ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 40.


__ADS_3

 Beberapa hari sudah terlewati sejak kepergian Adel ke kampungnya, tapi selama itu juga Zidan masih tampak canggung hanya berdua saja dengan Nisa di rumah itu walau ada banyak pembantu yang berseliweran.


"Kamu mau kemana, Mas?" tanya Nisa saat melihat Zidan tengah bersiap di kamarnya, ya kamarnya dan juga Adel.


"Ah, mau ke pabrik. Ada yang harus di urus, sahut Zidan sambil mengambil ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku.


 Zidan melangkah keluar kamar, namun saat hendak melewati Nisa yang berdiri di depan pintu dia berhenti.


"Ada apa?" tanyanya saat tanpa sengaja melihat embun di mata istri mudanya itu.


"Sejak Mbak Adel pergi, kamu selalu pergi dari rumah, Mas. Entah itu ke pabrik, ke toko atau ke rumah ibu kamu. Tapi nggak sekalipun kamu diam di rumah sama aku, Mas. Atau setidaknya ajak aku kemana kamu pergi, aku kesepian, Mas."


 Zidan mendesah, memang dia beberapa hari ini menjaga jarak dari Nisa. Bukan karna sengaja tapi hanya takut kejadian kemarin terulang kembali dan lagi-lagi membuatnya tidak bisa tenang.


"Maaf, Nis. Tapi ya beginilah pekerjaan Mas. Mas harap kamu mau mengerti ya." Zidan berucap lembut sambil mengelus pipi Nisa.


 Tapi mendung di wajah Nisa tak kunjung pergi membuat Zidan semakin merasa bersalah. Tapi kemudian satu ide brilian muncul di benaknya.


"Kalau kamu bosan, gimana kalau Mas antar kamu ke apartemen? Kan di sana ada ibu."


 Nisa mendongak, secercah harapan tampak di sinar matanya.


"Iya iya mau, Mas." Nisa mengangguk cepat.


"Ya sudah, cepat bersiap ya. Mas tunggu di mobil," tukas Zidan sambil berlalu meninggalkan Nisa.


 Setelah bersiap dengan baju baru yang di belikan Adel beberapa waktu lalu, Nisa menuruni tangga dengan tak sabar.


 Tampak Zidan sudah menunggu di balik kemudi mobil sambil mengecek ponselnya.


"Ayo, Mas." Nisa masuk dan menutup kembali pintu mobil.


"Ah, iya. Bismillahirrahmanirrahim," ujar Zidan melafalkan doa hendak bepergian dan mulai menjalan mobilnya perlahan.


 Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan raya kota J yang tampak padat merayap. Cuaca teriak sama sekali tidak menyurutkan langkah mereka.


"Mas, panas banget. Nisa mau itu deh, tunjuk Nisa pada sebuah gerai yang menjual minuman Boba.

__ADS_1


 Sudah sejak lama sebenarnya Nisa begitu mendamba bisa meminumnya saat pertama kali melihat iklannya di tv tetangga, saat dia dan ibunya masih miskin dan tinggal di kampung.


"Ok." Zidan tak banyak bertanya dan langsung mengehentikan mobilnya di parkiran gerai tersebut.


"Kamu bisa beli sendiri?" tanya Zidan.


 Nisa menggeleng. "Nisa belum ngerti cara beli di tempat begini, Mas. Bisa Mas ajarin dulu?"


 Zidan mengangguk dan mereka akhirnya turun bersama untuk membeli Boba yang di inginkan Nisa.


 Mata Nisa berbinar melihat minuman yang sudah lama di indamkannya kini terpampang nyata di depan mata.


"Mas, beli dua boleh?" tanya Nisa penuh harap.


 Zidan mengangguk. "Pilih aja yang manapun kamu suka, biasanya Adel juga selalu ambil aja kok yang mana dia suka. Dan sekarang kamu juga punya hak itu."


 Mata Nisa semakin berbinar, karna sedang tak ada yang antri jadi dia bisa bebas memilih.


"Eh, tapi ... memangnya nggak papa, Mas? Ini ... harganya kan lumayan?" tanya Nisa ragu.


"Nggak papa, belikan buat ibu dan Alan sekalian. Insyaallah rejeki Mas malah akan lancar kalau istri-istri Mas senang."


 Nisa berjingkrak riang sampai karyawan di gerai itu geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.


 Nisa menunjuk beberapa menu yang sejak tadi begitu menggiurkan di matanya, dan tak butuh waktu lama akhirnya pesanannya pun siap. Zidan menyodorkan kartu debitnya untuk membayar dan setelahnya mereka keluar dari sana, tapi lagi lagi Nisa kembali melihat makanan yang sudah lama di idamkan ya pula.


"Mas ...."


 Nisa ingin meminta pada Zidan tapi dia ragu mengingat tadi sudah menghabiskan uang Zidan lebih dari seratus ribu yang baginya itu adalah nominal yang besar.


"Ada apa?" tanya Zidan sambil berbalik.


 Nisa diam di tempat namun matanya sesekali melirik sebuah resto ayam cepat saji di sisi kiri mereka.


"Kamu mau itu?" tanya Zidan tanggap.


 Dengan ragu Nisa mengangguk dan pada akhirnya Zidan kembali membelikan apa yang di inginkan istrinya itu.

__ADS_1


"Makasih banyak ya, Mas." Nisa tertawa riang sambil memeluk semua makanan dan minuman yang begitu dia idamkan kini ada di dekapannya.


 Zidan mengangguk dan turut senang melihat wajah bahagia Nisa hanya karna beberapa makanan dan minuman yang sebenernya harganya tidak mahal bagi Zidan.


 Kembali mereka melanjutkan perjalanan menuju ke tempat Bu Sekar dan Alan berada. Beberapa hari yang lalu Nisa memang sempat menelpon Alan untuk tau kondisi mereka dan rupanya mereka baik-baik saja, Zidan juga memberikan uang untuk mereka makan dan membeli kebutuhan yang di titipkannya pada anak buahnya yang menemukan Bu Sekar.


 Sesampainya di sana, Nisa lekas mengetuk pintu sedangkan Zidan menerima telpon terlebih dahulu.


Tok


Tok


Tok


"Assalamu'alaikum, Bu! Ibu! Ini Nisa, Bu!" seru Nisa di depan pintu, sepertinya dia lupa kalau apartemen itu kedap suara dan jika ingin bertamu harus menekan bel.


 Oleh sebab itu pula lah, berkali-kali Nisa berteriak memanggil ibunya tak ada sahutan sama sekali dari dalam. Pasrah, akhirnya Nisa memilih menunggu Zidan hingga selesai menelpon.


"Loh, kok masih di sini?" tanya Zidan heran.


"Ibu nggak jawab, Mas. Apa lagi keluar ya?" sahut Nisa sambil meminum satu bobanya.


Terasa begitu segar sampai dia lupa kalau sedang kesal karna tak kunjung di bukakan pintu.


  Dahi Zidan berkerut dalam lalu setelahnya dia mencoba menekan bel pintu, dan tak butuh waktu lama pintu terbuka di susul dengan wajah Bu Sekar di sana.


"Zidan? Nisa?" ujar Bu Sekar dengan mata berbinar senang, dia membuka pintu lebih lebar dan tampaklah oleh Zidan dan Nisa penampilan Bu Sekar yang tak ubahnya seorang pembantu rumah tangga.


"Loh, ibu kok penampilannya gini? bukannya saya sudah kasih uang yang cukup buat kalian beli makanan dan pakaian ya?" cecar Zidan keheranan.


 Tidak kan uang dua puluh kita yang dia titipkan di anak buahnya itu tidak cukup jika hanya untuk membeli beberapa buah baju dan untuk makan mereka beberapa hari ke depan sampai Zidan memberi lagi. Kalau di korupsi anak buahnya, rasanya tak mungkin karna sepanjang mereka bekerja dengan Zidan tak sekalipun mereka berkhianat.


"Bu, jawab Bu. Kenapa ibu malah jadi kayak gini?" cecar Nisa pula saat melihat tangan ibunya yang tampak memerah dan gemetar, serta tampak banyak plaster di tangannya.


 Bu Sekar gemetar, dia hendak menjawab namun seperti takut akan sesuatu. Untunglah saat itu juga tampak Alan berjalan di belakangnya sambil membawa ember dan kain pel. Melihat ada Nisa dan Zidan di depan sana gegas dia berlari menghampiri.


"Kak, Mas! Syukurlah kalian datang, tolong bantu kami pergi dari sini."

__ADS_1


__ADS_2