
Drap
Drap
Drap
Bu Sekar, Alan dan Bu Sita berjalan terburu-buru di lobi rumah sakit, berusaha saling mendahului karna sudah tak sabar melihat kondisi cucu pertama mereka.
"Zidan!" seru Bu sita yang langsung saja berlari mendapati anaknya yang tengah berdiri di depan jendela besar di depan ruangan bayi.
"Ma," ucap Zidan dengan mata berkaca-kaca.
Bu Sita menoleh pada objek yang tadi menjadi sasaran pandang Zidan. Djs terpaku sesaat ketika melihat bayi mungil yang sangat mungil tengah menggeliat di sana.
"Astaga? Kenapa bayinya kecil sekali Zidan?" tanya Bu Sita menatap tak percaya pada cucunya itu.
Bu Sekar dan Alan tiba bersamaan dan juga langsung berdesakan untuk melihat bayi mungil yang tampak tengah mengerang itu.
"Ya Allah, cucuku. Kenapa kecil sekali?" ujar Bu Sekar yang ikut merasa takut melihat bayi merah yang memang belum waktunya di lahirkan itu.
Zidan menghela nafas panjang. "Iya, bayinya kecil karna lahir sebelum waktunya,Bu ... Ma."
Bu Sita mencebik. "Halah, mana ada kayak begitu. Bayi itu kalo udah 7 bulan di kandungan itu namanya bayinya udah tua, udah siap lahir juga. Kecuali kalo udah 8 bulan baru bayinya balik muda dan wajar kalo kecil begini. Lha inikan 7 bulan, harusnya ya gedean dikit dong."
Bu Sita terus saja memprotes kondisi cucunya yang menurutnya tidak sesuai kondisi itu, namun Zidan hanya diam tak menanggapi dan Bu Sekar juga Alan hanya menatapnya dengan sinis karena Bu Sita bersikap seakan orang paling tau dengan bayi padahal punya cucu saja baru sekarang.
Alan menarik tangan Bu Sekar menjauh, karna telinga nya sudah tidak tahan mendengar ocehan Bu Sita yang tak ada habisnya. Lagi pula dia masih kesal pada Bu sita setelah apa yang dia lakukan pada mereka sebelumnya.
__ADS_1
"Kenapa, Al? Kan ibu mau lihat cucu ibu," protes Bu Sekar saat Alan malah membawanya ke sebuah kursi tunggu yang agak jauh dari ruangan bayi.
"Cucu ibu terus yang ibu pikirin, emangnya ibu nggak inget sama Kak Nisa?" gerutu Alan, pelan namun mengena tepat di jantung Bu Sekar.
"Ya ampun iya, Nisa. Dimana Nisa? Bagaimana kondisinya? Ya Allah, Nisa anakku." Bu Sekar berlarian entah kemana namun ujungnya kembali juga ke dekat Zidan dan bertanya dimana Nisa di rawat .
"Di ruang mawar nomor 24, Bu. Dari sini belok kanan terus lurus saja, ruangannya nomor tiga sebelah kiri." Zidan menunjuk ke sebelah kanannya dan gegas Bu Sekar menarik Alan ke arah yang tadi di tunjuk Zidan.
Bu Sita tampak menatap tak suka. "Huh, lihat mertua kamu itu. Cucunya kondisinya aneh begini malah lebih khawatir sama anaknya. Gimana sih?"
Zidan mengusap wajahnya dengan dua tangan. "Ma, udah lah kenapa sih Mama sensi sekali sama anak zidan? Dia cucu Mama loh, cucu pertama lagi. Masa iya Mama tega ngomong begitu sama dia?"
"Ya terus? Mama harus berbahagia gitu lihat kondisi cucu Mama yang nggak kaya bayi biasanya ini? Aneh, Zidan! Bayi ini aneh, lihat? Bahkan tangannya saja masih sebesar lidi. Pasti ini istri kamu yang makannya sembarangan makanya bayinya lahir sebelum waktunya. Merepotkan! Punya istri dua nggak bener semua."Bu sita berbalik dan langsung meninggalkan tempat itu masih dengan berbagai macam jenis ocehannya yang terdengar aneh dan tak masuk akal itu.
Zidan mendesah panjang sambil memandangi anaknya dari balik kaca pembatas, bayi itu memang terlahir prematur dan harus di inkubator sampai kondisinya stabil dan bobotnya mencapai minimal 2500gram. Namun saat lahir kondisi bayi itu hanya memiliki bobot tak lebih dari 1700gram, masih banyak yang harus dia kejar untuk bisa mendapatkan bobot stabilnya.
"Aneh, kok ada manusia kayak begitu ya?" celetuk Alan yang ternyata tak sengaja mendengar ocehan Bu Sita sebelumnya.
"Yah, begitulah manusia, Al. Kita nggak bisa memaksakan kehendak kita pada mereka, biarlah mereka berkata apa. Yang paling penting sekarang gimana supaya kakak kamu dan bayi ini bisa segera pulih dan bisa pulang ke rumah," sahut Zidan sambil menatap bayinya penuh haru.
Air mata lolos dari matanya yang tampak tersenyum menyambut kehadiran malaikat kecil mungil itu, yang kini mulai membuka mulutnya karena kehausan.
"Mas, dedeknya mangap apa dia haus ya?" tanya Alan yang mulai merasa gemas sendiri melihat kelucuan keponakan barunya itu.
"Entahlah, sepertinya iya. Tapi gimana kita ngasih taunya? Di sini nggak ada suster."
"Sebentar Alan cari," ucap Alan sambil bergegas menuju tempat suster jaga yang tadi di lihatnya saat baru saja masuk ke rumah sakit itu.
__ADS_1
Zidan menatap punggung adik iparnya yang semakin menjauh, berucap syukur dalam hatinya karna masih ada keluarga yang begitu peduli pada bayinya yang kata Bu Sita aneh tersebut.
Tak berapa lama, nampak Alan muncul sambil berlari kecil di ikuti seorang suster wanita di belakangnya.
"Ini, Mas." Alan menunjuk suster yang di bawanya.
"Mari, Pak. Bayinya kita bawa ke ruangan ibunya ya, pasti keluarga sudah nggak sabar mau ketemu kan? Sekalian bisa di hangatkan nanti sama ibunya." Suster itu berkata ramah dan masuk ke dalam ruangan bayi.
Tak lama dia mendorong keluar inkubator bayi Zidan dan membawanya menuju ruang rawat Nisa.
Ceklek
Pintu di bukakan oleh Alan, dan dengan perlahan suster membawa masuk box inkubator itu yang segera saja di kerubungi oleh Bu Sekar, Alan dan Adel.
"Subhanallah, ganteng sekali kamu, Nak." Adel berucap lirih sambil mengusap kaca yang berdekatan dengan pipi merah bayi itu.
Bu Sekar mengerutkan keningnya. "Hem? Ganteng? Bayinya laki-laki beneran toh? Alhamdulillah, cucuku laki-laki."
Adel mengangguk dan tersenyum lebar, betapa tulus air mukanya saat menatap bayi mungil yang terus membuka mulutnya itu. Merasa gemas ingin menggendong tapi takut karna bayi yang masih merah dan mungil.
"Ibu, bayinya coba di susui dulu ya. Sepertinya dia haus. Sekalian kita hangatkan dengan metode kangguru," ujar suster tersebut sambil membuka inkubator dan mengambil bayi merah tersebut sebelum di letakkan di dada Nisa yang sebelumnya sudah di buka.
"Ya Allah, lucunya kamu, Nak." Nisa menciumi pipi mungil bayi yang kini mulai meraba mencari ****** susu ibunya itu.
Adel mendekat dengan mata berbinar saat mendapati bayi mungil tampan itu tengah menyusu pada Nisa.
"Ya Allah, jadi kepengen." Adel menggumam pelan namun bisa di dengar oleh Nisa dan Zidan yang berada di dekatnya.
__ADS_1
Zidan dan Nisa saling pandang dengan perasaan tidak enak, namun bagaimana lagi? Apa yang bisa mereka lakukan agar Adel bisa hamil? Sedangkan rahimnya saja sudah tidak ada.
"Mbak nanti juga bisa ngerasain kok, nanti kita rawat bayi kita sama-sama ya. Seperti rencana awal," tukas Nisa tersenyum manis dan mengundang Adel untuk turut merasakan kebahagiaan di balik kemelut batinnya saat ini.