
Adel terhenyak dan langsung menjatuhkan diri terduduk di samping Dijah yang masih sibuk mengaji.
"Mbak, itu apa?" bisiknya takut, bahkan Zafran di gendongannya kini juga tampak mulai kebingungan.
Dijah menghentikan bacaannya, dan menutup mushaf Al-Qur'an itu kemudian menciumnya.
"Entahlah, Mbak. Saya juga tidak tahu, kita berdoa saja supaya semuanya baik baik saja."
Adel mengangguk mengiyakan, namun hatinya kembali tak bisa tenang. Bayangan kejadian seperti beberapa bulan lalu berkelebat dalam ingatannya.
Zafran mendekap tubuh Adel semakin erat, mungkin dia juga sudah merasakan takut sama seperti yang tengah Adel rasakan. Tak lagi terdengar rengekan bocah kecil itu, dia hanya diam sambil memeluk Adel, padahal matanya terus saja melirik ke sana ke mari seakan mencari sesuatu.
"Apa kita harus menyusul ke atas, Mbak?" bisik Adel lagi, karna kini tak lagi terdengar suara apapun dari arah lantai dua.
Dijah menarik nafas sejenak, dan membuangnya perlahan.
"Sepertinya ... suami saya bisa mengatasinya, jadi lebih baik kita menunggu saja di sini. Karna ada Zafran yang harus kita pikirkan juga jika harus nekat naik ke atas," pungkasnya pelan.
Kembali Adel mengangguk, dan perlahan menimang Zafran yang mulai tampak terkantuk kantuk kembali karna sejak siang memang tidak tidur.
Benar saja, tak berapa lama berselang akhirnya ustadz Yusuf dan Zidan tampak turun bersamaan. Namun anehnya, tak tampak Nisa turun juga bersama mereka.
"Bi, bagaimana Nisa?" tanya Adel tak sabar.
Zidan mendekati istrinya yang masih berada di mushola dan mengelus kepalanya perlahan.
"Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah lewat tangan ustadz Yusuf. Nisa bisa di selamatkan."
"Alhamdulillah," seru Adel lega selega leganya.
__ADS_1
Dia bahkan menciumi pipi Zafran yang kini kembali terlelap dalam gendongannya, senyum bahagia Adel tampakkan walau matanya tampak berair di kiri dan kanannya.
"Tapi, ada satu hal yang harus kita pertimbangkan sekarang." Zidan berkata lagi.
Senyum Adel mendadak surut, begitu menyadari perubahan mimik wajah Zidan menjadi sendu.
"Apa itu, Bi?" tanyanya cepat.
Dijah turut mendengarkan karna merasa hal itu pasti berkaitan dengan apa yang di lihatnya di kamar mandi Nisa tadi.
****
"Apa? Tapi ... bagaimana mungkin?" sanggah Adel sambil mengelus rambut Nisa yang saat ini tampak terbaring lemah di atas kasurnya.
Setelah menyempatkan sholat Maghrib berjamaah, Mereka memang sudah berpindah di kamar Nisa, sedangkan Zafran kini berada di box bayi yang juga ada di kamar tersebut.
Adel terhenyak, air mata kembali turun dari sisi pipinya.
"Tapi kenapa? Nisa bahkan baru saja mencicipi bahagia setelah mempunyai Zafran. Keluarga yang hangat, juga kehidupan yang lebih berkecukupan. Tapi ... kenapa sekarang dia harus mendapat cobaan ini lagi, ya Allah? Kasihan Nisa," gumam Adel sambil menjatuhkan bobot tubuhnya di tepi ranjang Nisa dan memeluknya perlahan.
"Sabar, Mbak. Kita tidak bisa mengatur bagaimana takdir ingin membawa jalan hidup kita, kita hanya bisa berusaha untuk merubah takdir yang sekiranya bisa juta rubah. Dan untuk masalah ini, keputusan kami serahkan kepada Mbak Adel dan Bang Zidan, terkait janin yang saat ini berkembang di dalam rahim Mbak Nisa, kadang janin itu berpotensi mengundang kembali makhluk makhluk astral itu untuk kembali mendekatinya," terang Dijah lagi, kali ini sambil mengelus punggung Adel.
Adel mendongak, dan menatap Dijah dengan pandangan sendu. Tangannya bergerak menggapai tangan halus Dijah dan berterima kasih.
"Terima kasih banyak ya, Mbak. Sudah mau menyempatkan membantu kami."
Dijah mengangguk dengan seulas senyum menenangkan di bibirnya.
"Sama sama, Mbak. Sudah sepatutnya sebagai sesama muslim kita saling membantu jika kita mampu. Oh ya, rumah ini sudah sempat saya dan suami saya pagari setelah maghrib tadi, insyaallah Mbak Nisa bisa aman di dalam rumah ini. Hanya saja kami harap Mbak Adel dan Bang Zidan bisa mengambil keputusan cepat untuk Mbak Nisa, agar dia tak lagi menjadi incaran makhluk tak kasat mata yang merupakan keturunan dari yang pernah di musnahkan ustadz Fikri beberapa bulan yang lalu," timpal Dijah menambahkan.
__ADS_1
Adel dan Zidan menganggukkan kepalanya pasrah, dan setelahnya Dijah dan suaminya pun minta diri. Mereka berjanji akan datang kembali jika terjadi sesuatu atau Zidan dan Adel sudah membuat keputusan.
****
Adel mendudukkan tubuhnya yang terasa sangat pegal di atas karpet tebal di dalam kamar Nisa, mereka bersepakat untuk tidur bersama di kamar itu malam ini, guna menemani Nisa yang masih belum sadarkan diri. Menurut ustadz Yusuf, orang yang baru saja bersinggungan dengan bangsa jin akan butuh waktu lumayan lama untuk bisa kembali siuman seperti sedia kala.
"Makan dulu, Al," ucap Adel pada Alan, yang sejak pulang dari bekerja tadi sama sekali tak beranjak dari tepi ranjang Nisa. Dia tak hentinya mengusap lelehan air mata di pipinya, mungkin malu jika sampai terlihat tengah menangis.
"Nanti saja, Mbak. Alan belum lapar," tolak pemuda itu tanpa mengalihkan pandangannya dari sang kakak yang tampak tertidur tenang, entah memang tertidur atau ada sesuatu yang menahannya untuk bisa terbangun.
"Al, Mas bawain teh hangat ... di minum ya, kamu dari pulang kerja belum makan apapun, cemas boleh ... nyiksa diri jangan ya, Al." Zidan menepuk pundak Alan.
Pemuda itu mengangkat wajahnya dan tersenyum, senyum yang manis sekali dengan dua lesung pipi yang dalam di tepi bibirnya.
"Terima kasih banyak ya, Mas."
"Ah, kayak sama siapa aja kamu itu, Al." Zidan ikut menjatuhkan bobot tubuhnya di sebelah Adel, dan perlahan membaringkan tubuhnya yang juga terasa sangat lelah itu.
"Sekarang, Mas mau tanya pendapat kamu. Bagaimana menurut kamu kalau kita gugurkan saja janin yang di kandung Nisa sekarang? Karna sebenarnya janin itu juga berpotensi adalah benih dari preman yang melecehkannya tempo hari itu. Di tambah permasalahan yang ada ... sepertinya menurut Mas alasan kita cukup masuk akal untuk menggugurkannya. Menurut kalian bagaimana?" tanya Zidan sambil menatap Alan juga Adel bergantian.
Adel tampak menarik nafas dalam. "Tapi ... bagaimana kalau sebenarnya janin yang di kandung Nisa adalah benar darah daging kamu, Bi?"
Zidan mengalihkan pandangannya ke atas langit langit kamar, teringat olehhya kalau sebelum Nisa kabur waktu itu dia sempat menghabiskan waktu bersama Nissa beberapa saat. Dan dia ingat betul, kalau ia tak hanya mendapatkan satu kali pelepasan, mungkin ada sampai tiga atau empat kali jika di ingat ingat.
Zidan di lema, namun perkataan Alan membuatnya malah semakin dilema berat.
"Tapi aku lebih setuju kalau janinnya di gugurkan saja, apa Mas dan Mbak lupa? Kalau Zafran baru berusia 8 bulan?"
Adel dan Zidan saling melempar pandang, baru menyadari kalau ucapan Alan memang benar.
__ADS_1