
Beberapa jam sebelumnya.
Alice mengantar nenek Hindun pulang ke rumahnya, rumah dimana dia di besarkan dengan penuh kasih sayang oleh Nek Hindun. Pengganti kedua orang tuanya yang sudah lama berpulang.
"Al, kamu nggak langsung balik ke rumah sakit?" tanya Nek Hindun saat kembali ke depan dan mendapati Alice masih termenung di kursi teras.
Alice menoleh dan tersenyum. "Sebentar lagi, Nek. Al lagi kangen Papa dan Mama."
Nek Hindun duduk di sebelah Alice tudt menatap langit yang mulai berarak menuju gelap.
"Andai saja orang tua mu masih hidup ya, Al. Pasti sekarang hidupmu tidak sesulit ini bersama Nenek," gumam Nek Hindun pelan.
Alice mengelus tangan nenek yang sudah membesarkannya itu, lembut dan hangat walau terasa renta termakan usia.
"Papa dan Mama sudah bahagia bersama Tuhan, Nek. Mereka sudah tenang di sana. Tuhan pasti menjaga mereka dengan baik bukan?"
Nek Hindun mengangguk lemah sambil perlahan menyusut air mata di netra tuanya.
"Yah, pasti demikian adanya. Orang tuamu kan orang baik, Nenek mengenal mereka bahkan sejak mereka berdua masih pacaran. Lalu mereka menikah di gereja dan mengundang Nenek ke rumahnya saat selesai acara. Menganggap Nenek seperti orang tua mereka sendiri yang sudah tiada, Nenek begitu bahagia saat akhirnya Mama mu hamil dirimu. Namun ternyata ... semuanya tidak lama, tepat saat usiamu dua tahun mereka berpulang dalam kecelakaan saat hendak menjemputmu di rumah Nenek ini." Nek Hindun kembali mengusap air matanya dan berusaha tersenyum untuk Alice.
Alice mencondongkan tubuhnya ke arah Nek Hindun dan mengusap air mata yang masih meleleh di pipi tua itu.
"Dan sekarang sepertinya Mama dan Papa sangat bahagia melihat Nenek dan Alice masih sehat dan bahagia, terima kasih ya, Nek. Berkat Nenek, Alice bisa seperti sekarang."
Nek Hindun mengangguk pelan. "Tapi ... kau tau cucuku? Nenek mu ini sudah semakin tua, kapan kau akan mencari pendamping hidup agar Nenek bisa tenang meninggalkan mu bersamanya nanti?"
Alice tersenyum getir, ini bukan pertama kalinya Nek Hindun menanyakan hal itu padanya.
"Nenek tidak usah risaukan itu lagi, bukankah tanpa pendamping pun sekarang Alice sudah punya keluarga yang menerima kita? Keluarga Mbak Adel sudah Alice anggap orang tua Alice sendiri, Nek. Dan mereka juga begitu baik pada kita bukan?"
Nek Hindun menatap Alice dengan kening berkerut, menambah keriput di wajah tuanya menjadi semakin banyak.
__ADS_1
"Jujurlah pada Nenek, apa kau masih belum bisa melupakan Zidan?"
Degh
Jantung Alice serasa tercubit, kelebat demi kelebat kenangan terekam di kepalanya.
Sebuah kisah cinta yang manis dan indah, berbalut kasih dan sayang yang tulus dan begitu dalam. Antara dua insan yang tak akan pernah bisa bersatu walau keduanya begitu saling mencintai dan bahkan orang tuanya pun setuju.
Mereka Alice dan Zidan, kisah cinta yang terpatri sejak di bangku sekolah menengah harus kandas di tengah jalan karena perbedaan keyakinan.
"Aku tau Tuhan itu satu, Bang. Tapi maaf, aku tak akan pernah menukar Tuhan- ku denganmu. Atau dengan apapun itu. Tidak ada harga untuk sebuah keyakinan, Bang. Jadi ... lebih baik kalau kita berpisah saja dan mencari kebahagiaan kita masing-masing, tentunya yang seiman dengan kita."
Perkataan terakhir Alice pada Zidan terngiang di telinganya, hari dimana akhirnya mereka menyerah akan cintanya dan membalikkan cinta itu pada Tuhan mereka masing-masing.
Membuat Zidan yang awalnya hanyalah seorang pria manja dengan segudang kemewahan dari orang tuanya menjadi seorang pria alim nan Sholeh seperti yang kalian kenal sekarang.
Dan membuat Alice akhirnya bisa mencapai gelar dokternya setelah bertahun tahun bekerja keras tanpa lelah hanya untuk mengalihkan pikirannya dari menangisi Zidan. Sampai tiada lagi rasa sakit saat mereka kembali bertemu di depan ruang operasi tempo hari. Memberi arti kalau kini mereka sudah sama-sama saling mengikhlaskan.
"Ah, maaf, Nek. Al hanya ...."
"Sudahlah, Nenek paham perasaanmu. Setelah ini nanti ajaklah keluarga Adel untuk berkunjung kemari ya. Jika merekalah orang yang kau percaya Nenek ingin bisa bersama mereka dan sekedar bercengkrama agar bisa tenang nantinya menitipkan kau pada mereka." Nek Hindun menepuk pelan tangan Alice.
Alice mengangguk pelan, dan begitulah hati itu berakhir dengan memutar kembali kenangan indah yang pernah terjadi dalam hidup Alice. Membuatnya berputar di sekitar sana dan tak kunjung mendapat pengganti di hatinya.
****
Hari berganti, kesibukannya mengurus pasien bahkan sampai membuat Alice lupa akan janjinya pada Nek Hindun untuk mengajak keluarga Adel ke rumah mereka.
Tapi sepertinya alam sedang berpihak pada mereka, di saat tengah bertugas Alice tidak sengaja melihat keluarga Adel kembali ke rumah sakit dengan wajah tegang.
"Ada apa?" songsong Alice saat melihat Adel yang sudah pucat berada di gendongan Zidan.
__ADS_1
"Tolong ambilkan brankar!" perintah Alice pada beberapa suster jaga di sana.
Dengan sigap mereka menangani Adel, menit dengan menit berlalu hingga satu jam lamanya Alice belum juga keluar dari ruang IGD.
"Ya Allah selamatkan Adel, selamatkan istri hamba ya Allah." Zidan terus saja bolak balik di depan pintu IGD, menanti dengan cemas kabar istrinya yang kembali harus bertarung dengan maut di dalam sana.
Pak Hanif dan Bu Hanif diam tanpa suara, mereka begitu kecewa namun tak ingin bertindak gegabah dengan berteriak dan memaki Zidan di tempat umum seperti sekarang.
Biarlah semua menjadi rahasia dapur mereka, tidak untuk di umbar kemana mana. Sedangkan Nisa tampak berdiri di dekat Zidan, kebingungan antara mencoba menghibur atau ikut duduk bersama kedua orang tua Adel.
"Mas, ayo duduk dulu. Jangan terus terusan mondar mandir di situ, Mas. Nanti Mas capek," bujuk Nisa lirih, namun tak berani berada terlalu dekat dengan Zidan.
Wajah panik Zidan begitu kentara, di antara semuanya dialah yang paling cemas dan takut akan kehilangan belahan jiwanya yang tanpa sengaja sudah dia sakiti hatinya.
"Ya Allah jangan ambil istri hamba, izinkan hamba meminta maaf padanya atas kekeliruan hamba ya Allah." mengabaikan Nisa, Zidan terus saja melantunkan doa untuk Adel.
Dia tak berhenti gemetar dan berjalan mondar mandir di depan pintu IGD, berharap doanya lekas di ijabah dan dia bisa kembali melihat senyum istrinya yang tanpa sadar sudah dia sia siakan semalam.
Ceklek.
Pintu ruangan terbuka, di susul Alice yang keluar sambil membuka maskernya.
"Bagaimana? Bagaimana kondisi Adel, Al?" cecar Zidan tak sabar.
Alice menenangkan Zidan sembari menunggu Pak Hanif dan Bu Hanif turut berjalan mendekat.
"Bagaimana kondisi Adel, Nak?" tanya Bu Hanif lembut sambil memegang tangan Alice yang sudah di anggapnya putri sendiri seperti apa yang pernah di minta Alice padanya.
Alice menggenggam tangan Bu Hanif dengan mata berkaca-kaca.
"Ibu sama Bapak yang sabar ya, Mbak Adel ...."
__ADS_1