ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 34.


__ADS_3

"Ibu sama Bapak yang sabar ya, Mbak Adel kondisinya kembali drop. Kayaknya Mbak Adel terlalu banyak mikir yang berat berat ya makanya sampai kayak gitu. Itu tadi gawat banget loh, untung aja cepet di bawa kesini," tukas Alice melegakan hati Zidan.


 Setidaknya kini dia tau kalau istrinya baik baik saja dan tidak pergi meninggalkannya selamanya.


"Iya, Nak. Adel semalaman nangis terus karna memikirkan hal yang berat mungkin sebab itu kondisinya drop dan jadi seperti sekarang," ucap Pak Hanif seakan sengaja menyindir Zidan.


 Zidan yang sadar dirinya salah tidak membantah tidak pula menjawab apa apa, dia hanya diam terpekur menunggu Alice memperbolehkan mereka menjenguk Adel.


"Usahakan Mbak Adel di rumah jangan banyak pikiran dulu ya, Pak. Kasian kalau sampai drop kayak begini," tukas Alice memperingati.


 Bu Hanif dan Pak Hanif mengangguk, sedang Zidan dan Nisa tampak terdiam karna menyadari semua hal itu terjadi karna mereka.


"Apa kami sudah bisa menjenguk Adel, Nak? Ibu sudah khawatir sekali sama kondisi Adel," pinta Bu Hanif memelas.


 Alis mengelus punggung tangan ibu angkatnya itu dan tersenyum menenangkan. "Sebentar ya, Bu. Biar Mbak Adelnya kita pindah ke ruang rawat dulu biar lebih enak jenguknya."


 Mereka mengangguk setuju dan menunggu sampai suster suster itu membawa brankar Adel menuju ke sebuah ruangan yang lebih lega dari pada ruang IGD.


"Pak, Bu, Bang Zidan. Silahkan ya kalau mau nemenin Mbak Adel, tapi maaf ... Al masih ada tugas lagi jadi Al belum bisa nemenin Mbak Adel dulu ya. Tapi nanti kalau udah beres shift Al balik lagi ke sini sekalian cek kondisinya Mbak Adel ya," ujar Alice sebelum berlalu meninggalkan mereka untuk kembali menjalankan tugasnya di rumah sakit itu.


"Terima kasih ya, Nak." Bu Hanif mengantarkan Alice sampai ke depan pintu ruangan dan kembali menutup pintunya setelah Alice tak tampak lagi di pandangan.


 "Umi, Sayang. Bangun, Sayang ... maafin Abi ... tolong maafin Abi, jangan tinggalin Abi, Sayang. Maaf," isak Zidan sambil memeluk tubuh diam Adel yang masih tampak pucat.

__ADS_1


 Zidan menggenggam tangan Adel dan menempelkannya ke pipi, terasa hangat tidak lagi sedingin tadi.


"Sayang, Abi minta maaf benar-benar minta maaf. Abi janji setelah ini nggak akan ngulangin kesalahan yang sama lagi, Abi janji akan selalu denger penjelasan Umi lebih dulu. Bangun ya, Sayang, bangun ...."


 Pak Hanif hanya menatap mereka datar, sama sekali tidak respek dengan apa yang di lakukan Zidan. Baginya Zidan sudah sangat keterlaluan dengan membentak Adel semalam dan tidak mau mendengar penjelasan Adel dan Pak Hanif lebih dulu.


 Nisa mendekat dan turut menggenggam sebelah tangan Adel yang bebas.


"Mbak, maafin Nisa udah egois dan bertindak semau Nisa semalam. Maaf, kalau gara gara Nisa Mbak jadi kepikiran dan kayak gini. Nisa malu, Mbak udah bersikap seperti itu. Tolong maafin Nisa ya, Mbak." Nisa berbisik di telinga Adel, walau Adel belum sadar tapi Nisa tau kalau di dalam mimpinya Adel pasti mendengar perkataannya.


 Zidan dan Nisa saling pandang sejenak, dan kembali fokus pada Adel yang masih belum mau membuka matanya.


 Pak Hanif dan Bu Hanif duduk bersisian di sofa, menatap mereka dengan perasaan yang tak bisa di jelaskan.


"Zidan, kemarilah." Pak Hanif melambai pada menantunya itu.


 Zidan melangkah gontai memenuhi panggilan mertuanya dan duduk di lantai tepat di hadapan mereka, tak ubahnya seorang pesakitan yang siap di jatuhi pidana.


"Iya, Pak?" ucap Zidan lirih, bahkan dia menunduk tanpa berani mengangkat wajahnya menatap mertuanya.


 Nisa menatap penuh selidik dari kejauhan, namun tak berani bersuara sedikit jua.


"Kamu tau kan kalau kamu sudah sangat keterlaluan pada Adel?" tanya Pak Hanif dingin, baru kali ini selama pernikahannya dengan Adel Pak Hanif berkata sedingin ini.

__ADS_1


 Zidan mengusap tengkuknya yang terasa merinding. " I- iya, Pak. Dan Zidan ... Zidan minta maaf sebesar besarnya untuk itu."


 Zidan menangkup kedua tangannya di dada dan memberanikan diri menatap lekat kedua mata Pak Hanif. Berharap dengan merendahkan diri dan mengakui kesalahannya Pak Hanif tidak akan nekat membawa Adel pergi dari sisinya seperti yang diancamkan Bu Hanif padanya.


"Maafmu tidak berlaku untuk Bapak, Zidan. Minta maaflah pada Adel, kalau perlu bersujudlah di kakinya agar dia memaafkan kamu. Karna kalau dia tidak sudi lagi memaafkan kamu maka Bapak berhak untuk membawanya pulang ke rumah Bapak." Pak Hanif menatap Zidan tajam, setajam perkataannya yang merobek semua harapannya Zidan.


 Zidan kembali menunduk dan mulai terisak. "Andai Zidan bisa berpikir lebih jauh semalam, pasti tidak akan ada kejadian ini. Bapak benar, ini semua salah Zidan, dan Zidan yang akan tanggung semua akibatnya asalkan Adel bisa tetap bersama Zidan."


 Pak Hanif membuang nafas kasar. "Terserah, semua keputusan Bapak serahkan ke Adel. Bapak sudah cukup sakit hati melihat air mata putri kesayangan Bapak harus tumpah semalaman hanya karna menangisi seorang lelaki pengecut seperti kamu."


 Pak Hanif sengaja berkata ketus, dia ingin melihat sampai mana batas cinta Zidan untuk Adel. Apakah dia masih akan tetap bertahan walau sudah di maki habis habisan oleh Pak Hanif? atau justru menyerah dan pergi karna merasa tak akan ada harapan lagi jika Pak Hanif sudah membenci? Toh masih ada Nisa yang akan menemani bukan?.


"Baiklah, Pak. Zidan akan tunggu sampai Adel sadar dan akan membuat dia memaafkan Zidan apapun nantinya harus Zidan lakukan. Yang terpenting, Adel selalu di sisi Zidan. Semua dunia dan isinya ini tidak akan sebanding jika di bandingkan dengan pentingnya Adel di hidup Zidan," ucap Zidan begitu yakin.


 Pak Hanif berdecih. " Jangan terlalu memuja sampai kamu lupa ada Allah yang akan cemburu nantinya."


 Zidan terkesiap, kata katanya terlalu tinggi. Saking cintanya pada Adel dia sampai lupa kalau ada Allah yang harus di cintainya lebih besar daripada cintanya pada istrinya.


"Apa mungkin ini pertanda kalau Allah sedang cemburu pada saya?" gumam Zidan pada dirinya sendiri.


"Akhirnya kau sadar, maka dari itu berhentilah terlalu memuja dunia ini. Mereka semua fana, dan tentu saja kamu akan di beri teguran oleh- Nya jika kamu mulai lebih mencintai dunia." Pak Hanif mulai mau menatap Zidan dengan tatapan lembut yang biasa dia berikan.


 Zidan mengangguk dan mencerna setiap perkataan mertuanya yang sebagian besar adalah benar.

__ADS_1


 Keheningan sesaat itu tiba-tiba rusak karna suara erangan Adel yang baru saja tersadar dari pingsannya.


"Bi ... Abi ...." desis Adel lirih, bahkan hampir tak terdengar.


__ADS_2