
"Ada apa ini?"
Sebuah suara yang membuat tubuh Nisa yang tadinya seperti terkena hawa panas pertikaian ibunya tiba-tiba menjadi seperti di siram air es sekulkas. Dan juga membuat suasana mendadak menjadi hening.
"Zi- Zidan? Ka- kamu dateng, Nak?" tanya Bu Sita gugup sambil berjalan mendekati Zidan dan menuntunnya menuju pelaminan.
"Yah, Adel yang minta Zidan buat ke sini," tukas Zidan pelan, tapi masih cukup terdengar di telinga Nisa.
Degh
Entah kenapa hati Nisa yang sebelumnya biasa saja, kini malah terasa tercubit saat mendengar Zidan datang ke acara resepsi mereka hanya karna permintaan Adel dan bukan tulus dari hatinya.
'Aku harus sadar diri, aku nggak boleh egois ingin memiliki Mas Zidan. Mbak Adel sudah baik banget sama aku dan keluarga aku, ini semua sudah lebih dari cukup,' batin Nisa menguatkan hatinya.
Bu Sita tampak manggut-manggut dan melirik ke arah Nisa yang tampak tertunduk sedih di tempatnya berdiri. Senyum mengejek terbit di bibir Bu Sita, namun dia tak lagi mengatakan apa-apa dan memilih kembali duduk di kursinya sendiri.
"Mas, foto dulu." Fotografer yang berada di bawah panggung pelaminan menyorotkan kamera ke arah Zidan dan Nisa yang mengenakan pakaian senada, khas pengantin baru.
Zidan mengangguk, dan dengan malu-malu mengikuti arahan fotografer itu untuk mengarahkan gaya berpose mereka. Beberapa kali wajah Zidan tampak memerah saat di minta untuk berpose yang agak intim dengan Nisa. Seumur hidupnya ini bahkan pertama kali Zidan menyentuh wanita lain selain Adel, walau wanita itu kini juga adalah istrinya.
"Sip! Sudah, Mas. Sekarang waktunya foto keluarga ya," pungkas sang fotografer sambil memeriksa hasil jepretannya selagi menunggu keluarga yang hendak berpose dengan pengantin mengambil posisi masing-masing.
Zidan menarik nafas lega karna akhirnya momen canggung saat harus berdekatan dengan Nisa akhirnya terlewati.
"Kamu cantik pakai baju itu," gumam Zidan tanpa sadar.
Setelahnya dia menutup mulutnya dengan wajah merah menahan malu, sedangkan Nisa yang sudah terlanjur mendengar kini tersipu dengan wajah tertunduk.
Degh
Degh
__ADS_1
Degh
'Duh, apa ini? Kenapa malah deg-degan?' batin Nisa dan Zidan saling lirik dalam kecanggungan yang semakin terasa.
Sesi foto bersama keluarga berlangsung cukup lama, karna banyaknya anggota keluarga dari Zidan yang turut datang ke acara resepsi pernikahan tersebut.
Banyak dari mereka yang turut berbahagia karna Zidan akhirnya mau menikah lagi, karna mereka pun sebenarnya sudah lama julid dengan Adel yang tak kunjung memberi keturunan untuk Zidan, yang notabene keluarganya sangat mengagungkan adanya keturunan.
Nisa sangat senang di sambut baik oleh keluarga Zidan yang lain, dan di doakan agar segera bisa memberikan momongan untuk keluarga mereka. Sedangkan Zidan tampak biasa saja dan tak terpengaruh sama sekali dengan omongan keluarganya yang sejak Adel di vonis kanker selalu saja julid pada istrinya itu.
"Apa sudah selesai?" tanya Zidan setelah hari beranjak petang tapi para tamu masih banyak yang berdatangan, entah berapa banyak orang yang sudah di undang sang Mama dalam acara tersebut.
"Masih banyak tamu, memangnya kamu mau kemana, Mas? Apa kamu butuh sesuatu? Atau kamu capek ya?" tanya Nisa memberi perhatian kecil pada lelaki yang sudah sah menjadi suaminya itu.
Tapi Zidan hanya memasang wajah datar, perasaan berdebarnya tadi hanya di anggapnya angin lalu saja rupanya.
"Saya mau balik ke rumah sakit, nemenin Adel," sahutnya dengan raut wajah gelisah, sedangkan para tamu masih saja berdatangan dan silih berganti menaiki panggung pelaminan untuk bersalaman dan mengucapkan selamat pada mereka.
"O- ohhh, begitu." Nisa menundukkan kepalanya ke bawah, ada sekelumit perasaan tak rela di hatinya karna bahkan di hari pertama pernikahan mereka, Zidan masih saja di sibukkan dengan dunia di sekitar Adel dan Adel.
"Kamu mau ikut?" tawar Zidan saat tak sengaja melihat ekspresi sedih Nisa.
Walau belum ada rasa cinta di hatinya untuk Nisa, tapi Zidan selalu tak kuasa melihat perempuan yang dekat dengannya bersedih apalagi sampai menangis.
Nisa mendongak menatap Zidan dengan tatapan tak percaya.
"Apa boleh?"
Zidan mengangkat kedua bahunya. "Yah, siapa yang melarang?"
"Iya, Nisa mau ikut." Nisa tersenyum lebar sambil menatap Zidan dengan tatapan sulit di artikan antara senang atau nyaman.
__ADS_1
Zidan mengangguk singkat dan setelahnya berjalan menghampiri sang Mama yang masih tampak sibuk ngerumpi dengan teman-teman arisannya.
Dari tempatnya berdiri Nisa dapat melihat bagaimana Zidan sedikit memaksa sang Mama agar mengizinkannya kembali ke rumah sakit dan menemani Adel.
Awalnya Bu Sita ngotot meminta mereka tetap di tempat sampai acara berakhir nanti malam, namun tetap saja jika sudah beradu argument maka yang keluar sebagai pemenang tetaplah Zidan.
"Ayo," ajak Zidan sambil memberi isyarat lewat gerakan kepalanya kepada Nisa.
Nisa mengangguk dan berpamitan pada Bu Sekar yang tengah menikmati kudapan dengan Alan di meja yang sudah di sediakan untuk para tamu.
"Titip salam sama Adel ya, sama Bude dan Pakde mu juga," pesan Bu Sekar sebelum Nisa beranjak menuju kamar hotel yang di sewakan untuknya guna berganti pakaian.
Nisa mengangguk singkat dan gegas berlari ke lantai atas untuk berganti pakaian agar sang suami tak menunggu terlalu lama.
"Maaf lama ya, Mas." Nisa yang sudah berganti pakaian dengan dress midi terbaiknya itu tampak terengah-engah.
Zidan melihat Nisa dengan tatapan heran, namun tak berkata apapun dan memilih lekas masuk ke mobil dan melaju menuju rumah sakit.
Meraka berkendara dalam diam, karena Zidan tampak sibuk dengan ponselnya dan menelpon seseorang.
Nisa sendiri hanya diam sambil matanya melihat keluar jendela, dimana para penjual makanan sudah tampak mulai memadati jalan dengan membuka tenda-tenda jualan kecil. Nisa merasa perutnya kosong dan lapar karna sejak siang tak sempat mengisinya dengan makanan. Namun melihat Zidan yang tampak sibuk membuatnya segan untuk meminta, apalagi saat ini dia tidak membawa uang sama sekali.
"Baik, saya segera sampai," tukas Zidan mengakhiri sesi telepon di ponselnya dan meletakkannya kembali ke dalam saku.
"Adel butuh darah AB satu kantong, kita harus cepat sampai ke rumah sakit." Zidan bicara tanpa menoleh pada Nisa, namun mengingat mereka hanya berdua saja Nisa tau kalau yang di ajak bicara Zidan pastilah dirinya. Mustahil kalau boneka goyang yang ada di dashboard mobil.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, raut panik tampak sangat kentara di wajah Zidan. Melihatnya tentu saja membuat Nisa pun turut merasa panik, takut kalau terjadi sesuatu kepada Adel yang tengah berjuang untuk hidup di meja operasi.
"Mas, kamu terlalu ngebut, Mas," protes Nisa yang mulai merasa takut dengan kecelakaan mobil yang di kemudikan Zidan.
"Kita harus cepat sampai, Nis. Adel butuh aku," bantah Zidan tanpa berniat mengurangi laju kendaraannya, karna melihat kondisi sekitar yang lumayan lengang karna sudah masuk waktu maghrib.
__ADS_1
Nisa memejamkan matanya erat karena dirinya sungguh takut saat ini. Sampai di suatu tikungan yang lengang Zidan tiba-tiba mengerem mendadak dan membuat kepala Nisa terantuk dasbor mobil lumayan keras.
"Astaghfirullah, siapa itu?" seru Zidan dengan wajah pucat pasi.