudah belepotan tomat masak.
"Astaghfirullah!" seru Bu Hanif kaget, bahkan hampir saja berlari dan menutup pintu rumahnya karna mengira yang muncul adalah orang gila yang sering berkeliaran di sekitar sana.
"Bu Hanif ini saya!" panggil Mak Ijah sambil keluar dari rumpun tomat yang sangat subur tersebut.
Bu Hanif yang sudah berada di dalam rumah hendak menutup pintu pun kembali keluar karena mendengar suara Mak Ijah.
"Loh, Mak? Darimana tadi kok saya cari nggak ada? Saya kira di culik jurig loh."
__ADS_1
Mak Ijah cengengesan sambil menunjukan sebuah kresek berisi tomat yang tadi di ambilnya.
"Kemarin kan saya mau minta cabe malah di minta lagi sama Adel karena saya nggak minta. Sekarang saya minta izin deh, saya minta tomatnya ya, Bu Hanif. Sekalian buat stok hehehe," kekeh Mak Ijah tak merasa bersalah.
Bu Hanif menepuk jidatnya berulang kali sambil memaksakan diri tersenyum walau malah seperti orang menahan buang air.
"Itu ada kali ya dua kilo, Mak?" Bu Hanif menunjuk kresek yang ada di tangan Mak Ijah yang terisi penuh sesak dengan tomat yang besar-besar.
Mak Ijah kembali terkekeh. "Heheh, ya ... sekali-kali ya nggak papa lah ya, Bu Hanif. Kan nggak tiap hari juga saya mintanya."
Bu Hanif kembali tersenyum miris, tidak menolak namun juga tidak mengiyakan.
"Wah, ini pewarnanya ya, Bu Hanif? Alhamdulillah beneran di kasih dua. Ya udah saya bawa ya, Bu Hanif. Mau bikin kue soalnya," tukas Mak Ijah sambil mengambil dua botol pewarna di tangan Bu Hanif dan langsung melenggang pergi ke rumahnya sendiri dengan wajah sumringah.
Kejadiannya sangat cepat bahkan Bu Hanif sendiri sampai tidak menyadari kalau dua botol pewarna kuenya sudah raib dari tangannya.
"Hah ... alamat nggak di kembalikan lagi deh. Mana masih baru lagi itu tadi," keluh Bu Hanif kemudian kembali masuk ke dalam rumahnya dengan hati masygul.
Sesampainya di dalam rumah terdengar suara-suara berisik dari arah dapur. Suaranya bernada panik seperti tejadi sesuatu yang mengejutkan.
"Ada apa, ada apa?" seru Bu Hanif berlarian ke dapur.
Di sana tampak Adel tengah menelpon dengan wajah tegang, begitu juga dengan Nek Hindun juga Alice. Sedang Johan masih belum keluar dari kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terkena pewarna kue dari badan Fajar tadi.
"Adel ada apa?" cecar Bu Hanif karena tak kunjung mendapat respon dari Adel yang justru malah sibuk bicara di telpon.
Adel berbalik menatap sang ibu dengan mata basah dan berkabut.
"Bu, Nisa ... Nisa ...."
__ADS_1