
Semua mata menuju ke arah sumber suara, namun yanga berani berlari untuk memeriksa ke sana hanya Adel dan Zidan. Bu Sekar dan Alan hanya berdiri dengan raut wajah khawatir.
"Astaghfirullah, Mama! Apa yang terjadi, Ma?" sentak Zidan saat melihat Nisa sudah terkapar kembali di lantai kamar mandi.
Tapi yang mengejutkan, bukan lagi darah yang mengambang di sekelilingnya, tapi air ketuban yang sudah pecah dan merembes di sela-sela kaki Nisa.
"Mama juga nggak tau, kan Mama nunggu di luar." Bu sita menjawab ketus dan tak berniat sama sekali untuk menolong Nisa.
Padahal saat ini dia tau kalau Nisa sedang mengandung calon cucu pertamanya yang sudah dia idamkan sejak lama.
"Bi, gimana Nisa?" cecar Adel cemas.
Bahkan hampir saja ikut masuk ke kamar mandi jika Zidan tak menahannya karna takut Adel terpeleset.
"M- Maassss ... sakit, Mas." Nisa mengerang lirih dengan mata setengah terpejam.
Zidan dengan sigap mengangkat tubuh Nisa, tak peduli baju yang di kenakannya ikut basah. Mereka langsung membawa Nisa ke mobil dan melaju menuju rumah sakit, Bu Sekar dan Alan juga Bu Sita tidak di izin kan ikut karena harus mengurusi para tamu yang masih belum selesai makan.
Adel memangku Nisa di kursi belakang, sedangkan Zidan mengemudikam mobilnya dengan kecepatan tinggi. Perasaan takut dan kalut menguasai sampai tidak berpikir apa yang menyebabkan Nisa sampai begini.
"Bi, jangan terlalu ngebut. Kasian pengendara lain nanti malah nabrak," ujar Adel memberi peringatan.
Zidan mengangguk dan perlahan memelankan laju mobilnya.
Lima belas menit kemudian sampailah mereka di sebuah rumah sakit ibu dan anak tempat Zidan membawa Nisa untuk pertama kalinya.
Dengan tergesa-gesa Zidan memanggil suster dan membawa tubuh lemah Nisa ke ruang IGD.
"Tunggu di sini ya, Pak Bu. Biar pasien kami periksa dulu." Suster tadi menutup pintu ruangan dan meninggalkan Adel dan Zidan di depan.
"Ya Allah, selamatkan anak hamba." Zidan bergumam lirih, berkali-kali dia menatap pintu ruangan berharap Nisa dan bayinya baik-baik saja di sana.
__ADS_1
Adel mendekati Zidan dan merangkulnya, segera Zidan membawa tubuh Adel ke dalam pelukannya dan menumpahkan semua tangis kesedihannya di sana.
"Bi, yang sabar. Kita doakan Nisa dan bayinya baik-baik saja ya. Mereka kuat, mereka pasti bisa laluin semua ini, yakin ya, Bi. Insyaallah mereka bisa selamat."
Zidan mengangguk setelahnya melerai pelukannya dari Adel dan mengajaknya untuk duduk di kursi tunggu.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka, seorang dokter berumur sekitar setengah abad keluar dari sana dengan wajah paniknya.
"Keluarga pasien?" tanyanya cepat.
Zidan dan Adel yang sejak tadi sudah tak sabar menunggu langsung berdiri dan menghampiri dokter tersebut.
"Kami keluarganya, Dok." sahut Adel cepat.
"Berapa usia kandungan pasien?" tanya dokter itu untuk memastikan.
Dokter itu manggut-manggut. "Air ketubannya sudah hampir habis, jalan satu-satunya untuk menyelamatkan ibu dan bayinya hanya dengan prosedur operasi sesar. Tapi sebelum itu kami membutuhkan persetujuan pihak keluarga terlebih dahulu, mengingat pasien tidak mempunyai kartu jaminan kesehatan dan biayanya yang tidak murah."
"Lakukan apapun untuk menyelamatkan mereka, dok!" sela Adel tak sabar.
Zidan mengangguk menyetujui saran istrinya, dan dokter itu langsung bergerak cepat. Setelah surat pernyataan persetujuan di tanda tangani operasi langsung di lakukan saat itu juga.
"Sayang, bayinya harus lahir sebelum waktunya. Apa nanti dia tidak akan apa-apa?" bisik Zidan pelan.
Raut khawatir sangat kentara di wajah pria tiga puluh dua tahun itu, dan entah kenapa Adel merasa kalau suaminya sudah mulai bisa membuka hatinya untuk Nisa.
"Insyaallah tidak apa-apa, Bi. Nanti kita minta petunjuk dokter untuk merawat bayi yang lahir kurang bulan. Abi yang tenang ya, kita berdoa untuk keselamatan Nisa dan bayi kita," ucap Adel membesarkan hati Zidan.
Zidan menolehkan kepalanya menatap wajah ayu sang istri yang perlahan mulai kembali mendapatkan kecantikan masa gadisnya itu. Mata yang begitu teduh dan tulus, yang selalu mampu membuat Zidan jatuh cinta berkali-kali padanya. Dan kini keluasan hati Adel membuatnya semakin merasa bersyukur bisa memilikinya.
__ADS_1
"Terima kasih sudah selalu bertahan sampai sejauh ini, Sayang. Semoga harapan kita bisa terkabul setelah ini. Semoga anak yang akan lahir ini akan membawa kebahagiaan bagi kita semua, dan harapan kamu untuk bisa dekat sama Mama juga bisa terlaksana." Zidan menggaung doanya berharap bisa menembus langit dan di ijabah oleh sang maha pencipta.
Adel mengangguk dan menjatuhkan kepalanya ke dada bidang suaminya, yang sejak dulu selalu menjadi tempat favoritnya untuk melepas semua beban di dada. Hingga tanpa sadar, Adel pun tertidur di dekapan suaminya yang hingga kini pun masih sangat di cintainya itu.
Entah berapa lama Adel tertidur, tiba-tiba dia merasa seperti berada di suatu tempat yang sangat gelap. Dengan pohon-pohon besar di sisi kiri dan kanannya. Adel ingin berteriak memanggil Zidan, ibunya dan bapaknya. Namun suaranya seperti hilang tak bisa keluar. Jadi Adel perlahan berjalan di jalanan gelap itu sampai melihat setitik cahaya.
Berlari Adel menuju cahaya itu, dan mendapati sebuah pondok kecil di sana. Yang hanya di terangi lampu teplok di sisi pintunya. Lampu itulah yang tadi di lihat Adel dari kejauhan.
"Bagaimana, Mbah? Apa tumbal saya di terima?" sebuah suara terdengar berasal dari dalam pondok itu.
Perlahan Adel mendekat karna nalurinya mengatakan untuk mendengarkan percakapan itu.
"Heheheheh." suara tawa nyaring terdengar keluar dari pondok itu juga, dari nadanya sepertinya suara seorang nenek tua. Adel merinding namun tetap melanjutkan langkah hingga sampai di bawah jendela pondok yang sedikit terbuka hingga dia bisa mengintip ke dalamnya.
"Tentu saja di terima, kau memberikan tumbal darah yang sangat di sukai junjunganku. Lihat saja setelah ini semua kekayaan itu akan menghampirimu." sahut suara nenek tadi kembali menjawab setelah menghabiskan tawa panjangnya.
Adel mengintip dari jendela yang terbuka sedikit, dan matanya membulat dan melihat orang yang ada di dalam sana. Suasana di dalam sangat remang hanya diterangi beberapa lampu teplok seperti yang ada di luar, seorang nenek yang berpakaian serba hitam dan tampaknya sudah sangat lama tidak di ganti dan seorang perempuan paruh baya yang duduk bersila di depan nenek tua itu.
"Setelah ini, saya akan memberikan lagi tumbal yang lebih memuaskan, Mbah. Agar saya bisa semakin kaya, hahahhaha." tawa perempuan itu menggema berbarengan dengan tawa nenek tua itu yang tiba-tiba menoleh ke arah Adel. Matanya yang tajam dan bolong sebelah itu menatap tepat ke bola mata Adel, membuatnya tersentak dan jatuh bergulingan ke bawah rumah yang berada di atas bukit itu.
"Aaaaaaahhhhh!" teriak Adel saat merasa tubuhnya melayang di udara. Dan tak lama terasa sebuah tangan kekar menepuk lembut pipinya.
"Mi, Umi ... Sayang, ayo bangun, Sayang. Kamu mimpi apa?" tanya Zidan saat melihat Adel yang baru saja terbangun setelah berteriak keras dalam tidurnya.
"Bi ... tadi Umi ...."
Belum sempat Adel menceritakan mimpinya pada Zidan, sayup terdengar suara tangisan bayi dari dalam rumah operasi.
"Ooeeekkkk .... Ooeeekkkk!"
"Alhamdulillah," seru Zidan sembari langsung beranjak dari duduknya dan berdiri di depan pintu ruang operasi.
__ADS_1
Adel menatapnya terpana, entah mengapa kini dia mulai merasa di tinggalkan begitu saja.