ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 84.


__ADS_3

Nisa mengerjabkan matanya karena merasa silau, dia bangkit dari posisi berbaringnya. Dahinya mengernyit begitu mendapati tempatnya terbarinh adalah sebuah taman bunga yang luar biasa besar dan indah. Nisa menatap sekeliling, namun hanya kesunyian yang ada. Tempat seluas dan seindah itu seolah hanya dirinya yang ada di sana.


"Dimana ini?" gumamnya sambil berusaha mengingat apa terjadi sebelumnya.


Nisa berusaha bangkit berdiri, dan dia lebih tercengang lagi menatap tubuhnya yang terbalut dress putih panjang yang menjuntai hingga bawah kakinya. Nisa meraba kepalanya, terasa olehnya sebuah kain halus nan lembut membalut kepalanya.


"Mama cantik," celetuk suara seorang gadis kecil yang entah bagaimana tiba tiba sudah ada belakang Nisa.


Nisa cepat berbalik dan menatap dalam wajah gadis kecil yang sangat mirip dengannya itu.


"Kamu siapa?" tanyanya pada bocah kecil yang tengah tersenyum manis padanya itu.


"Mama lupa? Aku kan anak Mama yang masih di dalam perut."


Nisa refleks menyentuh perutnya, dahinya berkerut karna perutnya kini rata dan dia sendiri tidak paham maksud perkataan gadis kecil itu.


"Maksud kamu gimana, Nak? Maaf, Tante nggak ngerti. Dan juga ... ini dimana? Kenapa Tante bisa ada di sini? Apa kamu punya orang tua? Bisa ajak Tante bertemu mereka, Tante harus kembali ke rumah Tante sendiri. Kasian anak Tante kalau Tante nggak ada," kilah Nisa memutar kepalanya mencari sekiranya ada orang tua dari gadis kecil itu di sekitar sana.


Tapi gadis kecil itu tidak lekas menjawab, dia malah maju dan menarik tangan Nisa sampai Nisa mau tak mau harus berjongkok dan mensejajari tubuhnya.


Gadis cilik berambut panjang dan berkulit putih mulus itu tiba tiba memegang kedua pipi Nisa dengan tangan mungilnya yang halus. Rasa hangat mengalir di hati Nisa, membuatnya merasakan keharuan yang sangat, hingga tanpa sadar air matanya keluar tanpa di duga.


"Mama jangan sedih lagi ya, Ma. Aku nggak papa kok di keluarin dari perut Mama, asalkan Mama selamat dan bisa tetap hidup dengan aman. Maafin aku ya ,Ma. Belum sempat hadir di kehidupan Mama, tapi ... semoga kelak di surga kita bisa ketemu lagi ya, Ma. Aku bakalan terus tunggu Mama, "


Nisa menyusut air matanya dan balas memegang pipi gadis kecil itu.


"Maksud kamu apa, Nak? Kenapa kamu bicara begitu? Siapa yang ngajarin?" tanya Nisa dengan suara serak menahan tangis.

__ADS_1


Gadis kecil itu menggeleng hingga rambut panjangnya bergerak seirama dengan kepalanya.


"Mama sekarang pulang ya, ada banyak yang sayang sama Mama. Aku janji akan selalu menunggu Mama di pintu surga, Mama jangan lupa doain aku terus ya, Ma. Oh iya, jangan lupa kasih aku nama ya, Ma."


Nisa semakin tak mengerti, namun dia tak banyak bertanya lagi dan hanya mengangguk menyetujui entah apa maksud dan tujuan gadis kecil itu meminta demikian padanya. Pikir Nisa nanti dia akan mencoba mencari tau setelah bisa pulang ke rumahnya yang dia sendiri tak tahu harus berjalan kemana agar bisa sampai.


Tempat itu begitu luas, seolah tak berujung. Hanya langit biru cerah dan awan putih yang menggantung di langit yang sama sekali tidak panas seperti suasana di tempat tinggalnya.


"Ma, sekarang tolong kasih nama aku dulu, Ma. Supaya aku bisa tenang karena sudah punya nama untuk aku pakai di sana nanti." gadis kecil mendesak sambil merengek dan mengusapkan wajahnya yang halus ke tangan Nisa yang masih ada di genggamannya.


Nisa terhenyak, tapi tiba-tiba sebuah nama Indah terlintas begitu saja di benaknya. Sambil tersenyum dan mengelus lembut rambut gadis kecil itu Nisa berkata.


"Almira, namamu ... adalah Almira."


"Terima kasih, Mama. Almira suka namanya," sahut gadis kecil itu sambil mengulas senyum lebar yang manis sekali.


"Almira!" seru Nisa sambil bangkit dan membuka matanya lebar-lebar.


Namun yang di temuinnya sungguh pemandangan yang berbeda dengan sebelumnya. Sebuah ruangan putih berbau obat yang sangat khas, dan dengan jarum infus tertancap di tangannya.


"Nisa, Kamu sudah sadar?" Adel yang sejak tadi menunggui Nisa sambil mengaji di sebelahnya langsung berdiri dan memegangi kedua bahu Nisa.


Rasa sakit dan nyeri yang luar biasa di rasakan Nisa, memaksanya untuk kembali membaringkan tubuhnya.


"Awww, ahhhh." Nisa meringis menahan sakit, dan Adel dengan sigap langsung membantu kembali berbaring dan memposisikan tubuhnya senyaman mungkin.


"Jangan banyak bergerak dulu, Nis. Kamu belum sembuh benar, " tukas Adel sambil mengelus pelan tangan Nisa yang tidak terdapat jarum infus.

__ADS_1


Nisa mengangguk. "Terima kasih, Mbak. Tapi ... sebenarnya Nisa kenapa? Kenapa harus sampai di rawat di rumah sakit lagi? Terus Zafran gimana?"


"Kamu tenang aja, Zafran aman sama ibu dan bapak Mbak di rumah. Sementara mereka yang ngurus Zafran sampai kamu benar-benar pulih dan siap mengurus Zafran lagi. Nggak papa kan?" tanya Adel hati hati, karna tak ingin kembali menyinggung perasaan Nisa.


Nisa mengangguk paham dan tidak mempermasalahkan hal itu. Adel sendiri bisa tersenyum lega, karna Nisa sepertinya sudah mulai lupa dengan traumanya dan bisa lebih berkomunikasi dengan baik dan lancar seperti sebelumnya.


"Oh ya, Nis. Tadi kamu bangun langsung teriak Almira? Almira itu siapa?" tanya Adel penasaran sambil memberikan Nisa secangkir teh hangat yang baru saja dia seduh dengan persediaan yang di bawanya dari rumah.


Nisa menerimanya setelah Adel memposisikan ranjang tidurnya ke posisi setengah duduk.


"Entahlah, Mbak. Tapi sepertinya tadi Nisa sudah bangun, tapi anehnya bukan di tempat ini. Apa mungkin itu mimpi? Tapi kenapa rasanya nyata sekali?"


Adel mengerutkan dahinya. "Loh, maksudnya bagaimana?"


Nisa kembali menggeleng. "Nisa nggak tahu, Mbak. Yang jelas kalau itu mimpi, di mimpi itu ada anak kecil perempuan yang cantik sekali. Dia manggil Nisa Mama dan meminta Nisa memberi nama buat dia, katanya dia akan menunggu Nisa di pintu surga. Jadi sebelum terbangun di sini, Nisa sempat kasih dia nama Almira."


Adel mendekati Nisa dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Apa kamu bilang, Nis? Anak perempuan?"


Nisa kembali mengangguk membenarkan.


"Iya, Mbak. Dan Nisa kasih dia nama Almira, nama yang cantik ya, Mbak secantik anaknya, semoga saja dia benar-benar menunggu Nisa di surga sana."


Adel termangu di tempatnya, matanya tak sanggup bersitatap dengan Nisa. Namun gumamannya cukup bisa di dengar oleh Nisa.


"  Apa mungkin itu janinnya Nisa yang sudah di kebumikan? Tapi ... Bagaimana mungkin jenis kelaminnya sudah terbentuk,  bukankah kata dokter masih berusa gumpalan darah yang baru akan membentuk embrio? Yang baru bisa di sebut sebagai bakal janin?"

__ADS_1


Kening Nisa berkerut. "Apa, Mbak? Apa maksudnya itu?"


__ADS_2