
(Season 2 : Anak untuk istri suamiku)
Hari berganti minggu, Minggu pun berganti bulan. Kini sudah genap tujuh bulan usia baby Zafran, semakin banyak pula tingkah menggemaskannya yang membuat orang orang di sekitarnya menjadi gemas.
"Um, Bapak sama ibu jadi datang dari kampung?" tanya Zidan pada Adel yang tengah asik menyuapi Zafran dengan potongan buah naga merah.
Bayi itu tertawa senang dengan wajah penuh bercak merah buah naga.
"Iya, Bi. Sudah berangkat dari pagi tadi, sepertinya sebentar lagi sampai." Adel menyahut sambil menoleh Zidan sekilas dan kembali melanjutkan kegiatannya menyuapi Zafran.
"Ya sudah, kalo gitu Abi keluar dulu ya. Mau beli cemilan buat Bapaak dan ibu nanti, kebetulan bahan di dapur juga pada habis, mau sekalian belanja. Umi ada yang mau di titip?" Zidan membenahi pakaiannya di depan cermin kecil penghias dinding ruang keluarga yang ada di hadapannya.
"Umi mau .... emmmm, minuman yang lagi rame itu aja deh, Bi. Yang logonya manusia salju," jawab Adel.
Zidan mengangguk. "Oke, ada lagi?"
"Udah itu aja, sama jangan lupa beliin buah buat cemilannya Zafran ya."
"Siap, ratuku." Zidan mengacungkan jempolnya dan berlalu keluar setelah mengucapkan salam.
Adel kembali' sibuk menyuapi Zafran, sambil sesekali mengajak bayi itu bercandaan.
Tak lama tampak Nisa berjalan mendekat ke arah mereka dengan langkah gontai.
"Mbak, Zafran belum ngantuk?" tanyanya.
Adel menoleh dan tersenyum. "Belum kayaknya, Nis. Ini masih semangat makan buah naganya, iya kan Zafran sayang?" Adel mengalihkan pandangannya ke arah Zafran yang kembali terasa senang sambil berusaha meraih buah naga dari tangan Adel.
Nisa mendesah lirih, wajahnya tampak menyiratkan kekecewaan walau tak terlalu kentara.
"Kenapa, Nis?" tanya Adel penasaran, sebab selama ini yang dia tau Nisa bukanlah tipe perempuan yang hobi menonjolkan perasaannya seperti itu kecuali sudah terlalu terasa berat di hatinya.
Nisa tersenyum kecut. "Nggak, Mbak. Nisa ... cuma kangen tidur bareng sama Zafran, beberapa hari belakangan ini kayaknya dia lengket banget sama Mbak."
Adel terperangah, hatinya mencelos seakan tengah di salahkan. Walaupun memang dia begitu menikmati kebersamaannya dengan Zafran beberapa waktu kebelakang ini, hingga tak menyadari kalau ada ibu lain yang juga merindukan anaknya.
"Apa ... kamu mau ambil Zafran?" cicitnya lemah.
__ADS_1
Nisa mengangguk. "Kalau boleh, Nisa kangen sekali Mbak sama Zafran. Nanti kalau dia sudah bangun Nisa bakalan kasih tahu Mbak kok."
Adel menatap sedih pada bayi Zafran yang kini memang mulai tampak mengusap matanya sambil sedikit merengek. Biasanya jika sudah begitu maka Adel akan membuatkan Asi yang ada di freezer untuk di beri pada Zafran setelah di hangatkan. Dan setelah itu seharian Zafran akan tertidur pulas di sampingnya, dan itu benar-benar membuat Adel merasa sangat bahagia.
"Mbak, gimana? Apa boleh?" Nisa bertanya lagi karena Adel tak kunjung menjawab.
Adel terhenyak dan langsung mengusap sudut matanya yang berair, ah rasanya dia terlalu baper padahal Nisa hanya ingin tidur dengan bayinya seperti biasa dan tidak ingin membawa Zafran jauh darinya.
"Ah, iya tentu saja boleh dong, kan Zafran ini anak kamu, Nis. Masa Mbak mau ngelarang sih?"
Adel mengambil Zafran dari kursi rodanya (baby Walker), dan memberikannya pada Nisa. Mata Nisa tampak berbinar senang saat menerima Zafran di gendongannya.
Bayinya merengek dan mengarahkan wajahnya ke dada Nisa, sepertinya dia memanh rindu menyusu padanya ibunya.
"Nisa ajak Zafran ke kamar ya, Mbak. Nanti kalo pakde sama bude sudah datang panggil aja Nisa di kamar," tukss Nisa lembut.
Adel mengangguk sambil tersenyum getir. "Iya, tenang aja."
****
Sudah setengah jam lamanya sejak Nisa meminta Zafran untuk di bawa ke kamarnya, tapi rasanya Adel begitu tak sabar untuk bisa kembali bersama bayi itu. Padahal dia tau kalau Nisa juga punya hak atas Zafran.
"Assalamu'alaikum," sapa seseorang yang suaranya terdengar begitu familiar di telinga Adel.
Adel berbalik dan matanya langsung berbinar senang melihat siapa yang ada di ambang pintu rumahnya.
"Wa'alaikumsalam, Ibu! Bapak!" Adel menghambur memeluk Bu Hanif dan Pak Hanif.
Ketiga berpelukan hangat menumpahkan semua kerinduan setelah berbulan bulan lamanya tak bertemu.
" Gimana kabar kamu, nduk?" tanya Bu Hanif sambil mengelus rambut Adel.
Adel melerai pelukannya, matanya tanpa basah dengan senyum menghiasi bibirnya.
" Alhamdulillah, Adel sehat Bu. Ibu sama Bapak gimana?" Adel balik bertanya.
"Alhamdulillah, bapak dan ibu juga sehat sehat saja, Nduk. Dimana anakmu?" tanya Pak Hanif sambil melangkah masuk ke dalam rumah untuk meletakkan oleh oleh bawaannya untuk anak dan cucunya di atas meja.
__ADS_1
"Zafran lagi tidur sama Nisa, Pak. Di tunggu aja, nanti kalo bangun juga di bawa keluar kok," sahut Adel sambil duduk di sisi bapaknya.
"Gimana kondisi rumah tangga kalian, Nduk?" tanya Bu Hanif dengan suara pelan. Bahkan tubuhnya dan condongkan agar bisa lebih dekat ke arah Adel.
Adel tersentak mendengar pertanyaan ibunya, begitu pula Pak Hanif yang langsung menyenggol lengan istrinya itu.
"Ibu nanya apaan sih?" sentaknya.
Bu Hanif hanya cengar cengir sendiri, sambil mengusap tengkuknya yang terasa gatal.
"Eh, ibu cuma mau tau aja sih, Pak. Soalnya ibu penasaran gimana rasanya berbagi suami."
" Ibu mau coba? Biar bapak nikah lagi juga kalo gitu?"
Pletakkkk
Bu hanif melayangkan jitakannya ke kepala Pak hanif, dengan mata menyorot tajam.
"Auhh, bercanda loh ibu e." pak Hanif tampak mengusap jidatnya yang terasa benjol.
"Bercanda mu nggak lucu, Kalo ngomong begitu sekali lagi tak pulangin kamu ke rumah orang tua mu!" ancam Bu Hanif menunjuk ke sembarang arah dengan mata melotot.
"Iya iya, maaf." Pak Hanif menunduk dan menghindari meneruskan keributan dengan Bu Hanif yang selalunya tak pernah mau mengalah itu.
Adel tergelak melihat pertengkaran ibu dan Bapaknya yang malah lebih mirip ngebanyol ketimbang ribut.
"Aduh, Pak Bu. Udah dong ributnya, sakit perut Adel ketawa ini." Adel sampai menutup mulutnya agar tak keterusan tertawa hingga bengek lagi.
Tak lama tampak Nisa menuruni tangga dengan wajah sayu seperti baru bangun tidur.
"Eh, itu Nisa udah bangun. Mana Zafran, Nis? Bawa ke sini dong bude pengen gendong. Masa dari sejak baru lahir belum pernah gendong.". Bu Hanif berkata pada Nisa.
Nisa menoleh dan tersenyum. "Zafrannya masih tidur, bude. Nanti kalo sudah bangun Nisa bawa ke sini ya, Nisa mau makan dulu sebentar ke dapur. Bude sama pakde apa mau ikut makan?"
Bu Hanif mendesah berat. "Yah, nggak deh. Bude ke sini ini pengen gendong cucu bude kok bukan mau minta makan. Jadi nanti aja makannya habis gendong Zafran, kamu makan aja nggak papa, Nis. Makan yang banyak biar asinya banyak."
Nisa hanya tersenyum kecut sambil berlalu meninggalkan mereka.
__ADS_1