
*Flashback*
"Pa, apa kamu mau menikah lagi?" ucap seorang wanita memakai daster lusuh dan rambut di gelunh di gelung asal pada suaminya yang tengah menikmati kopi hangat sebagai menu sarapan.
Wanita itu tak lain adalah Bu Sita dan Pak Angkasa suaminya, yang kerjanya hanya seorang buruh serabutan tapi lagaknya seperti pekerja kantoran. Hobinya main perempuan dan kalau mau judi mesti keturutan.
"Ah, yang bener kamu, Ma. Kemaren aja Papa ngobrol si Sri janda sebrang sana marahnya kayak singa di bangunin tidurnya. Sekarang malah tiba-tiba nyeletuk nanya Papa mau nikah lagi apa nggak?" sahut Pak Angkasa tak terlalu mengindahkannya.
Praakkk
Bu Sita membanting piring yang tengah di pegangnya ke atas meja di mana Pak Angkasa duduk seperti seorang bos.
"Ah, kaget! Kamu kenapa sih, Ma? Sudah sana urusin aja si Zidan nggak usah ikut campur urusan Papa." Angkasa meradang dan lekas meninggalkan tempat duduknya tadi.
Melewati Zidan kecil yang tengah berdiri di ambang pintu dapur sambil memegang sebuah sapu lidi. Ya dia baru saja di minta Bu Sita untuk menyapu halaman.
Tes
Air mata Bu Sita mengalir, ini bukan pertama kalinya sang suami membentaknya bahkan di depan putra mereka satu-satunya itu.
"Ma, Idan lapar," cicit Zidan mendekati Bu Sita.
Bu sita menatap sendu pada buah hatinya itu, dan perlahan Bu Sita meraihnya ke dalam pelukan.
"Sabar ya, Nak. Mama keluar dulu cari sesuatu yang bisa Idan makan ya. Idan tunggu di sini ya, kalo Mama lama Idan tidur dulu aja ya, nanti Mama pulang Mama bangunin." Bu Sita mengelus lembut rambut Zidan kecil yang tampak panjang tak terurus itu.
Biasanya Bu Sita akan memotong sendiri rambut Zidan dengan gunting kecil yang dia punya, namun kini gunting itu sudah rusak saat di pakai Pak Angkasa membobol celengan Zidan tempo hari.
Zidan kecil mengangguk dan masuk ke kamar nya menuruti titah ibunya, perlahan Bu Sita bangkit dan keluar rumah untuk sekedar mencari sesuatu yang bisa mereka makan hari ini. Jangan tanya Pak Angkasa kemana, lelaki berperawakan sedang itu pasti telah kembali melakukan rutinitasnya menggoda janda sebelah. Bahkan sampai tidak ingat lagi memberi makan istri dan anaknya, membuat Bu sita sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri.
"Semoga hari ini bisa dapat sesuatu yang enak buat di makan bareng Idan," gumam Bu Sita sambil menelusuri jalanan setapak yang berada di sisi sungai.
(Latar kisah ini ada di perkampungan, tempat Zidan di besarkan sebelum pindah ke kota untuk menyamarkan identitas)
__ADS_1
Bu Sita masuk ke sungai berair jernih itu, matanya awas memindai jikalau ada ikan yang bisa dia tangkap. Berbekal sehelai kain lusuh yang di milikinya berharap akan ada walau hanya satu ekor ikan yang terperangkap di dalamnya.
Hap
Byurr
Hap
Byuurrr
Belasan bahkan puluhan kali Bu Sita menyelam dan menceburkan diri ke sungai dangkal berair jernih itu, namun setiap ikan yang lewat dan hampir tertangkap selalu saja lepas.
Matahari mulai tinggi, Bu Sita pun mulai kelelahan tapi belum satu ekor ikan pun bisa dia dapatkan.
"Duh Gusti ... kenapa susah sekali menangkap ikan di sini, hari sudah siang pasti Idan sudah kelaparan. Harus kemana lagi aku mencari makanan untuk kami ya Gusti?" Isak Bu Sita muda sambil menyelonjorkan kakinya di bawah teduh dan rimbunnya pohon bambu yang tumbuh di sepanjang sungai.
Air mata Bu Sita muda semakin deras, lelah sudah batinnya menghadapi semua pahitnya hidup yang di jalaninya selama ini.
Memang sangat jarang orang yang mau bertandang ke sungai yang bersisian dengan hutan bambu itu, karna konon katanya angker dan di gini makhluk halus.
Namun Bu Sita terpaksa menginjakkan kakinya di sana, mengingat tempat itu jarang terjamah pastilah akan ada banyak ikan yang bisa di tangkap. Namun nyatanya jangankan ikan, sisiknya saja tidak di dapat.
Tak lama setelah Bu Sita mengeluarkan semua keluhannya, angin dingin mulai bertiup, air sungai yang semuka jernih kini perlahan menjadi keruh. Awan hitam berarak di atas langit, Bu Sita yang menyadarinya segera berkemas untuk pulang walau belum mendapat apapun dan tubuhnya mulai menggigil kedinginan.
"Tunggu, manusia!" sebuah seruan dari arah belakang menghentikan langkah Bu Sita.
Nada suara yang berat dan bercampur (suara setan, bingung nyebutinnya. Kalo mau tau nonton film "qodrat" aja ya) membuat Bu Sita begidik ngeri untuk berbalik.
"Berbaliklah, aku akan mengabulkan permintaanmu."
Mendengar itu, perlahan Bu Sita berbalik namun dengan mata tertutup.
"Buka matamu, manusia! Jangan mengejekku dengan bersikap seperti itu."
__ADS_1
Segera Bu Sita membuka matanya, dan objek pertama yang dia lihat adalah sesosok makhluk berbentuk anjing hitam yang ukurannya di luar batas normal. Bu Sita terhenyak, tubuhnya lunglai jatuh ke tanah yang beralaskan dedaunan bambu kering.
"Si- siapa ... k- kau?" desisnya ketakutan.
"Aku, adalah yang akan mengabulkan semua permintaan mu. Akan kekayaan, kemakmuran dan di tambah kecantikan yang akan tak akan lekang oleh masa."
Mata Bu Sita perlahan berbinar, rupa menakutkan makhluk itu secara perlahan hilang di matanya.
"Be- benarkah?"
"Ya, tapi ... tentunya ada syarat yang harus kau penuhi untuk mendapat itu semua." Bu Sita beringsut maju dengan tak sabar.
"Katakan, apapun ... apapun persyaratannya saya akan penuhi asal kehidupan saya dan anak saya bisa berubah."
Hening sejenak. Makhluk itu perlahan duduk dan membaringkan dirinya di tanah, tepat di hadapan Bu Sita. Mata yang berkilat merah itu menatapnya dan secara tak sadar mata Bu Sita pun berkilat merah serupa.
"Berikan aku tumbal, maka semua permintaan mu hanyalah sedikit jentikan jari bagiku."
Bu Sita terperangah, dia memang menginginkan semua itu namun tak terbersit di pikirannya untuk menumbalkan seseorang untuk tujuannya.
"Kau masih ragu? Bukankah kau membenci suamimu? Apa kau tidak ingat bagaimana dia mencuri uang tabungan anakmu untuk main judi? Dan akhirnya kalian kelaparan dan berakhir kau mencari ikan di tempat kekuasaan ku?" ucap makhluk itu memanas-manasi Bu Sita.
"Ya, kau benar. Selain laki-laki brengsek itu tidak ada lagi yang lebih cocok untuk dijadikan tumbal," desis Bu Sita.
Kilat merah memancar dari matanya, pertanda serah terima tumbal sudah di setujui.
Makhluk itu tertawa. "Maka tunggulah, kehidupan mewah dan bergelimang harta akan menghampirimu sebentar lagi. Saat itu tiba, bawalah anakmu pergi dari tempat ini, dan setiap malam bulan purnama merah berikanlah tumbal untukku, untuk memperpanjang masa kekayaanmu. Jangan lupa buat sebuah ruangan khusus untukku, akan ku letakkan patungku di dalamnya agar kau bisa menyembahnya, hahahhahahah!"
Bu Sita menyeringai, setumpuk uang merah tiba-tiba ada di depannya seiring dengan menghilangnya makhluk berbentuk anjing itu dari hadapannya.
"Itu sebagai tanda serah terima, jangan terkejut jika setelah ini kau dapati suamimu mati atau menghilang tanpa jejak. Segeralah pergi agar tak ada yang akan curiga pada kalian."
*Flashback end*
__ADS_1