ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 61.


__ADS_3

Menanggapi kecurigaan Adel sebelumnya, kini Zidan sudah membawa seorang ustadz yang cukup di kenal di lingkungan mereka. Bersama Alan pula mereka mulai menelusuri gudang yang di curigai Adel sering tercium aroma parfum Nisa di sana. Tentu saja Adel hafal aroma parfum itu karna itu adalah pemberian darinya.


"Bagaimana, ustadz?" tanya Zidan setelah mereka mengelilingi ruangan gudang yang tertata rapi namun penuh debu itu.


 Ustadz Yusuf menoleh wajahnya tidak menampakkan sesuatu yang menenangkan, dan bisa di katakan wajahnya sangat tegang sekarang.


"Ini berat, Bang Zidan. Sepertinya saya sendiri tidak akan sanggup."


 Zidan terhenyak. "A- apa maksud ustadz?"


 Ustadz Yusuf menggeleng lemah. "Sepertinya istri Abang memang sengaja di serahkan untuk menjadi pemuas nafsu iblis yang di puja seseorang."


Degh


 Zidan terhuyung mundur, kenyataan yang baru saja di terimanya membuatnya tak sanggup lagi menahan berat tubuhnya.


 Alan dengan sigap menahan tubuh kakak iparnya dan perlahan membimbing Zidan untuk duduk di kursi plastik yang ada di sana.


"Bagaimana ... bagaimana mungkin, ustadz?" Zidan masih menekan dadanya yang terasa sakit dan mengatur deru nafas yang tampak memburu.


 Ustadz Yusuf kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian gudang.


"Sepertinya, karna pemuja tidak bisa menyediakan tumbal, maka makhluk yang di pujanya meminta balasan lain untuk apa yang sudah dia berikan pada di pemuja."


Degh


 Lagi, Zidan terkesiap. Dia ingat saat di mana Bu Sita hendak menumbalkan anaknya dan dia gagalkan. Saat itu dia sudah tak peduli lagi bagaimana nasib ibunya itu. Namun siapa sangka kini kenyataan yang ada malah seakan menunjukkan kalau sebenarnya ....


"Lalu bagaimana nasib kakak saya, ustadz?" Alan memberanikan diri bertanya.


 Ustadz Yusuf mendesah berat. " Insyaallah, saya akan usahakan untuk melihat dimana gerangan istri Abang Zidan di sembunyikan selama ini. Hanya saja mungkin butuh waktu, karena saya harus meminta bantuan teman saya di kota sebelah lebih dahulu."


 Zidan mengangguk pasrah. "Kira-kira, berapa lama ustadz?"


"Mungkin saja, bisa memakan waktu hingga tujuh hari. Terhitung untuk pulang pergi dan melakukan segala persiapannya."


****


Ke esokan harinya.


"Nisa ... Nisa ... kenapa kamu di sana, Nak? Ayo turun, ibu kangen."

__ADS_1


 Bu Sekar kembali menjerit-jerit di atas balkon kamar Nisa, matanya tak lepas memandang ke atas dimana sebuah pohon kapuk menjulang tinggi dari pekarangan tetangga sebelah rumah Adel.


 Pohon itu tingginya hampir menyamai rumah Adel yang dua lantai, namun daunnya sudah rontok dan pohonnya pun gundul. Adel pernah bertanya kenapa mereka tidak menebangnya jawabannya karena takut di ganggu oleh penunggu pohon kapuknya.


 Awalnya Adel tidak percaya, namun setiap hari melihat bu Sekar berteriak sambil menatap pohon itu sepertinya Adel mau tak mau harus mulai memeriksa ada apa di pohon itu.


"Nisa ... ayo pulang, Nisa. Lihat anak kamu sudah besar ,memangnya kamu nggak kangen anak kamu? Ayo turun ... kita pulang, kita bawa anak kamu juga pulang, di sini nggak nyaman banyak orang Munaf*k."


 Bu Sekar kembali bersuara, tampaknya dia tau kalau ada Adel di belakangnya jadi dia sengaja berucap sekerasnya saat menghina Adel.


"Bu, ayo makan dulu." Adel mendekat sambil membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya.


 Bu Sekar pura-pura tak mendengar, dia malah semakin asik berteriak seperti orang gangguan jiwa sungguhan.


"Bu, ibu lagi lihat apa di sini?" tanya Adel lagi.


 Bu Sekar menghentikan teriakannya dan berpaling menatap adel datar.


"Nisa." Bu Sekar menjawab lirih.


 Adel terkejut bukan main, padahal yang dia lihat di sana hanya sebuah pohon kapuk yang mulai kering, bagaimana bisa Bu Sekar mengatakan ada Nisa di sana.


"Siapa yang bertingkah? Aku hanya menyampaikan apa yang aku lihat, nyatanya Nisa ada di sana dan tidak bisa turun. Kalian saja yang tidak peduli dan pura-pura tidak melihatnya."


"Astaghfirullah," gumam adel pelan.


 Menyahuti Bu Sekar saat ini hanya akan menambah rumit masalah saja, maka Adel berinisiatif menbawa Bu Sekar masuk dan mengunci pintu menuju balkon.


"Kenapa di kunci? Nanti Nisa nggak bisa masuk," oceh Bu Sekar marah, tangannya bergerak ingin meraih anak kunci dari tangan Adel.


 Namun dengan cepat Adel berkelit, dan menyembunyikan anak kunci itu di belakang tubuhnya.


"Ibu sekarang duduk di sana, dan habiskan makanannya. Adel mau nidurin Zafran dulu, jadi ibu jangan berisik ya."


 Bu Sekar terpaksa menurut, selain karna sudah terlalu lapar dia juga sudah lelah berteriak sepanjang hari. Namun hatinya masih yakin kalau apa yang di lihatnya itu memang Nisa.


"Zafran sayang, minum susu dulu ya," ucap Nisa pada bayi mungil yang kini tengah mengerjapkan matanya itu.


 Mata bulat bening yang sangat mirip dengan mata milik Zidan.


"Semoga sebentar lagi Mamanya Zafran ketemu ya, sayang. Supaya kamu bisa nyusu secara langsung, nggak minum susu sapi terus begini hihi. Nanti kalo kamu jadi anaknya sapi gimana?" seloroh Adel mengajak bayi itu bercanda.

__ADS_1


 Seolah mengerti Zafran mengangkat sebelah tangannya seakan ingin memegang Adel. Adel memegang tangan mungil Zafran dan membawanya ke pipinya.


"Kenapa, Sayang? Kamu pasti kangen banget ya sama Mama? Sama, Nak Umi juga kangen banget sama Mama kamu."


 Mata Adel berkaca-kaca, embun yang sejak tadi berusaha di tahannya kini mulai berkumpul di ujung netranya.


"Muka Zafran mirip sekali sama Mama Nisa, kalau nanti Mama Nisa ketemu pasti dia seneng banget bisa ketemu Zafran. Nanti kita bisa main bareng, Zafran pasti seneng banget ketemu Mama Zafran lagi," imbuh Adel mengecup lembut kepala bayi yang sudah menghabiskan sebotol susunya tersebut.


 Mata bayi Zafran mulai terkatup,


 perlahan Adel menepuk pahanya dan menyanyikan sholawat pengantar tidur.


"Adel, makannya sudah habis." Bu Sekar kembali bersuara sambil berdiri memindai Adel yang tengah terbaring di atas kasur sambil menepuk paha Zafran yang terlelap.


 Bu Sekar diam, jika melihat cucunya tidur dia sama sekali tak pernah membuat keributan. Kecuali malam kemarin tentunya.


 Perlahan Adel bangkit dari posisi berbaringnya dan berjalan mendekati Bu Sekar dengan langkah kaki yang di pelankan.


"Adel bawa piringnya ke dapur dulu, ibu tolong awasin Zafran ya. Jangan sampai di gigit nyamuk ya, Bu."


 Bu Sekar mengangguk paham, jika bersangkutan dengan cucunya Bu Sekar akan bersikap biasa. Tak bar-bar seperti saat dirinya mulai berhalusinasi tentang Nisa.


 Cukup lama Adel meninggalkan Zafran dalam pengawasan Bu Sekar karena perutnya tiba-tiba melilit, dan harus bolak balik ke kamar mandi hingga semua isi perutnya seolah terkuras habis.


 Saat untuk yang ke lima kalinya keluar dari kamar mandi, tanpa sengaja Adel mendengar suara tangisan Zafran yang sangat kencang.


"Ya Allah, Zafran!".


 Dengan perasaan tak menentu Adel bergegas menuju kamar dimana Zafran berada, kamar Nisa yang berada di lantai dua yang tepat di sebelah kamar utama.


Brakkk


 Adel membuka pintu dengan kencangnya karna rasa paniknya tak bisa di bendung lagi, suara tangisan Zafran semakin santer terdengar begitu menyayat dan memilukan. Adel menatap ke atas ranjang dimana terakhir Zafran dia tinggalkan tertidur.


Kosong.


 Ranjang itu kini kosong, cepat-cepat Adel beralih menuju ke arah balkon dan betapa terkejutnya dia ketika melihat Bu Sekar sedang mengangkat Zafran ke arah pinggiran balkon seakan ingin menjatuhkan bayi itu dari ketinggian.


 Zafran sepertinya tau bahaya yang tengah mengintainya, jadi tangisnya semakin menjadi-jadi bahkan hingga suaranya serak.


"Bu Sekar jangan!" pekik Adel sambil berlari memburu Bu Sekar yang berdiri membelakanginya.

__ADS_1


__ADS_2