ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 26.


__ADS_3

"Tidak perlu! Kamu tak perlu membuang tenaga untuk menjelaskan ke mereka. Semua sudah jelas, sekarang ... biar mereka jadi urusan saya."


 Nisa menepis tangan Zidan, walau tidak kasar tapi cukup mengejutkan bagi Zidan.


"Kamu?"


"Nggak, Mas! Maaf kalau aku harus melawan tapi aku nggak mau ibuku salah paham berlarut-larut nantinya. Dia ibuku, Mas. Aku harus memperhatikan perasaannya juga!" bantah Nisa.


"Lalu apa beliau mau mengerti posisi mu di rumah ini?" sanggah Zidan.


"Ak- aku ... aku ...." Nisa gugup tak bisa menjawab, padahal tadi dia begitu bersemangat untuk bisa mengejar ibunya dan menjelaskan semuanya.


"Mas Zidan benar, Nisa." Adel mendorong roda kursinya mendekati Nisa dan meraih tangannya.


"Bu Sekar hanya sedang kaget dengan perubahan besar yang tiba-tiba di hidup kalian, makanya dia bersikap seperti itu. Tenanglah, biarkan Bu Sekar menyendiri dan memenangkan dirinya lebih dulu. Setelah itu ... baru kita temui beliau dan bicara," pungkas Adel bijak.


 Zidan mengangguk bangga dengan kecerdasan dan kebijaksanaan Adel, tak sedikitpun dalam hatinya meragukan kebenaran perkataan Adel.


 Begitu pula Nisa, kini dia tampak lebih tenang dan tidak sebar bar sebelumnya.


"Baiklah, Mbak. Terima kasih sudah menasehati Nisa," lirihnya pelan.


 Adel mengangguk dan membimbing Nisa dan yang lain untuk kembali masuk ke dalam rumah, melupakan huru hara yang baru saja terjadi dan saling menenangkan diri masing-masing.


****


 Malam tiba, Pak Hanif dan Bu Hanif menginap di rumah Adel malam itu. Menemani putrinya yang baru saja pulang dari rumah sakit dan tentu saja memasakkan makanan kesukaan Adel.


"Nih, Del. Udah ibu masakin SOP ayam pake soun kesukaan kamu," ujar Bu Hanif sambil membawa semangkok bear SOP ayam yang masih tampak mengepul.


 Aromanya menguar ke seisi ruang makan dan membuat Adel yang memang sudah lapar menjadi semakin lapar.


"Duh, makasih banyak loh, Bu. Adel seneng banget ... Adel mau makan sekarang ya, Bu?" pinta Adel memelas.


 Bu Hanif memandang putrinya dengan seuntai senyum di bibirnya. "Memangnya kamu nggak nunggu suamimu dulu?"


 Adel mencebik. "Hah ... Mas Zidan lagi mandi, nggak papa deh nunggu sebentar."


 Bu Hanif beranjak dan berjalan mendekati Adel. "Tunggu sebentar ya, ibu mau panggil Nisa dulu."


 Adel mengangguk namun matanya masih tetap menatap sop ayam di atas meja yang seakan memanggil dirinya agar lekas di makan.

__ADS_1


 Satu menit


Dua menit


Sampai menit kelima masih belum ada yang datang ke meja makan, Adel semakin resah karena sudah tak sabar mencicipi sop ayam kesukaannya itu.


"Bu ... Abi ..., Bapak ..., Nisa ..., kalian kemana sih?" seru Adel memanggil semua anggota keluarganya.


 Sunyi


 Tak ada sahutan sama sekali, membuat Adel menjadi ketakutan sendiri.


"Bu ...," panggil Adel sekali lagi, namun tetap saja tak ada sahutan barang sekecil desah nafas pun.


 Adel memundurkan kursi rodanya pelan, namun setelah beberapa senti ke belakang kursinya menabrak sesuatu.


 Adel yang sudah mulai ketakutan menutup mata karna tidak berani membayangkan apa yang ada di belakangnya.


"Auzubillahiminassyaitonirojiim," cicit Adel lirih.


 Jantungnya menderu saat merasakan sebuah tangan hendak mendarat di bahunya.


Brugh


"Awww,"


 Adel membuka mata, memutar kursi rodanya dan membelalak.


"Loh? Abi?"


"Selamat ulang tahun!" seru Bu Hanif, Pak Hanif dan Nisa berbarengan.


 Rupanya sejak tadi mereka bersembunyi di belakang Adel, di mana terdapat celah di bawah tangga lantai dua yang biasa di pakai meletakkan penyedot debu.


 Adel menutup mulutnya tak percaya, dia pun hampir lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya. Zidan bangkit berdiri dan meraih tangan Adel kemudian mengecupnya.


"Selamat ulang tahun, Istriku," bisiknya kemudian mengecup kening Adel khidmat.


 Nisa yang melihat adegan itu merasakan dadanya nyeri, jadi dia memilih menundukkan kepala dalam-dalam agar tak menyaksikan bagaimana keintiman antara suami dan kakak madunya.


"Nis." Bu menyentuh lengan Nisa memberi kode dengan sorotan mata agar Nisa turut mendekat karna saat Nisa lah yang membawa kue ulang tahun untuk Adel.

__ADS_1


"Iya, Bude." Nisa meyakinkan dirinya dan berjalan tegap menuju Adel, walau hatinya masih terasa perih namun dia harus kembali sadar kalau Adel lah yang lebih berhak atas Zidan.


 "Selamat ulang tahun, Mbak. Semoga lekas sembuh dan bisa menjalani hari seperti biasanya lagi," doa Nisa tulus sembari menyodorkan kue dengan sebrang lilin cantik di atasnya.


 Adel tersenyum dengan mata berkaca-kaca, dia mengelus lengan Nisa sebelum meniup lilinnya.


Fuuhhh


 Lilin padam, di sertai isakan haru mereka semua. Syukur mereka panjatkan karna kesembuhan Adel, sedangkan Adel justru berdoa di dalam hatinya agar Nisa bisa lekas hamil.


"Selamat ulang tahun, anak cantik. Bapak selalu bangga dan sayang sama kamu, tetep semangat dan jangan pernah mengutuk takdir Allah ya," doa Pak Hanif sembari mengecup kening putrinya.


"Amiin, injih terima kasih Pak," sahut Adel.


"Selamat ulang tahun, Nduk. Maaf ibu nggak bisa ngasih apa-apa, tapi semoga Gusti Allah akan melimpahkan kebahagiaan buat kamu setelah semua yang sudah kamu lalui dengan susah payah, Nduk." Bu Hanif turut mengecup kening Adel lembut.


"Terima kasih, Bu." Adel menyahut lirih sembari mengecup tangan ibunya berkali-kali.


 Nisa yang menyaksikan semua itu bahkan sampai tak sadar kalau saat ini air matanya mengalir sangat deras, bukan karna terharu tapi karna momen itu mengingatkan dia pada Bu Sekar dan Alan yang saat ini entah dimana rimbanya.


"Yuk, udah yuk sedih-sedihnya. Kita makan dulu yuk," ajak Bu Hanif sambil meminta mereka semua duduk untuk menikmati hidangan.


"Nisa ... ayo Nduk sini kita makan," ajak Bu Hanif pada Nisa, suaranya sangat lembut membuat hati Nisa semakin teriris.


 Tanpa aba-aba akhirnya Nisa malah berlari menuju kamarnya sendiri, air matanya bahkan sampai menetes ke lantai saking derasnya. Hati Nisa sakit, di saat dia harus merasakan sedih karna berselisih paham dengan sang ibu, Adel justru dengan bahagianya mendapat kejutan dari keluarga dan suami yang tampak begitu sangat mencintainya.


Brakk


 Nisa menutup pintu indah berukir kamarnya dengan kasar dan menyandarkan punggungnya di sana.


"Baru satu hari ... dan air mata ini sudah berulang kali menghampiri ... salah apa hamba ya Allah? Kenapa sepertinya hamba tak pantas bahagia? Bukan hamba yang meminta untuk menjadi orang ketiga dalam pernikahan Mbak Adel, tapi dia sendiri yang minta. Tapi kini kenapa seolah aku yang di hukum?" Isak Nisa tergugu seorang diri.


 Hatinya sakit, tak ada yang peduli akan perasaannya. Semua pergi ... mereka lebih peduli pada Adel yang sempurna ketimbang dirinya. Satu-satunya kekurangan Adel, hanya karna dia sudah tak mempunyai rahim dan menjadi jalan bagi Nisa ada di sana sebagai satu-satunya kelebihan yang bisa dia banggakan.


Tok


Tok


Tok


"Nis, Anissa? kamu kenapa? Apa kamu di dalam? Boleh saya masuk?" suara Zidan menembus gendang telinga Nisa.

__ADS_1


__ADS_2