
Sesuai rencana, Adel dan keluarga akan pulang kampung hari ini. Sudah berlalu beberapa hari sejak Adel keluar rumah sakit dan kini kondisinya sangat baik.
Ting
Tong
Alice datang bersama Nek Hindun, mereka sangat bersemangat akan ikut Adel pulang kampung. Sebagai keluarga baru tentunya mereka tidak sabar untuk bisa melihat seperti apa kampung halaman Adel.
"Eh, Al. Udah sampe," ucap Adel yang sudah mulai bisa berjalan tanpa harus duduk di kursi roda lain.
Alice memeluk Adel sejenak sebelum akhirnya bergantian dengan Nek Hindun.
"Apa kabar, Nek?" sapa Adel ramah.
"Nenek baik, kamu sendiri gimana? Udah enakan?" jawab Nek Hindun pula.
Adel memutar tubuhnya dengan anggun, sampai gamis yang di pakainya ikut terkibar.
"Bagaimana? apa ini sudah cukup sehat, Nek?" kelakar Adel.
Nek Hindun terkekeh dan mengangguk percaya.
"Nenek nggak usah khawatir, Mbak Adel di jamin seratus persen sudah sehat, Nek. Jadi pastinya nanti di perjalanan nggak akan ada drama pingsan lagi deh," celetuk Alice.
Mereka tertawa bersama, setelahnya di susul Pak Hanif dan Bu Hanif yang keluar sembari menenteng barang bawaan mereka dengan di bantu Zidan dan Nisa.
"Oh, sudah dateng, Al. Nenek apa kabar?" sapa Bu Hanif sambil menyalami Nek Hindun di ikuti Pak Hanif, di lanjutkan dengan peluk manja pada Alice.
"Sudah siap berangkat? Apa Nenek sama Dek Al mau sarapan dulu?" tawar Adel.
"Iya, Nek, Alice. Yuk sarapan dulu, tadi Nisa sama Mbak Adel udah masak nasi goreng seafood," timpal Nisa pula.
Tapi sayangnya Alice dan Nek Hindun kompak menggeleng. "yah, sayang banget, Nis. Tadi Al sama Nenek udah sarapan di rumah. Abisnya nggak sabar mau berangkat sih."
"Iya, maaf ya. Jadi nggak bisa nyicipin masakan kalian," imbuh Nek Hindun dengan senyum di bibirnya.
"Di bungkusin aja, Nis. Buat bekel makan di jalan," cetus Bu Hanif.
__ADS_1
Adel mengangguk menyetujui, begitupun Alice dan Nek Hindun.
"Ya udah, Nisa ambil dulu ke dalem ya." Nisa berlalu masuk untuk memasukkan nasi goreng yang tadi mereka buat ke dalam beberapa kotak makan.
"Bungkusinnya agak banyakan, Nis. Mbak masih laper!" seru Adel dari balik pintu.
"Adel serius minta bungkusin lagi? bukannya tadi udah sarapan dua piring?" sela Bu Hanif dengan mata membulat.
Adel mengangguk senang, matanya tampak berbinar membuat semua yang melihatnya turut lega.
"Udah, Bu. Biarin aja, Adel mungkin lagi perbaikan gizi," celetuk Pak Hanif mengundang tawa mereka semua.
Setelah semua siap, Pak Hanif mulai menyiapkan mobil yang akan mereka bawa ke kampung. Semua sibuk menyusun barang di mobil agar bisa muat dan nyaman untuk mereka.
Adel tak di izinkan membantu karena di khawatirkan akan kelelahan dan kembali sakit, jadi Adel memilih duduk menunggu di teras rumah.
"Umi, kenapa Abi sama Nisa nggak boleh ikut sih?" protes Zidan pada Adel, karna Adel tidak mengizinkan dirinya dan Nisa untuk ikut serta pulang ke kampung.
Adel terkekeh sambil mengelus rambut suaminya yang berbaring di pangkuannya itu.
Zidan bergeming, dia sebenarnya tidak keberatan tinggal bersama Nisa, toh mereka sudah sah. Namun dia sanksi akan bisa tahan dari rindunyaa pada Adel jika beberapa hari saja tak berjumpa.
"Tapi nanti Abi kan kangen, Sayang."
Adel menepuk pelan pipi Zidan. "Jangan kaya bocil ABG, nggak cocok."
Adel beranjak dari tempat duduknya karna ingin mengambil minuman untuk dia bawa dalam perjalanan.
Zidan membuntutinya dengan wajah di tekuk.
"Orang serius malah di bilang kaya bocil ABG," gerutu Zidan.
Adel mengambil beberapa kaleng minuman bergambar beruang yang di juluki air susu naga dari dalam kulkas, dan memasukkannya ke balik jilbab lebarnya agarĀ tangannya tidak kedinginan.
"Udah nggak usah bawel, lagi pula cuma satu Minggu kok. Nggak lama, Sayang." Adel membelai lembut pipi Zidan yang mulai di tumbuhi cambang tipis karna tak sempat bercukur.
Zidan mencebik. "Huh, ya udah lah. Tapi janji ya satu minggu aja, kalo Bapak mempengaruhi supaya tinggal di sana aja jangan mau ya."
__ADS_1
"Bapak nggak curang kayak kamu ya, Zidan." Pak Hanif yang kebetulan masuk untuk mengambil kasur angin mobil rupanya mendengar ucapan Zidan dan sengaja menyahut.
Adel tergelak melihat kedua mertua dan menantu itu yang beberapa hari ini terlihat saling mengejek terus.
Nisa berjalan mendekati Adel dan Zidan sambil membawa sebuah jaket bulu dan sebotol minyak angin lavender kesukaan Adel, juga beberapa makanan ringan dan cemilan yang sudah di masukkan jadi di sebuah kantong .
"Mbak, ini jaket sama cemilannya. Obat Mbak untuk seminggu ke depan juga udah Nisa masukin ya," ujar Nisa sambil menyerahkan semua barang itu ke tangan Adel.
Tapi Zidan dengan sigap langsung mengambil semua barang itu dan membawanya.
"Biar Abi bawain, ini berat."
Adel dan Nisa saling pandang dan tersenyum, namun sekilas tampak kalau senyuman Nisa terlihat getir.
Zidan berjalan mendahului mereka berdua, dan memasukkan barang bawaan tadi ke dalam mobil. Di dekat tempat yang sudah di sediakan untuk Adel, tampak sangat nyaman dan selesa.
"Bu, titip Adel ya. Jangan sape di culik loh, Bu. Jangan sampai Bapak pengaruhi Adel ya, Bu. Pokoknya kalau satu minggu Adel belum pulang Zidan susulin ke kampung." Zidan meminta pada Bu Hanif yang tengah menepuk bantal bulu yang akan di gunakan Adel.
Bu Hanif tertawa. "Iya iya, Zidan. Wes kamu tenang aja. Baik baik di rumah sama Nisa, jangan lupa anter dia ketemu ibunya buat baikan."
"Iya, Bang. Jangan nanti di tinggal malah angkrem aja di rumah haha." Alice tertawa, namun lekas di senggol oleh Nek Hindun yang merasa ucapannya terlalu terbuka.
Zidan mengangguk dan berterima kasih pada Bu Hanif yang sudah mengingatkannya. Padahal dia hampir aja lupa akan kabar Bu Sekar yang beberapa hari lalu di mintanya untuk di antar ke apartemen.
Kini semua sudah siap, Adel juga sudah masuk ke mobil dan melambai dengan manis pada Zidan dan Nisa yang berdiri berjauhan di teras rumah.
"Sayang jangan lupa kabarin kalo sudah sampai ya, jangan kecapekan. Kalo ngantuk tidur aja, Bapak semalam udah minum obat kuat kok. Insyaallah kuat itu nyupir non stop sampe kampung," seru Zidan sempat-sempatnya menggoda mertuanya.
Pak Hanif menepuk dada bangga. "Wo ya iya, buat anak bapak tercinta Bapak akan selalu siaga. Nggak kayak itu tuh, yang taunya ngambek terus ngadu sama istri mudanya."
Mereka tertawa keras mendengar sindiran mertua dan menantu yang sepertinya akan sulit kembali akur itu.
Pak Hanif mulai menjalankan mobil dan berjalan pelan menuju gerbang yang sudah terbuka.
Tiba-tiba Adel mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil dan berteriak pada Zidan dan Nisa.
"Abi, Nisa! kalau nanti aku pulang, buatin Adel junior ya! Kalo nggak aku nggak pulang!"
__ADS_1