ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 14.


__ADS_3

"Del, Adel?" panggil Bu Hanif panik karna Adel tak lagi merespon.


Zidan dan Pak Hanif yang baru saja keluar dari kamar mandi juga turut mendekati Adel dengan raut wajah cemas.


"Mi, jangan bikin cemas dong, Mi." Zidan mengguncang sedikit bahu Adel yang masih terasa bergetar.


"Apa dia keselek ketawanya sendiri ya?" gumam Pak Hanif sambil menunduk untuk melihat wajah Adel.


"Bwahahahahha!" tiba-tiba Adel tertawa begitu keras membuat Pak Hanif yang sedang menunduk langsung terjengkang karena terkejut. Begitu pula Zidan dan Bu Hanif yang sampai mundur selangkah saking terkejutnya.


"Astaghfirullah!" ucap mereka bersamaan sambil memegangi dada masing-masing.


Zidan berinisiatif memegang kepala Adel dan hendak membacakan ayat ruqyah karena mengira Adel kerasukan jin Maghrib.


"Auzubillahiminassyaitonirojiim ..."


Plak


Sebuah tepukan dari Adel menghentikan bacaan Zidan.


"Dikira Umi kesurupan?" gerutu Adel kesal.


"Ya habisnya kamu tau-tau ketawa segede itu. Ya kami semua khawatir tho, Nduk. Nggak biasa-biasanya loh kamu seseneng itu ketawanya," ujar Bu Hanif yang di angguki oleh Pak Hanif.


Perlahan, wajah Adel yang semula ceria kini berubah mendung kembali.


"Loh ... kok Umi malah sedih?" tanya Zidan khawatir, dan berjongkok di samping kursi roda Adel.


Adel memaksakan senyumnya. "Nggak apa-apa, Adel cuma pengen ketawa puas-puas hari ini. Sebelum besok saat suami Adel akan memiliki wanita lain, Adel pengen besok nggak ada air mata. Makanya Adel belajar buat tertawa aja mulai sekarang."


Pak Hanif dan Bu Hanif saling pandang, tapi tak bisa berkomentar apa-apa. Sedangkan Zidan tampak terenyuh, dia menundukkan kepalanya dan menciumi tangan Adel berulang kali.


"Maafkan Abi kalau lagi-lagi harus menyakiti hati Umi," lirihnya pelan, sangat pelan sampai hanya Adel yang bisa mendengarnya karna jarak mereka yang berdekatan.


Adel menangkup wajah suaminya, dan memamerkan seulas senyum tipis di wajahnya.


"Apaan sih? Memangnya Umi marah? Umi lagi seneng, Abi. Umi bahagia karna mungkin saja sebentar lagi Umi juga akan bisa gendong bayi dari Nisa kan? Ya kan Abi? Anak kalian anak Adel juga kan?" cecar Adel menahan tangis.


Hatinya sakit saat mengatakan itu, tapi di saat bersamaan dia juga bahagia hanya dengan membayangkan akan bisa menggendong bayi mungil yang adalah benih suaminya walau harus tumbuh dan lahir dari rahim wanita lain.

__ADS_1


Zidan mengelus kepala Adel. "Tentu saja, Abi melakukan ini juga semua atas kemauan Umi. Jadi semua keputusan tentu saja Umi yang akan putuskan."


Pak Hanif dan Bu Hanif yang kebetulan mendengar percakapan kedua sejoli itu kembali saling pandang, kali ini dengan senyum di bibirnya masing-masing.


"Terima kasih." Adel memeluk Zidan hangat.


****


Setelah melaksanakan sholat maghrib berjamaah dengan Zidan sebagai imam, pintu ruangan VIP tersebut di ketuk dari luar.


Zidan gegas membukanya dan membiarkan tamu mereka yang ternyata adalah Nisa dan Bu Sekar untuk masuk.


"Assalamu'alaikum," sapa keduanya berbarengan, tampak canggung walau sebenarnya mereka sudah saling kenal.


"Wa'alaikumsalam, mari silahkan masuk," ajak Bu Hanif menggandeng tangan Bu Sekar yang tampak malu-malu untuk masuk.


"Mbak Adel gimana keadaannya?" tanya Nisa setelah berada di dekat Adel dan meletakkan sekeranjang buah sebagai buah tangan di atas nakas.


"Alhamdulillah sudah mendingan, Nis. Kamu kok repot-repot segala bawain buah sih?" sahut Adel tersenyum kecil.


"Ah, masa cuma buah aja repot, Mbak? Lha gimana sama Mbak Adel yang belum apa-apa aku udah di beliin apartemen? Ini mah belum seberapa, Mbak. Kalau di bandingkan kebaikan Mbak sama aku," ujar Nisa tertunduk malu.


Nisa tampak kikuk saat Adel kembali membahas tentang dia yang akan menjadi istri kedua suaminya.


"I- iya, Mbak. Semoga sesuai yang Mbak Adel inginkan," desisnya pelan.


"Ah ya, Nis. Mbak ada satu permintaan lagi," gumam Adel serius.


Nisa mengerutkan keningnya. "Permintaan? Apa itu, Mbak?"


Adel memberi isyarat Nisa untuk mendekat, dan membisikkan sesuatu ke telinganya.


Mata Nisa membulat setelah Adel selesai membisikkan maksudnya, dia menatap Adel dengan tatapan tak percaya. Namun Adel meremas tangannya dan tersenyum lebar, sangat lebar.


"Ba- baiklah, Mbak." Nisa menundukkan kepalanya pasrah.


****


Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba, di ruangan VIP tersebut segala macam hiasan khas pernikahan sudah terpasang.

__ADS_1


Adel sendiri juga sudah di dandani secantik mungkin, walau masih terbaring di atas tempat tidur tapi senyumannya tampak tak pudar sejak tadi.


"Seneng sekali kamu kelihatannya?" tanya Bu Sita ketus.


Walau jujur Bu Sita juga tidak menyukai Nisa tapi tetap saja dia terpaksa hadir karna tempo hari Adel mengatakan pada Zidan kalau dia akan membiayai semua pesta pernikahan Nisa dan Zidan. Awalnya Bu Sita tak ingin menepati karna merasa hanya di kerjai oleh Adel, tapi ujung-ujungnya dia lakukan juga karna ternyata Zidan menagihnya.


"Ah, Mama. Alhamdulillah Mama juga mau datang rupanya," sapa Adel sambil hendak mengambil tangan sang mertua.


Tidak seperti biasanya, kalau selalunya Bu Sita akan menepis jabatan tangan dari Adel. Tapi kini tampak dia menerimanya dan membiarkan Adel mencium tangannya takdzim.


Sreekkk


Bu Sita mengibaskan kipas tangannya seperti layaknya ibu-ibu ningrat, padahal ruangan itu sudah dingin karna ada AC. Tapi Bu Sitanya saja yang memang kebanyakan gaya.


"Ya jelas dong saya datang, wong semua ini biayanya dari saya. Gara-gara kamu itu juga!" ketus Bu Sita sinis.


Adel menahan senyumnya, ternyata perkataan asalnya tempo hari di tepati juga oleh mertuanya yang judes itu.


"Biar adil, Ma. Dulu kan pernikahan Adel sama Mas Zidan juga pesta besar-besaran, sekarang harus seimbang dong. Memangnya Mama mau kalo nama Mama jelek karna Mas Zidan nikahnya cuma ijab qobul aja?" goda Adel pula.


Bu Sita mencebik. "Huh! Dulu itu kan Mama kira bakalan langsung dapet cucu dari kamu, makanya Mama semangat sekali ngadain pesta pernikahan kalian. Eh, bukannya dapet cucu dapetnya malah zonk!"


"Awas aja kalau sama yang ini dapetnya zonk juga, Mama jadiin tape kalian berdua! Sama aja nggak bergunanya! Udahlah sama-sama miskin, nggak bisa kasih keturunan pula," imbuh Bu Sita ketus.


Adel tersenyum getir, sakit sekali hatinya masih saja di hina oleh sang mertua walau kondisinya sudah seperti sekarang.


"Maaf, Ma. Tapi semoga saja pernikahan kedua Mas Zidan ini, bisa memberikan keturunan seperti yang selama ini Mama mau. Adel juga ingin, Ma punya bayi walau bukan dari perut Adel sendiri."


Bu Sita terdengar menghela nafas panjang. "Kalau sampai si Nisa bisa hamil dan dia bisa memberikan Mama cucu, kamu tenang saja kamu akan Mama beri hadiah sebagai apresiasi atas pengorbanan kamu ini. Begini-begini Mama juga punya hati kali."


Mata Adel berbinar senang demi mendengar janji yang mertuanya ucapkan dengan sadar itu, senyumnya terukir lebar dengan berbagai macam rasa bahagia membuncah di dadanya.


"Alhamdulillah, Ya Allah," lirih Adel terharu.


Ceklek


Pintu ruangan terbuka di susul dengan masuknya seseorang yang auranya luar biasa membuat Adel dan Bu Sita yang berada di dalam sampai kehilangan kata-kata.


Bu Sita sendiri tampak sampai ternganga saking takjubnya.

__ADS_1


"Si- siapa?" tanyanya heran.


__ADS_2