ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 62.


__ADS_3

Sretttt


Grep


 Adel berhasil mengambil Zafran dari tangan Bu Sekar, bayi itu langsung di dekapnya erat karena takut Bu Sekar merebutnya lagi.


"Adel! Biarkan Zafran ikut dengan Nisa! Nisa bilang dia ingin menyusui bayinya! Kamu jangan egois! Itu bukan bayi kamu, itu bayi Nisa dia yang lebih berhak atas Zafran!" pekik Bu Sekar penuh amarah.


"Bu Sekar sadar! Nisa mungkin masih hilang! Tapi bukan berarti dia menjadi penunggu pohon kapuk itu! Berhenti berhalusinasi, Bu! Kasihan Zafran kalo tadi sampai jatuh gara-gara ibu!" balas Adel tak kalah sengit.


 Bayi Zafran mulai tenang setelah di dekap Adel, dengan cepat Adel membawanya keluar dari kamar itu dan menuju ke kamarnya sendiri. Sudah tidak aman meninggalkan Zafran hanya bersama Bu sekar, padahal biasanya Bu Sekar sangat senang menunggui Zafran, tapi kali ini sepertinya sudah keterlaluan.


"Adel! Mau kamu kemanakan Zafran? Kembalikan, Nisa ingin menjemput anaknya!" teriak Bu Sekar lagi.


 Tapi Adel cepat menutup pintu kamar Nisa dan menguncinya dari luar agar Bu Sekar tak bisa keluar. Beruntung tadi dia sudah mengunci juga pintu balkon jadi setidaknya wanita tua itu tak akan nekat melompat ke bawah dari sana.


Brakk


Brakkk


Brakkk


 Terdengar suara pintu yang seperti di gebrak dari dalam, sepertinya Bu Sekar berusaha membuka pintu untuk bisa keluar. Namun usahanya itu akan sia-sia saja, pintu tebal dan berat akan mustahil untuk mendobraknya.


 "Kenapa Bu Sekar, um?" tanya Zidan saat mendapati suara gaduh dari kamar yang di tempati Bu Sekar dan melihat wajah Adel yang pucat pasi.


"Dia ... dia ... tadi mau melempar Zafran dari balkon, Bi." Adel mengadu.


 "Astaghfirullah," bisik Zidan sambil mengusap wajahnya.


 Zidan menggiring Adel yang tengah mengendong Zafran untuk masuk ke kamar mereka dan menutup pintunya rapat-rapat.


 Kamar itu kedap suara jadi tidak perlu khawatir kegaduhan yang di buat Bu Sekar akan tembus hingga ke dalam kamar mereka.


"Kemana sebenarnya Nisa, Bi? Lihatlah semakin hari, Bu Sekar semakin aneh. Sepertinya jiwanya mulai terganggu karna begitu merindukan Nisa. Kasihan Zafran jika tanpa sengaja akan di celakakannya lagi," gumam Adel sambil menimang Zafran yang matanya tampak kembali terpejam itu.


 Zidan merangkul Adel dan membawa kepalanya ke dalam dekapan hangatnya.


"Kita berdoa saja, semoga dengan bantuan ustadz Yusuf nanti Nisa bisa segera di temukan. Dalam kondisi yang baik dan tidak kurang suatu apapun."


 Adel mengamini doa Zidan, dan perlahan meletakkan Zafran yang kembali terlelap di atas kasur.


"Tadi, Bu Sekar bilang kalau Nisa ada di pohon kapuk sebelah rumah. Katanya dia ingin memberikan Zafran pada Nisa karna Nisa ingin menyusui anaknya," desah Adel tak mengerti.

__ADS_1


 Zidan terperanjat. "apa benar Bu Sekar bilang begitu?"


 Adel mengangguk mengiyakan.


"Sepertinya mungkin saja benar yang di katakan Bu Sekar, um."


"Kenapa Abi bilang begitu?" tanya Adel heran.


"Karena ustadz Yusuf bilang ...."


 Zidan mulai menceritakan semua hal yang di katakan ustadz Yusuf kepadanya dan Alan tempo hari. Tak ada satupun yang terlewat, dan mendengarnya Adel serta merta merasa takut.


"Apa? Tapi ... bagaimana mungkin, Bi?"


 Zidan menyugar rambutnya kasar. "Entahlah, Um. Sepertinya semua ini adalah rencana Mama."


 Mata Adel membeliak mendengar pengakuan Zidan.


"Ma- Mama? Maksud Abi, Mama yang sudah buat Nisa hilang?"


 Zidan mengangguk walau sebenarnya hatinya masih sedikit ragu.


"Yah, bisa jadi seperti itu jika menilik dari apa yang di sampaikan ustadz Yusuf tempo hari."


"Iya, semoga saja."


****


 Ke esokan harinya.


Semua persiapan sudah di lakukan, ustadz Yusuf bersama temannya ustadz Fikri mulai membacakan ayat suci Al Quran di dalam gudang yang sempat mereka curigai sebagai tempat bersemayamnya makhluk yang menculik Nisa.


Adel, Zidan dan Alan menunggu dengan cemas di depan pintu gudang. Sesekali Adel akan memeriksa Zafran yang tengah terlelap di kamarnya dengan bertemankan murrotal Al Qur'an dari ponselnya.


 Cukup lama kedua ustadz itu mengaji dalam sana, hingga sebuah lemari tua di sudut ruangan mulai bergetar awalnya pelan namun lama kelamaan semakin kencang dan kini seakan ada berpuluh-puluh orang yang mengguncang kemari tersebut.


.


 Adel berlari menjauh, dia lebih memilih menemani Zafran di kamar kini karena kondisi mulai tidak kondusif. Zidan dan Alan tetap waspada di tempatnya, walau belum tahu apa yang akan di lakukan namun sebisanya mereka akan turun tangan jika di butuhkan.


"Keluarlah kau, wahai jin setan laknatullah!" seru ustadz Fikri sambil berdiri dengan tangan terus memutar tasbih.


 Matanya awas menatap seluruh penjuru ruangan yang terasa mulai panas dan pengap.

__ADS_1


"Di belakangmu, ustadz!" seru ustadz Yusuf memeringati rekannya.


 Tepat saat sesosok makhluk hitam besar melesat dari arah belakang ustadz Fikri bisa menghindar dan melayangkan serangan pada sosok itu hingga terkapar di sudut ruangan.


"Ggrrrhhhhhh," geraman makhluk aneh itu terdengar menyeramkan.


 Namun kedua ustadz itu sama sekali tidak gentar apalagi takut.


"Makhluk itu ...."


 "Ya, dia aswal!" seru ustadz Fikri sambil mengambil sebuah wadah air dan membacakan doa di atasnya.


 Suasana tegang terbangun, Zidan dan Alan melihat jelas bagaimana rupa makhluk yang selama ini di puja oleh Bu Sita. Rupanya bagaikan anjing besar, dengan telinga dan taring yang runcing dan mata merah berkilat. Kuku-kukunya keluar dari balik jemari tampak memerah dan tajam.


"Beraninya, kalian ikut campur urusanku manusia bod*h!" geraman tertahan makhluk itu bergema, suaranya yang berpadu bagai banyak suara yang bicara itu terdengar begitu menakutkan.


 Makhluk hitam melancarkan serangan, sebuah sinar merah menyala yang hanya bisa di lihat oleh ustadz Yusuf dan ustadz Fikri melayang cepat ke arah mereka.


Byuuurrr


 Dengan sigap, ustadz Fikri menyiramkan air doa yang sejak tadi di pegangnya pada serangan itu dan sebuah letupan dahsyat pun terjadi.


Dummmmm


 Suaranya bergema namun sepertinya hanya di sekitar sana saja, karna Adel yang tengah memeluk Zafran kini tak mendengar suara apapun.


"Auzubillahiminassyaitonirojiim," ustadz Yusuf mulai membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang bisa di gunakan untuk membakar makhluk sejenis aswal.


 Dibantu ustadz Fikri, bahu membahu mereka mencoba mengalahkan pertahanan makhluk yang sudah banyak memakan darah manusia itu. Kekuatannya tak bisa di bayangkan, namun tentu saja kekuatan dari yang maha kuasa adalah di atas segalanya.


 Perlawanan sengit di lakukan aswal, beberapa kali ustadz Yusuf dan ustadz Fikri tampak tersudut, namun berkali juga mereka melantunkan ayat-ayat Allah, maka aswal akan mundur sesaat untuk menutup telinga runcingnya.


 Sampai di suatu kesempatan Ustadz Yusuf bisa memukul mundur mahkluk berbentuk anjing itu dan membuatnya tak berdaya di sudut lemari tempatnya bersemayam selama ini.


"Menyerahkan, aswal! Kau sudah kalah. Berhenti memperdaya umat manusia dan kembalikan manusia yang sudah kau culik jiwa dan raganya." Ustadz Yusuf membentak makhluk yang kini tengah mengerang kesakitan itu.


 "Tidak! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskannya sampai mendapatkan tumbal yang sudah di janjikan padaku!"


"Kalau begitu maka nikmatilah lagi kehancuran mu! Makhluk durjan*!"


 Ustadz Yusuf bersama ustadz Fikri menyatukan tenaga dalamnya dan dalam sekali hentakan ucapan takbir dentuman besar yang memekakkan telinga telah membakar habis mahluk bernama aswal itu.


*Nb; sambungannya di sebelah. Tunggu sebentar lagi ya\, author lurusin jempol dulu baru kita lanjut.*

__ADS_1


__ADS_2